
Setelah membubarkan diri, kelompok Chen Song segera pergi untuk mencari sebuah klinik agar bisa merawat luka pria itu. Yang didampingi oleh Chen Zhu, Dui Buqi, Dong Huang serta Sung Yunzhi dan Fan Tian.
Sedangkan kelompok Pi Yao yang telah tiba di tempat mereka langsung mendiskusikan peristiwa yang baru saja menimpa mereka.
"Saudara Pi Yao, bagaimana dengan luka yang dimiliki oleh Chen Song? Apakah ada racun yang terkandung didalamnya?" Tanya salah satu rekannya.
"Tenang saja, tidak lama lagi dia akan kehilangan nyawanya, sebab aku telah menggunakan 'Racun Tanpa Derita' yang diberikan oleh guruku, sehingga dia tidak akan merasakan jika lukanya itu tidak sesederhana yang dia pikirkan." Jawab Pi Yao.
"Jika demikian, itu berarti kekuatan mereka saat ini sudah tidak lagi seperti sebelumnya. Jadi kita tetap menjalankan rencana kita sebelumnya untuk menyergap mereka saat meninggalkan kota ini."
"Sebelum kalian bertindak, sosok yang harus kalian waspadai ialah bocah yang membunuh Mae Kong."
"Sebab menurutku, dia memiliki kemampuan tersembunyi yang bisa mengalahkan siapapun dengan mudah jika tidak berhati-hati."
Pi Yao terus menjelaskan kepada ketiga rekannya agar mereka tidak bertindak gegabah saat melakukan penyergapan.
"Saudara Pi Yao, menurutku, kita terlebih dahulu harus menangkap kedua wanita yang bersama dengan mereka, dan terutama wanita yang sering mendekatinya."
"Aku dengar sudah beberapa kali bawahan tuan Wang gagal melakukan hal itu, sebab kedua wanita itu adalah pendekar ahli yang dilindungi oleh para pendekar yang kuat." Balas Pi Yao.
"Aku pikir tugas itu sangat tepat jika dilaksanakan oleh saudara Qi Yuan, sebab dengan teknik serulingnya, dia bisa mempengaruhi pikiran kedua wanita itu untuk datang sendiri kepadanya." Sambung Liao Zhongkai.
"Bagaimana saudara Qi? Apakah anda bisa melaksanakan tugas itu?" Tanya Pi Yao.
"Aku akan mencobanya malam ini." Jawab Qi Yuan sambil tersenyum serta memainkan rambut lurus dan panjang miliknya.
Di sebuah klinik yang ada di kota Guancheng, terlihat seorang pria tua sedang memeriksa luka ditangan Chen Song.
Wajah pria tua itu terlihat sangat berat setelah mengetahui tingkat kerusakan yang diakibatkan oleh senjata cambuk milik Pi Yao.
"Pendekar Chen! Sepertinya aku tidak bisa menangani kerusakan yang terjadi pada tanganmu ini. Hal itu karena hampir setiap jaringan yang ada telah putus." Ucap pria tua itu sambil menggelengkan kepala pelan.
"Aku sudah mengetahui hal itu. Untuk itu, aku berharap tuan bisa membantuku untuk membantuku menutup kembali luka ini agar tidak terinfeksi." Chen Song menanggapi ucapan pria tua itu.
Fan Tian yang berdiri tidak jauh dari Chen Song, terus memperhatikan luka tetua sekte Zhewu itu.
Saat sosok tabib itu hendak menjahit luka Chen Song, Fan Tian segera mendekat dan berkata.
"Tuan! Mohon maaf sebelumnya jika aku lancang! Tetapi menurut pengamatan ku, sepertinya luka tetua Chen ini tidak sesederhana yang kita lihat."
"Apa maksud dari perkataanmu itu?" Tanya sang tabib penasaran.
"Sepertinya senjata milik wanita iblis itu terkandung racun disetiap duri-durinya yang melukai tangan tetua Chen." Jawab Fan Tian.
"Tidak mungkin! Jika senjatanya beracun, pasti nyawaku sudah tidak terselamatkan, apa lagi aku juga tidak merasakan sakit yang berlebihan pada lukaku ini." Chen Song langsung menanggapi ucapan Fan Tian.
"Tetua Chen, sebenarnya aku sedikit mengerti tentang ilmu pengobatan, sehingga aku bisa mengetahui jenis racun yang sering digunakan oleh para pendekar aliran hitam." Fan Tian menjelaskan.
Chen Song menatap Fan Tian dengan tatapan yang sedikit ragu mengenai apa yang baru saja dia sampaikan. Begitu juga dengan tiga orang lainnya.
Hanya Dong Huang yang mempercayai penyampaian Fan Tian itu, sebab pendekar muda itu pernah memberitahukan kepadanya jika dia mengerti tentang ilmu pengobatan dan ditunjang dari asalnya sebagai anggota dari Lembah Pengobatan.
__ADS_1
Apa lagi dia juga berasal dari sekte Lembah Neraka. Sehingga Fan Tian pasti sangat memahami berbagai jenis racun.
"Ayah! Biarkan aku saja melihatnya." Sela Chen Zhu karena tidak ingin Fan Tian menjadi sosok yang terlalu berjasa bagi mereka.
Chen Zhu segera mendekati dan meraih tangan ayah angkatnya kemudian mulai memeriksa apakah benar yang dikatakan oleh Fan Tian.
Meskipun Chen Zhu baru berusia tujuh tahun saat meninggalkan Lembah Pengobatan, namun dirinya sering diajarkan oleh ayah dan kakeknya mengenai ilmu pengobatan dan juga ilmu racun.
Sehingga Chen Zhu memiliki sedikit pengetahuan mengenai apa yang disampaikan oleh Fan Tian.
Chen Zhu langsung bertanya kepada sang tabib.
"Tuan, apakah anda memiliki jarum perak?"
"Mohon maaf, aku tidak memiliki jarum perak yang kau maksudkan itu...tetapi jika sumpit perak, aku memilikinya." Jawab sang tabib.
"Tolong kau ambilkan." Ucap Chen Zhu.
"Baik!"
Tabib itupun segera pergi untuk mengambil sumpit perak miliknya.
"Sial! Bagaimana mungkin seorang tabib tidak memiliki jarum perak? Itukan sering digunakan untuk mendeteksi racun." Chen Zhu menggerutu.
"Hmmmphh, sepertinya dia memiliki sedikit wawasan dalam dunia pengobatan, namun wawasannya hanya sebatas ilmu dasar saja." Pikir Fan Tian.
Setelah tabib itu kembali dan segera memberikan sumpit perak miliknya, Chen Zhu pun segera menusukkan ke luka ditangan Chen Song.
Chen Song mengangguk setuju.
Setelah selesai, Chen Zhu segera memperhatikan perubahan yang terjadi di ujung sumpit yang bersentuhan dengan luka Chen Song.
Setelah menunggu beberapa saat kemudian, akhirnya terjadi perubahan diujung sumpit tersebut dan menjadi berwarna hitam.
Mata Chen Zhu langsung terbelalak setelah mengetahui hasil pemeriksaannya.
"Ayah! Senjata cambuk wanita itu benar mengandung racun...kau harus segera meminum penawarannya!" Ujar Chen Zhu dengan nada suara khawatir.
Pendekar Zhao Yun! Apakah kau memiliki obat penawar untuk racun ini? Sebab aku tidak tahu racun jenis apa yang di gunakan oleh wanita itu!"
Keegoisan dan kebencian Chen Zhu terhadap Fan Tian langsung menghilang setelah mengetahui jika nyawa ayahnya saat itu sedang dalam bahaya.
Sehingga dia tidak merasa malu lagi untuk meminta bantuan Fan Tian.
"Bagaimana mungkin aku tidak mengetahui jika luka itu mengandung racun? Bukankah aku telah menyentuhnya?" Pikir sang tabib.
Saat tabib itu sedang berpikir, Fan Tian pun langsung berkata.
"Tuan, saat ini anda juga telah terkena racun tersebut karena sempat menyentuh luka tetua Chen dengan tanganmu."
Mendengar penyampaian Fan Tian membuat pria tua itu sangat terkejut.
__ADS_1
"Bagaimana bisa aku terkena racun? Sedangkan kulitku tidak ada luka sekecil apapun!" Balas pria tua itu.
"Itulah keunikan racun yang digunakan oleh wanita iblis itu, tidak berwarna dan tidak terasa menyakitkan...racun itu bernama 'Racun Tanpa Derita'...racun itu milik seorang pendekar master dari sekte Wuyun bernama Duyao, pendekar wanita bergelar 'Dewi Racun'...dan wanita iblis itu kemungkinan besar adalah muridnya." Tutur Fan Tian menjelaskan.
"Ternyata Zhao Yun ini memiliki wawasan yang luas dalam dunia persilatan, sehingga dia bisa mengetahui sosok pendekar besar dari sekte Wuyun...sebenarnya siapa kedua orang tuanya?" Pikir Chen Song.
"Pendekar Zhao Yun, apakah anda memiliki obat penawarnya?" Lanjut Chen Song bertanya.
Fan Tian hanya mengangguk pelan dan segera memasukkan tangan ke dalam baju yang dia pakai.
Sesaat kemudian, didalam genggamannya kini terlihat botol kecil yang biasa dijadikan tempat untuk penyimpanan pil.
"Telan ini!" Ujar Fan Tian sambil membagikan dia buah pil kepada Chen Song dan kepada sang tabib.
Keduanya dengan segera menelan pil yang diberikan oleh Fan Tian.
"Tuan, silahkan anda melanjutkan tugasmu untuk menutup luka tetua Chen." Lanjut Fan Tian dan kembali mundur dan berdiri lagi di samping Sung Yunzhi.
Chen Zhu yang sempat meminta bantuan Fan Tian, kini tidak lagi merasa benci kepada adiknya itu meskipun masih tersisa rasa cemburu didalam hatinya setelah melihat Fan Tian kembali berdiri didekat Sung Yunzhi.
"Terima kasih pendekar Zhao, karena telah menolong ayahku!" Ucap Chen Zhu dengan sikap hormat.
"Pendekar Chen tidak perlu bersikap seperti itu, sebagai seorang pendekar, sudah sewajarnya kita saling membantu." Balas Fan Tian.
"Pendekar Zhao, aku tidak bisa membalas budi baikmu ini, karena telah menyelamatkan nyawaku, jika suatu saat anda membutuhkan bantuan ku, jangan sungkan untuk mengatakannya." Ucap Chen Song.
"Tetua Chen, anda tetap tenang, sebab untuk menghilangkan sepenuhnya racun didalam tubuhmu, masih ada hal lain yang harus aku lakukan." Balas Fan Tian.
"Ja...jadi, racunnya belum sepenuhnya hilang dari dalam tubuhku!?" Ujar sang tabib dengan tatapan mata yang melotot ke arah Fan Tian.
"Tuan selesaikan saja tugasmu itu, setelah selesai, aku juga akan membantumu untuk mengeluarkan racun didalam tubuhmu itu." Fan Tian menjelaskan dengan santai menanggapi perkataan sang tabib.
Pria tua itu segera melanjutkan tugasnya dengan hati yang legah.
Setelah selesai menutup luka Chen Song, Fan Tian pun langsung menyuruh kedua sosok itu untuk mengambil sikap meditasi.
Kedua pria itupun segera melakukan apa yang Fan Tian perintahkan.
Ia pun segera menotok setiap jalur meridian yang dimiliki kedua orang tua itu, kemudian menyalurkan energi qi miliknya dengan sedikit energi elemen petir yang dia miliki.
Chen Song dan tabib itu secara bersamaan bisa merasakan seperti ada semut yang bergerak diseluruh tubuh mereka.
Keringat berwarna hitam mulai merembes keluar dan membasahi pakaian yang mereka gunakan.
Fan Tian terus menyalurkan energi miliknya melalui kedua tangannya ke dalam tubuh kedua orang itu secara bersamaan.
Hingga beberapa saat kemudian dia menghentikan tindakannya itu.
"Kalian berdua lanjut bermeditasi untuk mengatur kembali energi qi kalian yang telah kacau itu." Ucap Fan Tian.
Pakaian yang dia gunakan saat itu, kini terlihat telah basah dengan keringatnya, sehingga Fan Tian segera pergi untuk membersihkan tubuhnya dan mengganti pakaiannya.
__ADS_1
~Bersambung~