
Setelah ketiganya tiba di kota Xiangcheng, mereka pun segera menuju ke salah satu kediaman yang terlihat sangat mega.
Kediaman itu milik salah satu keluarga kaya di kota itu. Rombongan yang dimaksudkan yang akan dikawal oleh Chen Zhu dan dua sosok lainnya.
Di pintu gerbang kediaman itu terlihat dua orang prajurit sedang berjaga.
"Selamat datang pendekar Chen! Silahkan masuk! Tuan kami sudah ditunggu kedatanganmu..."
"Mari aku antarkan..."
Salah satu prajurit menyambut dan menawarkan diri untuk mengantarkan mereka bertiga.
Ketiganya pun segera berjalan mengikuti prajurit itu dari belakang.
Setelah tiba di salah satu paviliun, prajurit itu pun kembali berkata.
"Pendekar Chen, mohon tunggu disini, saya akan masuk dahulu untuk memberitahukan kepada tuan jika kalian sudah tiba."
"Baik!" Chen Song menanggapi.
Prajurit itu pun segera bergegas pergi memasuki Paviliun itu untuk memberitahukan mengenai kedatangan ketiganya.
Beberapa saat kemudian, seorang pria yang memakai pakaian berbahan sutra keluar dari paviliun itu diikuti oleh prajurit yang mengantarkan mereka.
"Selamat datang pendekar Chen, aku merasa sangat terhormat atas kedatangan mu yang telah bersedia untuk memenuhi permintaanku ke sekte Zhenwu."
"Tuan Bian tidak perlu terlalu menyanjungku, aku merasa sudah sewajarnya menerima permintaanmu itu." Balas Chen Song.
"Ayo! Mari masuk untuk melanjutkan pembicaraan kita." Tutur Bian Que mempersilahkan.
Ketiganya pun memasuki paviliun utama di area kediaman tersebut.
"Silahkan duduk..." Ucap Bian Que lagi.
Chen Zhu, Sung Yunzhi segera duduk di samping Chen Song.
"Pendekar Chen, agar perbincangan kita semakin menarik, aku akan menyuguhkan arak terbaik yang sudah lama ku simpan." Lanjut Bian Que.
Chen Song hanya menanggapinya dengan senyuman.
Sesaat kemudian, seorang pelayan pun datang meletakkan arak yang Bian Que maksudkan didepan Chen Song dan segera menuangkannya.
"Pendekar Chen, mari bersulang..." Ucap Bian Que.
Mereka pun kemudian mulai membahas mengenai tugas yang akan mereka lakukan disepanjang perjalanan untuk bisa tiba di ibu kota Negeri Zhong.
"Pendekar Chen, aku memiliki tiga puluh orang pendekar yang memiliki basis kultivasi di ranah dasar serta dua orang pendekar ahli untuk ikut melakukan pengawalan."
"Sehingga keberadaan pendekar Chen dan dua pendekar muda ini, hanyalah untuk mengantisipasi jika ada gangguan yang datang dari seorang pendekar yang lebih kuat dari pengawalku."
"Tuan Bian tidak perlu menjelaskan hal itu kepada kami, sebab kami telah menerima permintaan dari tuan Bian itu."
"Sehingga aku bersama mereka berdua pasti akan melakukan yang terbaik agar bisa mengantarkan tuan Bian hingga sampai ke ibu kota dengan selamat."
"Terima kasih pendekar Chen, ucapan mu itu semakin membuat diriku merasa sangat aman untuk melakukan perjalanan nanti." Sambil menangkupkan kedua tangannya.
__ADS_1
"Tuan Bian tidak perlu sesungkan itu kepadaku, sebab ini sudah menjadi tanggung jawab kami karena di bayar oleh tuan." Chen Song menanggapi.
"Mari kita bersulang!" Tutur Bian Que lagi.
Mereka pun terus berbincang-bincang sampai akhirnya seorang pria memasuki ruangan tersebut.
"Tuan! Kami sudah mendapatkan kapal untuk bisa kita gunakan. Namun pemiliknya menginginkan agar kita segera berangkat malam ini." Tutur pria yang baru masuk.
"Mengapa tidak berangkat besok pagi saja?" Tanya Bian Que.
"Itu karena kapalnya besok akan di sewa oleh seorang bangsawan yang berasal dari kota Xiangfan." Jawab pria itu.
"Pendekar Chen, ternyata situasi saat ini sangat tidak bersahabat, bagaimana jika kita melanjutkan saat sudah berada dikapal!?"
"Baiklah...kita lanjutkan saja saat sudah berada diatas kapal..." Jawab Chen Song.
"Ayo kita pergi." Ajak Bian Que.
Bian Que segera memerintahkan seorang prajurit yang berjaga untuk mempersiapkan seluruh kebutuhannya saat ditengah perjalanan.
Setelah itu, mereka pun langsung bergerak menuju ke pelabuhan.
Setibanya di pelabuhan, seorang pemimpin pengawalan langsung menyambut kedatangan mereka.
"Selamat datang tuan!"
"Pendekar Chen! Senang bisa bertemu denganmu!" Ujar pria itu.
"Senang juga bisa bertemu dengan anda." Balas Chen Song.
"Semuanya telah siap, jadi perjalanan kita tinggal menunggu tuan saja." Lanjut pria itu.
Mereka pun segera menuju ke dermaga dan menaiki kapal yang bersandar disitu.
Rombongan itu pun segera bertolak dari kota Xiangcheng untuk bisa menyeberangi sungai agar bisa tiba di kota berikutnya.
Setelah dua jam berlayar, tiba - tiba dari kejauhan terlihat beberapa perahu berukuran lebih kecil yang bisa di tumpangi belasan orang terlihat seperti sedang mendekat kearah mereka.
"Pendekar Chen, sepertinya beberapa perahu kecil itu milik perompak yang sering membajak kapal-kapal yang berlayar disini...kita harus bersiap untuk mengusir mereka." Ucap pemilik kapal.
"Zhu'er! Cepat kibarkan panji sekte kita!" Perintah Chen Song.
"Pemimpin! Bukankah itu panji dari salah satu pahlawan sekte Zhenwu!?" Tutur seorang anggota perompak sambil menunjuk ke arah kapal yang dia maksudkan.
Sang pemimpin segera mengangkat salah satu tangannya untuk memberikan isyarat kepada beberapa perahu yang lain agar berhenti.
"Apakah kita akan membatalkan rencana kita?" Tanya seorang pria yang adalah wakil pimpinan.
"Sepertinya kita akan sulit untuk bisa merampas barang-barang di kapal itu."
"Mengapa pemimpin berkata seperti itu? Apa ada yang salah dengan rencana kita kali ini?" Tanya sang wakil lagi.
"Siapa yang bertugas untuk mengawasi dan mempelajari kekuatan mereka?" Tanya sang pemimpin.
"Saya yang bertugas untuk mengumpulkan informasi tentang penumpang di kapal itu." Jawab seorang perompak.
__ADS_1
"Coba kau lihat panji yang berkibar itu! Milik siapa panji itu!?" Ujar sang pemimpin.
"Itu...itu milik sekte Zhenwu." Jawab bawahannya.
"Kau perhatikan baik-baik panji itu!" Perintah sang pemimpin lagi.
"Itu...itu panji milik salah satu dari tujuh pahlawan sekte Zhenwu." Jawab bawahan itu lagi.
"Coba kau jelaskan mengapa kau tidak mengetahui keberadaannya di kapal itu?"
"Pemimpin, saat aku mengumpulkan informasi, aku benar-benar tidak melihat keberadaan salah satu pahlawan sekte Zhenwu...begitu juga dengan anggota sekte mereka." Bawahan itu mencoba untuk menjelaskan.
"Pemimpin, apakah itu hanyalah sebuah strategi agar kita tidak menyerang kapal itu?" Sang wakil pimpinan memberikan masukan.
"Aku sudah puas melanglang buana di dunia persilatan ini, panji itu adalah suatu kebanggaan bagi pemiliknya...sama seperti panji yang kita miliki...sehingga siapa yang berani menggunakan panji kebanggaan milik orang lain!?"
"Lebih baik kita mundur, sebab kekuatan elemen petir miliknya sangat menguntungkan jika berada diatas air seperti ini." Tutup sang pemimpin dan segera memberikan isyarat untuk berbalik.
Memang Chen Song sangat terkenal didunia persilatan, sebab dirinya adalah pendekar jenius di sekte Zhenwu serta menguasai dan bisa mengendalikan elemen api biru yang sangat kuat.
Itulah yang membuat pemimpin perompak itu mengurungkan niatnya untuk menyerang kapal yang ditumpangi oleh mereka.
"Pendekar Chen, sepertinya mereka sangat menghormatimu...dengan melihat panji mu saja, sudah membuat mereka berbalik."
"Aku sangat berterima kasih karena pendekar Chen mau mengawal rombongan kami untuk bisa tiba di ibu kota kerajaan." Ucap Bian Que memuji.
Diatas salah satu perahu perompak, saat jarak dengan kapal yang menjadi sasaran mereka sudah jauh, sang pemimpin pun berkata.
"Matikan semua lampu...ayo kita kembali dan ikuti kapal itu secara diam-diam...jika sudah tepat tengah malam, kita harus segera naik ke kapal itu dan membunuh mereka satu persatu." Tutur sang pemimpin.
"Bagaimana dengan pendekar Chen Song?" Tanya sang wakil pimpinan.
"Saat sudah tengah malam, pasti kewaspadaan mereka telah menurun, sebab tindakan kita sebelumnya itu telah merubah arah berpikir mereka." Tutur sang pemimpin menjelaskan.
"Kita hanya membutuhkan beberapa orang terbaik kita untuk melakukan tugas ini, sebab kita akan melakukan hal itu dengan cepat dan senyap..."
"Biar aku dan kau yang akan menghadapi pendekar Chen Song jika dirinya masih sempat tersadar dengan tindakan kita..." Lanjut sang pemimpin sambil tersenyum jahat.
"Cepat pilih orang-orang terbaik kita dan segera datang kesini...kita harus mulai bergerak secara perlahan, saat sudah tengah malam, baru kita beraksi." Tutup sang pemimpin.
"Baik! Aku pergi dahulu." Ujar sang wakil pemimpin dan segera melesat ke perahu yang lain.
Mereka pun mulai bertolak secara diam-diam dan kembali mengikuti kapal yang menjadi buruan mereka.
Semuanya saat ini menggunakan pakaian serba hitam dan tidak menggunakan lampu agar tidak terlihat.
Sedangkan diatas kapal, Chen Song masih tetap duduk tenang sambil berbincang-bincang dengan pemilik kapal dan juga pedagang yang dia kawal.
"Tuan, menurut pengalaman anda, sudah berapa kali kapal anda ini di bajak oleh para perompak itu?" Tanya Chen Song.
"Selama ini, kapalku ini baru sekali saja di bajak oleh para perompak...akan tetapi peristiwa itu sangat membekas dihatiku, sebab satu-satunya putraku tewas saat bertarung menghadapi mereka."
Dengan wajah yang terlihat sangat sedih, pemilik kapal itu mulai menceritakan peristiwa yang dia alami sebelumnya.
Chen Song dan bangsawan yang di kawal olehnya dengan penuh rasa ingin tahu terus mendengar cerita pria itu sambil menikmati arak.
__ADS_1
Saat tengah malam tiba, mereka pun segera membubarkan diri dan kembali ke kamar mereka masing-masing untuk beristirahat.
~Bersambung~