
Tiba hari dimana pertarungan antara Chang Tian dan Xiao Lingchen akan terjadi di arena pertarungan di kota Guancheng.
Podium yang ada di sekitar arena pertarungan kini sudah terlihat penuh sesak oleh penonton yang berasal dari berbagai tingkat sosial.
Meskipun demikian, namun mereka tidak tercampur baur satu dengan yang lain, sebab prajurit yang bertanggung jawab ditempat itu telah mengatur tempat bagi setiap orang yang masuk.
Tidak terkecuali dengan Fan Tian dan juga dua sosok wanita yang bersama dengannya.
Mereka bertiga kini telah melakukan penyamaran agar bisa memasuki arena pertarungan tersebut dan berbaur dengan orang-orang yang memiliki tingkat sosial paling rendah.
Meskipun pasukan Wang Zijun mencoba untuk bisa mengenali setiap orang yang masuk, namun karena ada begitu banyak orang yang berusaha memasuki tempat tersebut, sehingga ketiga sosok itu tidak bisa dikenali oleh mereka.
Rombongan Chen Song tidak ingin melewatkan kesempatan itu juga untuk menyaksikan pertarungan antara dua orang pendekar pedang terkuat di negeri Zhong itu.
Dirinya bersama yang lain memasuki arena pertarungan itu sambil mendampingi bangsawan Bian Que dan Fei Bin serta putranya, sehingga kelompok mereka duduk di tempat dimana para keluarga bangsawan berada.
Sung Yunzi yang tetap mencari keberadaan Fan Tian, mencoba untuk menyisir setiap sudut tempat itu agar bisa menemukan pemuda yang dicarinya.
Akan tetapi karena begitu banyak orang yang hadir, sehingga ia tidak bisa menemukan Fan Tian yang saat itu duduk di antara Dong Huang dan Bei Feiyan.
Diatas panggung arena, kini sudah ada sosok pria yang duduk bersila sambil menggendong di punggungnya sebuah kotak persegi panjang yang berisi pedang didalamnya.
Pria itu tidak lain adalah Xiao Lingchen yang sedang menunggu kedatangan Chang Tian.
Setelah mulai terjadi perseteruan diantara penonton kelas bawah yang hadir karena sudah berdesak-desakkan, akhirnya sosok yang mereka tunggu pun datang sambil menggunakan teknik meringankan tubuh untuk naik keatas panggung arena pertarungan.
"Mohon maaf karena sudah membuat pendekar Xiao menunggu lama!" Ucap Chang Tian setelah tiba diatas panggung arena.
"Aku pikir pendekar Chang Tian tidak berani datang untuk menerima tantangan ku, sehingga bisa membuat posisi gelar pendekar pedang terkuat kedua dinegeri ini tidak akan ada gunanya untuk disandang olehku." Balas Xiao Lingchen.
"Dengan kehadiranmu ini, itu sudah cukup untuk membuatku senang, sehingga pendekar Chang tidak perlu meminta maaf lagi kepadaku." Lanjut Xiao Lingchen.
"Bagaimana? Apakah pertarungan kita sudah bisa dimulai?" Tanya Xiao Lingchen.
"Sepertinya kita harus menunggu Yang Mulia bersama dengan Putra Mahkota untuk hadir di podium utama baru bisa melakukan pertarungan." Jawab Chang Tian.
"Ha...ha...ha...ha...ha, sepertinya pertarungan kita saat ini sangat dinantikan oleh semua kalangan dinegeri Zhong ini...baiklah, kita tunggu saja sampai keduanya hadir baru memulaikan pertarungan kita." Xiao Lingchen menanggapi pernyataan Chang Tian.
"Aku juga bisa memahami apa yang kau pikirkan, sebab Putra Mahkota adalah muridmu, sehingga sangat wajar untuk menunggunya agar bisa menyaksikan pertarungan diantara kita berdua." Xiao Lingchen menambahkan sambil tersenyum sinis.
Wang Zijun yang telah hadir di podium utama segera melompat keatas panggung arena dan bertanya.
"Apakah ada aturan yang harus di tetapkan oleh kedua senior dalam pertarungan nanti?"
"Iya! Seharusnya demikian." Jawab Chang Tian santai.
__ADS_1
"Sebaiknya pendekar Chang Tian segera mengajukan aturan apa yang akan diterapkan saat kita bertarung nanti." Sambung Xiao Lingchen mengusulkan.
"Baiklah, jika itu yang pendekar Xiao mau, aku akan menetapkan aturan dalam pertarungan kita..." Chang Tian menanggapi.
"Didalam pertarungan kita, siapa yang sudah terjatuh lebih dulu di lantai arena pertarungan ini, ia langsung dinyatakan kalah...dan pertarungan harus segera dihentikan..."
"Jika ada yang bertindak setelah lawan sudah berada diposisi tersebut, pihak kerajaan bisa mengambil tindakan terhadapnya secara tegas."
"Dan jika salah satu dari kami secara sukarela mengaku kalah, lawannya tidak boleh melancarkan serangan..."
"Tidak dibenarkan dalam pertarungan kita untuk ada satu orang pun yang akan datang membantu salah satu dari kami, serta tidak ada yang menaruh dendam setelah pertarungan ini berakhir..."
"Jika melanggar aturan itu, pihak kerajaan wajib untuk menghukumnya sesuai dengan aturan yang berlaku."
"Bagaimana menurut pendekar Xiao Lingchen? Apakah aturan itu sudah cukup?" Tutup Chang Tian dan bertanya kepada lawannya.
"Bagiku Itu sudah cukup." Jawab Xiao Lingchen.
"Karena kedua senior telah sepakat dengan aturan yang akan berlaku saat pertarungan terjadi, maka aku mewakili penguasa negeri Zhong ini akan menjalankan aturan itu." Ucap Wang Zijun.
"Cepat aktifkan formasi pembatas arena pertarungan!" Seru Wang Zijun memberi perintah sambil melesat pergi dari arena pertarungan tersebut.
Empat sosok yang ditugaskan untuk hal tersebut segera mendekati panggung arena pertarungan dan langsung mengaktifkan segel pembatas.
Setelah selesai mengaktifkan segel pembatas di arena pertarungan, akhirnya Li Genyuan dan Li Jing pun tiba dan duduk di podium utama Koloseum itu yang memiliki sebuah panggung ditengahnya.
Sang penguasa negeri itu pun langsung memberikan isyarat agar pertarungan itu segera dimulaikan.
Wang Zijun dengan menggunakan energi qi miliknya segera bersuara memberikan perintah agar kedua pendekar pedang itu segera memulai pertarungan mereka.
"Pendekar Xiao, ayo kita mulai." Ucap Chang Tian sambil mencabut pedang miliknya.
Xiao Lingchen pun langsung mengangguk pelan disertai dengan terbukanya kotak persegi panjang yang berada di punggungnya.
Setelah kotak itu terbuka, lima pedang yang berada didalamnya langsung melayang ke udara dan berhenti tepat didepan Xiao Lingchen.
Pertarungan pun segera terjadi diantara kedua pendekar pedang itu.
Akan tetapi sangat disayangkan, sebab ada begitu banyak orang yang tidak bisa melihat setiap gerakan yang digunakan oleh kedua pendekar pedang itu.
Hanya pendekar ahli puncak ke atas yang bisa melihat setiap gerakan keduanya.
Ledakan besar pun mulai tercipta akibat benturan energi besar yang dikeluarkan oleh kedua pendekar itu.
"Sepertinya teknik pedang milik pendekar Chang Tian terlihat lebih unggul dibandingkan dengan teknik pedang milik pendekar Xiao Lingchen." Pikir Fan Tian.
__ADS_1
Pikiran Fan Tian itu tidak keliru, sebab Chang Tian kini sedang menggunakan pedang pusaka Es Abadi milik sekte Naga Giok Langit.
Seekor Naga Es kini mulai menyerang Xiao Lingchen yang saat itu menggunakan teknik pedang milik keluarganya, yaitu teknik Pedang Sembilan Dewa.
Lima buah pedang milik Xiao Lingchen yang sudah diselimuti oleh energi qi miliknya terus melesat dengan cepat untuk bisa menghancurkan Naga Es yang mencoba untuk menyerang dirinya.
Dan masih ada empat pedang lainnya yang belum dikeluarkan oleh Xiao Lingchen.
Teknik pedang kedua pendekar itu harus bisa menguasai jiwa pedang atau jiwa senjata agar mampu menggunakan teknik tersebut.
"Benar-benar sulit untuk bisa menghadapi mereka berdua, apa lagi jika kita belum menguasai jiwa senjata." Gumam Fan Tian.
"Jika tidak mengaktifkan segel pembatas arena, pasti kita akan terdampak oleh serangan keduanya." Pikir Chen Song.
Setiap orang yang bisa melihat teknik pedang yang digunakan oleh kedua pendekar pedang yang sedang bertarung itu, masing-masing mengeluarkan komentar mereka.
"Ternyata kekuatan Pedang Es Abadi ini sesuai dengan rumor yang beredar...aku akan mencoba menambahkan dua pedang lagi untuk menghadapinya." Pikir Xiao Lingchen dan segera mengeluarkan dua pedang miliknya.
Tujuh pedang milik Xiao Lingchen pun kini menghadapi amukan Naga Es milik Chang Tian.
Namun dua pedang yang baru saja dikeluarkan oleh Xiao Lingchen itu bertujuan untuk menyerang tubuh Chang Tian.
Meskipun demikian, ekor Naga Es milik Chang Tian masih bisa mencegahnya dengan mengibaskan ekornya.
"Hmmmphh, dia pikir semudah itu untuk bisa mengalahkan diriku...kemampuan yang seperti ini belum cukup kuat untuk bisa merebut posisiku saat ini sebagai pendekar pedang terkuat kedua di negeri Zhong ini." Gumam Chang Tian dan terus menyerang Xiao Lingchen dengan Naga Es miliknya.
Naga Es itu terus mengikuti setiap gerakan pedang yang diperagakan oleh Chang Tian.
Li Jing kini tersenyum senang setelah melihat situasi yang ada, sebab gurunya terlihat sangat mudah menghadapi setiap serangan pedang milik lawannya.
Kini mereka tinggal menunggu serangan puncak milik Xiao Lingchen dengan dua pedang yang masih tersisa.
Jika kedua pedang itu telah digunakan dan tidak bisa merubah situasi yang ada, maka pemenangnya sudah bisa ditentukan.
Hal itu karena Chang Tian masih dalam posisi berdiri seperti biasanya dan belum terdorong mundur selangkah pun.
"Sial! Sudah tujuh pedang yang aku gunakan, akan tetapi belum bisa memberikan tekanan yang berarti bagi Chang Tian...apakah kemampuanku memang belum bisa mengalahkan dirinya!?" Xiao Lingchen membantin sambil mencoba untuk mengalahkan lawannya.
"Cepat keluarkan dua pedang milikmu agar kita bisa dengan cepat menyelesaikan pertarungan ini!" Seru Chang Tian memprovokasi lawannya.
"Sepertinya dia ingin mempermalukan diriku dihadapan semua orang, aku harus memberikan kesulitan untuknya sebelum aku menyerah." Pikir Xiao Lingchen dan terus mencoba menahan serangan Naga Es dan secara bersamaan ingin melukai Chang Tian.
Serangan pengalihan pun terus dilancarkan oleh Xiao Lingchen untuk bisa membuka celah baginya agar bisa menyerang tubuh Chang Tian.
Akan tetapi tindakannya itu sudah diketahui oleh Chang Tian. Sebab jumlah pedang yang banyak seperti itu tidak akan terlalu efektif jika dikontrol secara bersamaan.
__ADS_1
"Sepertinya pendekar Xiao belum bisa mencapai level tertinggi dari teknik pedang miliknya, sebab setiap serangan pedang miliknya belum terlalu efektif dan belum terlalu mematikan bagi seorang pendekar master puncak." Gumam Chang Tian.
~Bersambung~