
Setelah Li Ying pergi, akhirnya Fan Tian pun segera menatap Dong Huang dan juga Bei Feiyan serta melangkahkan kakinya untuk meninggalkan halaman belakang paviliun yang dia tempati itu.
Kedua wanita itu pun langsung mengikutinya dari belakang tanpa mengeluarkan sepatah kata pun.
Setelah memasuki paviliun, Fan Tian tetap bersikap acuh dengan kedua wanita itu dan tidak berpaling sedikitpun serta terus melangkahkan kakinya untuk menuju ke kamarnya.
Melihat sikap Fan Tian, Dong Huang yang saat itu memiliki banyak pertanyaan didalam pikirannya terus mengikutinya.
Fan Tian pun membuka pintu dan memasuki kamarnya itu.
Saat hendak menutup kembali pintu kamarnya, Dong Huang kini sudah berdiri sambil memegang daun pintu untuk mencegah agar Fan Tian tidak menutupnya.
"Apa yang kau inginkan?" Sergah Fan Tian.
Dong Huang tidak menjawab pertanyaan Fan Tian itu namun tetap melangkah masuk kedalam kamar tersebut.
"Mengapa kau masuk ke kamarku? Apakah ada yang salah denganmu?" Tanya Fan Tian lagi.
Dong Huang tetap diam dan tidak menjawab pertanyaan Fan Tian.
"Hei! Mengapa kau bersikap aneh seperti ini!?" Tanya Fan Tian dengan nada suara yang semakin tegas.
"Bukankah aku yang seharusnya bertanya kepadamu tentang apa yang baru saja terjadi itu?" Dong Huang balik bertanya sambil menatap tajam kearah Fan Tian.
Tatapan keduanya pun saling bertemu satu dengan yang lain dalam beberapa detik sebelum Fan Tian menjawab pertanyaan Dong Huang.
"Apa yang ingin kau tanyakan kepadaku mengenai kejadian yang baru saja kau lihat itu?" Tanya Fan Tian agar bisa lebih jelas lagi
"Apa benar teknik pedang barusan yang kau gunakan itu, memang telah diajarkan oleh ibumu?"
"Ataukah teknik pedang tersebut baru saja diberikan oleh Pangeran Kerajaan?"
Fan Tian berdehem terlebih dahulu sebelum menanggapi pertanyaan Dong Huang.
"Ehhemm, Aku pikir pertanyaan penting apa yang ingin kau tanyakan..."
"Baru saja kau bilang ada banyak pertanyaan yang ingin kau tanyakan kepadaku, terus pertanyaan apa lagi yang ingin kau tanyakan selain itu?" Tanya Fan Tian santai.
"Tidak! Sudah tidak ada lagi yang ingin aku tanyakan kepadamu." Jawab Dong Huang sambil menunjukkan sikap seperti salah tingkah.
Mendengar jawaban Dong Huang, Fan Tian pun beberapa saat menatap wajah wanita didepannya itu dan kemudian kembali berkata.
"Sepertinya dengan sikap apa pun yang kau tunjukkan kepadaku, kau tetap terlihat cantik..."
"Jika aturan sektemu memperbolehkan anggota sektenya untuk menikah, pasti aku akan menikahimu..."
"Tetapi hal itu tidak mungkin bisa terjadi, sebab sektemu melarangnya..."
__ADS_1
"Menurutku kecantikanmu ini sangat disayangkan, karena tidak bisa dimiliki oleh pria manapun." Tutup Fan Tian yang langsung tersenyum menahan tawanya.
Kata-kata yang Fan Tian lontarkan itu hanyalah berniat untuk menggoda Dong Huang agar bisa membuat wanita didepannya itu semakin salah tingkah didepannya.
"Kau...! Aku benci dengan kata-kata mu itu!" Tutur Dong Huang dengan nada suara yang sedikit tinggi dan langsung memukul manja dada bidang Fan Tian dengan kedua tangannya.
Hal itu langsung membuat Fan Tian tidak bisa lagi menahan gelak tawanya dan terus menggoda Dong Huang.
"Ha...ha...ha...ha...ha, Luapkan saja kemarahanmu kepadaku, akan tetapi untuk menjadi seorang wanita kesepian, itu sudah menjadi takdirmu." Ucap Fan Tian sambil berlari.
"Hal itu tidak akan terjadi, karena kau harus terus bersama denganku...dan siapapun tidak bisa menjadi pasanganmu...Kau ingat itu!" Balas Dong Huang sambil mengejar Fan Tian yang terus tertawa sambil berlari kecil diruangan kamar itu untuk menghindari Dong Huang.
Keduanya pun terlihat seperti sosok muda-mudi pada umumnya yang sedang menikmati kebahagiaan mereka berdua.
Hal itu baru untuk pertama kalinya bagi Fan Tian merasakan kebahagiaan seperti itu setelah kehilangan keluarganya.
Hal itu juga tidak berbeda jauh dengan apa yang dirasakan oleh Dong Huang, meskipun ia dibesarkan dengan banyak teman, namun kebahagiaan bersama dengan seorang pria, baru untuk pertama kalinya dia rasakan.
Hingga kejar- kejaran itu pun terhenti saat Fan Tian ditangkap oleh Dong Huang dan membuat keduanya terjatuh secara bersamaan dengan posisi tubuh Dong Huang yang berada diatas tubuh Fan Tian.
Suara gelak tawa Fan Tian kini sudah tidak terdengar lagi. Begitu juga dengan suara Dong Huang.
Keduanya kini hanya bisa diam dan saling menatap satu dengan yang lain dalam posisi tubuh yang saling berpelukan.
Beberapa saat kemudian, Dong Huang pun langsung berdiri dan membenahi pakaiannya dengan perasaan yang malu.
Fan Tian pun melakukan hal yang sama namun tetap menatap Dong Huang yang wajahnya kini tertunduk dan terlihat sudah memerah sambil kedua tangannya memainkan kain pakaiannya.
"Apakah kau merasa takut untuk melanggar aturan sektemu untuk bisa bersama denganku?" Tanya Fan Tian dengan nada suara yang penuh harap agar bisa mencintai wanita didepannya.
Dong Huang semakin berat untuk menatap wajah pria didepannya setelah mendengar pertanyaan tersebut.
"Apakah kau tidak mau selamanya bersama denganku karena kau tidak menyukaiku?" Tanya Fan Tian lagi menanggapi keterdiaman Dong Huang.
Mendengar pertanyaan itu, Dong Huang tidak bisa membiarkan pemuda itu berpikir seperti itu, sehingga ia pun dengan cepat membantahnya.
"Tidak! Bukan seperti itu! Aku menyukaimu juga, akan tetapi yang menjadi masalah bagiku adalah sudah ada wanita lain yang mempunyai harapan besar untuk bisa memilikimu. Dan dia tidak memiliki kendala sedikitpun seperti diriku."
"Siapa yang kau maksudkan itu?" Sergah Fan Tian agar bisa mengetahui siapa wanita yang Dong Huang maksudkan.
Dong Huang kembali tidak mau menjawab pertanyaan Fan Tian dan tetap diam.
"Apakah kau tahu jika wanita yang aku sukai itu adalah dirimu?" Lanjut Fan Tian yang masih tetap menggenggam kedua tangan Dong Huang.
"Apakah kau hanya menyukaiku?" Tanya Dong Huang pelan.
"Iya! Itu benar! Apakah kau meragukan perkataanku ini?" Tutur Fan Tian tegas untuk meyakinkan Dong Huang.
__ADS_1
Wajah Dong Huang langsung berubah seratus delapan puluh derajat dan langsung melepaskan kedua tangannya dari genggaman Fan Tian.
"Dasar buaya! Aku tidak butuh kata-katamu itu! Cepat jawab pertanyaanku sebelumnya!" Ujar Dong Huang dengan nada suara yang tegas.
"Sial! Mengapa sikapnya berubah drastis seperti itu? Apakah ada yang salah dengan rayuanku?" Pikir Fan Tian dengan perasaan bingung.
Yang Fan Tian tidak pikirkan adalah Dong Huang menginginkan jika kata-kata yang harus diucapkan olehnya itu seharusnya 'Aku mencintaimu' bukan hanya menyukainya.
"Hei! Mengapa hanya diam dan tidak menjawab pertanyaan ku?" Dong Huang kembali bertanya.
"Pertanyaan yang mana?" Tanya Fan Tian sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Pertanyaan ku sebelumnya mengenai teknik pedang yang kau gunakan saat bertarung dengan pangeran Li Ying." Jawab Dong Huang.
"Ohh pertanyaan yang itu!? Iya, itu benar! Teknik pedang itu aku pelajari saat melihat ibuku saat dirinya sedang berlatih...memangnya kenapa?"
"Apakah ada yang salah dengan teknik pedang tersebut?"
Mendapatkan pertanyaan dari Fan Tian, Dong Huang kini menjadi bingung dengan jawaban yang harus dia berikan dan hanya bisa terdiam.
"Mengapa kau hanya diam? Apakah kau tidak bisa menjawab pertanyaan ku itu?"
"Hmmmphht, aku tahu sekarang, sepertinya kau memiliki kecurigaan terhadap teknik pedang tersebut...jangan bilang kau berpikir jika aku telah mencuri teknik pedang tersebut dari orang lain..."
"Apakah kau pernah melihat teknik pedang itu sebelumnya?" Tutup Fan Tian bertanya sambil menatap Dong Huang.
Fan Tian terus menatap untuk menunggu jawaban yang diberikan oleh wanita didepannya itu.
"Mengapa menatapku seperti itu? Apakah otakmu sudah tidak waras lagi!?" Dong Huang membentak Fan Tian karena melihat sikap pemuda itu dan langsung membalikkan tubuhnya serta melangkah untuk keluar dari kamar tersebut.
Melihat langkah kaki Dong Huang yang menuju ke arah pintu, Fan Tian segera meraih tangannya dan langsung menarik tubuh wanita itu.
Tindakan Fan Tian itu membuat tubuh Dong Huang kembali berada di dalam pelukannya dengan posisi wajah keduanya yang saling berdekatan.
Dong Huang hanya bisa terdiam dan tidak memberikan perlawanan sedikitpun dengan tindakan Fan Tian.
Sedangkan didalam pikiran Fan Tian, kini mulai kacau diiringi degup jantung yang bertambah cepat.
Sesaat kemudian, Fan Tian pun memberanikan dirinya dan langsung mengecup bibir Dong Huang.
Mata Dong Huang langsung terbelalak saat Fan Tian mengambil ciuman pertamanya dan secara spontan mendorong tubuh pria yang memeluknya.
Dorongan tersebut membuat tubuh keduanya pun kembali terjatuh ke lantai namun masih dalam keadaan saling berpelukan.
Hal itu terjadi karena Fan Tian tidak melepaskan pelukannya, sehingga dorongan Dong Huang mengakibatkan tubuh keduanya pun terjatuh.
Keduanya pun kini dalam posisi saling berciuman.
__ADS_1
Namun tidak lama berada dalam posisi tersebut, tiba-tiba pintu kamar Fan Tian diketuk oleh seseorang.
~Bersambung~