PENDEKAR LEMBAH NERAKA

PENDEKAR LEMBAH NERAKA
Bab 9. Masa Lalu


__ADS_3

Saat berada di penginapan, Dong Huang pun merasa penasaran dengan perjalanan hidup Fan Tian, sehingga dirinya pun kembali mempertanyakan mengapa bisa berpisah dengan kakaknya.


Fan Tian pun tidak keberatan untuk menceritakan situasi yang terjadi sehingga dirinya berpisah dengan keluarganya.


***Menceritakan masa lalu***


Lembah yang awalnya terlihat sangat tenang, saat hari mulai senja, terlihat aktivitas penduduk di lembah itu yang semuanya adalah orang-orang yang mempelajari tentang ilmu pengobatan serta ilmu alkimia, tidak menyadari jika akan terjadi peristiwa kelam bagi mereka.


Mereka pun terkejut dengan kedatangan kelompok di permukiman tempat Fan Tian tinggal, seorang diantara mereka segera memberikan perintah untuk menyebar dengan memberi isyarat melalui kedua tangannya.


Sedangkan sosok yang memberikan perintah tersebut terus berjalan lurus kedepan seperti tidak takut dengan siapa pun yang akan menghadangnya.


Beberapa saat kemudian dari setiap rumah yang ada di permukiman tersebut, mulai terdengar suara wanita dan anak - anak yang berteriak histeris serta jeritan kesakitan yang keluar dari mulut para pria.


Sebagian pria yang adalah penghuni permukiman tersebut terlihat mencoba untuk melakukan perlawanan terhadap kelompok yang datang menyerang mereka.


Di salah satu bangunan rumah tempat Fan Tian tinggal, kakeknya menyuruh kedua orang tuanya.


"Sebaiknya kalian pergi dari sini! Bawah kitab ini bersama kalian dan jangan sampai jatuh ke tangan orang yang jahat!" Tutur seorang pria sepuh dengan penuh penekanan.


"Ayah! Bagaimana dengan dirimu? Lebih baik kau ikut saja bersama kami untuk pergi dari sini." Balas seorang pria.


"Cepat pergi! Jangan sampai kalian terlambat!" Teriak pria sepuh itu yang segera berlari meninggalkan mereka berempat yang terdiri dari dua orang bocah berusia lima dan tujuh tahun serta dua orang dewasa yang adalah orang tua dari kedua bocah itu.


"Tidak! Jangan tinggalkan Kakek! Kakek harus ikut bersama kami! Tinggalkan aku!" Teriak seorang bocah laki-laki yang baru berusia tujuh tahun.


Pria dewasa disampingnya langsung merangkul bocah itu agar tidak mengikuti pria sepuh yang telah pergi meninggalkan mereka berempat.


"Ayah! Biarkan aku tinggal bersama dengan kakek disini!" Teriak bocah itu berkali-kali agar ayahnya melepaskannya.


Mereka dengan penuh kesedihan segera pergi meninggalkan lembah itu untuk bisa menyelamatkan diri bersama dengan kedua putra mereka.


"Habisi saja siapa pun yang melakukan perlawanan!" Teriak sosok yang sebelumnya memberikan perintah.


Suara teriakan karena rasa sakit yang mereka rasakan serta bunyi dentingan senjata yang terbuat dari logam mulai terdengar berbalas-balasan di lembah yang awalnya sangat damai itu.


Sesekali sosok yang adalah pemimpin kelompok tersebut mengayunkan pedang ditangannya untuk menebas setiap orang yang dia temui.


Beberapa saat kemudian, akhirnya sepasang matanya tertuju kepada sosok pria sepuh yang sedang berlari kearahnya sambil melakukan hal yang sama dengan apa yang dia lakukan.


"Tangkap pria tua itu!" Perintah sang pemimpin dengan menunjuk ke arah pria tua yang dia maksudkan.


Beberapa bawahannya segera menyerang pria tua yang dia maksudkan dengan senjata tajam yang mereka miliki.


"Ternyata ilmu bela diri mu tidak buruk juga. Baiklah, biar aku yang akan menghadapimu!" Ujar sang pemimpin yang langsung berlari mendekat serta melepaskan serangan tebasan ke arah pria tua itu.


Tring...tring...tring


Bunyi dentingan pedang yang saling berbenturan.


Pria tua itu masih sanggup mengimbangi kemampuan ilmu bela diri dari beberapa orang pendekar yang mengeroyok dirinya.


Saat sedang bertarung, tiba-tiba sebuah anak panah melesat dan menancap tepat di salah satu kaki pria tua itu.


"Achhkk!" Teriak pria tua itu.

__ADS_1


Meskipun demikian, dia terus melakukan perlawanan.


Beberapa saat kemudian, satu lagi anak panah kembali menancap di kakinya yang lain.


Teriak kesakitan pun kembali terdengar keluar dari mulut pria tua itu.


Gerakan pria tua itu semakin melambat, sehingga sang pemimpin langsung mendaratkan tendangannya ke perut pria tua itu.


Buukkk


Tubuh pria tua itu langsung terdorong ke belakang dan terhempas ke tanah.


"Tangkap dia!" Teriak sang pemimpin.


Tiga orang bawahannya segera mengunci pergerakan tubuh pria tua itu dan merampas pedang ditangannya.


Terlihat ada belasan pria dan wanita yang masih hidup di kumpulkan oleh mereka.


"Apakah sudah tidak ada lagi yang tersisa?" Tanya sang pemimpin.


"Semua tempat sudah kami periksa dan kami tidak lagi menemukan siapa pun yang hidup selain mereka." Jawab seorang bawahannya.


"Sepertinya kau telah mengetahui maksud dari kedatangan kami ke tempat ini."


"Untuk itu, sebaiknya kau cepat serahkan saja Pil Emas Kehidupan yang kau miliki."


Ucap sang pemimpin sambil menatap ke arah pria tua yang sebelumnya telah dilumpuhkan.


"Aku tidak mengerti dengan apa yang kau katakan itu." Ucap pria tua itu menanggapi perkataan sosok yang berdiri di depannya.


"Ha...ha...ha...ha...ha...apakah kau pikir sebelum kami datang ke sini tidak memiliki dasar yang kuat?"


"Kami hanyalah petani biasa yang ingin hidup tenteram dan damai di lembah ini, mengapa kalian berpikir bahwa kami memiliki benda yang kalian cari itu?" Balas pria tua itu lagi.


"Seorang murid jenius Dewa Pengobatan mencoba untuk menipuku? Baiklah, aku ingin melihat sejauh mana kau bisa bertahan." Ucap sang pemimpin sambil memberikan isyarat kepada bawahannya.


Seorang bawahan segera menyeret seorang wanita ke hadapan pria tua itu dan mulai menyiksanya.


Teriakan kesakitan pun mulai terdengar. Pria tua itu mulai merasa tidak tahan melihat penderitaan yang dialami oleh wanita tersebut.


"Hentikan!" Perintah sang pemimpin.


"Apakah kau masih kuat?" Lanjutnya bertanya.


Pria tua itu masih tetap diam dan seakan tidak ingin bicara.


"Baiklah, jika kau tidak ingin bicara, pertunjukannya akan kita lanjutkan lagi." Ucap sang pemimpin.


Saat dirinya ingin memberikan isyarat untuk kembali menyiksa wanita itu, pria tua itu pun angkat bicara.


"Tunggu! Sudah, hentikan tindakan kalian!"


"Aku memang benar adalah murid dari dewa obat, namun pil yang kalian maksudkan itu sama sekali hanyalah sebuah cerita yang terlalu dibesar-besarkan, sebab pil itu tidak pernah ada." Ucap pria tua itu menjelaskan.


"Apakah kau ingin menipu diriku? Aku hanya bisa mengingatkan dirimu untuk tidak mencoba bermain-main denganku, sebab aku akan bertindak semakin kejam lagi kepada mereka!" Ujar sang pemimpin dengan senyum jahatnya meskipun terhalang kain yang menutupi wajahnya.

__ADS_1


Situasi saat itu kembali hening saat sang pemimpin memberikan kesempatan bagi pria tua itu untuk berpikir.


Ditengah kesunyian itu, samar-samar terdengar suara teriakan anak kecil di tengah hutan yang berjarak masih tidak terlalu jauh dari permukiman itu.


"Sepertinya masih ada yang kalian lewatkan. Cepat kalian kejar dan tangkap anak itu! Jika menyulitkan bagi kalian, habisi saja!" Perintah sang pemimpin lagi.


"Kalian ayo ikut aku!" Ucap seorang kepada beberapa sosok lainnya.


Mereka pun segera pergi menuju arah datangnya suara teriakan seorang anak tersebut.


"Jangan berteriak, mereka bisa menemukan kita." Bisik pria dewasa yang adalah ayah bocah itu.


"Istriku, kita harus bergerak lebih cepat lagi sebelum mereka bisa mengejar kita."


Wanita dewasa yang berlari disampingnya hanya menatap dan mengangguk mengiyakan apa yang suaminya ucapkan sambil menggendong bocah yang masih berusia lima tahun.


Beberapa saat setelah mereka berlari, akhirnya mereka bisa dikejar oleh kelompok yang memburu mereka.


"Berhenti! Kalian tidak bisa melarikan diri lagi dari kami...cepat menyerah dan ikut dengan kami untuk kembali ke lembah itu." Tutur pria yang menjadi pemimpin kelompok kecil tersebut.


"Zhu'er, kau adalah seorang pria, untuk itu kau harus kuat agar bisa melindungi ibu dan adikmu." Bisik pria yang adalah ayah dari bocah tersebut.


"Istriku! Kalian terus berlari, biar aku yang akan menghadapi mereka." Tutur ayah Fan Tian.


"Tian'er! Kau harus mendengar ibu dan kakakmu dan jangan pernah melawan perintah mereka berdua." Lanjutnya.


Wajah wanita itu langsung terlihat berubah menjadi sedih setelah mendengar perkataan suaminya.


"Bawah pergi dan selamatkan dirimu beserta kedua putra kita." Ucap pria itu sambil menurunkan putranya.


"Zhu'er, berlarilah sekencang mungkin dan jangan pernah menoleh kebelakang." Perintah sang ayah.


Bocah itu hanya menganggukkan kepalanya dan segera melakukan apa yang ayahnya perintahkan.


"Suamiku, kau harus bisa menyusul kami!" Teriak sang istri.


Sang ayah pun segera mencabut pedang miliknya dan segera berbalik sambil berlari untuk menghadang enam orang yang mengejar mereka.


"Ohh, sepertinya dia mencoba untuk melindungi wanita dan kedua bocah itu....Baiklah, kalian bertiga terus kejar mereka, biar kami bertiga yang menghadapi pria ini." Perintah seorang diantara mereka.


Saat jarak mereka sudah dekat, pria itu pun langsung melompat tinggi dan bersiap untuk melepaskan tebasan pedang ditangannya.


Keenam sosok tersebut langsung berpencar dan tiga orang lainnya segera melanjutkan pengejaran terhadap kedua bocah bersama ibu mereka.


Fan Zhu terus berlari bersama dengan ibunya yang masih menggendong Fan Tian.


Saat mereka bertiga tiba di sebuah jalan setapak yang akan menuju ke jalan utama, wanita itu pun segera menyelipkan kitab pemberian mertuanya ke dalam baju Fan Tian.


"Kau harus berlari mengikuti kakakmu untuk bisa menemukan tempat persembunyian dan jangan sedikitpun mengeluarkan suara agar supaya mereka tidak bisa menemukan kalian berdua."


"Zhu'er, bawa adikmu untuk pergi sejauh mungkin dan jangan pernah berhenti sedikit pun terkecuali telah menemukan tempat persembunyian yang aman." Perintah ibu kedua bocah itu.


Fan Zhu terus berlari sambil menggandeng tangan adiknya untuk bisa melanjutkan pelarian mereka sambil meneteskan air mata karena merasa takut dan sedih.


Untung saja fisik Fan Zhu dan Fan Tian sudah terbiasa dilatih untuk bisa menjadi seorang pendekar, sehingga kecepatan lari keduanya diatas rata-rata bocah normal yang berusia tujuh tahun.

__ADS_1


Setelah mendapatkan tempat untuk bersembunyi, Fan Zhu segera menarik tangan adiknya untuk bersembunyi di tempat itu sampai pagi menjelang.


~Bersambung~


__ADS_2