
Kemenangan Fan Tian itu diluar perhitungan semua orang yang menyaksikan pertarungan tersebut, sebab kecepatan serta kekuatan Mae Kong terlihat lebih unggul.
Apa lagi energi qi yang dimiliki Mae Kong lebih besar dari milik Fan Tian, sehingga saya serangnya lebih kuat dibandingkan dengan daya serang Fan Tian.
Meskipun Fan Tian memiliki keuntungan karena menguasai elemen petir, namun kecepatan serangan yang dia miliki masih sedikit dibawah Mae Kong.
Wajah Pi Yao dan tiga sosok lainnya langsung berubah menjadi sangat sedih karena kehilangan salah satu pendekar terkuat mereka.
Sama halnya dengan Chen Zhu, pemuda itu kini tidak senang dengan kemenangan yang diraih oleh Fan Tian atas lawannya.
Berbeda halnya dengan Sung Yunzhi dan Dong Huang, wajah kedua gadis cantik itu terlihat sangat ceria karena tidak terjadi sesuatu yang buruk terhadap Fan Tian.
"Ternyata apa yang tetua Dui pikirkan benar adanya...sepertinya dia memang memiliki sesuatu yang bisa membuatnya begitu percaya diri untuk bisa mengalahkan lawannya." Tutur Fei Bin.
"Apakah tetua Dui, bisa melihat hal apa yang dia lakukan sehingga bisa mengalahkan pendekar Tombak Iblis itu?" Lanjut Fei Bin bertanya.
"Tuan Fei, meskipun perhatianku tidak pernah lepas dari setiap gerakannya, namun aku tidak bisa mengetahui apa yang dia lakukan sehingga bisa membunuh lawannya dengan mudah seperti itu." Jawab Dui Buqi.
"Ayah! Ternyata Fan Tian ini benar-benar sangat kuat, sehingga bisa mengalahkan seorang pendekar bergelar tanpa terluka sedikitpun." Fei Wuji menambahkan.
Fei Bin hanya bisa menganggukkan kepalanya menanggapi ucapan putranya.
Apa yang mereka pikirkan juga dipikirkan oleh Chen Song, sebab dirinya sendiri tidak bisa memahami apa yang dilakukan oleh Fan Tian sehingga bisa membunuh lawannya.
Sesaat setelah beberapa prajurit membersihkan kekacauan yang disebabkan oleh pertarungan sebelumnya, komandan penanggung jawab tempat itu kembali naik ke atas panggung dan berkata.
"Pertarungan sebelumnya telah mendapatkan pemenangnya. Untuk itu, silahkan pendekar Chen Song dan pendekar Pi Yao naik kesini!" Serunya.
Chen Song langsung menatap ke arah Pi Yao dan segera melompat naik ke atas panggung arena dan diikuti juga oleh lawannya.
"Bagaimana pendekar Pi Yao, aturan apa yang kau inginkan?" Tanya Chen Song.
"Bagi siapa yang terjatuh dari atas panggung ini, dirinya dinyatakan kalah!" Jawab Pi Yao tegas.
"Hmmmphh, aku pikir kau ingin menggunakan aturan yang sama seperti rekan mu itu! Ternyata aturan yang kau gunakan hanya sekedar ingin menguji kekuatan mu saja...baiklah, aku akan mengikuti aturan mu saja." Tutur Chen Song yang telah siap dengan pedang miliknya.
Pi Yao sendiri kini telah siap dengan cambuk miliknya yang terdapat sebuah benda seperti pisau di ujungnya.
Setelah selesai menjelaskan aturan pertarungan keduanya, sang komandan segera memberikan isyarat agar segera memulai pertarungan tersebut.
Cambuk Pi Yao langsung berkelebat kesana kemari untuk bisa menemukan sasarannya.
Sedangkan Chen Song kini mulai bergerak menghindar serta memikirkan cara yang tepat untuk bisa menghadapi senjata cambuk tersebut.
__ADS_1
Awal pertarungan keduanya, Chen Song terlihat menjadi bulan-bulanan akibat dampak dari serangan cambuk Pi Yao yang sangat sulit untuk bisa ditangani dengan pedang miliknya.
Cambuk milik Pi Yao terus bergerak membentuk seperti lingkaran dan seketika berubah menyerang dengan lurus dari depan dan dari samping.
"Sial! Ternyata untuk menghadapi senjata cambuk miliknya tidak semudah yang aku pikirkan sebelumnya.
"Benar-benar sangat menyulitkan!" Gerutu Chen Song yang sesekali melepaskan serangan bola api miliknya untuk bisa memberikan perlawanan serta untuk bisa merusak teknik cambuk Pi Yao.
Di sisi luar arena pertarungan, terlihat Sung Yunzhi terus menempel Fan Tian seakan tidak ingin berpisah darinya.
Hal itu semakin membuat Chen Zhu semakin membenci Fan Tian. Dan semakin membuat Dong Huang merasa cemburu.
"Aku harus melakukan sesuatu untuk bisa memisahkan mereka berdua? Jika tidak, aku pasti akan kehilangan Sung Yunzhi." Pikir Chen Zhu dengan tatapan yang sangat membenci Fan Tian.
Sedangkan Dong Huang hanya bisa meratapi dirinya sendiri karena sebelumnya telah menciptakan jarak bagi hubungannya dengan Fan Tian.
Di atas arena, pertarungan antara Chen Song dan Pi Yao masih terus berlangsung. Dan terlihat masih di kuasai oleh Pi Yao meskipun belum bisa melukai Chen Song.
Saat cambuk Pi Yao hendak melingkari tubuh Chen Song, dengan cepat tangan kiri pria itu segera menangkapnya.
Namun Chen Song tidak menyadari jika tindakan lawannya itu adalah sebuah jebakan.
Saat keduanya saling mengerahkan kekuatan untuk menarik kearah mereka masing-masing, tiba-tiba cambuk tersebut mengeluarkan duri diseluruh bagian tali yang dipegang oleh Chen Song.
Itu karena saat duri-duri itu menusuk telapak tangannya, Pi Yao segera menarik cambuk miliknya sehingga membuat luka tusukan itu menjadi lebih menganga.
Dengan cepat Chen Song segera merobek pakaiannya dan langsung mengikat pergelangan tangannya untuk bisa menghentikan darah yang terus keluar meskipun sudah menotok jalan darahnya.
"Sial! Sepertinya jaringan di telapak tangan ku telah rusak parah, ini akan sangat merugikan bagiku untuk kedepannya, sebab sudah tidak bisa lagi menggunakan tangan kiriku ini." Chen Song membantin.
"Bagaimana pendekar Chen? Apakah kau sudah merasakan kehebatanku?" Ujar Pi Yao yang merasa telah mengungguli dari segala aspek. Sehingga ia sangat senang memperhatikan tindakan Chen Song yang sedang menangani luka yang dia peroleh.
"Apakah kita sudah bisa melanjutkan pertarungan kita?" Tanya Pi Yao setelah melihat Chen Song selesai menangani lukanya.
"Ayo kita lanjutkan!" Balas Chen Song dan segera menyerang lawannya.
Keduanya pun kembali bertarung dan saling bertukar serangan.
Kini Chen Song sudah tidak bisa lagi menyerang Pi Yao dengan pedangnya bersamaan dengan bola api miliknya setelah tangan kirinya terluka.
Kekuatan puncaknya segera dikerahkan Chen Song agar bisa secepatnya mengalahkan lawannya.
Pedang miliknya yang telah diselimuti dengan api dan mulai melesat ke arah Pi Yao.
__ADS_1
Serangan dekat dengan mata pedangnya, sedangkan serangan di jarak yang renggang, nyala api yang berbentuk seperti bulan sabit terus menyerang Pi Yao.
Hal itu membuat lawannya mulai melangkah mundur.
Wanita itu pun langsung melepaskan serangan energi qi miliknya yang dipadukan dengan elemen angin yang saling berbenturan dengan energi api milik Chen Song.
Ledakan terus terjadi dan terlihat nyala api tersebut membuat fokus mereka berdua terganggu.
Karena Chen Song memiliki kelebihan didalam menggunakan indera pendengarannya, sehingga lebih mudah melepaskan serangan ke posisi yang tepat.
"Sial! Ternyata pertemuan kedua kekuatan elemen api dan elemen udara membuat pandanganku terganggu, aku harus bisa meningkatkan indera pendengaranku!" Pi Yao menggerutu menghadapi situasi tersebut.
Namun dirinya sedikit terlambat dalam mengambil keputusan, sehingga kesempatan itu dapat dimanfaatkan oleh Chen Song.
Serangan beruntun miliknya dan ditutup dengan tebasan secara Vertikal langsung mengenai dada lawannya dan membuat wanita itu terdorong keluar dari arena pertarungan.
Ketiga rekannya yang melihat tubuh Pi Yao telah terdorong kebelakang, segera membantu agar tubuhnya tidak terjatuh ke tanah.
"Bagaimana saudara Pi Yao? Apakah anda baik-baik saja?" Tanya seorang rekannya.
"Sepertinya aku mengalami luka dalam yang cukup serius akibat terkena serangan api miliknya." Ucap Pi Yao dan sesaat kemudian langsung memuntahkan darah berwarna hitam.
Ketiganya segera memapah Pi Yao untuk duduk di tempat yang kelompok mereka tempati dan segera memberikan sebuah pil untuk luka dalam yang dia derita.
"Pertarungan ini dimenangkan oleh pendekar Chen Song!" Seru sang komandan.
"Apakah ada lagi yang ingin bertarung?" Lanjut sang komandan.
Fan Tian kembali melompat ke atas panggung arena pertarungan dan berkata.
"Siapa yang ingin bertarung denganku?"
"Apakah otak Zhao Yun ini masih waras? Mengapa dia begitu berani untuk membuka peluang bagi para pendekar untuk menantangnya!?" Gerutu Sung Yunzhi karena tidak sempat mencegah Fan Tian.
Tidak hanya Sung Yunzhi, melainkan semua orang yang hadir di tempat itu sangat terkejut dengan tindakannya.
"Dasar sombong! Aku harap ada pendekar yang lebih kuat datang untuk membungkam kesombongannya itu." Pikir Chen Zhu mengutuk.
Tidak ada satupun yang berani menerima tantangan Fan Tian hingga akhirnya ia pun turun lagi dari arena pertarungan tersebut.
Setelah itu, semuanya pun segera membubarkan diri.
~Bersambung~
__ADS_1