
Pertarungan jarak jauh itu membuat keduanya mengeluarkan tidak sedikit energi qi mereka.
Tak ayal beberapa batang pohon di area itu terdampak serangan keduanya.
Petir Fan Tian menerjang pepohonan saat tidak mengenai sasarannya serta menghanguskannya.
Begitu juga dengan serangan pisau-pisau milik lawannya. Satu persatu mulai tertancap kedalam batang pohon yang berukuran besar sehingga sangat sulit untuk bisa ditarik kembali oleh kekuatan pengendalian pemiliknya yang semakin menjauh.
"Sebentar lagi pisaunya akan habis, aku harus memanfaatkan kesempatan itu untuk bergerak mendekat agar serangan petir ku bisa mengenainya." Pikir Fan Tian sambil mencari momentum untuk melepaskan serangan.
"Sial! Semakin aku menggunakan banyak pisau untuk menyerangnya, pisau-pisauku akan semakin cepat habis...sedangkan aku tidak memiliki waktu untuk bisa menariknya kembali." Gumam pria yang menjadi lawan Fan Tian dan mencoba untuk memanfaatkan pepohonan untuk bisa berlindung dari setiap serangan.
Sesekali cakar milik Fan Tian menghancurkan batang pohon yang menjadi tameng bagi lawannya atas serangan petir miliknya.
Meskipun keduanya sama-sama memanfaatkan pepohonan untuk bisa memberikan kesulitan bagi setiap serangan lawannya. Namun pertarungan itu secara perlahan mulai menguras energi qi keduanya.
Hingga akhirnya saat yang dinantikan oleh Fan Tian pun tiba, dimana pisau milik pria itu telah habis tertancap di batang pohon.
Fan Tian segera bergerak mendekat dan menutup ruang untuk pria itu agar bisa kembali memperoleh senjata miliknya.
Apalagi puluhan pisau itu juga dia bentuk dari setiap logam yang melindungi tubuhnya. Sehingga itu sangat merugikan bagi pria itu.
"Ternyata dia pintar juga, karena telah menutup pergerakan ku untuk menghalangi agar aku bisa mendapatkan kembali pisau-pisau milik ku...jadi apa yang harus aku lakukan sekarang?"
"Jika bertarung di tengah kota, sudah pasti aku bisa dengan mudah untuk mengalahkannya... Tetapi posisi ditempat ini sangat merugikan bagiku." Pikir pria itu dengan kesal.
Sedangkan Fan Tian memiliki pemikiran yang lain untuk bisa mengalahkan lawannya itu.
"Jika satu serangan petirku bisa mengenainya, pasti aku bisa mengakhiri situasi yang terjadi saat ini."
Saat Fan Tian terus mencoba untuk bisa mendekat.
Sedangkan pria itu pun mengambil keputusan untuk melarikan diri sambil berlindung disetiap pepohonan yang dia lewati agar tidak terkena serangan petir lawannya.
Sesekali serangan petir milik Fan Tian pun hanya bisa menyasar batang pohon hingga hangus terbakar karena tidak mengenai sasaran.
Karena saat itu masih gelap, sehingga Fan Tian tidak bisa mempercepat gerakannya untuk mengejar pria itu.
"Sial! Jika saat ini bukan malam hari, aku pasti bisa dengan mudah untuk mengejarnya." Gumam Fan Tian yang terus mencoba untuk bisa mengejar pria itu.
Setelah beberapa saat melakukan pengejaran, akhirnya Fan Tian pun kehilangan jejak pria itu.
***
Ditempat dimana puluhan anggota perampok terbujur kaku karena perbuatan Fan Tian, kini terlihat seorang wanita yang masih berada diatas tunggangannya merasa terkejut dengan apa yang dia temukan itu.
"Siapa yang melakukan hal ini? Apakah Fan Tian ada diantara mereka?" Gumamnya dengan perasaan yang cemas.
Dong Huang pun segera turun dari atas tunggangannya dan mulai menghampiri setiap tubuh anggota perampok itu serta mencoba untuk memperhatikan penyebab kematian dan ingin mengecek apakah pria yang dia kejar itu ada diantara mereka.
Itu karena keadaan saat itu masih tidak terlalu jelas karena cahaya bulan dilangit sedikit terhalang dedaunan.
Akan tetapi dirinya tidak bisa menemukan penyebab kematian sepuluh orang itu serta tidak menemukan jika Fan Tian ada diantara mereka.
__ADS_1
"Sepertinya tidak ada tanda-tanda kekerasan yang terdapat ditubuh mereka."
"Jika dilihat dari tubuh mereka, sepertinya ini belum lama terjadi."
"Apakah ini dilakukan oleh Fan Tian?"
"Mengingat beberapa kejadian yang kita alami serta penyampaian pria ditempat peristirahatan...aku semakin yakin jika Fan Tian bukanlah pria bodoh seperti anggapan ku sebelumnya."
"Tetapi dimana dirinya? Apakah dia telah melanjutkan perjalanan untuk menuju ke kota Jin?"
"Sebaiknya aku segera pergi untuk menyusulnya."
Dong Huang kembali menaiki tunggangannya dan mulai memacunya.
Baru sekitar puluhan meter kuda yang ditunggangi Dong Huang berlari, wanita itu langsung menemukan kuda tunggangan Fan Tian yang saat itu telah terbaring tidak bernyawa lagi.
"Itukan kuda tunggangan Fan Tian, ada apa dengannya?"
Setelah bisa mengenali kuda itu, sontak saja Dong Huang segera menarik tali kekang untuk menghentikan lari kuda yang dia tunggangi dan segera melompat turun untuk bisa melihat dengan seksama apa yang membuat kuda itu kehilangan nyawanya.
"Rupanya mereka telah di sergap dengan panah oleh kelompok itu, tetapi jika melihat jarak antara tubuh sepuluh orang yang telah tewas itu dengan kuda ini...sepertinya Fan Tian langsung melompat dan melepaskan serangan ke arah sepuluh orang itu."
"Sedangkan kuda ini terus berlari hingga roboh disini karena anak panah yang bersarang ditubuhnya."
"Jika melihat dari situasi yang ada, apakah mungkin Fan Tian berinisiatif untuk melarikan diri setelah membunuh sepuluh orang itu?"
"Jika seperti itu, mengapa jasad sepuluh orang itu tidak di pindahkan oleh rekan-rekannya?"
Dong Huang terus menganalisa apa yang selanjutnya akan dilakukan oleh Fan Tian.
Beberapa saat kemudian, akhirnya Dong Huang pun memutuskan untuk membawa kuda tunggangannya dan di tambatkan ke sebuah pohon yang terletak sedikit jauh dari jalan agar tidak bisa ditemukan.
"Aku akan mencari jejak keberadaan mereka secara diam-diam agar tidak bisa ditemukan oleh kelompok perampok itu."
"Siapa tahu aku bisa menemukan Fan Tian dalam keadaan selamat."
"Jika tidak bisa aku temukan, aku akan menyusulnya ke kota Jin."
Pikir Dong Huang dan segera melompat naik ke atas pohon serta mulai melesat berpindah dari pohon satu ke pohon yang lain.
Setelah beberapa saat memasuki hutan itu lebih dalam lagi, akhirnya dia bisa mendengar suara ledakan petir.
Karena merasa penasaran, Dong Huang pun segera mendekat ke arah sumber suara tersebut.
Wanita itu langsung bisa menemukan sumber suara ledakan itu dan melihat ada dua orang pendekar yang sedang bertarung.
Dirinya bisa mengenali wajah lawan Fan Tian disaat cahaya ledakan petir itu memancar dan menerangi wajah pria itu.
Dan saat itu, Fan Tian sedang mengejar pria yang telah melarikan diri darinya itu.
Dong Huang pun hanya bisa mengikuti dan memperhatikan pertunjukan itu dari tempat yang sedikit jauh agar tidak bisa diketahui oleh kedua pendekar itu.
"Jika dilihat, sepertinya pria pengendali elemen logam itu sedang menghindari pendekar berjubah hitam dan bertopeng itu."
__ADS_1
"Apakah dia sedang melarikan diri dari pendekar pengendali elemen petir itu?"
"Apa yang dia lakukan itu sangat wajar, sebab ditempat seperti ini, pengendali elemen logam sangat dirugikan untuk bertarung dengan pengendali elemen petir."
"Apa lagi kekuatan elemen petir yang telah di kuasai oleh pendekar bertopeng itu memiliki daya rusak yang sangat kuat."
"Itu sudah setara dengan kemampuan yang dimiliki oleh seorang pendekar ahli tingkat puncak dan sudah sepantasnya mendapatkan gelar dari dunia persilatan."
"Tetapi siapa sosok pendekar berjubah hitam serta bertopeng itu?"
"Melihat dari penampilannya, apakah dia adalah pemimpin dari sepuluh perampok yang aku temukan sebelumnya?"
"Tetapi dilihat dari kemampuannya aku belum pernah mendengar seorang pendekar bergelar yang memiliki kemampuan sebagai pengendali elemen petir."
"Dari rumor yang aku dengar, setiap perampok yang melakukan kejahatan, tidak ada yang menggunakan teknik elemen petir."
"Tetapi mengapa pendekar pengendali elemen logam itu bisa berada ditempat ini?"
"Apakah itu berhubungan dengan Fan Tian?"
"Jangan bilang jika dia sedang berusaha untuk menyelamatkan Fan Tian dari tangan para perampok itu!?"
"Aku harus mengikuti pria bertopeng itu agar bisa menemukan posisi dimana mereka menahan Fan Tian."
Dong Huang terus berpikir mengenai segala kemungkinan yang telah dialami oleh Fan Tian sambil mengikuti kedua pendekar itu.
Disisi lain, Fan Tian telah kehilangan jejak lawannya, Fan Tian pun segera berhenti untuk mengejar dan kembali ke posisi dimana utusan yang pemimpin perampok maksudkan akan melewatinya.
Karena Dong Huang merasa penasaran dengan keberadaan Fan Tian, sehingga ia pun terus mengikutinya.
Akhirnya Fan Tian berhenti dan tetap bertengger di salah satu cabang pohon sambil memperhatikan ke salah satu area.
"Apa yang dilakukan olehnya?"
"Mengapa dia hanya berdiam diri dipohon itu?"
"Apakah ada sesuatu yang sedang dia perhatikan?"
Dong Huang merasa penasaran dengan tindakan pendekar bertopeng itu yang tetap tidak bergerak dan berpindah dari pohon tersebut selama beberapa saat yang telah lewat.
Keduanya tetap diam di posisi mereka masing-masing hingga malam kini telah berganti siang.
Setelah tiga jam berlalu terhitung setelah matahari telah menyinari bumi, akhirnya Fan Tian bisa melihat pergerakan beberapa orang yang menunggang kuda serta ada beberapa kuda sedang menarik sebuah gerobak.
Ada satu kereta kuda diantara mereka.
"Sepertinya didalam kereta kuda itu adalah utusan yang dimaksudkan, aku harus segera menangkapnya sebelum aku melemparkan asap beracun kepada para pengawal itu." Pikir Fan Tian dan segera melesat turun keatas atap kereta kuda itu.
Seorang pengawal langsung berteriak karena melihat kedatangan Fan Tian.
"Cepat lindungi tuan Hun Ye!"
~Bersambung~
__ADS_1