Pendekar Pedang Hantu Kematian

Pendekar Pedang Hantu Kematian
Turnamen Kota lll


__ADS_3

Di arena nomor 1, Xhio Li berhasil mengalahkan lawan-lawan yang menyerangnya. Sekarang Dia sedang beradu Jurus dan Teknik dengan Seorang Peserta dari Sekte Harimau Api.


Di arena itu hanya menyisakan mereka berdua dengan tingkat Kultivasi yang sama. Meskipun Seorang Wanita, lawannya tidak pernah meremehkannya. Selain kekuatan fisiknya tidak kalah dengan laki-laki dan Tekniknya yang tingkat tinggi, Dia juga berasal dari Sekte besar yang kekuatannya pantas untuk di perhitungkan.


Sementara Miu Sin, Dia meningkatkan Aura Rajanya. Para Peserta yang menyerangnya tampak terintimidasi akan tetapi masih bisa bertahan. Mereka juga meningkatkan Aura Raja milik mereka untuk menetralisasi Aura yang di keluarkan Miu Sin.


Beberapa Peserta yang sedang bertarung menghentikan pertarungan. Darah segar mengalir dari bibir mereka tidak kuat dengan Aura Miu Sin dan keempat Orang yang mengeroyok Miu Sin yang tingkat kultivasinya lebih tinggi. Satu demi satu keluar arena dan menyerah tidak mau membahayakan diri mereka. Sementara Han Zhie, Dia masih santai dan tenang seperti sebelumnya masih di dalam Arena.


Para Penonton tidak mengetahui apa yang terjadi sehingga beberapa Peserta menyerah dan keluar Arena, Penonton hanya mengira Para Peserta yang keluar tidak mungkin menang, jadi Mereka menyerah. Sejenak kemudian semakin banyak pandangan Penonton ke arah Han Zhie. Mereka tampak muak dan menyebutnya tidak tahu diri.


Keempat Peserta yang menyerah dan keluar Arena itu melirik ke arah Han Zhie, pandangan Mereka sekarang tidak lagi meremehkan.


"Ternyata Dia bukan Anak biasa" Gumam salah satu dari mereka.


"Ya benar Aku juga sekarang ragu bisa mengalahkannya" Timpa yang lainnya.


Para Tetua Sektepun mulai memperhatikannya. Pikiran Mereka sama, bertanya-tanya dari Sekte mana Dia berasal dan seberapa tinggi tingkat Kultivasinya.


"Turnamen kali ini sepertinya akan menarik" Ujar salah satu Tetua.


Feng Gun yang melihat Han Zhiepun tersenyum licik, dan berucap lirih.


"Adik Zhie.. Terus bertahan barangkali ada kesempatan"


Lin Mei hanya menggeleng-gelengkan kepala mendengarnya.


Miu Sin memang berada di tingkat Pendekar Kaisar level Puncak, tetapi menghadapi Empat Pendekar Kaisar level menengah sekaligus bukanlah hal yang mudah dan sangat merepotkan.


Jika saja Mereka tahu masih ada Seseorang di dalam Arena sedang menyaksikan Mereka bertarung, Mereka pastilah akan mengutuk dan mengumpatnya.


Wusssss


Mereka melesat ke arah Miu Sin menyerangnya secara bergantian.


"Tebasan Pedang Pemangsa"


Wusssss


Miu Sin mengeluarkan Pedang Pusaka Bumi membuat keempat lawannya yang hanya menggunakan Pusaka biasa kagum. Kemudian menangkis serangan Pedang lawannya membuat lawannya terpental.


"Semburan Serigala Api"


Api keluar dari mulut lawannya, Miu Sin menghindar melompat ke belakang.


Dari belakang

__ADS_1


"Badai Pasir Besi"


sabetan Pasir Besi mengumpul mengarah ke punggungnya.


Dia melesat dengan cepat dari tempatnya kemudian Berdiri di hadapan ke empatnya


"Teknik seribu Pisau"


Pisau-pisau itu melesat lebih banyak dari sebelumnya.


Mereka menghindar dan menangkis dengan jurusnya.


Trang


Trang


Trang


Trang


Belum selesai pisau-pisau itu menyerang, Miu Sin dengan tenaga dalam melemparkan pedang ke arah satu lawannya. Sebenarnya Di enggan melakukannya, akan tetapi tidak ada jalan lain selain melepaskan Pedangnya untuk menyerang begitu pikirnya.


Di saat Pedangnya melesat, Dia juga melesat cepat ke arah lawan yang lain untuk menyerangnya.


"Tapak Amarah Langit"


"Dinding Besi" Ucap satu dari lawannya tiba-tiba mendapat serangan Pedang yang Miu Sin lempar.


Duarrr pertahanannya hancur, Dia terpental, bibirnya mengeluarkan banyak darah, dan jatuh tidak berdaya.


Dua orang lagi tersisa. Dengan sisa-sisa tenaganya. Miu Sin bergerak cepat menggapai pedangnya.


"Teknik Pedang Pemangsa"


"Tebasan Peda....


Baru saja akan melesatkan jurusnya, Dua orang sisanya mengangkat tangannya menyerah.


Miu Sin menghela nafas, lututnya menempel lantai Arena. Kupingnya terasa sedang menunggu keputusan Juri, Dia tidak kunjung mendengarnya kemudian celingukan bertanya-tanya dalam hati "Apa yang terjadi?"


Dia melihat Han Zhie sedang menatapnya di pinggir di dalam Arena. Dia sangat terkejut melihat Han Zhie begitu santai dan tenang.


"Ahhh.. Bocah itu masih disini?tidak... Bagaimana bisa? Bahkan Auraku dan ke empat orang lainnya tidak berpengaruh padanya" Gumamnya dalam hati kebingungan tidak menganggap remeh.


Terlihat di sekelilingnya pisau-pisau yang berserakan.

__ADS_1


"Aku menyerah" Ucap Miu Sin lantang.


"Dengan sisa tenaga dalamku yang hampir habis, Aku yakin Dia bisa mengalahkanku" Batinnya.


"Ahhh. Sial seharusnya ku singkirkan Dia dari awal" Lanjutnya membatin


Juri terlihat bingung untuk memutuskan... Tidak ada juga satupun peraturan yang


Han Zhie langgar.


Dengan kurang percaya diri Juri mulai bersuara.


"Arena nomor tiga di menangkan oleh Peserta dengan nomor 328. Dia akan melanjutkan ke babak berikutnya" Ucapnya tidak begitu lantang seperti sebelumnya.


Para Penonton berteriak kesal mengumpat dan menyumpahi Han Zhie yang hanya menonton dari dalam Arena tetapi memenangkan pertandingan.


Sementara di arena nomor 1, Xhio Li pun berhasil mengalahkan lawannya dengan sangat sengit.


Setelah usai bertanding, Han Zhie menemui Kepala Desa Pelangi bersama Fang Gun dan Lin Mei.


"Zhi'er, kenapa Kamu bisa berada di sini? Bukankah Kamu sedang berlatih di hutan?" Ucap Kepala Desa Pelangi bernama Lin Du


"Ahh.. Ceritanya panjang Paman Du" Jawab Han Zhie.


Han Zhie kemudian menceritakan Kakek Huan Li yang sudah wafat. Kepala Desa, Feng Gun dan Lin Mei begitu sedih mendengarnya. Meskipun Kakek Li hanya tukang sapu, Kakek Li di anggap sebagai sesepuh Desa. Nasehat dari Kakek Huan Li pun selalu di dengar oleh warga Desa dan Kepala Desa.


Kemudian Han Zhie mengajak Paman Du ke tempat duduknya di tempat VIP di samping Sun Ho. Dia berpikir jika Paman Du menjalin hubungan dengan Kerajaan mungkin dapat membantu masalah Warga Desa Pelangi.


Keahlian Pekerja Desa Pelangi merupakan yang terbaik di Kerajaan bahkan di Kekaisaran. Hanya satu yang menjadi masalah yaitu bayaran mereka yang sangat rendah.


Di beberapa Sekte aliran hitam sekalipun, nama mereka sudah terkenal karena beberapa Sekte aliran hitam juga memakai jasa mereka untuk membangun keperluan Sekte.


Tidak ayal jika Desa Pelangi dan Penduduknya sangat jarang bahkan tidak pernah ada yang mengusiknya. Selain keahliannya yang hebat, bayarannyapun sangat murah. Merupakan kerugian yang besar jika mengusik Desa Pelangi atau warganya yang kebanyakan merupakan Pekerja ahli.


Karena hal itu pula warga Desa Pelangi memiliki sebuah keberuntungan. Dengan Lencana Pekerja Desa Pelangi, sekte aliran hitam tidak akan mengganggunya. Mereka bebas pergi ke sana kemari, begitupun Ayah Han Zhie yang aman aman saja padahal sering pergi meninggalkannya.


"Ayu Paman Du, duduk di sana saja" Pinta Han Zhie ke Kepala Desa Pelangi, Lin Du.


"Apa katamu? Sejak kapan Kamu menjadi gila Zhi'er. Lihat itu, Walikota, itu para Tetua sekte, Itu juga Jendral Kerajaan, dan itu, itu, itu. Memangnya Kamu Siapa menyuruhku duduk di sana?" Umpat Kepala Desa.


"Ayulah. Tidak apa Paman Du, Aku ingin Paman Du menasehati Pemuda itu, Pemuda itu yang memaksaku ikut Turnamen, meskipun Dia berkedudukan, Ia jahat karena sudah memaksaku. bukankah Paman Du sayang padaku, bagaimana jika Aku terluka di Turnamen, Aku hanya ingin Paman Du menasehatinya, Tak apa Paman Du duduk di sana, karena itu tempat dudukku"


Pinta Han Zhie menunjuk ke arah Sun Ho, memelas dan terus memaksa, Ia juga ingin mengerjai Sun Ho agar di marahi oleh Paman Du.


"Pemuda gila dari mana Dia Zhi'er menyuruh tukang sapu sepertimu untuk ikut Turnamen, baiklah Paman akan duduk sebentar di sana untuk menasehatinya bahkan memukul kepalanya" Ucap Lin Du.

__ADS_1


"Ayu Paman. Paman tidak perlu memikirkan Dia siapa, pukul saja kepalanya untuk Zhi'er" Han Zhie kemudian berjalan ke arah Tempat VIP bersama Paman Du.


Sementara itu, di arena Pertandingan, satu demi satu pertandingan telah usai. Para penonton terus memperhatikan Pertandingan babak pertama yang sebentar lagi usai.


__ADS_2