
Peperanganpun kembali pecah di dalam Ibukota antara Pasukan musuh dengan Pasukan Kaisar.
Murid bertopeng melesat dengan kecepatan penuh ke arah Pasukan Kelelawar dan Burung raksaksa yang berjarak masih jauh dari Mereka. Mengetahui hal itu, Kie rung menyuruh prajuritnya menyerang dengan tombak-tombak Mereka.
Ribuan tombak dari Prajurit Sekte Tanduk Api melesat mengarah ke Mereka, beberapa murid bertopeng emas yang memimpin membuat perisai pelindung sambil terus melesat ke arah musuh dengan tongkat terbang Mereka. Ribuan tombak berujung tanduk yang mengeluarkan api tidak bisa mengenai Mereka, terpental oleh pelindung yang sangat kuat dan tombak-tombak itu berjatuhan.
Tidak tinggal diam, Hua Meng mengepakkan sayap Kelelawarnya dan ribuan kelelawar-kelelawar kecil keluar dari balik sayap Kelelawar Hua Meng seperti sebelumnya. Kelelawar-kelelawar itu terbang melesat ke arah murid bertopeng emas dan perak mengincar tenggorokkan Mereka. Kelelawar Hua Meng berbeda dengan yang lainnya, selain lebih besar, Kepala dari Kelelawar itu berwarna merah mengeluarkan api dan matanya hitam pekat.
Murid bertopeng emas dan perak tidak bergeming dan terus melesat ke arah Mereka.
Jdorrr
Jdorrr
Jdorrr
Dengan pelindung yang dibuat lima murid bertopeng, kelelawar-kelelawar itu meledak sebelum sampai ke Mereka.
Hua Meng kemudian menyuruh para Tetua Sekte Kelelawar Hitam, Tanduk Api, dan Siluman Tengkorak menyerang Mereka. Merekapun melesat dengan Kelelawar-kelelawar dan Burung-burung tunggangan Mereka bersama dengan puluhan ribu pasukan gabungan ketiga Sekte itu seolah akan bertabrakan dengan pasukan murid bertopeng emas dan perak.
Tongkat para murid bertopeng mengeluarkan satu tongkat yang sama menjadi dua. Tongkat yang satupun Mereka gunakan sebagai senjata.
Mereka mempercepat kecepatan terbang Mereka dan murid bertopeng emas mempertebal aura pelindung, begitupun dengan Tetua dan pasukan gabungan ketiga Sekte itu.
__ADS_1
Puluhan ribu pasukan musuh dan murid bertopeng seolah saling bertabrakan.
Boommmmm
Dentuman keras terdengar memekikkan telinga tatkala formasi pelindung milik murid bertopeng emas dengan formasi pelindung para Tetua tiga Sekte hitam beradu.
Dalam sekejap mereka saling berperang satu sama lainnya. Murid bertopeng emas menghadapi para Tetua dengan senjata Mereka masing-masing, dan puluhan ribu murid bertopeng perak menghadapi pasukan gabungan ketiga Sekte musuh.
Jumlah yang tidak seimbang membuat beberapa murid bertopeng perak harus melawan dua musuh sekaligus.
Sementara di bawah Mereka, Para Patriark dan Tetua juga saling berhadapan satu sama lain.
Banyaknya Patriark dan Tetua dari pihak musuh membuat Mereka dengan leluasa membantai Pasukan di pihak Kaisar. Begitupun dengan Hua Meng, Kie Rung, dan Shi Tong yang belum mendapatkan lawan Mereka. Mereka seperti sedang berlomba-lomba menghabisi paling banyak pasukan di pihak Istana. Puluhan ribu pasukan di Pihak Istana sudah Mereka bantai dengan keji di tengah kesibukan Patriark dan Tetua dari Pihak Istana berperang satu sama lain dengan Patriark dan Tetua dari pihak Mereka.
Patriark Shao Liu dari Sekte bulan sabit, Liang Feng, Patriark Jing An dari Sekte Harimau Putih, Patriark Cong Shu dari Sekte Ular hitam, beberapa Patriark Klan, Tetua Cheng dan Tetua lainnya bergerak mundur sambil terus bertarung berusaha dengan sekuat tenaga untuk bisa membunuh para Patriark dan Tetua yang menjadi lawan Mereka.
Beberapa jam lamanya Mereka saling bertempur Prajurit yang tewaspun kian bertambah banyak.
Di atas udara, Murid bertopeng emas dan perak sudah sangat kualahan menghadapi Tetua dan pasukan musuh yang jumlahnya jauh melebihi Mereka. Setidaknya, jumlah Murid bertopeng sudah berkurang enam ribu, separuh dari jumlah sebelumnya. Meskipun begitu, Mereka berhasil lebih banyak, hampir tiga kali lipat menewaskan Prajurit musuh yaitu berkisar enam belas ribu Prajurit, beberapa Tetuapun tewas di tangan Mereka.
Hua Meng, Kie Rung, dan Shi Tongpun bergabung dengan pasukannya melawan Murid-murid bertopeng emas dan perak, begitupun Luo Yang yang menyuruh beberapa pasukannya membantu Hua Meng.
Pihak Istana terus bergerak mundur karena sudah sangat banyak yang tewas. Beberapa lamanya Mereka terus bertahan, dan kini Mereka sudah mundur sampai di tengah Ibukota.
__ADS_1
Shau Liu dan Jing An menyuruh Pasukan Kaisar kembai mundur, Merekapun kembali mundur mengikuti arahan Shau Liu.
Shau Liu dan Jing An di perintah oleh salah satu murid bertopeng emas untuk menyuruh Pasukan Istana mundur, begitupun dengan Murid bertopeng emas dan perak yang sudah mundur dari medan peperangan tidak sanggup menghadapi Hua Meng, Kie Rung, Shi Tong dan pasukan Pedang Iblis.
Lou Yangpun menyuruh Hua Meng, Kie Rung, dan Shi Tong tidak mengejar Mereka.
Pasukan bertopeng melihat sebuah Pasukan lagi di belakang Mereka yang sudah bersiap menyerang dan beberapa sudah di kerahkan menghadapi Mereka.
Berdasarkan informasi yang Mereka ketahui, kemungkinan Mereka dari empat serangkai. Sekte Bambu Kuningpun tidak akan sanggup menghadapi Mereka, maka perlawanan sungguh hanya akan membawa kerugian yang besar bagi pihak Istana. Pasukan Istanapun lebih banyak yang tewas berkali lipat jumlahnya dari Pihak musuh, hal itu juga menunjukkan bahwa kekuatan pihak Istana tidaklah sebanding dengan Kekuatan musuh dari segi kemampuan dan jumlah.
Sementara para Pemberontak yang terus bergerak maju, Luo Yang dan Yo Bang juga mengikuti tidak jauh di belakang Mereka. Mereka menghancurkan apapun yang Mereka lalui. Gerbang Ibukota di belakang Merekapun sudah rata dengan tanah.
Luo Yang dan Yo Bang menyuruh Sekte antek-antek empat serangkai untuk menyebar ke seluruh Ibukota dan menghancurkan semua yang Mereka lihat. sementara Luo Yang dan Yo Bang akan menuju Istana bersama Hua Meng, Kie Rung, dan Shi Tong.
Sementara Su Kong yang sangat girang akan banyaknya Pihak Kaisar yang tewas, terus bergerak maju bersama dengan beberapa Klan dan Sekte hitam lainnya yang memang berada di bawah kendalinya. Mereka tidak mengetahui jika Hua Meng dan beberapa yang lainnya sudah memisahkan diri dari Mereka. Mereka terlihat sudah tidak sabar untuk segera menguasai Istana.
Yo Bang kemudian melepaskan Tiga ekor Kalajengking raksaksa peliharaannya untuk membuat kekacauan dan akan menggiring Mereka memasuki Istana.
Tiga ekor Kalajengking raksasa melangkah ke arah Su Kong dan Orang-orangnya yang masih berperang menghadapi Pasukan di pihak Kaisar ke arah Istana Kekaisaran.
Dengan sepuluh Kaki yang panjang, kalajengking itu menginjak-injak tidak peduli pasukan Su Kong atau bukan. Kalajengking itu mengamuk menyerang Orang-orang yang berada di depannya. Ekornya menyibak para pasukan dan menyemprotkan sebuah cairan bening kemana-mana. Pasukan yang terkena cairan itu terbakar dan seketika tewas dengan tubuh yang gosong.
Mulut kalajengking itu mengeluarkan api yang membuat para pasukan juga gosong terpanggang hidup-hidup. Beberapa bangunan terbakar habis oleh ketiga binatang itu. Kalajengking-kalajengking itu juga memakan hidup-hidup para Prajurit yang Mereka lalui.
__ADS_1
Para pasukan tidak ada yang berani mendekati dan menjauh dari Kalajengking-kalajengking raksaksa yang kelaparan itu.
Beberapa Prajurit bertopeng emas dan Perak mencoba menyerang binatang itu tetapi semua serangan berhasil kalajengking itu tepis dan beberapa yang mengenai tidak meninggalkan bekas luka sama sekali karena kulitnya yang sangat tebal dan kuat.