Pendekar Pedang Hantu Kematian

Pendekar Pedang Hantu Kematian
Pemberontakan lV


__ADS_3

Seiring berjalannya waktu, Peperangan sudah sampai di tengah-tengah Ibukota, mendekati Ibukota. Pasukan Istana terus di buat mundur Oleh Su Kong, Xiang Yu dan yang lainnya.


Han Zhie sudah dapat melihat Peperangan yang sedang berlangsung. Dia memikirkan cara dan rencana menghadapi Musuh, tetapi hanya kebuntuan yang Ia dapatkan, tidak dapat menemukan solusi sama sekali. Bahkan murid bertopeng emas yang kemampuannya di atas Han Zhie di pukul mundur oleh Pasukan musuh yang menggila. Tidak ada jalan lain, Ia akan membantai dan mengurangi jumlah musuh seperti saat di Sekte Pedang Naga. Iapun tanpa banyak berpikir melesat ke tengah Ibukota.


Sementara itu, murid bertopeng emas menyampaikan kepada Tetua tentang Sekte Pedang Iblis dan Sekte Kalajengking Merah yang Ia lihat. Tetuapun tidak bisa berbuat apa-apa. Mereka bukanlah tandingan dari Luo Yang dan juga Yo Bang. Tetua menemui Kaisar dan meminta Kaisar untuk segera meninggalkan Istana bersama dengan murid-murid bertopeng emas dan perak menyusul Permaisuri Ryurong dan Putra Mahkota Xinfeng ke Gunung Petir. Akan tetapi Kaisar menolak meninggalkan Orang-orang yang sudah mati-matian membela Kekaisaran. Tetuapun tidak bisa memaksa Kaisar yang tidak ingin meninggalkan Istana.


Han Zhie melesat melewati Dua Tetua dan ratusan murid Sekte Bambu Kuning yang sedang bertarung dengan para Pembunuh bayaran bertopeng hitam yang berhasil Mereka kejar.


Pemimpin Pembunuh melihat Han Zhie melewati Mereka, dan entah kenapa instingnya bergidik takut melihat Han Zhie, dan merupakan sebuah keberuntungan karena Han Zhie hanya melewati Mereka.


Pemimpin Pembunuh bayaran bertopeng hitampun menyuruh semua anak buahnya pergi jauh dari Ibukota setelah dengan susah payah dengan dua Orang kaki tangannya memukul mundur dua Tetua Sekte Bambu Kuning. Mereka semua kemudian melesat pergi dari sana. Murid bertopeng emas dan perak akan mengejar Mereka kembali, tetapi dua Tetua menghentikan Mereka dan merasakan keanehan dengan Pemimpin yang terlihat ketakutan setelah melihat Han Zhie melewati Mereka.


Dua Tetua dan ratusan murid kemudian menyusul di belakang Han Zhie ingin melihat situasi terkini di Ibukota.


Setelah beberapa saat berlalu, Musuh sudah semakin dekat dengan Gerbang Istana. Kelelahan dengan pertarungan yang sangat lama membuat Patriark Jing An dari Sekte Bulan Sabit tewas bersama dengan Tetua yang lainnya. Patriark Liang Feng berhasil membunuh Patriark Sekte Pedang Suci, tetapi lukanya sangat parah, tangan kirinyapun terpisah dari badannya.


Su Kong yang melihat kesempatan, membunuh Patriark Feng yang sudah sangat lemah kehabisan tenaga setelah membunuh Patriark Sekte Pedang Suci dengan sangat keji. Beberapa Patriark dan Tetua yang ingin menyelamatkan di halangi oleh lawan Mereka.

__ADS_1


Hua Meng, Kie Rung, dan Shi Tong mulai bergerak menghadapi Para Patriark dan Tetua membuat Mereka terkepung tidak berdaya. Menghadapi tiga Orang Sekte aliran Hitam tersebut.


Su Kong, Xiang Yu, dan yang lainnya beserta pasukan Mereka berperang dengan para jenderal Kekaisaran dan pasukan pihak Istana. Semua Jenderal Istana disanapun Tewas Oleh Su Kong, Xiang Yu, Patriark, dan Tetua yang lainnya.


Sementara itu, puluhan Murid bertopeng emas dan ribuan murid bertopeng perak masih terus berusaha menghalau Kalajengking raksaksa, tetapi Mereka sangat kualahan dan serangan-serangan Mereka tidaklah mempan.


Dari dua ratus ribu Prajurit di Pihak Istana yang menjaga Ibukota, sekarang hanya tersisa delapan puluh ribu, sementara dari tiga ratus lima puluh ribu pasukan musuh masih tersisa sangat banyak sekitar dua ratus tujuh puluh lima ribu prajurit, beberapa pasukan musuh menghilang menyebar ke Ibukota.


Pihak Istana hanya terus bertahan dan menunggu nasib Mereka yang sudah seperti di ujung tanduk.


Dua Tetua dan murid bertopeng emas dan perak yang sudah sampai tampak tercengang dengan pihak Istana yang tersisa sedikit. Dua Tetua Sekte Bambu kuning tidak bisa banyak membantu, Mereka berdua melawan Hua Meng, Kie Rung, dan Shi Tong. Mereka berdua juga ikut terus bergerak mundur mengikuti para Patriark dan Pasukan yang tersisa.


Tiga Kalajengking raksaksa yang mengamuk akan menyerang para pasukan, terus di halang-halangi oleh ribuan murid bertopeng emas dan perak.


Su Kong tampak merasakan keanehan Sejak kemunculan tiga kalajengking raksaksa, dan juga beberapa Sekte Hitam yang belum pernah Ia lihat dan ketahui. Ia merasa ada yang salah dengan rencananya. Tiga Kalajengking raksaksa mengamuk tidak pandang bulu, juga menghabisi para pasukan Klan, dan beberapa pasukan sekte hitam yang berada di pihak yang sama. Tiga Kalajengking itu juga memakan mentah-mentah ratusan Prajurit Istana dan Prajurit dari pihak Su Kong.


Sudah sejak beberapa waktu yang lalu Su Kong menyuruh Hua Meng untuk menghentikan Sekte-sekte bawahannya untuk beristirahat sejenak dan membiarkan pasukan dari pihak Istana mundur. Tetapi Hua Meng tidak menghiraukannya dan berpura-pura tuli terus bertarung bersama Kie Rung, Shi Tong melawan dua Tetua Sekte Bambu Kuning. Begitupun dengan Pasukan Mereka yang terus bertarung satu sama lain, mengejar siapapun yang berusaha mundur.

__ADS_1


Su Kong, Xiang Yu dan lainnya hanya bisa mengikuti Hua Meng karena tanpa Hua Meng dan bawahannya Ia bukanlah apa-apa. Ia terus memikirkan sesuatu tetapi tidak mengucapkan sepatah katapun karena peperangan seperti sudah di ambil alih.


Ia terus memperhatikan para Prajurit Sekte bawahan Hua Meng yang bisa Ia lihat karena dekat dengan Mereka, sibuk menghancurkan Bangunan-bangunan Ibukota. Sementara puluhan ribu pasukan seolah menghilang tidak terlihat olehnya karena menyebar ke seluruh penjuru Ibukota.


Su Kong juga terlihat kesal dengan Patriark Sekte Pedang Iblis dan Kalajengking Merah yang terus mengamati Mereka dari belakang dan baru mengerahkan sedikit Prajurit Mereka saat menghadapi murid bertopeng emas dan Perak. Tetapi Ia masih menganggap Mereka sebagai bawahan Hua Meng.


Beberapa saat kembali berlalu, dua Tetua Sekte Bambu Kuning di buat terluka parah oleh tiga Patriark dari Sekte Kelelawar hitam, Sekte Tanduk Api, dan Sekte Siluman Tengkorak.


Pasukan musuh sudah bisa melihat Gerbang Istana yang kini berjarak hanya sekitar satu kilometer dari Mereka.


Tiga Kalajengking Raksaksa tidak menghentikan langkahnya membakar Prajurit-prajurit Istana. Beberapa murid bertopeng emas dan perak tewas terkena cairan dari ekor Kalajengking, terbakar dari api yang keluar dari mulutnya, dan di makan hidup-hidup oleh makhluk buas itu.


Dua Tetua Sekte Bambu Kuningpun tewas tidak mampu menghadapi tiga Patriark sekaligus. Cong Shu dari Sekte Bulan Sabit dan beberapa Tetua juga telah tewas di tangan Patriark Sekte Banteng Hitam, sementara Tetua Cheng dan Tetua lain penuh dengan luka.


Kaisar yang sudah mengetahui akan hal itu, meminta Klan Mo, jenderal dan pasukan elit untuk membantu dan menjemput Mereka.


Ia tidak enak hati meminta kepada para Patriark dan Klan lain yang sudah bersiap di Gerbang Istana, dan memerintah Mereka meninggalkan Istana.

__ADS_1


__ADS_2