Pendekar Pedang Hantu Kematian

Pendekar Pedang Hantu Kematian
Sedikit Tantangan


__ADS_3

Patriark Jin Lin dengan Poenik dengan bulu dan ekornya yang sangat indah terlihat terbang di atas arena.


Penonton dan para Peserta terpana melihatnya, Jin Linpun tersenyum karena Dia merasa hebat dengan kedatangannya yang sengaja terlambat dengan burung Poeniknya yang sangat indah.


"Wah...lihat !!! Apa itu Patriark Jin Lin?" Gumam Seseorang, tidak pernah melihat Patriark Jin Lin sebelumya.


"Indah banget Beast miliknya"


"Beast itu pasti juga sangat kuat"


Seratus peserta yang akan melawan Beast spirit melihat ke atas.


"Ku harap Pemuda ini sadar diri"


"Ya benar, Dia tidak begitu meyakinkan, bagaimana jika Kita tewas oleh Beast spirit karena Dia tidak bisa melindungi"


Gumam Mereka.


Patriark dan Tetua Sekte Aliansi Perdamaian menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Banyak gaya sekali Pak Tua itu" Ucap Tetua Qiaoyi melihat Jin Lin berputar-putar di atas Stadion memamerkan kebesarannya di hadapan Peserta dan Penonton.


"Bagaimana ini Biksu Agung" Ucap Wan Ming, Biksu Agung Li Yao hanya mengangkat bahunya.


Jin Lin sangat menjunjung tinggi harga dirinya, Dia seseorang yang sedikit temperamental dan mudah tersinggung, seringkali membangga-banggakan kehebatannya.


"Semoga Pak Tua itu tidak terlalu memojokkannya" Lanjut Wan Ming sedikit khawatir dengan Jin Lin yang pasti tidak terima posisinya di ambil oleh Han Zhie. Jika saja Jin Lin terlalu memojokkan Han Zhie untuk menunjukkan kehebatan dan kebesarannya, tentu Jin Lin akan lebih mempermalukan dirinya sendiri.


Wusssss


Bruggggg


Jin Lin melompat dari atas Poeniknya ke arena dari atas ketinggian, begitupun dengan Poenik miliknya yang menyusul Tuannya turun ke arena.


"Apakah Aku datang terlambat? Akulah Jin Lin, Patriark dari Sekte Poenik Abadi" Ucapnya kepada beberapa Tetua yang bersiap melepas Beast Spirit yang akan di hadapi peserta dan memamerkan kebesaran nama Sektenya. Tetua itu hanya meneguk ludahnya tidak menjawab apapun.


"Anda pasti Patriark Jin Lin, mohon maaf karena Aku mengambil tempatmu, karena Patriark sudah sampai, Aku permisi dulu" Ucap Han Zhie membuat Jin Lin mengerutkan keningnya.

__ADS_1


"Tunggu dulu, apa maksudmu? Siapa yang menyuruhmu?" Tanya Jin Lin. Han Zhie menengok ke arah Biksu Li Yao dan Patriark Wan Ming, tetapi Mereka menoleh seperti tidak mau terlibat.


"Kau tidak boleh pergi, beraninya Mereka membandingkanku denganmu" Lanjut Jin Lin.


"Bukankah Kau sudah ada di sini, kenapa Aku tidak boleh pergi" Jawab Han Zhie.


Para peserta yang sudah bersiap hanya bisa menyaksikan Mereka berdua. Begitupun dengan beberapa Tetua yang akan melepas Beast Spirit. Para penontonpun seperti akan mendapatkan tontonan menarik.


"Kau sudah berada di sini, dan berani mengambil posisiku, kenapa harus terburu-buru" Balas Jin Lin.


"Lalu apa yang harus Aku lakukan" Tanya Han Zhie.


"Kau pastinya tahu jika melindungi Mereka dari Beast pastilah harus seseorang yang hebat bukan?" Tanya Jin Lin menunjuk ke arah para peserta kompetisi di anggukkan oleh Han Zhie.


"Mari Kita lihat terlebih dahulu, seberapa besar kemampuanmu, Kau masih muda tapi terlihat percaya diri sekali" Lanjut Patriark Jin Lin.


"Lalu apa yang harus Aku tunjukkan bahwa Aku memang pantas mengganti posisimu?" Tanya Han Zhie.


"Jika Kau lebih hebat dariku, tentu Aku akan merelakan posisi ini untukmu" Jawab Jin Lin. Meskipun Jin Lin tidak melihat Kultivasi Han Zhie karena memang belum berkultivasi, tapi Dia tidak meremehkan Han Zhie. Jika Biksu Agung dan Patriark Wan Ming memintanya, pastilah Han Zhie bukan Orang biasa. Akan tetapi, karena sedikit kesombongannya, Dia tidak mau di permalukan dengan di gantikannya posisi yang seharusnya miliknya oleh Han Zhie, dan ingin melihat seberapa hebat Han Zhie sampai berani mengambil posisinya.


"Mari membiarkan Beast milik Kita sedikit bertarung, jangan bilang kalau Kau tidak memiliki Beast spirit" Balas Jin Lin. Poenik berarmor emas miliknya seolah mengetahui keinginan majikannya dan maju di hadapan Han Zhie.


"Tentu saja, mari Kita lihat seberapa hebat Beast milikmu" Balas Jin Lin.


"Lebih baik Kau tidak memanggilnya dan silahkan keluar dengan terhormat sebelum di permalukan" Lanjut Jin Lin.


Han Zhie menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Bukankah dari tadi Kau yang menahanku untuk keluar dari arena" Ucap Han Zhie.


"Dasar Pak Tua, Aku permalukan saja Dia" Han Zhie membatin.


"Ling, ada yang mau menantangmu" Lanjut Han Zhie kepada Ling yang berada di atas ketinggian.


"Baik Tuan" Jawab Ling.


Ling tahu apa yang di inginkan Han Zhie dan sudah mengamati dari ketinggian, Ling langsung melesat ke bawah.

__ADS_1


"Auuuuuu" Suara Ling begitu nyaring terdengar.


Para penonton dan peserta melihat seekor Beast yang begitu gagah di atas langit. Ling menukik dari atas ketinggian, Dia bersembunyi sangat tinggi di balik awan, Patriark, Tetua yang terbang dengan Beast Merekapun tidak bisa merasakan keberadaan Ling apalagi melihatnya karena tempat Ling bersembunyi sangat tinggi.


Ling sampai di atas Stadion, Dia berputar-putar di Stadion seolah ingin memperlihatkan kegagahannya. Dia mengepakkan sayapnya dan bertingkah seanggun mungkin berusaha membuat Orang-orang terpukau agar tidak sembarangan menyinggung Tuannya.


"Matilah Kau bodoh, berani sekali menyinggungnya" Ucap Biksu Agung Li Yao spontan membuat Patriark dan Tetua menelan ludahnya.


"Baru pernah Aku mendengar Biksu Agung berkata seperti itu" Ucap Patriark Mu Weili.


"Biksu Agung, apa Kau tidak salah meminum obat?" Tanya Tetua Qiaoyi.


"Amitabha... Maaf keceplosan. Itu karena Orang itu begitu gegabah ingin mempermalukan Tuan Muda Zhie" Balas Biksu Agung mengelak.


"Sekali-kali Dia memang harus di beri pelajaran" Sahut Wan Ming di anggukkan oleh Biksu Li Yao.


Wusssss


Hembusan angin begitu kuat terasa di seluruh Stadion akibat kepakkan sayap dari Ling.


Bugggg


Stadion bergetar sejenak akibat Ling menepak di arena.


Orang-orang begitu terpana melihat Ling. Ling turun di depan Poenik milik Patriark Jin Lin. Bagi Poenik itu, Ling begitu gagah, agung, dan terhormat. Meski begitu, Ling sekaligus juga terlihat sangat buas dan kejam.


Ling mengeluarkan aura intimidasi sangat kuat yang hanya dapat di rasakan para Beast, bulu-bulu indah tegak yang Poenik itu pamerkan menguncup seolah ketakutan, ekornya terlihat lesu, kepalanya menunduk. Pelan-pelan Dia mundur mengernyit ke belakang berlindung di balik Jin Lin.


Jin Linpun menelan ludahnya melihat Ling. Ling mengeluarkan taringnya, matanya memancarkan sedikit cahaya kemerahan terlihat begitu seram, sadis, dan kejam melebihi Beast yang pernah Dia lawan yang keluar dari hutan kabut hitam.


"Ayu Kita mulai" Ucap Han Zhie menahan tawa melihat Patriark Jin Lin bermuka kecut dan juga Poenik miliknya yang bersembunyi menunduk di balik badan Patriark Jin Lin.


"Sepertinya Poenik milikku sedang kelelahan. Kau mungkin hanya beruntung memiliki Beast seperti itu. Bagaimana kalau Kita sedikit beradu tinju saja" Ucap Patriark Jin Lin mengelak Beast miliknya ketakutan karena Ling.


"Baiklah" Jawab Hanya Zhie kemudian bersiap dengan tinjunya. Han Zhie mengeluarkan petir di tangannya. Petir itu terlihat sangat kuat. Sedikit petir Han Zhie sambarkan ke lantai dan titik-titik percikan petir terlihat di lantai. Patriark Jin Lin mundur melompat ke belakang merasakan di kakinya sedikit percikan yang terasa amat panas dan merasa kakinya akan gosong jika terkena lebih banyak lagi percikan. Petir itu terlihat sangat mematikan.


"Ayu Patriark" Lanjut Han Zhie sedikit terkekeh melihat Patriark Jin Lin.

__ADS_1


"Sepertinya perutku tiba-tiba sedikit sakit, Aku harap Kau mau menggantikanku. Aku pergi dulu" Balas Jin Lin langsung melompat ke atas Stadion ke bangku Biksu Agung Li Yao, Patriark Wan Ming dan lainnya. Tidak tinggal diam, Poenik miliknyapun langsung melesat tanpa di suruh olehnya.


__ADS_2