Pendekar Seruling Bambu

Pendekar Seruling Bambu
Chapter 10. Pelatihan Selesai


__ADS_3

"Teknik Pedang Naga Langit, Naga Membelah Gunung" seru Jaka seraya mengarahkan pedang kayunya ke arah batu besar. Deru suara angin yang dihasilkan mampu menggerakkan batu besar itu, bergerak sedikit lalu kembali diam seperti semula.


"Yah.. tidak buruk, setidaknya aku sudah mampu menguasai bagian terpenting dari jurus ini hanya dalam waktu tiga kali purnama. Aku yakin jika aku sudah mampu menguasai tenaga dalam dengan baik, aku mampu membelah batu besar itu sama seperti yang pernah guru lakukan." ucap Jaka penuh semangat.


"Aku harus mencobanya.. " lanjut Jaka.


Kemudian Jaka mulai mencoba mengalirkan tenaga dalamnya ke arah pedang kayu, pedang kayu itu mulai merespon dengan perubahan warna. Namun penguasaan tenaga dalam Jaka terlihat belum stabil, terbukti dari perubahan warna pedang yang dihasilkan.


"Teknik Pedang Naga Langit, Naga Membelah Gunung" seru Jaka kembali mengarahkan pedang kayu ke arah batu besar.


"Duaaarrr... " terdengar ledakan yang cukup besar, batu besar itu hancur menjadi beberapa bongkahan kecil.


"Sudah ku duga, aku berhasil, yeahh... " teriak Jaka, suaranya menggema di sekitar puncak gunung itu.


Walaupun hasilnya tidak sebagus dengan yang pernah gurunya hasilkan, Jaka sudah merasa cukup senang. Jaka hanya perlu meningkatkan jumlah tenaga dalam yang dimilikinya, hal ini bisa dilakukan di sela-sela latihan dengan melakukan tapa brata.


Tidak lama setelah terjadinya ledakan, Resi Danurwinda segera bergegas menuju ke lokasi Jaka berlatih. Resi Danurwinda khawatir jikalau ada penyerang yang akan melukai muridnya.


Setibanya di lokasi latihan, Resi Danurwinda tercengang tidak percaya atas apa yang baru saja dilihatnya.


"Guru.. lihatlah, aku berhasil." ucap Jaka dengan bangga.


Resi Danurwinda belum menjawab, dirinya masih belum percaya dengan kemampuan muridnya itu, "Kau sungguh berbakat Jaka." ucap Resi Danurwinda seraya menoleh ke arah Jaka.


"Terimakasih guru, ini semua buah dari bimbingan guru kepada ku." jawab Jaka merendah.


"Hahaha.. murid baik.


Nah sekarang istirahat lah." ucap Resi Danurwinda yang dijawab anggukan kepala oleh muridnya itu.

__ADS_1


Jaka kemudian pergi ke gubuk kecilnya untuk beristirahat, sejenak ia ingin tertidur namun teringat akan seruling bambu miliknya. Bergegas ia mengambil seruling itu di tempat penyimpanan.


Ketika Jaka memegang seruling itu untuk kedua kalinya, Jaka kembali merasakan sensasi menyejukkan, ada aliran energi perlahan memasuki tubuhnya. Tanpa disadari olehnya, perlahan tenaga dalam Jaka kembali pulih seperti semula.


"Aku merasakan tubuh ku segar dan tenaga dalam ku pulih kembali." ucap Jaka.


"Seruling ini.. sungguh pusaka yang sangat berharga." lanjutnya.


Jaka hendak mencoba meniup seruling itu namun tidak ada suara yang dihasilkan, seperti ada sesuatu yang menyumbat di dalamnya.


Dan benar saja, ada sebuah gulungan putih di dalam seruling itu, gulungan ini terbuat dari kulit hewan sejenis harimau. Jaka mencoba membuka gulungan putih dengan perlahan, pertama kali yang dilihatnya adalah tulisan Seruling Bambu Sakti yang ukurannya cukup besar, lalu ada beberapa tulisan kecil di bawahnya.


Jaka mulai membaca tulisan itu, secara singkat gulungan ini menjelaskan kegunaan Seruling Bambu Sakti. Seruling ini selain digunakan sebagai alat musik, juga bisa digunakan sebagai senjata. Seruling ini walaupun terbuat dari batang bambu namun bambu ini adalah bambu pilihan yang diambil dari dunia lain, bukan dari dunia manusia.


Kegunaan lain dari seruling ini adalah mampu memulihkan tenaga dalam pemiliknya bahkan waktu yang dibutuhkan tiga kali lebih cepat dari cara yang biasa, sehingga Jaka tidak perlu khawatir untuk pemulihan tenaga dalam.


Dalam gulungan ini juga dijelaskan bagaimana cara menggunakan seruling bambu ini, lalu Jaka mulai mencoba memainkannya.


"Hei burung, apa kau sedang mengejek ku?" tanya Jaka pada burung-burung itu.


Burung-burung itu seakan mengerti dengan pertanyaan Jaka, seketika burung-burung itu berhenti bernyanyi dan menggerakkan kepalanya menotok-notok kaki seperti gerakan mengangguk.


"Hahaha.. baiklah burung, aku akan lebih giat dalam berlatih." ucap Jaka lalu ia merebahkan badan dan segera tertidur.


***


Keesokan harinya Resi Danurwinda kembali mengajarkan jurus-jurus dari teknik Pedang Naga Langit, mulai dari jurus kedua yang bernama Naga Mencari Mangsa. Jurus ini menekankan pada titik-titik vital tubuh lawan, seperti kepala, jantung, dan titik vital lainnya.


Kemudian dilanjutkan dengan jurus ketiga sampai dengan jurus terakhir yang sangat dahsyat, yaitu jurus Murka Naga Langit.

__ADS_1


Jurus inilah yang pernah digunakan oleh Resi Danurwinda ketika dirinya dikepung oleh ribuan pasukan musuh di wilayah Kerajaan Surasena. Jurus ini memungkinkan penggunanya untuk memanggil seekor naga dari langit, tentu saja bukan naga yang sebenarnya, itu adalah wujud bayangan naga yang menyerupai aslinya.


Jurus ini merupakan jurus yang paling sulit dikuasai, selain membutuhkan pemahaman yang tinggi jurus ini juga menuntut penggunanya untuk memiliki jumlah tenaga dalam yang sangat besar.


Jaka terus berlatih setiap hari mematangkan teknik Pedang Naga Langit, sesekali ia mengkombinasikan dengan tenaga dalam.


Tidak lupa di sela-sela latihan teknik pedang, Jaka juga menyempatkan berlatih bermain seruling bambu sakti.


***


Hari silih berganti, bulan menyongsong berganti tahun. Tidak terasa Jaka telah berlatih di puncak gunung ini selama lima tahun lamanya.


Saat ini Jaka telah berusia 17 tahun, tubuhnya tinggi tegap, hidungnya mancung, kulitnya putih bersih, dan rambutnya yang hitam dibiarkan panjang sebahu. Sekilas Jaka terlihat seperti seorang pangeran kerajaan.


Saat ini Jaka telah menguasai teknik Pedang Naga Langit dengan sempurna, jumlah tenaga dalamnya pun tergolong besar. Di seluruh wilayah Kerajaan Matraman, jumlah pendekar yang mampu menandingi Jaka mungkin bisa dihitung dengan jari.


Jaka juga telah menguasai teknik memainkan seruling bambu dengan sangat baik, hampir tiap pagi dari puncak gunung itu terdengar alunan suara seruling yang sangat merdu. Alunan suara seruling ini bahkan mampu menghipnotis burung-burung yang berada di puncak gunung, mereka serempak datang berkumpul dan bernyanyi bersama alunan seruling sakti.


"Jaka.. kemari lah." suara Resi Danurwinda memanggil Jaka.


"Iya guru." jawab Jaka lalu datang mendekat.


"Sudah berapa lama kau berlatih di puncak gunung ini?" tanya Resi Danurwinda.


"Lima tahun guru." jawab Jaka singkat, Jaka merasa aneh dengan pertanyaan gurunya itu.


"Hm.. lima tahun ya.. tidak terasa sudah begitu lama." gumam Resi Danurwinda. Lalu Resi Danurwinda menyampaikan beberapa hal kepada Jaka.


Resi Danurwinda mengatakan kepada Jaka bahwa sudah waktunya bagi Jaka untuk turun gunung mengabdikan dirinya kepada rakyat, mengabdikan diri kepada orang yang membutuhkan.

__ADS_1


Selain itu Resi Danurwinda berpesan agar Jaka pergi ke Kerajaan Matraman Barat, Jaka diminta untuk membantu Raja Angga dalam menghadapi pemberontakan yang akan segera terjadi.


"Tapi sebelum itu kau harus menghadapi guru sekali lagi Jaka, guru akan bertarung dengan sungguh-sungguh. Apa kamu berani Jaka? ledek Resi Danurwinda memberi tantangan.


__ADS_2