
Malam hari di dalam ruangan istana Kerajaan Maraman Barat terlihat sedang berlangsung pertemuan empat mata antara Raja Angga dan adiknya, Raja Sukanda. Keduanya saling melepas rindu setelah sekian lama tak bertemu.
Terakhir pertemuan di antara mereka terjadi ketika pembagian wilayah Kerajaan Matraman menjadi empat wilayah mata angin. Raja Angga berkuasa di wilayah barat, sedangkan Raja Sukanda berkuasa di wilayah selatan.
Tidak lupa pula Raja Angga mengucapkan banyak terimakasih sebab Raja Sukanda berkenan memberikan pertolongan di saat-saat terakhir. Jika telat sedikit saja, saat ini mungkin Kerajaan Matraman Barat hanya tinggal nama.
Raja Angga dan Raja Sukanda bersepakat untuk saling melindungi wilayah mereka dari serangan Matraman Utara. Kerjasama antar kedua kerajaan ini sangat dibutuhkan jika mereka ingin mengusir musuh dari wilayah Matraman Barat.
“Raka Angga, aku paham benar watak dari saudara kita, Putra. Dia tidak akan senang mendengar pasukannya berhasil dipukul mundur. Dia pasti sudah menyiapkan rencana yang terbaik untuk mengalahkan kita berdua.” ucap Raja Sukanda, dirinya menghawatirkan perang yang akan terjadi kemudian.
“Aku setuju denganmu, Sukanda. Tetapi aku tetap yakin, jika pasukan kita bekerja sama, kita akan memenangkan peperangan ini.”
Di saat keduanya sedang membicarakan rencana musuh, seorang prajurit memaksa masuk ke ruangan pertemuan itu.
Raja Angga menaikkan salah satu alisnya lalu menanyakan hal apa yang telah terjadi kepada prajurit tersebut. Dengan tergagap, prajurit itu menjawab bahwa Kotaraja telah diserang.
“Matraman Utara telah menyerang kembali, Gusti.” ucap prajurit itu.
‘Apaa?” Raja Angga bahkan bertanya dengan sangat keras atas laporan yang disampaikan prajurit itu. Raja Angga tak mengira bahwa musuh akan menyerang dalam waktu yang sangat dekat.
“Sungguh biadab kau, Putra.” ucap Raja Angga marah, beberapa urat besar menonjol di wajahnya.
Raja Angga dan Raja Sukanda akhirnya bersiap untuk menuju lokasi penyerangan.
**
Di atas salah satu kereta kuda yang terbuat dari emas murni, duduk seseorang dengan memakai pakaian kebesaran kerajaan. Di atas kepalanya nampak sebuah mahkota yang juga terbuat dari emas.
Wajahnya yang putih bersih serta hidungnya yang mancung menandakan seseorang ini memiliki wajah yang rupawan. Belum lagi ditambah kumis tipis yang melekat di atas bibirnya, membuat banyak gadis terpesona melihatnya.
Seseorang inilah yang memimpin Kerajaan Matraman Utara, Raja Putra. Dibalik wajahnya yang rupawan ternyata menyimpan sejuta kebengisan yang tersembunyi.
__ADS_1
Hal ini bisa dilihat dari caranya memimpin kerajaan, rakyat banyak yang miskin bahkan tertindas atas segala kebijakan yang diterapkannya. Ditambah lagi oleh nafsu keserakahan untuk menguasai tanah Matraman seorang diri. Sungguh, wajah rupawannya ini mampu menipu bagi siapapun yang belum pernah mengenalnya.
Di hadapan Raja Putra, kini tengan berlangsung peperangan yang tidak kalah seru dengan sebelumnya. Raja Putra begitu murka mendengar kabar bahwa pasukannya berhasil dipukul mundur, ditambah lagi anggota Kelompok Jubah Hitam banyak yang telah tewas.
Atas hasil buruk yang mereka peroleh, Raja Putra memerintahkan pasukannya untuk kembali menyerang Matraman Barat selagi pasukan musuh tidak dalam posisi bersiap.
Kali ini mereka mengerahkan seluruh armada tempur yang Matraman Utara miliki. Hasilnya cukup bagus, pasukan Matraman Utara berhasil merangsak masuk mendekati istana kerajaan.
“Hahaha... Hahaha... Matilah kalian prajurit Matraman Barat. Malam ini kerajaan kalian akan aku ratakan dengan tanah.” ucap Raja Putra, lalu diiringi dengan tawa penuh kemenangan.
Tidak lama muncul Mahapatih Argadana mendekati Raja Putra, di tangannya tergenggam sebilah pedang yang di ujungnya menetes cairan berwarna merah. Mahapatih Argadana menyarungkan pedangnya dan mengambil sikap berlutut.
“Lapor Yang Mulia, saat ini pasukan kita hampir berhasil mendekati istana. Beberapa senopati kita sedang menghadapi senopati lawan. Hamba menunggu titah Yang Mulia.”
“Apakah kau bisa menyelesaikan ini dengan cepat, paman patih?’’
“Sendika Yang Mulia, malam ini Kerajaan Matraman Barat akan segera tunduk kepada kita.”
Di sisi yang lain, Raja Angga dan Raja Sukanda tengah memperhatikan keadaan di luar istana. Pertempuran masih berjalan dengan sangat sengit. Prajurit-prajurit kerajaan tengah bertarung dengan pasukan musuh. Satu demi satu nyawa melayang dengan percuma.
Beralih ke sisi yang lain, Senopati Karang Suta sudah mendapatkan banyak luka akibat pertarungannya dengan Senopati Cakra Boga. Tubuhnya sudah lemas, tidak ada lagi tenaga untuk melanjutkan pertempuran.
Sedangkan senopati lainnya seperti Senopati Bagas Aji, Senopati Arya Kemuning, dan Senopati Surya Benggala tidak dalam kondisi yang lebih baik. Mereka dipaksa bertarung tiada henti dan musuh yang seperti tidak pernah habis. Hingga akhirnya tubuh mereka sudah penuh dengan luka, tenaga sudah habis terkuras. Yang tersisa hanyalah nyawa yang menempel di badan.
“Apakah ini akhir dari Kerajaan Matraman Barat?” pertanyaan itu tergambar di masing-masing kepala senopati itu. Walaupun sudah mendapat pertolongan dari Matraman Selatan, nyatanya itu semua tidaklah cukup untuk merubah hasil akhir.
Melihat hasil yang sangat tidak menguntungkan, Raja Angga mendesak Raja Sukanda untuk melarikan diri. Setidaknya suatu hari nanti Raja Sukanda bisa mengumpulkan pasukan kembali, begitu pikirnya.
“Pergilah Sukanda, aku akan membuat jalan untukmu.” ucap Raja Angga sembari mengayunkan pedangnya ke arah musuh.
Alih-alih untuk melarikan diri, Raja Sukanda justru ikut berperang dengan Raja Angga. Menarik pedangnya dan menyerang musuh yang mulai mendekati Raja Angga, “Maaf Raka, aku tidak bisa membiarkanmu mati di tempat ini.”
__ADS_1
Raja Sukanda tidak bisa meninggalkan kakaknya begitu saja. Jikapun harus ada yang selamat, maka itu haruslah Raja Angga, bukan dirinya. Dibandingkan dengan Raja Sukanda, Raja Anggalah yang memiliki kemampuan lebih baik dalam ilmu pemerintahan.
“Raka, pergilah. Kau harus tetap hidup demi membangkitkan kejayaan tanah Matraman. Berjanjilah kepadaku.”
Usai berkata demikian, Raja Sukanda melompat menyerang Senopati Cakra Boga yang mulai mendekati mereka. “Urusan di sini biarlah menjadi tugasku, kau pergilah!” seru Raja Sukanda sembari melayani jurus-jurus yang dikeluarkan lawannya.
Pertempuran itu ternyata tidak begitu memakan waktu lama sebab Senopati Cakra Boga memang sudah dalam keadaan terluka. Dalam beberapa tarikan nafas, pedang Raja Sukanda berhasil menusuk tepat di dada kiri senopati itu. Mati.
Kematian Senopati Cakra Boga menarik perhatian pasukan Kerajaan Matraman Utara, termasuk Mahapatih Argadana. Melihat senopati sekaligus murid kesayangannya meregang nyawa, amarah Mahapatih Argadana membuncah sampai puncaknya.
“Mati kau, Sukanda!”
Mahapatih Argadana menyerang Raja Sukanda dengan sangat sengit. Jurus-jurus yang dikeluarkannya sangat mematikan, belum lagi tenaga dalam yang dimilikinya sudah termasuk ke dalam salah satu pendekar yang tertinggi.
Meskipun menyandang gelar seorang raja, Raja Sukanda tidaklah memiliki ilmu kanuragan yang tinggi. Ilmu kanuragannya mungkin hanya setara dengan pendekar kelas ahli.
Jelas, pertarungan mereka berdua tidaklah berimbang. Dalam beberapa jurus, Raja Sukanda sudah terdesak hebat. Tubuhnya sudah dipenuhi luka sabetan pedang. Darah mengalir dari sela-sela bibirnya dan juga dari seluruh tubuhnya.
Mahapatih Argadana berjalan perlahan mendekati Raja Sukanda lalu menempelkan ujung pedangnya ke lehernya.
“Kau akan menyusul saudaramu, wahai Raja Sukanda. Apakah kau mengingat Raja Reksa? Raja yang malang itu mati di ujung pedangku, dan malam hari ini, dirimu yang akan menyusulnya. Apakah kau sudah bersiap?”
“Cuihhh... terkutuk dirimu Argadana.” jawab Raja Sukanda setelah meludahi wajah Mahapatih Argadana.
Mahapatih Argadana menyapu wajah yang diludahi oleh lawan dengan tangannya lalu mengayunkan pedangnya dengan sekuat tenaga.
Tinggal sedetik lagi pedang itu menyentuh lehernya, mendadak gerakan pedang itu berhenti seiring munculnya suara irama seruling.
Mahapatih Argadana melepaskan pegangan pedangnya dan segera mengerahkan tenaga dalam agar telinganya tidak rusak akibat tenaga dalam yang terkandung di dalam irama seruling tersebut.
“Setan! Siapa lagi ini?”
__ADS_1