Pendekar Seruling Bambu

Pendekar Seruling Bambu
Chapter 33. Senopati Muda


__ADS_3

Setelah selesai menyantap makan malam, Raja Angga mengajak Jaka untuk berbincang-bincang. Kini mereka sedang berada di pendopo istana, saling berbincang ditemani oleh sang penguasa malam.


Pertama-tama Raja Angga menanyakan bagaimana kabar Resi Danurwinda kepada Jaka. Jaka kemudian menceritakan kondisi guru Resi Danurwinda.


Raja Angga begitu bahagia ketika mengetahui bahwa gurunya dalam keadaan sehat tidak kurang suatu apapun. Raja Angga juga menghormati keinginan gurunya untuk tetap tinggal di puncak gunung, jauh dari hiruk pikuk politik di Kotaraja.


Raja Angga kemudian menceritakan awal mula dirinya bisa bertemu dengan Resi Danurwinda hingga menjadi guru bagi Raja Angga dan ketiga saudaranya.


Resi Danurwinda mengajarkan cara bertarung tangan kosong dan beberapa teknik dari Pedang Naga Langit. Hal ini karena keterbatasan kemampuan dari Raja Angga dan ketiga saudaranya dalam hal menguasai seluruh ilmu yang diajarkan.


Bahkan Raja Angga yang terkenal cerdas pun hanya mampu menguasai sampai jurus ketiga yaitu jurus Naga Menghujam Bumi, sedangkan saudara-saudara yang lain cukup kesulitan menguasainya.


Hingga akhirnya saat ini terjadi ketegangan antara Raja Angga dan ketiga saudaranya akibat perebutan kekuasaan. Padahal saat itu Raja Angga yang telah diangkat menjadi Putra Mahkota rela membagi kerajaan besarnya menjadi empat wilayah mata angin. Namun hal itu ternyata tidak mampu menyurutkan nafsu serakah dari saudara-saudaranya.


Jaka yang mendengarkan cerita dari Raja Angga sesekali menampakkan raut wajah terkejut, kadang juga ikut sedih merasakan peristiwa-peristiwa yang telah dialami Raja Angga.


"Raka, aku ikut prihatin atas semua yang telah Raka alami." ucap Jaka setelah melihat Raja Angga selesai bercerita. Raja Anga hanya menjawabnya dengan senyuman.


"Eyang Guru memintaku untuk membantu Raka, namun aku terlalu sangsi bahwa aku bisa melakukan permintaan itu...."


Raja Angga menatap lekat-lekat wajah adiknya, "Kau pasti bisa Jaka, aku sangat mempercayai apa yang dikatakan guru kita. Aku akan mengangkatmu menjadi senopati muda, sehingga kau bisa memimpin banyak prajurit. Bagaimana Jaka? Kau setuju kan?”


Jaka sampai tersedak air ludahnya sendiri, dirinya sangat terkejut dengan apa yang barusan ia dengar. "Tidak Raka, aku tidak menginginkannya.... " jawab Jaka.


Raja Angga juga terkejut mendengar jawaban adiknya itu, "Kau sungguh tidak menginginkannya, Jaka? Kenapa?"


"Aku tidak terlalu menyukai jabatan seperti itu Raka, posisi seperti itu bisa membuatku tidak bebas untuk bergerak... " jawab Jaka seraya tertawa.


"Kau ini..." Raja Angga hendak memukul kepala Jaka namun adiknya itu segera bergerak menghindar.


Jaka adalah seorang remaja berusia tujuh belas tahun, dirinya belum lama muncul di rimba persilatan. Jaka masih ingin berkelana ke setiap wilayah guna menolong rakyat yang lemah dan membasmi setiap kejahatan.


Namun karena pesan gurunya, kini dirinya muncul kembali di lingkungan istana. Tujuannya adalah membantu memulihkan kondisi kerajaan yang dipimpin oleh kakak seperguruannya, Raja Angga.


Alih-alih menerima jabatan tinggi yang diberikan Raja Angga, Jaka lebih menyukai bergerak sendiri. Selain untuk mengurangi jumlah korban dari pihaknya, Jaka juga belum yakin bisa memimpin prajurit yang begitu banyak jika menjadi seorang senopati.

__ADS_1


"Aku lebih suka bergerak sendiri, Raka."


"Hm.. baiklah, aku tidak akan memaksamu. Lalu apa rencanamu selanjutnya?"


Jaka menarik nafasnya dalam-dalam sebelum menceritakan semua rencananya, “Dalam perjalanan ke Kotaraja, aku melewati beberapa desa yang letaknya dekat dengan perbatasan. Beberapa desa itu begitu sepi dan ada kabar yang menyebutkan bahwa anak-anak lelaki mereka diculik oleh Kelompok Jubah Hitam."


"Lalu.. " tanya Raja Angga tidak sabaran.


"Aku akan menyelidiki kelompok itu, apakah ada hubungan antara Kelompok Jubah Hitam dengan Kerajaan Matraman Utara. Jika benar demikian, aku akan mengurangi jumlah kekuatan mereka sedikit demi sedikit."


Raja Angga memang belum pernah melihat kemampuan Jaka dalam hal bertarung, namun tidak sedikitpun meragukan kemampuan adiknya itu. Tetapi lawan yang akan dihadapinya adalah Kelompok Jubah Hitam, sehebat apapun ilmu kanuragan yang dikuasai Jaka jika menghadapinya seorang diri tentu sangat berbahaya.


"Itu.. Itu sangat berbahaya Jaka, mereka kelompok yang sangat kuat."


"Raka tidak perlu khawatir, aku akan berhati-hati.."


Raja Angga hanya mengeluarkan nafas dengan berat ketika dirinya tidak bisa mengubah keputusan adiknya itu.


Tidak terasa malam bertambah larut, keduanya lalu menyudahi pembicaraan dan berlalu menuju kamar peristirahatan.


***


Keesokan harinya Jaka bangun lebih awal, dirinya ingin melihat pasukan yang dimiliki oleh Kerajaan Matraman Barat. Jaka bergegas membersihkan diri dan bersiap-siap.


Di halaman utama kerajaan yang sangat luas, terlihat ribuan prajurit sedang berlatih. Masing-masing dari mereka membentuk kelompok kecil yang terdiri seratus prajurit.


Tidak jauh dari barisan prajurit itu nampak empat orang yang memakai pakaian kebesaran kerajaan, merekalah senopati kerajaan yang bertanggung jawab atas kemampuan seluruh prajurit.


"Hiya.. hiyaa.. " terdengar suara prajurit bersautan, mereka tampak semangat menjalani latihan hari ini walaupun peluh keringat membasahi tubuh mereka.


Mendadak suara prajurit itu berhenti ketika ada suara yang menghentikan pelatihan mereka,


"Berhenti!"


Seluruh prajurit kompak menghentikan pelatihan mereka, kini di hadapan mereka telah nampak Yang Mulia Raja Angga, Mahapatih Kemuning Banyu, dan seorang pemuda yang belum pernah mereka lihat sebelumnya.

__ADS_1


"Siapa pemuda itu?" tanya salah satu senopati.


"Entahlah, aku belum pernah melihatnya." jawab senopati yang berada di sebelahnya, sebaiknya kita tanyakan langsung dengan Yang Mulia. Keempat senopati itu segera menghampiri raja mereka.


Tidak butuh lama telah terjadi kegaduhan di barisan prajurit itu, mereka saling berbisik menerka siapa gerangan pemuda yang berada di sebelah Raja Angga.


"Seluruh prajurit sekalian, tenanglah.. " suara Mahapatih Kemuning Banyu menghentikan kegaduhan yang terjadi.


Setelah seluruh prajurit diam mengheningkan suaranya, kemudian Raja Angga maju beberapa langkah.


"Wahai seluruh pasukanku.. Aku akan memperkenalkan seseorang yang sangat penting bagiku dan Kerajaan Matraman Barat."


Seluruh prajurit dan senopati mendengarkan dengan seksama, menunggu perkataan selanjutnya dari Raja Angga.


"Pemuda ini.. pemuda yang sedang berada di dekatku adalah adik seperguruan ku, dia adalah murid dari Mahaguru Resi Danurwinda. Namanya adalah Jaka. Kini, kedudukannya di Kerajaan Matraman Barat adalah seorang senopati. Dirinya bertanggung jawab langsung kepada Mahapatih Kemuning Banyu."


Kembali terdengar suara gaduh dari barisan prajurit, banyak dari mereka meragukan kemampuan pemuda di hadapannya. Bagaimana tidak? Usia pemuda itu bahkan sama dengan anak-anak mereka, sangat sulit untuk menerima bahwa Yang Mulia mengangkat dirinya menjadi seorang senopati.


Jangankan seluruh prajurit, Jaka pun tersentak saking terkejutnya. Dirinya melirik tajam ke arah Raja Angga namun hanya dibalas senyuman olehnya. Jaka mengumpat dalam hati,


"Padahal semalam sudah ku jawab tidak mau.. " gerutu Jaka.


"Maaf Yang Mulia.. Hamba tidak bermaksud lancang." ucap Senopati Surya Benggala.


Senopati Surya Benggala sedikit memiliki sifat sombong di dalam hatinya, walaupun begitu dirinya sangat setia dengan Raja Angga. Senopati ini hanya sedikit tidak bisa menerima ada seorang anak muda bau kencur yang posisinya setara dengan dirinya. Senopati Surya Benggala hendak protes kepada Yang Mulia Raja.


"Apa yang mengganggu hatimu, Benggala?" tanya Raja Angga.


"Ampun Yang Mulia.. Hampa sedikitpun tidak meragukan keputusan Yang Mulia. Namun untuk menghindari keraguan yang ada di hati seluruh prajurit, ada baiknya senopati muda ini menunjukkan kebolehannya di hadapan mereka. Karena bagaimanapun, mereka akan menerima perintah dari senopati muda ini."


Raja Angga tidak marah sama sekali bahkan dirinya tersenyum mendengar jawaban senopatinya ini. Tidak salah apa yang senopatinya ucapkan, namun sedikit ada yang kurang. Yang meragukan kemampuan Jaka bukan hanya prajurit, akan tetapi hampir seluruh senopati yang ada di wilayah Kerajaan Matraman Barat.


Raja Angga kemudian mengusulkan untuk dilakukan latih tanding antara Jaka dengan beberapa senopati. Senopati Benggala pun tampak puas dengan jawaban sang raja. Sedangkan Jaka tidak bisa berbuat banyak selain mengangguk tanda setuju.


"Siapa yang ingin maju terlebih dahulu?" tanya Raja Angga.

__ADS_1


"Aku.. "


__ADS_2