Pendekar Seruling Bambu

Pendekar Seruling Bambu
Chapter 8. Mulai Berlatih III


__ADS_3

Sore hari di lereng gunung, tepatnya di bawah pohon pinus yang besar dan tinggi, ada seorang anak sedang duduk beristirahat. Dirinya kelihatan begitu lelah setelah berlari naik turun gunung. Kegiatan ini telah ia jalani selama sepekan penuh, sehingga membuat daya tahan fisiknya semakin kuat.


"Emm... guru sedang apa ya di puncak sana?" ucap anak itu seraya matanya memandang ke arah puncak gunung.


"Harusnya guru sekarang sudah datang dan membawakan ku makanan.


Aku sudah lapar.... " keluhnya.


Baru saja si anak selesai mengeluh demikian, tiba-tiba ada sesuatu yang jatuh dari atas menimpa kepala anak itu, bentuk benda itu hampir bulat sempurna. Benda itu kemudian menggelinding tidak jauh dari jangkauan si anak.


"Aww... sakit, sialan, siapa yang berani melempar ku?" bola matanya bergerak ke sana kemari namun tidak menemukan siapapun. Lalu dia bergerak mengambil benda bulat itu.


"Ahh... ternyata ini buah apel. Ini pasti ulah guru." ucapnya senang seraya memakan apel itu hingga habis.


Setelah apel di tangannya habis, anak itu mendongak ke atas pohon pinus. Di dahan pohon itu terlihat sedang duduk seorang kakek dengan kaki menjuntai ke bawah. Kakek itu tengah sibuk memegang beberapa apel di tangan kiri dan tangan kanannya memegang sebuah apel yang ada bekas gigitan.


"Guru... apelnya enak, murid mau lagi... " pinta si anak sambil menyeringai.


"Dasar, tadi memaki guru sekarang malah minta tambah. Nih ambil lah... " dengus sang kakek yang merupakan gurunya itu. Sang guru melemparkan beberapa buah apel ke arah yang jauh dari jangkauan muridnya, mau tidak mau, sang murid harus berlompatan ke sana kemari mengejar apel itu. Sang murid berhasil menangkap semua apel tanpa ada satu buah pun yang terjatuh, lalu ia duduk di bawah pohon dan mulai memakannya.


Sang guru yang berada di atas pohon tersenyum bahagia atas kemajuan anak muridnya, baru seminggu berlatih sudah nampak hasilnya. Gerakan sang murid bertambah lincah dan cepat,


"Aku harus menambah porsi latihan mu Jaka." gumam sang guru pelan.


"Jaka, setelah selesai kau habiskan apel itu segeralah lanjutkan latihan mu. Mulai sekarang kau harus berlari naik turun gunung dengan mengangkat batu itu, beratnya mungkin hanya 50 kg." ucap gurunya seraya menunjuk sebuah batu di ujung lereng.

__ADS_1


Jaka mengikuti arah telunjuk gurunya dan mengamati batu besar itu, lalu terdengar suara gurunya melanjutkan arahannya, "Setelah tiga hari kau harus mengangkat batu yang lebih besar lagi, begitu seterusnya. Kau mengerti Jaka?" tanya gurunya.


Jaka terlihat ragu apakah tubuh kecilnya mampu mengangkat beban seberat itu. Tetapi Jaka tidak ingin mengecewakan gurunya, dirinya akan berusaha sekuat tenaga, dengan cepat ia menjawab,


"Murid mengerti guru." jawabnya memasang wajah penuh keyakinan.


Singkat cerita Jaka sudah tiga bulan berlari naik turun gunung sembari membawa batu besar. Saat ini Jaka sudah mampu mengangkat batu besar dengan berat hampir 500 kg. Guru Jaka, Resi Danurwinda sangat senang atas pencapaian muridnya ini.


Resi Danurwinda merasa kekuatan fisik Jaka sudah cukup kuat untuk mempelajari jurus-jurus yang akan ia turunkan. Oleh karenanya, Resi Danurwinda menghentikan pelatihan Jaka saat ini.


Resi Danurwinda kemudian mengajak Jaka ke sisi timur puncak gunung, ternyata di sana ada air terjun yang lumayan tinggi. Airnya mengalir deras menimpa bebatuan yang berada di bawahnya. Di bawah air terjun itu ada sebuah batu hitam yang cukup besar, batu itu seakan sangat keras karena mampu menahan derasnya air terjun.


"Jaka, kau lihat batu hitam itu... " ucap Resi Danurwinda seraya menunjuk ke arah bawah air terjun.


"Iya guru, murid melihatnya." jawab Jaka. Seketika Jaka merasakan firasat yang tidak baik, ia merasa itu adalah tujuan pelatihan berikutnya.


Pada pelatihannya kali ini, Jaka akan duduk bersemedi di atas batu hitam itu di bawah derasnya air terjun. Jaka diminta untuk mengosongkan pikirannya dan mematikan sementara semua indera di tubuhnya.


Jaka mulai duduk bersila di atas batu hitam, kedua tangannya diletakkan di atas lutut. Baru sebentar saja dengan cepat tubuhnya basah dan terhuyung terkena derasnya air terjun. Jaka pun mulai menggigil kedinginan, perlahan tubuhnya ikut bergetar.


Samar-samar Jaka mendengar suara gurunya memberikan arahan, kemudian Jaka mengikuti petunjuk gurunya untuk mengosongkan pikiran dan mematikan sementara seluruh indera di tubuhnya.


Perlahan Jaka merasa seluruh daerah di dekatnya menjadi gelap, hening tidak ada suara apapun bahkan suara derasnya air terjun tidak terdengar lagi. Rasa dingin di tubuhnya perlahan menghilang dan akhirnya Jaka tidak merasakan apapun lagi, semua inderanya berhenti bekerja.


Tiba-tiba Jaka melihat titik putih, Jaka memutuskan untuk menghampiri titik putih itu. Semakin Jaka mendekat, titik itu terlihat semakin membesar. Ternyata titik putih itu adalah sebuah pintu dimensi dan Jaka perlahan memasukinya.

__ADS_1


Setelah Jaka memasuki pintu itu, ia tiba di sebuah ruangan berwarna putih. Ruangan itu tidak terlalu luas, selain pintu yang ia masuki tidak ada pintu lainnya. Artinya di tempat itu hanya ada satu pintu masuk sekaligus pintu keluar. Di tengah-tengah ruangan terdapat sebuah meja persegi berukuran sedang, yang di atasnya ada kotak kecil panjang berwarna kuning keemasan.


Jaka mendekati kotak itu dan mencoba membukanya dengan hati-hati. Setelah kotak terbuka ternyata ada sebuah seruling yang berwarna keemasan. Jika diperhatikan lebih dekat, seruling itu terbuat dari batang bambu. Selain itu ada guratan kecil bertulikan Seruling Bambu di sisi luarnya.


Jaka memegang seruling itu, perlahan ada aliran energi yang merambat masuk ke tubuh Jaka. Energi ini membuat tubuh Jaka merasa hangat dan nyaman. Setelah merasa tidak ada tanda-tanda bahaya yang ditimbulkan, Jaka berniat membawa seruling itu lalu ia keluar melewati pintu yang ia masuki tadi.


***


Setelah melewati tiga kali purnama, Resi Danurwinda kembali ke lokasi air terjun. Saat ini Resi Danurwinda sedang memperhatikan tubuh muridnya yang sedang bersemedi. Pemandangan pertama yang dilihatnya adalah tubuh Jaka tidak basah sedikit pun, tubuh muridnya seperti memiliki tameng yang melindungi dirinya dari derasnya air terjun.


Yang kedua adalah tubuh Jaka tiba-tiba bergetar dan dari tubuh muridnya itu memancarkan cahaya keemasan. Sontak saja hal itu membuat Resi Danurwinda terkejut, ia tidak menyangka akan melihat fenomena itu, sebelumnya Resi Danurwinda hanya meminta muridnya untuk berlatih mengatur pernapasan.


Setelah cahaya keemasan itu menghilang, tubuh Jaka kembali seperti semula, diam tak bergerak. Namun ada hal yang berbeda yaitu terdapat sebuah seruling berwarna keemasan di pangkuan Jaka.


"Hmm... sepertinya itu sebuah pusaka, Jaka sedang beruntung rupanya." gumam Resi Danurwinda. Resi ini tidak menyangka ternyata di balik air terjun ini menyimpan sebuah pusaka dan Jaka adalah orang yang beruntung mendapatkannya.


Pusaka itu berbentuk sebuah seruling, " Aku belum pernah melihat pusaka seperti itu." gumam Resi Danurwinda.


Tanpa Resi Danurwinda sadari, Jaka telah menyelesaikan semedinya. Jaka membuka mata perlahan dan memegang seruling di pangkuannya, kemudian ia melompat menjauhi air terjun.


"Ini... seruling ini nyata." ucap Jaka kegirangan.


"Kau menyadarinya murid ku, itu adalah seruling pusaka." ucap Resi Danurwinda yang kini telah berada di samping kanan Jaka.


Seketika Jaka menoleh dan membungkuk hormat, "Iya guru." jawab Jaka.

__ADS_1


"Simpan lah pusaka itu, sepertinya pusaka itu telah memilih tuannya." ucap Resi Danurwinda.


Setelah itu Jaka dan Resi Danurwinda meninggalkan lokasi air terjun dan kembali ke gubuk di puncak gunung.


__ADS_2