
Pasukan kecil yang dipimpin oleh Jaka mulai memasuki wilayah Kerajaan Matraman Utara ketika matahari tepat di atas kepala.
Sepanjang perjalanan ini mereka tidak menemukan halangan yang berarti, kecuali hanya menemukan satu atau dua prajurit dari pihak musuh.
“Ampun! Ampuni kami, Gusti.” rengek prajurit itu ketika sebuah pedang mengarah kepadanya.
“Kau akan aku ampuni, tetapi dengan satu syarat.” jawab Jaka menimpali.
Prajurit itu berusaha mendekati Jaka, “Apa syaratnya, Gusti? Aku akan berusaha memenuhinya.”
Syarat yang diajukan Jaka ternyata cukup mudah, prajurit itu hanya perlu menjawab semua pertanyaan yang Jaka ajukan dengan jujur. Prajurit itu tentu langsung menyetujuinya dan mulai menjawab semua pertanyaan Jaka.
Setelah merasa memiliki semua informasi yang dibutuhkan, Jaka memerintahkan bawahannya untuk membunuh prajurit tadi.
“Kenapa? Kenapa kau ingkar janji, Gusti?” seru prajurit itu seraya meronta-ronta meminta dilepaskan.
Jaka hanya tersenyum kecil lalu memberikan aba-aba untuk membunuhnya. Dengan satu ayunan pedang, kepala prajurit itu telah menggelinding ke tanah.
Jaka sadar, sikapnya yang barusan telah menimbulkan kegaduhan di antara pasukannya. Mereka saling berbisik atas perintah yang Jaka berikan. Usia Jaka masih tergolong muda namun bisa memberikan perintah yang mengerikan.
“Aku hanya ingin memberikan pelajaran kepada prajurit yang tidak setia.” ucap Jaka dingin.
Keputusan ini sedikit banyak dipengaruhi oleh cerita Sang Guru. Menurut Resi Danurwinda sebuah kerajaan akan hancur jika diisi oleh prajurit-prajurit yang tidak setia.
“Prajurit Matraman Barat harus setia kepada Yang Mulia Raja Angga, apapun yang terjadi. Bahkan ketika ujung pedang lawan sudah menggores leher kalian. Apa kalian bisa memahami itu?”
__ADS_1
Para prajurit saling tatap lalu menjawab bersamaan, “Sendika, Gusti Senopati.”
Jaka dan pasukannya akhirnya melanjutkan perjalanan, saat ini tujuan utama mereka adalah istana kerjaan Matraman Utara.
Selama perjalanan ke istana, pasukan Jaka tidak menemukan halangan apapun. Jalan-jalan dan desa-desa yang dilalui sepi dari penjagaan prajurit. Mungkin prajurit musuh sudah tewas semuanya dalam peperangan, begitu pikir mereka.
Setibanya Jaka dan pasukan di istana, mereka disambut oleh ratusan prajurit musuh. Perang kecil sedikit terjadi namun itu
bukanlah sesuatu yang membahayakan.
Dalam waktu singkat, pasukan yang Jaka pimpin dapat menundukkan seluruh pasukan musuh. Hal ini bisa terjadi karena semua yang menyerang hanyalah prajurit kelas bawah dan juga para penyerang itu telah kalah jumlah. Sedangkan prajurit di pihak Jaka ada beberapa yang terluka namun tidak ada yang sampai tewas.
“Periksa seluruh istana!” perintah Jaka. “Jangan bunuh bagi mereka yang menyerah.” lanjutnya.
Para prajurit yang Jaka pimpin segera menyebar, memeriksa seluruh penjuru istana. Tidak lama mereka telah kembali dengan banyak sekali tawanan. Tawanan itu terdiri dari pelayan istana dan beberapa dayang.
Jaka memandang ke arah matahari yang mulai condong ke barat, “Mereka pasti menyadari kita akan datang, mereka telah bersembunyi di suatu tempat.” ucap Jaka.
“Bagi pasukan menjadi beberapa kelompok kecil, tempatkan di titik-titik yang strategis. Mulai hari ini, wilayah ini akan menjadi bagian dari Matraman Barat.”
**
“Prakkk-.”
Di suatu tempat yang lain, terlihat Raja Putra masih menggenggam kendi arak yang telah hancur diremasnya. Arak yang tumpah segera mengalir membasahi lantai.
__ADS_1
Selain Raja Putra, di ruangan itu ada pula Mahapatih Argadana dan juga penasihat kerajaan, Sengkuni. Ketiganya sama-sama tampak kecewa dengan hasil perang yang mereka terima.
“Kurang ajar! Bagaimana bisa pasukan kita bisa kalah seperti ini, paman? Bagaimana bisa Matraman Selatan juga datang membantu? Dan siapa pemuda yang bersenjatakan seruling itu?” tanya Raja Putra dengan panjang lebar.
Mahapatih Argadana yang ditanya kemudian maju mendekat, “Hamba juga tidak menyangka bahwa hasilnya akan seperti ini, Gusti. Hampir seluruh pasukan kita telah tewas, yang tersisa hanya beberapa prajurit dan satu orang senopati.”
“Hasil ini belumlah menjadi akhir, Gusti Prabu.” ucap penasihat kerajaan, Sengkuni.
“Apa maksudmu, Sengkuni?”
“Ampun, Gusti.” ucap Sengkuni sembari menangkupkan kedua tangannya. “Kita masih ada kesempatan untuk merebut kembali apa yang menjadi hak Gusti Prabu, tetapi kita butuh uluran tangan dari pihak lain.”
“Dari pihak mana yang kau maksud, Sengkuni?” tanya Raja Putra penasaran.
Sengkuni maju lebih dekat dan membisikkan sesuatu di telinga Raja Putra, “Kita butuh bantuan dari perguruan aliran hitam, Gusti.”
“Perguruan aliran hitam?”
“Benar, Gusti. Pendekar-pendekar seperti mereka telah malang melintang di rimba persilatan. Kehadiran mereka pasti sangat membantu memuluskan rencana kita.” ucap Sengkuni meyakinkan.
“Aku setuju dengan saran Sengkuni, Gusti.” ucap Mahapatih Argadana. “Menurut hamba, hanya itulah cara yang mungkin bisa kita tempuh.”
Raja Putra tak menjawab, dirinya hanya menghembuskan nafas dengan berat. “Harga yang harus aku keluarkan pasti sangatlah mahal.”
Arc-1 end.
__ADS_1
***Halo manteman, terus dukung novel ini ya dengan cara like dan comment setiap chapter yang sudah dibaca. Setelah itu tekan tombol vote, meskipun hanya 10 poin author sudah senang banget.
Makasiii manteman, have a nice day***..