Pendekar Seruling Bambu

Pendekar Seruling Bambu
Chapter 44. Misi Balas Dendam


__ADS_3

Setelah keberhasilan Jaka menumpas dua pimpinan Kelompok Jubah Hitam di Hutan Larangan, kejadian itu secara tidak langsung membuat pincang kelompok tersebut. Kehilangan dua orang terkuat di kelompoknya tentu memberikan pukulan yang sangat telak bagi Mahesa. Dengan kemarahannya yang telah memuncak, Mahesa membentuk tim khusus untuk memburu Jaka.


Kelompok itu dipimpin langsung oleh dirinya, turut serta Pendekar Topeng Putih dan Pendekar Topeng Hijau. Sedangkan Pendekar Topeng Merah memimpin seratus pendekar ahli untuk ikut serta dalam penyerangan ke Kerajaan Matraman Barat.


Tim khusus ini bergerak secara rahasia, menyusuri setiap daerah demi mencari jejak Jaka. Hingga suatu ketika mereka menemukan Jaka tengah beristirahat di tengah hutan kecil. Dengan segera mereka mengepung Jaka, mereka tidak ingin memberikan kesempatan sedikit pun kepada Jaka untuk melarikan diri.


Jaka yang tengah asik memainkan serulingnya, dikagetkan dengan benda berwarna keperakan yang mengarah ke kepalanya. Dengan segera Jaka merunduk, benda keperakan itu hanya berjarak sejauh dua jari dari kepalanya.


"Untung saja aku berhasil menghindar tepat waktu, jika terlambat sedetik saja jebol kepalaku.."


Jaka menatap dingin seseorang yang menyerangnya, orang itu mengenakan jubah hitam dengan topeng putih di wajahnya. Orang yang menyerangnya ini mengeluarkan aura membunuh yang cukup pekat, pasti sudah banyak nyawa yang hilang di tangannya.


Selain aura dari Pendekar Topeng Putih, Jaka juga merasakan dua aura lagi yang sedang menekannya. Kedua aura itu berasal dari Pendekar Topeng Hijau dan satu orang lagi yang Jaka belum pernah temui sebelumnya.


"Aura yang menakutkan, siapa dia?" tanya Jaka pada dirinya sendiri.


Jaka memperhatikan sekelilingnya, kini dirinya telah dikepung hampir seratus pendekar kelas ahli tahap awal. Sulit bagi dirinya untuk sekedar melarikan diri.


"****** aku hari ini.. "Jaka menggelengkan kepalanya pelan.


"Gerakan mu cukup cepat anak muda." puji Pendekar Topeng Putih.


"Tapi hari ini adalah akhir dari hidupmu." lanjutnya.


"Mati atau tidaknya aku hari ini, bukan kau yang memutuskan, tuan." jawab Jaka. Jaka tengah berkonsentrasi penuh, kalau-kalau ada senjata rahasia yang menyasar ke arahnya.


Pendekar Topeng Putih kemudian memberikan aba-aba kepada kelompoknya untuk maju menyerang, dengan segera sepuluh orang pendekar kelas ahli menyerang Jaka bersamaan.

__ADS_1


Pedang-pedang tajam segera mengarah ke tubuh Jaka, Jaka segera bergerak menghindar, sesekali dirinya berjumpalitan di udara demi menghindari serangan lawan. Jaka diam sejenak, memperhatikan lawan di sekitarnya lalu dengan gerakan sangat cepat Jaka menarik pedang dari balik jubahnya. Dalam satu serangan, dua musuh telah tergelatak tak bernyawa.


Lawan yang tersisa masih belum bisa mencerna apa yang barusan terjadi, ketika mereka hendak maju menyerang tiba-tiba sebuah pedang telah bersarang di dada mereka. Akhirnya mereka mati tanpa ada perlawanan.


Melihat teman-temannya tewas dengan cepat, maka lebih banyak lagi musuh yang menyerang Jaka. Jaka menghindari serangan itu dengan sesekali menyerang balik. Jaka memberikan perlawanan dengan langsung menggunakan rangkaian jurus dari teknik Pedang Naga Lagit. Semakin banyak musuh yang tewas maka akan semakin baik.


Jurus-jurus yang Jaka perlihatkan sangat mematikan, dalam satu serangan sudah pasti akan mengenai lawannya. Sedangkan serangan lawannya belum satupun mampu menyentuh tubuh Jaka.


Di lain sisi, Mahesa sedang memperhatikan secara jelas jurus yang sedang Jaka gunakan. Mahesa seperti pernah melihat jurus-jurus itu, dirinya pun mencoba mengingat-ingat siapa pemilik jurus itu sebelumnya.


"Gerakan apa yang barusan itu? Apa aku tidak salah melihat? Itu jurus dari teknik Pedang Naga Langit. Apa hubungannya bocah ini dengan resi tua itu?" gumam Mahesa masih dengan keterkejutan di wajahnya.


Mahesa masih memperhatikan Jaka yang dengan sangat mudah menghabisi para anggotanya. Mahesa sudah tidak sanggup melihat lebih banyak korban berjatuhan dari pihaknya, dengan satu gerakan tangan Mahesa meminta Pendekar Hijau untuk turun tangan langsung.


"Mundur!!!"


Teriak Pendekar Topeng Hijau kepada para anggotanya. Dengan satu lompatan di udara, Pendekar Topeng Hijau sudah berada tepat di hadapan Jaka.


"Majulah!" jawab Jaka dengan senyum mengejek.


Pendekar Topeng Hijau sudah siap dengan tombak panjangnya, namun masih belum juga maju menyerang. Dirinya masih menatap Jaka dengan tajam, saling memperhatikan mencari celah dari lawannya.


"Hiaaaat.."


Pendekar Topeng Hijau menyerang Jaka ke arah kepala, namun serangannya itu dapat dihindari dengan mudah. Lalu kembali mengarahkan tombaknya mencari bagian vital dari tubuh Jaka.


Gerakan tombaknya sangat cepat, seperti memiliki ruh nya sendiri. Setelah lebih dari belasan jurus, mata tombaknya berhasil menggores bahu Jaka. Pendekar Topeng Hijau lalu menjilat mata tombak yang berlumuran darah.

__ADS_1


Jaka memperhatikan bahunya yang terluka cukup besar, terasa sedikit perih. Jaka sedikit menggigit bibir lalu melompat menyerang. Jaka menyerang dengan jurus-jurus mematikan, gerakannya sangat cepat dan sulit ditebak arahnya. Namun serangannya ini mampu ditahan oleh lawannya.


Deru pedang dan tombak terus beradu, hingga suatu ketika Pendekar Topeng Hijau merasakan kesemutan di tangannya yang memegang tombak.


"Argh.. sial, tenaga dalam bocah ini lebih tinggi dari yang ku kira." gumam Pendekar Topeng Hijau.


Setelah rasa kesemutannya menghilang, Pendekar Topeng Hijau kembali menyerang Jaka. Namun kali ini Jaka tidak ingin menahan diri lebih lama lagi, Jaka segera menyambut serangan yang datang lalu kemudian menyerang balik.


Pertarungan mereka telah berlangsung belasan jurus, berlanjut hingga jurus ke dua puluh. Dan di jurus inilah, Jaka mampu mendaratkan pedangnya ke tubuh Pendekar Topeng Hijau. Lukanya cukup besar, darah mengucur dari bagian dada yang terluka. Harusnya luka ini bisa berdampak kematian, namun lawannya berhasil sedikit menghindar sehingga mampu meminimalisir luka yang diterima.


Pendekar Topeng Hijau meringis kesakitan, lalu mengarahkan tenaga dalam ke bagian tubuhnya yang terluka untuk menghentikan pendarahan. Pendekar Topeng Hijau menggeram marah, emosi sudah memenuhi kepalanya. Jarang sekali dirinya mendapat lawan yang kemampuannya berada di atasnya. Dirinya sudah tidak sabar untuk memenggal kepala Jaka.


"Mati kau!!!"


"Tring.. Trang.."


Kembali suara denting pedang dan tombak beradu yang menghasilkan gelombang-gelombang kejut. Daun-daun dan debu-debu saling berterbangan menghiasi pertarungan mereka. Jaka bergerak melompat kesana kemari, menghindari serangan lawan sembari sesekali menyerang lawan.


Hingga suatu ketika, Pendekar Topeng Hijau terlambat menyadari pergerakan Jaka yang secara tiba-tiba telah berada di belakangnya. Dengan satu gerakan tangan, pedang Jaka berhasil membuat lawannya tak berkutik.


Note:


Hello manteman, apa kabar semuanya?


Semoga sehat terus yaa..


Author mau minta maaf ya terkait keterlambatan update, hal ini karena author sedang menjalani training kerja, jadi agak lebih sibuk dari biasanya.

__ADS_1


Untuk ke depannya belum ada jadwal pasti untuk waktu terbit, jadi mohon dimaklumi yaa..


Selamat berpuasa bagi yang menjalankan..


__ADS_2