Pendekar Seruling Bambu

Pendekar Seruling Bambu
Chapter 53. Akhir Hari Pertama


__ADS_3

Pertarungan antara Senopati Surya Wisesa dan Senopati Bagas Aji semakin menegangkan. Masing-masing dari mereka saling mengeluarkan jurus-jurus andalannya, hingga suatu ketika pedang dari Senopati Surya Wisesa sedetik lagi menyentuh kepala Bagas Aji namun hal yang terjadi kemudian sangat berbeda dari yang diharapkan.


Pedang Senopati Surya Wisesa memang berhasil memenggal kepala lawan yang diserangnya namun itu bukanlah kepala dari Senopati Bagas Aji. Kepala yang berhasil ditebasnya justru adalah kepala prajurit dari pasukannya sendiri.


“Kenapa?”


“Bagaimana bisa?”


Senopati Surya Wisesa menggeleng pelan lalu memperhatikan Senopati Bagas Aji yang tersenyum ke arahnya, “Gerakannya sungguh cepat bahkan kecepatan pedang ku tidak bisa menjangkaunya.”


Walaupun tersulut amarah yang sudah sampai ujung kepala, Senopati Surya Wisesa menghentikan pertarungannya sejenak. Senopati ini memperhatikan keadaan di sekitarnya, ribuan prajurit saling bunuh demi mencapai kemenangan.


Pertarungan besar itu semakin menjadi-jadi. Tidak hanya para prajurit level bawah, para petinggi kerajaan pun saling bertempur.


Senopati Surya Wisesa melihat ke sebelah kanannya, tampak rekannya yaitu Senopati Munding Laya tengah sibuk membunuh satu demi satu prajurit lawan yang dijumpainya. Pedangnya yang putih kini telah penuh dengan noda darah. Sudah tak terhitung lagi nyawa yang melayang di ujung pedangnya.


Tidak hanya itu, tampak juga Senopati Cakra Boga begitu asik menikmati pertarungan. Senopati ini bahkan tertawa setelah membunuh sekian banyak prajurit lawan.

__ADS_1


Di satu sisi, Senopati Surya wisesa bisa menyimpulkan bahwa saat ini pasukannya sedang berada di atas angin. Merebut kemenangan mungkin hampir pasti jika semua berjalan sesuai rencananya. Bahkan sampai saat ini, belum ada halangan berarti kecuali dari Senopati Bagas Aji.


Baru saja Senopati Surya Wisesa bisa bernafas lega, dari arah berlawanan muncul dua pasukan yang dipimpin oleh Senopati Karang Suta dan Surya Benggala. Kedua pasukan itu pun langsung ikut meramaikan pertarungan besar itu.


Senopati Munding Laya sedikit menoleh ke arah datangnya ke dua pasukan, namun itu tidak cukup untuk menghentikan ayunan pedangnya. Senopati Munding Laya baru berhenti ketika ada seseorang yang sudah cukup dikenalnya muncul di hadapannya, “Munding Laya, akulah lawanmu!”


“Oo? Gusti Senopati Karang Suta?”


“Kau masih mengingatku rupanya.”


Munding Laya mendekati Karang Suta dan menjawab pertanyaannya persis di dekat daun telinga dari Senopati Karang Suta, “Tentu, tentu saja, Gusti. Bagaimana aku bisa melupakan semua jasa-jasamu.”


Usai berkata demikian, Senopati Karang Suta menyerang Munding Laya dengan tangan kosong.


Melihat lawannya tidak menggunakan senjata, Munding Laya menyarungkan pedangnya dan segera menyambut serangan yang datang. Mula-mula serangan itu mengarah ke kepalanya namun mampu dihindari dengan mudah.


Serangan kedua kembali datang, kali ini mengincar wajahnya. Munding Laya menggeser tubuhnya ke samping dan serangan tinju itu hanya berjarak tiga jari dari wajahnya. Munding Laya sedikit meremehkan serangan itu, akibatnya wajahnya terkena angin dari pukulan itu. Tidak sakit, namun cukup terasa panas.

__ADS_1


“Boleh juga seranganmu, Karang Suta.”


Senopati Karang Suta menjawabnya kembali dengan serangan. Kali ini serangannya sedikit bervariasi, tidak hanya mengandalkan kepalan tinju tetapi juga terkadang dengan sepakan kakinya. Setiap serangan yang dilancarkannya selalu diiringi dengan tenaga dalam, menjadikan serangan itu lebih mematikan.


Senopati Munding Laya terpaksa harus jatuh bangun menerima serangan mematikan itu, saat ini diirinya benar-benar dipaksa ke posisi bertahan. Sedikitpun tidak diberikan kesempatan menyerang balik.


“Jika seperti ini terus, tinggal menunggu waktu serangan itu akan mengenaiku.” gumamnya.


Senopati Munding Laya mencari celah untuk sedikit menjaga jarak, sekedar untuk menarik nafas dan mengamati lawannya. “Sepertinya aku tidak akan punya kesempatan jika tidak menggunakan senjata.”


Senopati Munding Laya akhirnya menarik kembali pedangnya dan mengarahkan kepada lawannya, “Karang Suta, tarik pedangmu.”


Senopati Karang Suta tersenyum dan menarik pedangnya, “Aku kabulkan, dan jangan lari lagi.. hahaha...”


Pertarungan mereka kembali dilanjutkan dan baru berhenti ketika matahari telah beranjak ke peraduannya. Kedua pemimpin pasukan sepakat untuk sama-sama menarik pasukan untuk sejenak beristirahat dan menyusun strategi berikutnya.


Pasukan Kerajaan Matraman Barat menarik diri hingga mendekati desa terdekat. Desa ini sekaligus menjadi benteng pertahanan yang pertama. Di desa ini pula prajurit-prajurit yang terluka mendapatkan pertolongan atas luka-luka yang diterima.

__ADS_1


Selain itu, di pinggir desa telah digali banyak lubang untuk memakamkan prajurit yang gugur. Isak tangis mulai terdengar ketika satu per satu mayat rekannya dimakamkan.


__ADS_2