
Hari yang ditunggu telah tiba, sepuluh ribu pasukan Kerajaan Matraman Utara telah berada di dekat perbatasan Kerajaan Matraman Timur. Mereka segera membuat tenda-tenda perkemahan untuk beristirahat sejenak sebelum perang dimulai.
Dari semua tenda yang telah didirikan, ada tenda yang berukuran paling besar dibandingkan dengan tenda lainnya. Di depan tenda besar itu terdapat dua tiang bendera lambang Kerajaan Matraman Utara, berdiri gagah di kanan dan di kiri pintu masuk.
Di dalam tenda itu ada empat orang yang sedang duduk mengelilingi meja bundar, di atas meja itu tersaji beberapa makanan dan satu guci arak berkualitas tinggi.
Ke empat orang itu adalah Maha Patih Argadana, Senopati Surya Wisesa, Senopati Munding Laya, dan Senopati Cakra Boga. Mereka tengah menyusun strategi guna menyerang Kerajaan Matraman Timur.
"Surya Wisesa, apa kau sudah memeriksa setiap jengkal daerah ini?" tanya Maha Patih Argadana.
"Sudah hamba laksanakan Gusti Patih, sesuai dengan dugaan Gusti bahwa pasukan Kerajaan Matraman Timur akan menyambut kita di daerah hutan. Sedangkan untuk daerah sekitar sini tidak terlihat pergerakan satupun dari musuh." jawab Senopati Surya Wisesa.
"Hm.. bagaimana dengan mu Munding Laya?" tanya Maha Patih Argadana lagi.
"Mereka telah mengantisipasi kedatangan pasukan kita dengan membuat parit yang sangat panjang dan dalam. Parit itu membentang mengelilingi daerah hutan ini Gusti Patih." jawab Senopati Munding Laya.
"Hahaha.. Aku tak mengira mereka cukup pintar. Mereka bahkan mampu memaksa kita untuk masuk dari pintu yang telah mereka siapkan." puji Maha Patih Argadana.
"Lalu apa yang harus kita lakukan Gusti Pasti?" tanya Senopati Cakra Boga.
Senopati ini adalah yang paling muda di antara mereka, usianya sekitar dua puluhan tahun. Walaupun masih muda tetapi Senopati Cakra Boga telah beberapa kali ikut berperang dan kemampuannya cukup bisa diandalkan.
"Kita ikuti saja permainan mereka Cakra Boga. Aku ingin tau seberapa hebat mereka untuk bisa menahan pasukan kita." jawab Maha Patih Argadana menjelaskan.
Setelah selesai mendiskusikan rencana penyerangan, mereka kembali ke tenda masing-masing untuk beristirahat.
***
__ADS_1
Keesokan harinya pasukan Kerajaan Matraman Utara telah bersiap-siap untuk menyerang. Sebanyak seratus prajurit bergerak memasuki hutan perbatasan namun baru saja mereka mencoba untuk masuk, mereka tiba-tiba dikejutkan dengan beberapa batang pohon yang menyasar menyerang ke arah mereka. Naas bagi prajurit yang tidak sempat menghindar, mereka tewas tertimpa batang pohon yang sebesar badan orang dewasa.
Maha Patih Argadana yang melihat kejadian itu seketika kagum atas kecerdikan strategi lawan, dirinya tak pernah mengira bahwa seratus pasukannya tewas hanya dalam sekali serang.
Untuk mengantisipasi strategi lawan, Maha Patih Argadana memerintahkan prajuritnya untuk maju secara bertahap, sepuluh orang secara bergantian. Nyatanya strategi ini cukup berhasil, dengan prajurit yang berjumlah sepuluh orang setidaknya dapat mengurangi jumlah pasukannya yang tewas.
Setelah beberapa waktu lamanya pasukan mereka berhasil masuk dan tidak ada batang pohon lagi yang menyerang, mereka pun memutuskan untuk masuk ke hutan lebih dalam.
Kedatangan pasukan ini pun disambut dengan jebakan lainnya yaitu jebakan jaring-jaring besar dan lubang-lubang yang dalam. Hujan panah pun ikut menyambut kedatangan mereka.
Maha Patih Argadana murka melihat pasukannya mati sia-sia, dirinya kemudian memerintahkan pasukan berkuda dan pasukan petarung jarak dekat untuk maju menyerang terlebih dahulu.
Di sisi lain Maha Patih Kerajaan Matraman Timur tidak tinggal diam, dirinya pun meminta pasukannya untuk maju menyambut serangan lawan.
Bentrokan kedua pasukan itu pun segera terjadi, suara dentuman senjata menggema di hutan itu. Suara pekik kematian pun ikut mewarnai pertarungan mereka.
Perbedaan jumlah korban ini akibat banyaknya jebakan yang dipasang oleh pasukan Kerajaan Matraman Timur, ini merupakan keunggulan mereka dalam hal penguasaan medan pertempuran.
Maha Patih Argadana yang mengetahui hasil ini marah besar, kemudian Maha Patih Argadana memerintahkan ketiga senopati nya untuk maju ke medan pertempuran. Masing-masing dari Senopati Kerajaan Matraman Utara telah berada pada tingkatan pendekar ahli tahap menengah. Tentu kehadiran mereka menjadi angin segar bagi prajurit Kerajaan Matraman Utara.
Ketiganya menarik pedangnya di pinggang masing-masing, lalu maju melompat ke kerumunan musuh. Sekali pedang mereka ter-ayun, tiga sampai empat prajurit lawan meregang tak bernyawa. Kehadiran para senopati ini mampu mengubah alur pertempuran dengan cepat.
Ketika Senopati Surya Wisesa hendak memenggal kepala prajurit lawan, tiba-tiba ada seseorang yang menahan gerakan pedangnya.
"Aku lawan mu Senopati Surya Wisesa." ucap orang itu.
"Ah.. rupanya kau yang menggangu pesta ku Senopati Marugul. Tentu aku senang jika harus melayani mu." jawab Senopati Surya Wisesa dengan senyum mengejek.
__ADS_1
"Lagi pula aku sudah lama tidak mendapat lawan yang sepadan, aku harap kemampuan mu tak mengecewakan ku wahai Senopati Marugul." lanjutnya, masih dengan senyuman mengejek.
"Dengan senang hati aku akan memenggal kepala mu Surya Wisesa.. hiaaattt... " teriak Senopati Marugul seraya maju menyerang.
Suara denting senjata mereka mengadu keras hingga membuat prajurit yang sedang bertempur pergi menjauh. Mereka tidak ingin terkena serangan nyasar dari dua orang yang berada pada tingkatan pendekar ahli itu.
Jurus demi jurus telah mereka keluarkan namun belum ada satupun yang mengenai lawannya. Hingga suatu ketika mereka mengadu senjata untuk yang ke sekian kalinya, tangan Senopati Marugul seketika gemetar dan pedangnya hampir terlepas.
"Edan.. ternyata Senopati Surya Wisesa belum mengeluarkan kekuatan penuhnya." gumam Senopati Marugul.
"Hahaha.. ternyata hanya segini kemampuan mu? Kau sungguh mengecewakan ku Marugul." ucap Senopati Surya Wisesa.
Sebelumnya Senopati Marugul sudah yakin mampu mengimbangi kemampuan Senopati Surya Wisesa, namun yang terjadi jauh dari harapan.
Saat ini Senopati Surya Wisesa baru mengeluarkan lima puluh persen dari kekuatannya, sedangkan Senopati Marugul telah mengeluarkan seluruh kemampuan yang dimiliki.
Mereka pun segera melanjutkan pertarungan, luka demi luka telah mendarat di tubuh Senopati Marugul. Kematian Senopati Marugul sepertinya hanya tinggal menghitung waktu saja.
"Menyerah lah Senopati Marugul, Yang Mulia Raja Putra akan mengampuni dosa-dosa mu." ucap Senopati Surya Wisesa.
"Cuihhh.. sampai matipun aku tak sudi menyerah kepada ******** seperti kalian." jawab Senopati Marugul sembari meludah ke tanah.
"Baiklah.. tidak akan ada penawaran kedua untuk mu. Matilah dengan tenang.. ".
" Srettt... tring... " pedang Senopati Surya Wisesa yang sejengkal lagi menebas leher Senopati Marugul terhempas menjauh.
Sekarang di samping Senopati Marugul telah berdiri seseorang yang telah menolongnya.
__ADS_1