Pendekar Seruling Bambu

Pendekar Seruling Bambu
Chapter 19. Tipu Muslihat Kanjeng Lodaya


__ADS_3

Bersamaan dengan adanya laporan telik sandi bahwa pasukan Kerajaan Matraman Utara yang akan menyerang Kerajaan Matraman Timur berjumlah sepuluh ribu prajurit serta pasukan ini dipimpin langsung oleh Mahapatih Argadana, hal ini membuat nyali Penasehat Kerajaan Matraman Timur Kanjeng Lodaya seketika runtuh. Ada keraguan bahwa pihaknya dapat meraih kemenangan.


Selain karena perbedaan jumlah pasukan yang terlalu jauh, prajurit Kerajaan Matraman Utara juga terkenal tangguh dan sulit untuk dikalahkan. Terlebih lagi ada tiga senopati terkuat dan Mahapatih Argadana yang ikut maju ke garis depan.


Di saat posisi yang genting ini Kanjeng Lodaya memutuskan untuk berpindah haluan. Menurut perhitungan Kanjeng Lodaya bahwa pasukan Kerajaan Matraman Timur mungkin hanya sanggup menahan perang selam tiga atau empat hari, lebih dari itu kerajaan ini akan segera rata dengan tanah.


Pada malam hari sebelum perang besar tejadi, Kanjeng Lodaya pergi menuju ke perkemahan pasukan musuh. Tujuan dari kedatangan Kanjeng Lodaya adalah menarik perhatian dari Mahapatih Argadana dengan cara membocorkan peta kekuatan pasukan Matraman Timur.


"Berhenti..!" seru prajurit Kerajaan Matraman Utara yang sedang tugas jaga di perkemahan ketika melihat seseorang yang mencurigakan.


Orang itu pun langsung berhenti dan mengangkat tangan sebagai tanda tidak ingin berbuat keributan. Para prajurit jaga lalu menggeledah tubuh orang itu untuk mengambil senjata atau benda lainnya yang dianggap berbahaya dan mencurigakan. Setelah tidak menemukan apapun, orang itu segera dibawa menghadap Senopati Surya Wisesa.


"Lapor Gusti Senopati... " ucap prajurit jaga dengan posisi berlutut.


"Ada apa kau mengganggu waktu istirahat ku?" bentak Senopati Surya Wisesa.


“Ampun.. ampuni hamba Gusti Senopati. Hamba ingin melaporkan bahwa kami telah menemukan seseorang yang mencurigakan." lapor prajurit itu dengan suara bergetar, prajurit itu takut jika dirinya salah bicara.


"Orang yang mencurigakan? bawa dia kemari.." perintah Senopati Surya Wisesa.


"Sendika Gusti Senopati... "


Lalu prajurit itu keluar tenda peristirahatan dan masuk kembali dengan seseorang yang tangannya telah terikat serta kepalanya ditutup kain hitam. Senopati Surya Wisesa kemudian mengisyaratkan untuk membuka kain penutup kepala orang tersebut.


Saat itu telah nampak seorang lelaki paruh baya yang mengenakan pakaian kebesaran Kerajaan Matraman Timur, usianya kira-kira sekitar lima puluhan tahun. Kumisnya yang hitam rapih menghiasi wajah tuanya. Dalam sekali lihat Senopati Surya Wisesa dapat melihat raut tipu daya di wajah orang tersebut.

__ADS_1


"Oo.. Kau rupanya." ucap Senopati Surya Wisesa datar.


“Hormat hamba kepada Senopati Surya Wisesa.." ucap orang itu seraya menundukkan kepala.


"Hahaha.. lucu.. kau ini lucu sekali. Bagaimana bisa seorang penasehat Kerajaan Matraman Timur memberi hormat kepada senopati musuh?” tanya Senopati Surya Wisesa masih dengan gelak tawanya.


"Hamba memang seorang penasehat di Kerajaan Matraman Timur, namun di wilayah ini hamba bukanlah siapa-siapa Gusti, jadi sudah sepantasnya jika hamba memberi hormat kepada Gusti Senopati." jawab orang itu yang tak lain adalah Kanjeng Lodaya.


Kanjeng Lodaya sedang bersikap seramah mungkin guna menarik perhatian dari Senopati Surya Wisesa. Namun tindakannya ini tentu saja tidak luput dari pengamatan sang senopati. Kemudian Senopati Surya Wisesa membawa Kanjeng Lodaya untuk menemui Mahapatih Argadana.


Setelah mereka sampai di tempat peristirahatan Mahapatih Argadana, Kanjeng Lodaya segera menjelaskan maksud dari kedatangannya. Secara singkat Kanjeng Lodaya meminta perlindungan kepada pasukan Kerajaan Matraman Utara agar dirinya dan keluarganya tidak menjadi korban dari peperangan ini. Sebagai imbalannya Kanjeng Lodaya bersedia untuk memberikan informasi peta kekuatan dan strategi yang akan dijalankan oleh pasukan Kerajaan Matraman Timur.


Tanpa diduga sedikitpun oleh Senopati Surya wisesa, Mahapatih Argadana langsung menyetujui permintaan dari Kanjeng Lodaya. Senopati Surya Wisesa menatap tajam ke arah Mahapatih namun segera senopati ini urungkan setelah melihat tanda isyarat dari Mahapatih Argadana.


Setelah Kanjeng Lodaya selesai menjelaskan semua informasi dan strategi kerajaannya kepada pihak musuh, dirinya segera meninggalkan lokasi perkemahan dan kembali ke Kerajaan Matraman Timur. Kanjeng Lodaya bergerak dengan sangat hati-hati agar kehadirannya tidak diketahui orang lain.


"Kanjeng Lodaya adalah orang yang sangat berbahaya, bisa saja dirinya sengaja datang ke sini untuk memperdayai pasukan kita Gusti Patih." lanjutnya.


"Aku tau maksud dari pertanyaanmu Surya Wisesa. Aku juga tau kau pasti menghawatirkan kesetiaan dari Kanjeng Lodaya, namun kau tak perlu memikirkan itu, aku sudah mempunyai renana sendiri untuknya. Tanpa kau sadari, kita juga membutuhkan bantuan dari dirinya.


Apa kau tau Surya Wisesa, peperangan kita bukan hanya dengan Kerajaan Matraman Timur. Masih banyak peperangan yang akan menanti kita, oleh karenanya jika kita mempunyai kesempatan seperti ini kita harus mengambilnya.”


“Dengan menerima penawaran Kanjeng Lodaya, itu artinya kita telah mengurangi korban dari pihak kita. Apa kau sudah mengerti Surya Wisesa? tanya Mahapatih Argadana.


"Luar biasa.. Gusti Patih sungguh cerdik, pantas saja Gusti Patih tidak pernah kalah segala peperangan. Hamba yang rendah ini telah mengerti dengan jelas." jawab Senopati Surya Wisesa.

__ADS_1


"Lagipula setelah kita menaklukan Kerajaan Matraman Timur, kita membutuhkan seseorang yang mengatur wilayah itu. Saat itu terjadi biarkan Lodaya berkuasa sejenak sebelum kita mengambil alih dari dirinya. Aku juga akan menempatkan beberapa pasukan khusus untuk memantau gerak-gerik Lodaya." ucap Mahapatih Argadana.


Demikianlah mengapa pasukan Kerajaan Matraman Utara mampu dengan cepat mengalahkan pasukan Kerajaan Matraman Timur hanya dalam waktu dua hari. Semua itu terjadi karena ada campur tangan dari Kanjeng Lodaya.


Dan yang mengakibatkan Senopati Marigil tewas tertusuk pedang adalah juga ulah dari perbuatannya. Hal ini dilakukannya demi memuluskan rencana yang telah dirinya susun dengan rapi.


***


Setelah dua hari lamanya beristirahat, pasukan Kerajaan Matraman Utara akan segera kembali ke kerajaannya. Semua persiapan telah selesai mereka lakukan, kereta-kereta kuda telah mereka siapkan dengan baik.


"Lodaya.. " suara Mahapatih Argadana memanggil Kanjeng Lodaya.


"Hamba Gusti Patih.. " Kanjeng Lodaya mendekat seraya membungkuk hormat.


"Aku dan sebagian pasukan akan kembali ke Kerajaan Matraman Utara, sebagian lagi aku tempatkan mereka di sini. Dan ingat, aku juga telah menempatkan beberapa pasukan khusus, jadi ku peringatkan kepada mu untuk tidak bertindak macam-macam."


"Hamba tidak akan berani. Hamba akan mengingat pesan Gusti Patih dengan baik." jawab Kanjeng Lodaya.


Setelah kepergian Mahapatih Argadana dan sebagian pasukannya, Kanjeng Lodaya mengumpulkan seluruh raja dari kerajaan kecil yang dahulu memihak ke Kerajaan Matraman Timur.


Di hadapan para raja tersebut, Kanjeng Lodaya menjelaskan bahwa Kerajaan Matraman Timur telah tiada. Seluruh wilayah kekuasaannya telah beralih menjadi milik Kerajaan Matraman Utara.


Kanjeng Lodaya juga menjelaskan bahwa hanya akan ada satu kerajaan yaitu Kerajaan Matraman Utara. Nantinya kerajaan-kerajaan kecil itu akan berganti menjadi kadipaten dan akan dipimpin oleh seorang adipati.


"Apa kalian mengerti?"

__ADS_1


Para raja tidak ada pilihan lain, jika berniat melawan tentu nyawa yang akan menjadi taruhannya. Mereka saling lirik lalu mengangguk bersamaan.


"Kami mengerti Gusti..."


__ADS_2