
Ketika Senopati Bagas Aji sedang memperhatikan pasukan musuh yang sedang berpesta, ada seseorang yang sedang mengamati dirinya dari jauh. Seseorang itu kemudian mendekati sang senopati ketika menemukan hal yang mencurigakan.
“Berhenti! Bukankah kau? Kau yang bertugas sebagai penjaga perkemahan?” tanya orang itu seraya menatap Senopati Bagas Aji dari ujung kepala sampai ujung kaki.
Senopati Bagas Aji tidak menjawab, dirinya kemudian memperhatikan pakaian yang dirinya gunakan ternyata sedikit berbeda dengan prajurit yang ada di perkemahan itu. Sedikit banyak akhirnya senopati itu mengerti tentang situasi yang sedang terjadi.
Para prajurit penjaga yang senopati itu lumpuhkan ternyata bukanlah pasukan inti dari Kerajaan Matraman Utara. Para penjaga itu merupakan sekelompok bandit yang telah mereka taklukan dan bersedia ikut dalam peperangan ini.
Namun, mereka menjalani peran yang sedikit berbeda dengan yang lainnya. Di saat pasukan yang lain menikmati pesta, mereka justru ditugaskan untuk menjaga keamanan lokasi perkemahan. Naas, para penjaga itu semuanya tewas oleh pasukan kecil yang dipimpin Senopati Bagas Aji.
“Ahh.. Iya, aku hanya ingin meminta sedikit makanan. Persediaan makanan kami sudah habis.” jawab Senopati Bagas Aji dengan raut muka memelas.
“Kalian ini rakus sekali.” jawab orang itu dengan ketus. “Kembalilah ke tempat mu, nanti ada prajurit yang akan mengantarkan makanan.”
Senopati Bagas Aji berulang kali mengucapkan terima kasih kepada prajurit itu, tidak lupa dirinya memberikan pujian yang membuat prajurit itu terbang melayang. Setelah itu sang senopati mengajak pasukan kecilnya untuk segera mungkin meninggalkan lokasi perkemahan.
**
“Hamba datang melapor, Gusti Patih.” ucap seorang prajurit yang nafasnya terengah-engah. Prajurit itu telah berlari berjam-jam tanpa henti.
Mahapatih Kemuning Banyu mendengarkan dengan seksama laporan yang diberikan bawahannya. Sesekali dirinya menganggukan kepala sebagai tanda mengerti. “Kedatangan mereka telah sesuai dengan perhitungan.” gumamnya.
“Senopati Benggala?”
__ADS_1
“Hamba, Gusti Patih.”
“Perintahkan pasukan yang ada di dekat perbatasan untuk menyerang musuh ketika dini hari. Itu adalah waktu yang terbaik untuk memberikan ucapan selamat datang kepada mereka.”
“Mohon ampun, Gusti Patih. Bukankah itu sama saja dengan mengantar nyawa?”
Senopati Surya Benggala bukannya ingin menolak perintah Mahapatih Kemuning Banyu, dirinya hanya ingin meminta penjelasan dari strategi yang telah direncanakan oleh sang patih. Menurutnya, menyerang musuh yang berjumlah 50.000 prajurit hanya dengan membawa pasukan kecil menurutnya hanya akan membawa kematian.
Namun tanpa senopati itu sadari, Mahapatih Kemuning Banyu sudah menyiapkan rencana yang terbaik. Sang Patih telah menempatkan dua orang senopati berkemampuan sangat tinggi di wilayah perbatasan. Kedua senopati itu juga didukung oleh seratus prajurit terbaik.
Selain itu, di daerah hutan sekitar perbatasan telah dipenuhi ribuan jebakan yang mematikan. Seratus pasukan itu tidak akan menyerang secara terbuka, melainkan mereka akan memancing pasukan musuh untuk menuju hutan. Di hutan itulah, pasukan musuh akan dimusnahkan.
“Kau harus bergerak sekarang, Benggala. Bergabunglah dengan pasukan Senopati Bagas Aji dan Karang Suta. Jika semuanya tidak berjalan sesuai rencana, tarik mundur pasukan menuju benteng terdekat.”
**
Malam itu, di dalam hutan yang sangat gelap, terdapat seratus orang lebih sedang berkumpul. Mereka sedang mengamati ratusan tenda perkemahan yang membentang tidak seberapa jauh dari hutan itu.
“Bagas Aji, bagaimana hasil penyelidikan mu?”
“Tidak cukup baik, kakang Karang Suta. Dengan jumlah sebanyak itu, mereka benar-benar pasukan yang mengerikan. Terlebih lagi ada 100 pendekar Kelompok Jubah Hitam yang bergabung, rata-rata kekuatan mereka setara dengan pendekar ahli tahap awal.”
“Kita tidak boleh ragu. Tugas kita adalah mengurangi sebanyak mungkin musuh di hutan ini. Untuk rencana selanjutnya, kita tunggu perintah dari Gusti Patih.”
__ADS_1
Selang beberapa lama, kelompok pasukan itu kedatangan bantuan. Tidak banyak memang, namun cukup untuk menjalankan rencana mereka.
“Benggala, kenapa kau dan pasukan mu ada di sini?” tanya Senopati Karang Suta.
“Aku diperintahkan Gusti Patih untuk datang membantu. Kita akan menyerang mereka ketika dini hari.”
Ketiga senopati itu kemudian terlibat diskusi panjang terkait rencana penyerangan mereka. Setelah cukup yakin dengan strategi yang mereka putuskan, akhirnya pasukan itu mengambil tempat sesuai dengan tugasnya masing-masing.
“40 orang pasukan pemanah ikut aku.” ucap Senopati Bagas Aji. Lalu pasukan itu bergerak mendekati perkemahan musuh sampai dengan jarak tempuh anak panah mereka.
Pasukan ini berfungsi untuk membuat keributan dengan membakar tenda-tenda perkemahan dan tenda penyimpanan makanan. Anak panah mereka akan dilengkapi dengan api kecil. Setelah berhasil, mereka akan menarik pasukan musuh agar mengejar mereka menuju hutan.
“Bidik. Tembak.” perintah senopati itu.
Puluhan anak panah itu dengan cepat menghujani perkemahan. Sekilas anak panah api di malam hari seperti bintang jatuh. Apalagi jika dilihat oleh mereka yang sedang mabuk, langit malam itu sangat indah di mata mereka.
Tidak butuh lama, api menyebar dengan cepat karena jarak tenda-tenda mereka cukup berdekatan. Para prajurit itu belum menyadari tentang apa yang terjadi ketika api mulai membesar dan membakar prajurit yang sedang mabuk.
“Kebakaran.. kebakaraaan..”
“Serangan.. serangaaaan..”
“Kita diseraaaaaaaang....”
__ADS_1
“Padamkan apiiii!!!”