Pendekar Seruling Bambu

Pendekar Seruling Bambu
Chapter 17. Tewasnya Senopati Marigil


__ADS_3

Saat terjadi pertarungan sengit antara adiknya dengan Senopati Surya Wisesa, Senopati Marigil tengah dikepung oleh puluhan prajurit Kerajaan Matraman Utara. Senopati Marigil ingin segera menyelamatkan nyawa adiknya namun selalu saja dirinya dibuat sibuk oleh serangan musuh. Beruntung bagi Senopati Marigil ketika sejengkal lagi pedang Senopati Surya Wisesa hendak menebas batang leher adiknya, Senopati Marigil datang tepat pada waktunya. Untuk saat ini, selamatlah nyawa Senopati Marugul.


"Oh? Rupanya kau Senopati Marigil. Apa kau sudah tidak sabar untuk menyusul kematian adikmu?" ucap Senopati Surya Wisesa dengan ketus.


"Jangan besar omong kau Surya Wisesa, jika kau mampu langkahi dulu mayat ku." jawab orang itu yang tak lain adalah Senopati Marigil, kakak kandung dari Senopati Marugul.


"Baiklah, mungkin aku adalah orang yang ditakdirkan untuk mencabut nyawa kalian berdua." ucap Senopati Surya Wisesa lalu bergerak menyerang.


"Awas kepala!" teriak Senopati Surya Wisesa keras dan tiba-tiba.


Pedang Senopati Surya Wisesa dengan cepat menyerang ke arah kepala lawan, Senopati Marigil yang mendapat serangan dengan cepat segera merundukkan kepala dan menggeser tubuhnya ke samping. Namun pedang Senopati Surya Wisesa seperti mempunyai perasaan, setelah serangan pertama gagal dengan cepat liukan pedang itu segera menyasar ke arah pinggang.


Senopati Marigil bahkan harus menggulingkan tubuhnya ke tanah demi menghindari serangan mematikan dari pedang itu. Dalam hati Senopati Marigil memuji permainan pedang dari lawannya.


"Permainan pedangmu cukup menghiburku Surya Wisesa." puji Senopati Marigil.


"Oya? Sayangnya aku tidak begitu senang atas pujian mu." jawabnya mendengus.


Lalu keduanya terlibat dalam pertarungan kembali, permainan pedang kedua orang ini sangat indah. Pedang-pedang mereka meliuk-liuk dengan sangat cepat mencari sasaran tubuh lawannya, sesekali keduanya beradu pedang di udara.


"Argh.. " terdengar pekikan Senopati Surya Wisesa akibat terkena sabetan pedang lawan di bagian perut.


"Setan..!"


Senopati Surya Wisesa seketika menyerang Senopati Marigil ke arah jantung, yang diserang segera bergerak mundur. Melihat serangannya gagal, Senopati Surya Wisesa kembali menyerang ke arah kaki namun sebenarnya serangan ini hanyalah tipuan. Serangan yang sebenarnya akan dilancarkan ketika lawan mulai menghindari serangan pertama.


Dan benar saja ketika Senopati Marigil menghindar dengan menarik kakinya ke atas, tiba-tiba muncul serangan kedua menusuk bagian dada. Naas bagi Senopati Marigil, dirinya terlambat menghindari serangan kedua itu sehingga pedang lawan berhasil menusuk bagian perutnya.

__ADS_1


Senopati Marigil segera menekan lukanya dengan mengalirkan tenaga dalam, seketika lukanya berhenti mengeluarkan darah. Beruntung luka tusuk itu tidak terlalu dalam sehingga tidak merusak organ dalam perut dirinya.


"Oh.. sayang sekali, harusnya pedangku bisa menusuk lebih dalam." ucap Senopati Surya Wisesa.


"Jangan mimpi!"


Senopati Marigil menekuk kedua kakinya tangannya disiapkan di depan dada. Tiba-tiba kedua tangan Senopati Marigil berubah menjadi warna kehitaman, Senopati ini sedang merapalkan jurus pamungkasnya.


"Ajian Tapak Maut, tak ku sangka senopati rendahan ini memiliki ajian itu." ucap Senopati Surya Wisesa.


Senopati Surya Wisesa sadar benar akan kehebatan ajian yang sedang disiapkan lawannya, sekali lawan terkena ajian itu maka akan tewas di tempat. Oleh karenanya Senopati Surya Wisesa tidak akan bermain-main lagi, dirinya akan menyambut ajian itu dengan Ajian Tapak Harimau Gunung miliknya.


"Ajian Tapak Maut...!" teriak Senopati Marigil dengan keras.


Seketika tubuh Senopati Marigil mencelat sangat cepat bagaikan sambaran kilat. Di saat yang sama Senopati Surya Wisesa tengah memasang kuda-kuda kemudian kedua tangannya didorong ke depan untuk menyambut serangan lawan.


Kedua tapak akhirnya bertemu dan menimbulkan ledakan yang dahsayt di sekitar mereka. Debu-debu beterbangan dan sebagian prajurit tewas seketika akibat terkena ledakan.


Dari pertukaran jurus ini dapat diketahui bahwa tenaga dalam Senopati Surya Wisesa masih berada di bawah tenaga dalam milik Senopati Marigil. Beruntung bagi Senopati Surya Wisesa dirinya mampu bertahan dari ajian itu.


Senopati Surya Wisesa berusaha sekuat tenaga untuk bangkit namun tubuhnya tidak mau mengikuti keinginannya. Jangankan untuk bangkit, untuk menggerakkan tangannya pun dirinya sudah tidak mampu.


Senopati Marigil yang melihat lawannya tidak berdaya langsung datang mendekat dan berniat menghunuskan pedangnya, namun yang terjadi malah sebaliknya. Tubuh Senopati Marigil tiba-tiba rubuh tak bergerak, di bagian belakang tubuhnya menancap sebuah pedang hingga tembus ke jantung.


Surya wisesa yang melihat kejadian ini pun terkejut, dirinya tak menyangka akhirnya akan seperti ini. Kemudian dirinya mencoba melirik ke arah lain, dan terlihat olehnya seseorang berpakaian serba hitam tersenyum ke arahnya.


"******** itu.. rupanya dia yang melakukannya.." gumam Senopati Surya Wisesa lalu kepalanya jatuh tak sadarkan diri.

__ADS_1


Di bagian lain wilayah pertempuran, terlihat Senopati Munding Laya dan Senopati Cakra Boga tidak mengalami kesulitan yang berarti, mereka dapat dengan mudah mengalahkan lawan-lawannya.


Tidak terasa matahari telah condong ke arah barat, kedua pasukan kemudian kompak untuk sama-sama menarik pasukannya.


***


Di dalam tenda perkemahan Senopati Surya Wisesa masih terbaring tak sadarkan diri.


Di sampingnya ada seorang prajurit yang sedang melakukan pemeriksaan.


"Bagaimana dengan kondisi Surya Wisesa?" tanya Maha Patih Argadana kepada prajurit yang bertugas sebagai tabib.


"Kondisi Gusti Senopati cukup menghawatirkan Gusti Patih, beliau mengalami luka dalam yang sangat parah. Hamba menyarankan untuk segera membawa Gusti Senopati kembali ke Kerajaan Matraman Utara. Semoga tabib istana mampu menolongnya." jawab tabib itu menjelaskan.


"Hm.. ternyata dampak dari Ajian Tapak Maut sangat dahsyat. Beruntung Surya Wisesa memiliki tenaga dalam yang cukup untuk menahannya." gumam Maha Patih Argadana.


"Baiklah, segera siapkan pasukan untuk membawa Senopati Surya Wisesa kembali ke kerajaan." perintah Maha Patih Argadana.


Lalu Maha Patih Argadana memeriksa seluruh prajuritnya yang tersisa. Dari sepuluh ribu pasukan, saat ini telah berkurang sebanyak tiga ribu prajurit. Seribuan prajurit lebih mengalami luka-luka baik luka ringan maupun luka berat.


Sedangkan di sisi pasukan Kerajaan Matraman Timur mereka telah kehilangan hampir separuh prajuritnya.


Yang lebih menyakitkan adalah gugurnya Senopati Marigil, senopati ini merupakan senopati terhebat bagi kerajaannya. Sedangkan adiknya, Senopati Marugul juga mengalami luka yang cukup parah.


Di aula Kerajaan Matraman Timur terlihat Raja Reksa sedang memijit keningnya, dirinya tak menyangka hasil pertempuran hari pertama tidak menguntungkan pihaknya sedikit pun.


Padahal pasukannya telah mempersiapkan pertempuran dengan sangat matang.

__ADS_1


"Akankah semuanya berakhir seperti ini.. " gumamnya.


"Maaf Yang Mulia, sebaiknya Yang Mulia Raja segera beristirahat. Biarkan hamba yang mengurus sisanya... " ucap Penasihat Kerajaan Kanjeng Lodaya.


__ADS_2