
Pertempuran hari kedua sepertinya akan berjalan lebih sengit dari yang sebelumnya sebab para petinggi dari kedua kerajaan sudah dipastikan akan saling bunuh demi kemenangan dari pihak mereka.
Hari itu bahkan Yang Mulia Raja Reksa, Mahapatih Dirga Suntara, dan Penasihat Kerajaan Kanjeng Lodaya telah berada di garis depan. Mereka akan bahu membahu bersama pasukannya berperang melawan pasukan musuh. Mereka akan bertempur hingga nyawa tak lagi di badan demi kedaulatan Kerajaan Matraman Timur.
Di sisi yang berlawanan telah nampak pula Mahapatih Argadana, Senopati Munding Laya, dan Senopati Cakra Boga. Mereka kini tengah memasang senyum merekah melihat kondisi lawan yang sebentar lagi akan mereka kalahkan.
"Menyerahlah kalian wahai Yang Mulia Raja Reksa, dengan senang hati aku akan memohon ampunan untukmu." ucap Mahapatih Argadana memprovokasi lawannya.
"Sampai mati pun aku tidak akan menyerah." jawab Raja Reksa dengan senyuman.
"Baiklah.. aku akan pastikan ini adalah hari terakhir mu untuk bisa membuka mata." ucap Mahapatih Argadana seraya tangannya memberikan isyarat menyerang.
"Serang.." pekik suara kedua pasukan dengan lantang.
Pertempuran besar pun langsung pecah, masing-masing dari mereka saling mencari lawan yang sepadan. Suara denting sejata beradu pun segera tercipta, satu demi satu korban dari kedua pihak saling berjatuhan.
Siapapun yang melihat pertempuran ini akan bisa memastikan siapa pemenangnya. Jelas saja, pertempuran ini seakan berat sebelah. Baru sebentar saja pasukan Kerajaan Matraman Utara mampu mendesak pasukan musuh ke posisi bertahan.
"Hahaha.. matilah kalian." teriak Mahapatih Argadana seraya menebaskan pedangnya ke arah lawan. Satu demi satu korbannya roboh tak bernyawa.
"Bedebah.. aku lawanmu Argadana!" seru Raja Reksa.
"Oh? Secepat inikah aku harus menghadapimu? Seharusnya kau duduk saja di kereta, biar aku yang akan menghampirimu." jawab Mahapatih Argadana dengan nada yang mengejek.
"Mulut besar! Lihat serangan!" teriak Raja Reksa seraya maju menyerang.
Mahapatih Argadana mampu menghindari serangan tersebut dengan mudah, dirinya hanya menggeser tubuhnya ke samping lalu balik menyerang.
Mendapat serangan balasan yang tidak terduga terpaksa membuat Raja Reksa menarik pulang tangannya.
__ADS_1
Raja Reksa kembali menyerang dengan jurus-jurus tingkat tinggi, salah satunya menggunakan teknik Pedang Naga Langit. Teknik ini Raja Reksa pelajari bersama saudara-saudaranya ketika masih di Kerajaan Matraman. Saat itu Eyang Resi Danurwinda masih tinggal di istana Kerajaan Matraman dan menjadi guru bagi anak-anak raja.
"Teknik Pedang Naga Langit, Naga Membelah Gunung." seru Raja Reksa.
Mahapatih Argadana yang mengetahui kehebatan jurus itu segera bergerak menghindar, dirinya melompat ke udara kemudian berjumpalitan dua kali lalu turun kembali ke tanah.
"Duarr.. " terdengar ledakan yang sangat besar. Akibat ledakan yang besar itu menciptakan lubang besar, mayat-mayat prajurit tewas bergelimpangan.
"Edan.. penguasaan jurusnya bahkan setara dengan Yang Mulia Raja Putra." gumam Mahapatih Argadana memuji kehebatan lawannya.
Mahapatih Argadana beruntung bisa menghindari serangan dari teknik yang berbahaya itu, hal ini disebabkan karena gerakan tangan dan penguasaan jurus ini masih jauh dari kata sempurna. Berbeda hal jika yang melakukan teknik ini sudah menguasai ke tahap sempurna seperti Jaka atau Eyang Resi Danurwinda.
"Jurus pedang mu sangat hebat Raja Reksa." suara Mahapatih Argadana memuji lawannya.
"Aku tidak butuh pujian mu Argadana." jawabnya kesal. Raja Reksa berharap serangan tadi setidaknya mampu memberikan luka kepada lawannya, namun yang terjadi justru jauh dari harapan.
"Sekarang adalah giliranku Raja Reksa, terima jurus Cakar Harimau Mencari Mangsa milikku." seru Maha Patih Argadana.
Raja Reksa mencoba menguasai dirinya kemudian melompat menjauh, "Setan.." maki-nya.
Dari arah lain terdengar suara pertarungan yang tidak kalah seru antara Mahapatih Kerajaan Matraman Timur Dirga Suntara melawan Senopati Kerajaan Matraman Utara Munding Laya. Keduanya sama-sama berada pada tingkatan pendekar ahli tahap puncak, menjadikan pertarungan ini menjadi cukup imbang. Maha Patih Dirga Suntara menggunakan tombak bermata tiga, sedangkan Senopati Munding Laya menggunakan pedang kesayangannya.
Mereka telah bertarung puluhan jurus, sudah ada bekas luka di tubuh masing-masing. Keduanya lalu kembali bertukar serangan, suara denting pedang dan tombak beradu keras.
"Tring.. tring.. trang.. trang... "
"Argh.. " pekik Maha Patih Dirga Suntara melakukan kesalahan dalam mengantisipasi serangan lawan, sehingga tombaknya terlepas dari tangan.
Dengan segera Senopati Munding Laya melombat menyerang Maha Patih Dirga Suntara yang tidak bersenjata. Sabetan pedang Senopati Munding Laya dengan cepat memenuhi tubuh lawannya. Saat ini pedangnya telah terhunus ke leher lawan.
__ADS_1
"Aku tidak ingin dianggap jahat bila tidak memberikan kesempatan kepadamu untuk mengucapkan kata-kata terakhir." ucap Senopati Munding Laya dingin.
"Bunuh saja aku!" teriak Maha Patih Dirga Suntara.
"Aku kabulkan.. " jawab Senopati Munding Laya seraya menebaskan pedangnya ke arah leher. Dengan segera kepala Mahapatih Dirga Suntara jatuh menggelinding.
Proses tewasnya Mahapatih Dirga Suntara juga disaksikan oleh Raja Reksa, hal ini membuat kewaspadaannya terhadap lawannya menjadi longgar. Maha Patih Argadana yang melihat kesempatan itu segera menyerang dengan cepat hingga pedangnya mampu menebas lengan kiri Raja Reksa.
"Setan.. dasar licik." geram Raja Reksa seraya meringis kesakitan.
"Di dalam peperangan tidak ada istilah licik Raja Reksa. Yang ada hanyalah memanfaatkan kelengahan lawan, hanya itu yang aku lakukan." jawabnya dengan bibir tersungging senyum.
"Hari ini adalah akhir bagi dirimu Raja Reksa, aku pastikan seluruh keluarga mu akan mati hari ini." ucap Mahapatih Argadana.
"Setan.. dasar biadab kau Argadana!".
"Mati..!" seru Argadana seraya pedangnya berhasil menusuk jantung lawan.
Akhirnya Raja Reksa pun tewas, hal ini membuat semangat tempur pasukannya menjadi menurun. Dengan segera mereka menjatuhkan senjatanya dan memberikan isyarat menyerah.
Para prajurit Kerajaan Matraman Utara dengan cepat menawan prajurit lawan yang menyerah, sedangkan sisanya yang mencoba melawan akan dipenggal kepalanya.
Dengan demikian berakhirlah perang besar itu, hanya dalam waktu dua hari Kerajaan Matraman Utara dapat menaklukkan Kerajaan Matraman Timur. Sungguh pasukan perang yang sangat menakutkan.
"Kerja mu sangat bagus Kanjeng Lodaya.. " puji Mahapatih Argadana.
"Terimakasih Gusti Patih, ini semua berkat petunjuk Gusti.. " jawab Kanjeng Lodaya seraya membungkuk hormat.
"Untuk sementara wilayah ini akan menjadi tanggung jawab mu, Lodaya." perintah Mahapatih Argadana.
__ADS_1
"Sendika Gusti Patih.. " jawab Kanjeng Lodaya.
Seluruh pasukan Kerajaan Matraman Utara kemudian beristirhat di istana Matraman Timur sebelum kembali keesokan harinya.