
Mahapatih Argadana memperhatikan seorang pemuda yang baru saja datang sembari memainkan seruling di bibirnya. Sejenak permainan seruling itu berhenti, pemuda itu tersenyum ke arah Mahapatih Argadana lalu kembali memainkan serulingnya.
Setiap alunan suara seruling yang keluar diiringi dengan pengerahan tenaga dalam yang besar. Suara seruling itu berhasil memaksa setiap pendekar yang berada di tingkat pendekar kelas ahli jatuh berlutut sembari kedua tangan menutup kedua telinga mereka.
Derita yang lebih parah adalah bagi pendekar yang berada di tingkat pendekar kelas satu ke bawah, mereka semua mati dengan darah merah keluar dari seluruh lubang yang ada di kepala mereka. Jumlah dari mereka yang mati lebih dari seribuan prajurit.
Sedangkan bagi mereka yang telah berada di tingkat pendekar sakti, efek dari suara seruling itu hanya sebentar dan bisa dihilangkan dengan pengerahan tenaga dalam yang cukup besar.
Tentu saja semua korban yang jatuh berasal dari pihak Matraman Utara, sedangkan bagi pasukan tuan rumah dan sekutu tidak berdampak apa-apa.
Beberapa prajurit Matraman Barat yang pernah melihat pemuda itu menyunggingkan senyum di bibirnya, setidaknya saat ini masih ada harapan, begitu pikir mereka.
“Setan alas! Siapa kau? Berani sekali kau datang merusak kemenanganku.” sergah Mahapatih Argadana. Matanya yang tajam terus memperhatikan pemuda itu, seolah tidak ingin melepas pergi.
“Hemph? Aku? Aku adalah... “
Kening Mahapatih Argadana sedikit mengerenyit ke atas setelah mendengar jawaban dari Jaka. Mahapatih Argadana sangat terkejut, dirinya masih belum percaya bahwa pemuda yang ada di hadapannya ini adalah musuh utama dari Kelompok Jubah Hitam. Pemuda itu adalah Jaka sang pendekar seruling bambu.
Mahapatih Argadana lalu beralih kepada seseorang yang baru saja datang mendekati Jaka. Wajah orang itu seperti tidak asing baginya, Mahapatih Argadana mencoba mengingat nama orang tersebut. “Kau? Bukankah kau Tantra Langit?” tanyanya.
__ADS_1
“Matamu tidak salah, Mahapatih Argadana. Aku memang Tantra Langit. Aku merasa sangat senang bisa bertemu lagi denganmu. Ingin sekali tanganku ini memenggal kepalamu.” jawab Tantra Langit seraya menggenggam keras jari-jemarinya.
“Jaka, kau pergilah dulu. Selamatkan Yang Mulia Raja, biarkan aku yang menghadapi Mahapatih Argadana.”
Jaka menolak permintaan Tantra Langit sebab menurutnya Mahapatih Argadana bukanlah lawan yang mudah.
Menurut pengamatan Jaka, ilmu kanuragan Tantra Langit masih sedikit di bawah lawannya. Memang masih ada kemungkinan untuk menang, namun kemungkinan itu sangatlah kecil.
Jaka hendak mencegah keinginan itu namun segera diurungkan setelah melihat tekad kuat dari Tantra Langit. Jaka tak bisa berkata lagi setelah Tantra Langit maju menyerang lawannya.
Jaka memperhatikan sejenak pertarungan dua orang pendekar yang sama-sama baru memasuki tingkat pendekar sakti itu, sejauh ini masih berimbang pertarungan di antara keduanya.
Baru saja beberapa langkah, Jaka melihat seseorang yang tadi hampir saja dibunuh oleh Mahapatih Argadana. Jaka mendekati orang tersebut dan kemudian menolongnya.
“Terimakasih.” jawab orang itu.
“Aku belum pernah melihatmu di kerajaan ini. Siapa gerangan dirimu, tuan?” tanya Jaka.
“Aku Sukanda, adik dari Raja Angga.” jawabnya seraya tersenyum.
__ADS_1
Mendengar jawaban dari Raja Sukanda, Jaka dengan segera membungkukkan badan memberi hormat.
“Hormat kepada penguasa Matraman Selatan, Yang Mulia Raja Sukanda.”
Raja Sukanda tersenyum melihat tingkah Jaka, lalu memintanya untuk tidak terlalu formal. Saat ini ada yang lebih penting yang harus Jaka selesaikan. “Kau mencari Raja Angga, kan? Pergilah ke arah timur.”
Dengan segera Jaka berlari ke arah yang ditunjuk, tidak lupa dirinya menggebuk beberapa musuh yang Jaka temui.
Setelah berlari cukup jauh, Jaka bisa melihat Raja Angga sedang bertarung dengan belasan pendekar kelas satu, beberapa luka sudah mendarat di tubuh Raja Angga. Mungkin dalam beberapa jurus ke depan, hasil dari pertarungan itu sudah bisa ditebak hasilnya.
Sebelum hal buruk itu terjadi, Jaka dengan cepat memasuki arena pertarungan. Seruling yang menjadi senjata di tangannya dengan sangat cepat mengarah ke tubuh lawan. Satu dua lawan langsung terlempar jauh akibat pukulan yang Jaka berikan.
Tidak sampai sepuluh jurus, belasan musuh yang tadi mengeroyok Raja Angga kini sudah bergelimpangan tak berdaya dengan kepala pecah. Sedangkan Jaka masih berdiri kokoh tidak kurang suatu apapun.
Jaka mendekati Raja Angga lalu menghentikan pendarahan yang sedang dialaminya. “Aku tidak apa-apa, Jaka. Ini hanya luka kecil bagiku.” ucap Raja Angga tersenyum setelah melihat raut wajah Jaka yang penuh kekhawatiran.
“Raka tetap di sini. Aku akan membereskan kekacauan ini dengan cepat.”
Jaka bergerak cepat kembali ke arena pertempuran, memperhatikan jalannya pertarungan yang kini sudah berubah 180 derajat. Prajurit-prajurit Matraman Barat dan sekutunya mulai mendominasi sebab sudah unggul dalam hal jumlah.
__ADS_1
Jaka kemudian memeriksa ke seluruh Kotaraja, mencari musuh yang sekiranya sepadan untuk dirinya lawan. “Akhirnya... “