Pendekar Seruling Bambu

Pendekar Seruling Bambu
Chapter 38. Penyusup


__ADS_3

Setibanya Jaka di penginapan, dirinya lalu mengikuti pelayan yang mengantarkannya ke sebuah kamar yang kosong. Setelah membayar dengan beberapa keping perak, Jaka melangkah masuk ke kamar itu untuk beristirahat.


Baru saja Jaka hendak memejamkan matanya, tiba-tiba pintu kamarnya diketuk dari luar. Jaka lalu membukanya dan tampak di hadapannya seorang gadis yang membawa makanan dan seguci arak manis. Usia gadis itu mungkin sekitar belasan tahun, kulitnya hitam manis dan perawakannya tidak terlalu tinggi.


Gadis itu sejenak terpana dengan ketampanan Jaka, sampai-sampai gadis itu diam terpaku. Gadis itu baru tersadar ketika Jaka menyentuh bahunya.


"Oh.. maafkan saya tuan. Saya hanya ingin mengantarkan makanan ini." ucapnya lalu meletakkan makanan itu di atas meja yang ada di dalam kamar. "Saya permisi tuan.. " lalu gadis itu bergegas pergi.


Jaka hanya menggelengkan kepalanya lalu menutup pintu kamar. Baru saja Jaka hendak melangkahkan kaki, tiba-tiba pintu kamarnya ada yang mengetuk kembali. Jaka kembali membuka pintu dan kini di hadapannya muncul gadis yang sama.


"Ada apa lagi?" tanya Jaka seraya mengerenyitkan keningnya.


"Anu.. anu tuan.. jika tuan membutuhkan sesuatu, tuan bisa memanggil saya." ucapnya tergagap menahan rasa malu di dalam dirinya.


"Baiklah.. terimakasih." jawab Jaka.


"Kalau begitu saya permisi lagi tuan.. "


Jaka mengangguk dan segera menutup pintu. Jaka sejenak masih berdiri di depan pintu, kalau-kalau gadis itu muncul kembali. Namun setelah beberapa lama menunggu, tidak ada tanda-tanda kemunculan gadis itu lagi. Jaka lalu menuju meja kecil dan menghenyakkan tubuhnya di kursi rotan. Jaka kemudian menikmati makanan dan seguci arak hingga habis.


***


"Bagaimana keadaan desa tadi malam?"


tanya seorang laki-laki paruh baya yang mengenakan pakaian yang cukup bagus berwarna biru tua, lelaki itu sedang duduk berhadapan dengan dua orang pemuda. Dialah kepala Desa Tanjung Sari yang bernama Ki Jagad Roso, sedangkan kedua pemuda itu adalah petugas jaga di desa tersebut. Mereka tengah berada di dalam kedai makan.


"Tadi malam aman Ki, semuanya aman terkendali." jawab salah satu pemuda yang sedang sibuk dengan makanannya. Tubuh pemuda ini sedikit gempal dengan kepala yang hampir menyatu dengan tubuhnya.


"Namun ada seorang pemuda yang menginap di desa kita.. " ucap pemuda yang lainnya. Pemuda ini tubuhnya lebih ramping dibanding rekannya, di pinggangnya terselip sebilah pedang yang lumayan panjang.

__ADS_1


"Lalu?"


"Tidak ada tanda-tanda yang mencurigakan Ki, kami sudah menjaga penginapan yang disewa pemuda itu."


"Kalian tetap harus mengawasi pemuda itu, kita tidak pernah tau kapan bahaya akan datang menghampiri kita.."


"Baik Ki.. " jawab kedua pemuda itu bersamaan.


Baru saja mereka menyelesaikan pembicaraan, dari arah pintu masuk kedai muncul seorang pemuda mengenakan jubah panjang berwarna putih kebiruan, rambutnya yang hitam panjang dibiarkan terurai. Namun hal itu tidak sedikitpun mengurangi ketampanan wajahnya.


Pemuda itu mengambil tempak duduk yang berada di pojokan kedai, tempat duduk itu menghadap ke arah pintu masuk. Tidak lama ada seorang pelayan yang menghampiri pemuda itu dengan membawa beberapa makanan dan seguci arak.


"Apakah pemuda itu yang kalian maksud?" tanya Ki Jagad Roso kepada kedua pemuda yang berada di hadapannya seraya sudut matanya melirik ke pojok kedai. Kedua pemuda itupun mengangguk mengiyakan.


"Kalian awasi dia.."


Setelah berkata demikian, Ki Jagad Roso memberikan beberapa keping perunggu untuk membayar makanan mereka bertiga, lalu dirinya melangkah keluar kedai. Kedua pemuda itu saling membalas senyum bahagia sebab untuk kesekian kalinya mereka ditraktir makan oleh sang kepala desa.


Pemuda itu yang tak lain adalah Jaka, tetap menikmati makanannya walaupun sadar dirinya tengah diperhatikan oleh kedua penjaga desa. Setelah selesai menyantap makanannya, Jaka segera kembali ke penginapan karena tidak ingin terjadi sesuatu di antara mereka.


***


Malam harinya Jaka sengaja tidak beranjak tidur sebab dirinya ingin mengetahui apa sebenarnya yang sedang terjadi di desa itu. Warga desa terlihat sangat tertutup dan jarang terlihat anak-anak yang biasanya senang bermain.


Jaka berdiri di depan jendela kamarnya seraya memandang bulan sabit yang menggantung di langit. Jaka ingin sekali rasanya memainkan seruling bambu miliknya namun kondisi di desa ini sedang tidak memungkinkan.


Jaka kemudian memandang atap rumah-rumah penduduk, samar-samar dirinya melihat ada seseorang yang berlari di atap rumah. Pergerakan orang itu sangat mencurigakan, seperti sedang mencari sesuatu. Jaka lalu melompat keluar jendela dan mendekati orang itu dengan hati-hati.


Baru sebentar saja, Jaka sudah berada sejauh dua tombak di belakang orang itu. Jaka tetap mengamati tanpa menimbulkan suara sedikitpun. Orang itu memakai pakaian berwarna hitam namun tanpa penutup kepala.

__ADS_1


"Apa yang kau cari Kisanak?"


Sebuah pertanyaan yang tiba-tiba muncul dari arah belakang membuat orang itu terkejut setengah mati. Bagaimana tidak? Orang itu sudah bergerak dengan hati-hati, bahkan atap rumah yang dipijak pun tidak mengeluarkan suara. Namun kini di hadapannya muncul seseorang yang entah sejak kapan sudah mengawasinya.


"Siapa kau?" tanya orang itu.


"Harusnya aku yang bertanya demikian Kisanak, gerak gerikmu sangat mencurigakan."


"Namaku Wirabumi, aku adik dari Ki Jagad Roso, kepala desa di desa ini. Lalu siapa kau? Apakah kau termasuk dari orang-orang yang sedang aku awasi?"


Jaka terkejut atas pertanyaan pemuda yang mengaku bernama Wirabumi itu, Jaka memandangi pemuda itu dari ujung kepala sampai ujung kaki namun tidak menemukan hal yang mencurigakan.


"Namaku Jaka, orang-orang memanggilku 'Pendekar Seruling Bambu'. Aku sudah berada di desa ini dari kemarin malam."


Ketika Jaka tengah mengobrol dengan Wirabumi, telinga Jaka yang tajam menangkap suara anak yang menangis. Dengan ilmu meringankan tubuhnya Jaka bergerak ke arah sumber suara meninggalkan Wirabumi yang diam mematung.


"Cepat sekali gerakannya.. " gumam Wirabumi lalu dirinya mengikuti ke arah yang Jaka tuju.


Setibanya Wirabumi di lokasi, dirinya menyaksikan Jaka sedang bertarung dengan dua orang yang mengenakan jubah hitam sampai menutupi kepalanya. Jaka melayani kedua orang itu dengan tangan kosong sedangkan lawannya menggunakan golok yang kelihatannya sangat tajam.


Tidak butuh lama, Jaka mampu membunuh satu orang dan melumpuhkan satu rekannya. Wirabumi menghampiri Jaka dan memeriksa mayat penyusup itu.


"Apakah mereka yang kau kejar?" tanya Jaka kepada Wirabumi.


"Benar.. mereka sudah beberapa kali memasuki desa namun aku selalu gagal meringkus mereka." jawab Wirabumi yang wajahnya masih terkagum dengan kemampuan Jaka.


"Sebaiknya kita melaporkan ini kepada kepala desa.." ajak Wirabumi kepada Jaka.


"Baiklah.. Kau bawa anak laki-laki yang ada di sana.." jawab Jaka seraya menunjuk ke bawah pohon yang sedikit gelap. Di bawah pohon itu terdapat bocah laki-laki yang sedang tertotok urat lehernya sehingga tidak bisa mengeluarkan suara.

__ADS_1


Kemudian Jaka dan Wirabumi menuju rumah kepala desa dengan membawa masing-masing satu orang di pundak mereka.


Tanpa sepengetahuan keduanya, diam-diam ada seseorang yang mengawasi mereka berdua lalu orang itu menghilang di antara rumah penduduk.


__ADS_2