Pendekar Seruling Bambu

Pendekar Seruling Bambu
Chapter 22. Mengejar Tiga Anak Tikus


__ADS_3

"Paman kan berasal dari desa yang ada di selatan? Lalu.. kenapa paman sampai datang ke wilayah utara ini?" tanya Jaka keheranan.


"Bukankah aku sudah pernah bilang sebelumnya, aku sedang mengejar anak-anak tikus." jawab Ki Rana lalu tertawa.


Jaka yang masih belum mengerti akhirnya memberanikan diri untuk bertanya, apa maksud dari anak-anak tikus itu. Ki Rana lalu kembali menjelaskan kisahnya.


Setelah Ki Rana selesai mempelajari ilmu kanuragan dan ilmu kesaktian di sebuah gua di dekat kereng gunung, Ki Rana memutuskan untuk kembali ke desanya. Ki Rana sudah meninggalkan istri dan anak-anaknya, tentu dirinya sangat merindukan mereka. Perjalanan pulang ini terasa lebih cepat dibandingkan ketika dahulu Ki Rana pertama kali meninggalkan desa.


Sejenak terbersit dalam ingatannya sosok istri dan kedua anaknya yang masih kecil. Anak-anaknya itu akan berlari menyambut kepulangannya, serta sang istri yang akan memasak makanan kesukaannya membuat Ki Rana mempercepat langkah kakinya.


Sesekali Ki Rana menggunakan ilmu meringankan tubuhnya untuk mempercepat langkah ataupun sekedar melihat sudah sejauh mana kemampuannnya. Kadang juga Ki Rana terlihat melompat dari pohon yang satu ke pohon lainnya.


Ketika Ki Rana sudah tiba di desanya, Ki Rana disambut oleh puing-puing rumah penduduk yang habis terbakar. Terlihat pula beberapa kayu tiang penyangga rumah yang masih mengeluarkan sedikit asap sisa-sisa bara api. Raut wajah Ki Rana bertambah buruk ketika dari balik puing-puing itu juga tercium bau daging yang terpanggang, sudah jelas itu adalah mayat para penduduk yang ikut terbakar si jago merah.


Tubuh Ki Rana seketika gemetar hebat, dengan segera ia melompat menuju arah rumahnya. Setibanya Ki Rana di rumahnya, pemandangan yang dirinya saksikan pun tidak jauh berbeda dengan rumah-rumah penduduk sebelumnya. Rumah Ki Rana kini telah menjadi puing-puing ber-abu. Ki Rana juga menemukan mayat istri dan kedua anaknya yang masih kecil. Tidak terasa air mata Ki Rana mulai terjatuh membasahi pipi, dirinya lalu menangis sejadi-jadinya, sesekali dirinya pun berteriak histeris.


Ki Rana seketika menyesal telah pergi meninggalkan istri dan anak-anaknya. Ki Rana beranggapan jika saja dirinya tidak pergi tentu kejadian seperti ini tidak akan pernah terjadi.


"Tidak ada gunanya aku memiliki ilmu kesaktian jika aku tidak bisa melindungi orang-orang yang aku sayangi.... " gumam Ki Rana.


Sudah setengah hari lamanya Ki Rana masih tergeletak duduk tak bergerak di depan puing-puing rumahnya, matanya yang sayu memandangi reruntuhan rumah. Sejauh matanya memandang tidak ada lagi bangunan utuh yang tersisa di desanya, semuanya rata dengan tanah.


Ki Rana kemudian menguburkan mayat istri dan anak-anaknya secara layak, tidak lupa pula dirinya mencari mayat penduduk lain dan juga menguburkannya.

__ADS_1


Setelah Ki Rana selesai menguburkan mayat para penduduk dengan layak, Ki Rana melangkahkan kakinya meningggalkan desa. Ki Rana akan berkeliling ke setiap penjuru untuk mencari informasi siapa yang telah memporak-porandakan kampung halamannya.


Sudah hampir sepuluh tahun Ki Rana keluar masuk dari satu wilayah ke wilayah lainnya, dari satu desa ke desa lainnya, hingga dirinya menyatroni sampai keempat wilayah arah mata angin. Saat ini Ki Rana sudah mengetahui dengan pasti siapa pelaku yang mengancurkan desanya, namun belum bisa meringkus pelaku tersebut.


Ki Rana sudah sempat beberapa kali terlibat pertarungan dengan pelaku tersebut, namun belum juga mampu melumpuhkannya. Hal ini karena jumlah mereka lebih dari satu dan ilmu kanuragan mereka cukup mumpuni.


Sampai suatu ketika Ki Rana mendapatkan informasi bahwa pelaku yang sedang dicarinya itu sedang berada di wilayah utara. Maka dari itu Ki Rana mengejarnya sampai ke desa ini.


"Pelaku yang menghancurkan desaku menamakan diri mereka tiga setan gundul. Aku tidak menyukai mereka, oleh sebab itu aku menyebut mereka sebagai tiga anak tikus." tawa Ki Rana mengakhiri ceritanya, namun bagi siapapun yang mendengar tawa itu menyiratkan sebuah kesedihan yang mendalam.


"Paman, aku turut berduka atas tewasnya istri dan anak-anak paman." ucap Jaka seperti ikut merasakan kesedihan yang dirasakan oleh Ki Rana. Ki Rana menyambutnya dengan senyuman yang dipaksakan.


"Ahh.. kau malah ikut bersedih, maafkan atas cerita ku ini Jaka." ucap Ki Rana menyesal.


"Tidak apa-apa paman, aku pun telah kehilangan kedua orang tuaku yang dibunuh oleh prajurit Kerajaan Matraman Utara. Ingin sekali aku untuk menuntut balas, namun Eyang Guru melarang ku."


Biarlah cukup aku saja... " ucap Ki Rana lirih.


"Baiklah paman, aku akan mengingat nasihat paman." ucap Jaka seraya menundukkan kepalanya.


"Katamu tadi kau ingin ke Kerajaan Matraman Barat?" tanya Ki Rana.


"Iya paman, Eyang Guru yang memintaku." jawab Jaka.

__ADS_1


"Gurumu pasti meminta mu untuk membantu Raja Angga untuk mengembalikan kejayaan negerinya."


"Perkiraan paman sangat tepat. Aku memang ditugaskan untuk itu." jawab Jaka.


Ki Rana lalu menjelaskan kepada Jaka bahwa permasalahan yang akan dihadapinya tidaklah sesederhana itu. Perang yang sudah dan akan terjadi bukanlah permasalahan kerajaan semata, namun ada masalah yang lebih besar dari itu.


Ki Rana kemudian mencontohkan perang yang baru saja terjadi antara Kerajaan Matraman Utara dengan Kerajaan Matraman Timur. Perang itu sejatinya melibatkan dua buah kerajaan yang cukup besar, dan pasti akan berlangsung setidaknya selama beberapa hari bahkan mungkin beberapa pekan.


Namun yang terjadi adalah hal sebaliknya, perang ini berakhir dengan cepat bahkan sangat cepat. Perang besar itu hanya terjadi selama dua hari dan menghasilkan Kerajaan Matraman Utara sebagai pemenangnya.


Menurut Ki Rana, ada campur tangan pihak lain atas kemenangan ini. Ki Rana tidak bisa memastikan secara jelas siapa sosok itu, namun yang pasti sosok itu berasal dari pendekar golongan hitam. Hal ini terbukti semakin gencarnya pendekar golongan hitam yang datang ke wilayah utara ini.


Bukan tidak mungkin Jaka akan menghadapi pendekar-pendekar dari golongan hitam. Bahkan berulang-ulang kali Ki Rana memperingati Jaka untuk berhati-hati. Jaka pun menjawabnya dengan menganggukkan kepala berkali-kali.


Setelah Ki Rana selesai menjelaskan panjang lebar, Jaka bangkit dari duduknya untuk sejenak melenturkan otot-otot badannya.


"Rasanya pegal sekali jika tidak digerakkan." gumam Jaka.


Di saat itulah Ki Rana menemukan sebuah seruling bambu yang menggantung dari balik jubah yang dikenakan Jaka. Seketika Ki Rana tersenyum dan melempar Jaka dengan sebuah ranting pohon.


"Rupanya kau yang bermain seruling kemarin malam?" tanya Ki Rana.


"Hehehe.. " Jaka hanya menjawabnya dengan tertawa.

__ADS_1


Sekali lagi Ki Rana dibuat kagum oleh Jaka, usianya mungkin masih sangat muda tetapi sudah memiliki tenaga dalam yang sangat besar. Di saat Ki Rana masih seusia Jaka jangankan untuk belajar ilmu kanuragan, hari-harinya dihabiskan hanya untuk bolak-balik ke sawah.


"Andai aku seberuntung bocah ini.. " gumam Ki Rana.


__ADS_2