
"Tring.. tring.. " terdengar benturan senjata rahasia yang dilepaskan lawan dengan seruling bambu milik Jaka.
Belasan senjata rahasia yang diarahkan ke tubuh Jaka tidak satupun ada yang berhasil. Sebagian dari senjata rahasia itu berhasil Jaka hindari dan sebagian lagi Jaka tahan menggunakan seruling bambu miliknya. Jaka lalu bersembunyi di balik sebatang pohon yang cukup besar.
Jaka mengambil satu buah senjata rahasia yang jatuh di dekatnya. Senjata rahasia itu berbentuk cakram kecil yang bergerigi di sekelilingnya. Jika senjata rahasia ini mengenai tubuh lawan, sudah dipastikan lawan akan mengalami luka yang cukup dalam sehingga memungkinkan merusak organ dalam tubuh.
"Senjata ini sungguh berbahaya.." Jaka lalu menyimpan senjata rahasia itu di balik jubahnya.
"Satu.. dua.. tiga.. empat.. lima, ada lima orang yang menyerangku.." gumam Jaka.
Jaka mampu merasakan aura membunuh yang sedang mengarah kepadanya, dengan begitu tidak sulit bagi Jaka untuk menemukan lokasi dari lawan-lawannya. Jaka lalu mengambil lima buah batu kerikil yang berada di dekatnya, dengan gerakan secepat kilat Jaka melompat ke samping dan melemparkan dua buah batu kerikil ke arah lawan.
"Argh.." terdengar suara pekikan yang kemudian disusul dengan dua tubuh yang roboh dengan kening bolong tertembus batu kerikil.
Ketiga lawan yang terkejut dengan kematian rekannya tidak menyadari jika Jaka telah datang mendekat, dengan sekali serang satu demi satu dari ketiga musuh telah Jaka habisi dengan mudah.
Jaka mendekati tubuh lawannya itu satu per satu dan mengambil semua senjata rahasia yang tersisa, "Akan ku gunakan senjata ini melawan pemiliknya.." gumam Jaka.
Jaka menatap lurus ke depan, entah masih ada berapa banyak musuh yang sudah menunggunya. Jaka sejenak memantapkan hatinya lalu bergerak ke depan dengan sangat hati-hati.
Jaka sudah memasuki hutan larangan lebih dalam namun belum ada musuh yang terlihat. Tidak jauh di depannya kini Jaka bisa melihat sebuah bangunan yang cukup besar yang dikelilingi oleh beberapa bangunan kecil.
"Sepi.. Apakah ini jebakan?"
Baru saja Jaka selesai berkata demikian, di sekeliling Jaka telah muncul puluhan orang yang memakai jubah hitam hingga menutupi kepalanya. Saat ini posisi Jaka telah terkepung, tidak ada celah untuk melarikan diri.
"Bagaimana aku bisa tidak menyadari ini semua?" Jaka bertanya kepada dirinya sendiri namun tak kunjung mendapat jawaban.
Jaka masih diam tak bergerak di tempatnya, dirinya sedang mengamati musuh-musuhnya. Kini, mata-mata musuh menatap Jaka dengan sangat liar, mereka bagaikan harimau yang menemukan mangsanya.
__ADS_1
"Akankah aku mati di sini? Oh tidak, guru pasti akan sedih mendengar kematian ku.." gumam Jaka seraya memukul-mukul kepalanya.
"Apa kau sudah mau menyerah, bocah tengik?"
Jaka menatap lurus ke depan, kini di hadapannya telah muncul seorang wanita yang menggunakan topeng berwarna kuning di wajahnya. Pakaiannya yang berwarna hitam menambah keseraman wanita itu.
"Apa kau pemimpin kelompok ini?" tanya Jaka.
"Kalau iya, kau mau apa? Mau melamarku? Huh.. jangan mimpi.." dengus wanita itu.
"Setan.. siapa juga yang ingin melamar perempuan setan sepertimu." Jaka menjawab tidak kalah pedas.
"Kurang ajar.. bunuh dia!"
"Hiyaaatttt..."
Puluhan orang yang telah mengepung Jaka menyerang bersamaan, mereka menyerang dengan sangat kompak. Orang-orang ini sepertinya sangat terlatih, Jaka sempat menjadi bulan-bulanan dari serangan pedang mereka.
Jaka mulai mengeluarkan jurus kedua dari teknik Pedang Naga Langit yang bernama Naga Mencari Mangsa. Gerakan pedang Jaka meliuk-liuk menyasar titik-titik vital lawan. Gerakannya sangat cepat sehingga lawan tidak sempat menyadari jika dirinya lah yang menjadi sasaran dari pedang Jaka.
Satu demi satu korban mulai berjatuhan, ada yang lehernya hampir putus tertebas pedang, ada juga yang dadanya bolong tertembus tusukan pedang. Orang-orang yang melihat itu akan bergidik dibuatnya, sungguh teknik pedang yang sangat berbahaya.
"Mundur!" teriak wanita bertopeng kuning.
Kini dari puluhan yang menyerang Jaka, hanya tersisa delapan orang, itupun juga sudah mendapat luka di sana sini. Wanita bertopeng itu menatap bawahannya satu per satu, lalu beralih menatap Jaka. Walaupun wajahnya tertutup topeng, namun Jaka bisa menebak bahwa wajah wanita itu telah dipenuhi amarah yang memuncak.
"Siapa sebenarnya dirimu, bocah? Jurus yang kau gunakan sepertinya tidak asing bagiku.."
"Namaku Jaka, orang-orang memanggilku 'Pendekar Seruling Bambu'. Aku yang akan menumpas kelompok seperti kalian." jawab Jaka dengan tegas.
__ADS_1
"Setan alas! Ku robek mulutmu!"
Wanita bertopeng itu mulai menyerang Jaka dengan tangan kosong, Jakapun menyambutnya setelah melemparkan pedang yang dirinya genggam ke arah delapan orang bawahan yang tersisa. Suara pekik kematian terdengar berbarengan dengan benturan tangan Jaka dengan wanita bertopeng itu.
Akibat benturan tangan yang diiringi dengan tenaga dalam, Jaka terpundur dua langkah sedangkan wanita bertopeng itu terpental ke udara lalu berjumpalitan dua kali dan mendarat dengan manis di tanah.
Jaka baru mengerahkan setengah dari tenaga dalamnya, wajar saja jika dirinya ikut termundur ke belakang. Namun apapun itu, lawan yang Jaka hadapi kali ini lebih hebat dari lawan-lawan sebelumnya. Jaka harus berhati-hati terhadap lawannya kali ini.
"Huh.. boleh juga tenaga dalammu.." puji wanita bertopeng itu.
"Terimakasih.. kau adalah orang pertama yang mampu membuatku terpundur.." Jaka balas memuji.
"Baiklah aku akan lebih serius.."
"Akupun tidak akan sungkan, majulah.." jawab Jaka.
Keduanya pun kembali terlibat pertarungan tangan kosong, saling serang mencari celah. Sudah hampir sepuluh jurus namun belum ada satupun serangan yang mampir ke tubuh lawan-lawannya.
Jaka diam-diam mengagumi ilmu kanurangan wanita bertopeng itu, gerakannya sangat lincah yang mengandalkan kecepatan. Beberapa kali serangan Jaka hampir mendarat di tubuh lawan, namun sedetik kemudian lawannya malah mampu menyerang balik. "Sial.." dengus Jaka.
Jaka kemudian merubah jurus-jurusnya, kali ini dirinya menyiapkan jurus yang bernama Bayangan Naga. Jurus ini memungkinkan penggunanya mampu menyerang lawan dengan sangat cepat, sehingga lawan hanya melihat bayangannya saja.
Dan perubahan jurus yang Jaka lakukan terbukti berhasil. Serangan Jaka yang barusan berhasil mendarat di dada wanita bertopeng itu. Wanita itu terpental sejauh dua tombak, dari sudut bibirnya mengeluarkan cairan berwarna merah.
Walaupun serangan ini tepat mengenai lawan, dampak dari serangan tadi tidaklah sehebat apabila menggunakan pedang. Karena sejatinya, jurus-jurus yang Jaka gunakan lebih efektif apabila diimbangi dengan pusaka Pedang Langit.
"Setan! Jurus apa yang telah bocah ini gunakan.." batin wanita bertopeng seraya bangkit berdiri.
Setelah melihat lawanya tengah bersiap-siap, Jaka kembali menyerang dengan jurus yang sama. Kali ini Jaka menyerang secara beruntun. Serangan pertama dapat dihindari lawannya, namun tidak dengan serangan yang kedua yang berhasil menghujam tepat di perut lawannya.
__ADS_1
Untuk kedua kalinya Jaka berhasil menjatuhkan lawannya, Jaka lalu berniat menghabisi wanita bertopeng itu di serangannya yang ketiga. Namun hal yang kemudian terjadi justru mengagetkan Jaka dan semua orang yang ada di sekitar pertarungan itu.