
Tantra Langit yang berada cukup dekat dengan lokasi pertarungan, mampu mendengar semua informasi yang diucapkan Mahesa, termasuk informasi tentang Resi Danurwinda. Tantra Langit tentu terkejut bercampur gembira, hal ini disebabkan oleh dua hal. Yang pertama, Tantra Langit sangat gembira ketika mengetahui kabar bahwa Resi Danurwinda masih hidup. Artinya masih ada harapan untuk Tantra Langit menemui Resi Danurwinda.
Dan yang kedua, Tantra Langit terkejut sebab pemuda yang sedang dicarinya kini berada di depannya dan dalam keadaan bahaya.
Tantra Langit sudah menduga bahwa kemampuan Mahesa jauh berada di atas Jaka. Oleh sebab itu, Tantra Langit sudah memutuskan bahwa dirinya akan bergerak ketika Jaka membutuhkan bantuan.
Pertarungan Jaka dan Mahesa kini telah dimulai. Mula-mula memang terlihat berimbang, namun lambat laun terlihat Mahesa mulai mendominasi bahkan terus berhasil memberikan luka ke tubuh Jaka. Hingga suatu ketika Tantra Langit melihat Jaka sudah tak mampu lagi untuk melawan, dan di saat itulah dirinya memutuskan untuk keluar membantu Jaka.
Namun belum sempat Tantra Langit bergerak, di hadapannya kini telah muncul seseorang yang melindungi Jaka. Tantra Langit menyadari bahwa dirinya terlambat sekian detik.
“Ah.. Dia selalu saja lebih cepat dari ku.” gumam Tantra Langit seraya menarik salah satu sudut bibirnya ke atas.
***
“Musuhmu kali ini jauh lebih hebat dari dirimu, pulihkan tenaga dalam mu dan pergilah. Aku akan menahannya semampu ku.”
Jaka tidak membantah, dirinya langsung duduk bersila dan mengatur pernafasan. Jaka kemudian mengambil seruling bambu dari balik jubahnya, lalu menggenggamnya dengan erat. Perlahan aliran energi mulai menjalar masuk ke tubuh Jaka. Rona wajahnya mulai terlihat lebih segar. Sunguh beruntung dirinya memiliki pusaka yang seperti itu.
Mahesa yang gagal membunuh Jaka, terlihat sedikit kesal atas kemunculan orang itu.
“Siapa kau? Ingin berlagak bagai pahlawan?” ucap Mahesa kesal.
“Tidak penting siapa aku, tapi yang pasti aku tidak akan membiarkan dirimu membunuh pemuda ini.”
__ADS_1
“Hm.. nyali mu sungguh besar.”
Setelah berucap demikian, Mahesa mengeluarkan hawa membunuh ke arah pendekar itu, mencoba memberikan sedikit intimidasi.
Pendekar itu yang tak lain adalah Tantra Bumi, saudara kandung dari Tantra Langit. Tubuhnya sedikit bergetar akibat hawa membunuh yang dikeluarkan oleh Mahesa. Harus diakui bahwa ilmu kanuragan Mahesa paling tinggi dibandingkan siapapun di lokasi itu.
Tantra Bumi membalas dengan mengeluarkan hawa membunuh miliknya. Memang hawa membunuh miliknya tidak sekuat Mahesa, namun itu sudah cukup untuk mengurangi efek yang diterima oleh tubuh Tantra Bumi. Paling tidak, kini tubuhnya tidak lagi terlihat gemetar.
Tantra Bumi kemudian menarik pedangnya dan maju menyerang. Mula-mula menyerang ke arah kepala lalu berubah mengikuti gerakan lawannya. Gerakan pedang Tantra Bumi sangat halus namun tetap mematikan. Namun setelah lewat dari tiga jurus, samberan pedangnya belum juga berhasil menyentuh tubuh lawan. Jika saja lawannya bukanlah Mahesa, tentu lawannya sudah banyak menerima luka dari serangan Tantra Bumi.
“Ilmu kanuragan mu baru seujung kuku, sudah berani menantang ku?” Mahesa menyeringai mencoba memprovokasi Tantra Bumi.
Tantra Bumi mencoba untuk tidak terpengaruh dan kembali menyerang. Kali ini gerakannya lebih cepat dari sebelumnya. Tantra Bumi sejenak mampu membuat Mahesa berada di posisi bertahan.
Tantra Langit yang sedari tadi diam bersembunyi, akhirnya memutuskan keluar dan bertarung bersama saudaranya. Harus diakui bahwa sekalipun mereka bekerja sama, belum tentu dapat mengalahkan Mahesa dengan mudah. Pasti ada harga mahal yang harus mereka bayar.
Tantra Bumi sedikit terkejut atas kemunculan saudaranya, namun segera dirinya menguasai keterkejutannya. “Kenapa kakang bisa ada di sini?”
“Sebelum dirimu tiba, aku sudah lama berada di sini. Hanya saja kau yang terlalu cepat menampakkan diri.” sahut Tantra Langit.
Tantra Langit menatap Jaka yang sedang duduk bersila lalu kembali menatap adiknya.
“Selagi pemuda itu memulihkan tenaga dalam, kita harus bisa menahannya lalu secepatnya pergi dari sini.”
__ADS_1
Tantra Bumi mengangguk, lalu memberikan isyarat untuk menyerang bersama. Ketika mereka maju menyerang Mahesa, Pendekar Topeng Putih yang sedari tadi sudah gatal akhirnya memutuskan untuk maju menyambut serangan Tantra bersaudara.
“Ampun Ketua, Ketua tidak perlu bertindak lebih jauh biarkan hamba yang menghadapi cecunguk-cecunguk ini.” ucap Pendekar Topeng Putih seraya menjura kepada Mahesa.
Mahesa tidak menjawab, dirinya sejenak menatap Tantra bersaudara lalu melompat mundur. Secara tidak langsung, Mahesa memberikan izin kepada Pendekar Topeng putih untuk menggantikan tugasnya.
Secara kekuatan, tingkat ilmu kanuragan Pendekar Topeng Putih tidak terlalu jauh di bawah Mahesa. Seharunya dirinya bisa mengimbangi kekuatan Tantra bersaudara. Begitulah yang ada di pikirannya.
Tanpa berbasa-basi lebih jauh, Pendekar Topeng Putih mengeluarkan senjatanya yang berupa tongkat pendek yang di kedua ujungnya terdapat pisau kecil yang sangat tajam. Jika diperhatikan lebih teliti, ada aroma busuk yang keluar dari kedua ujung tongkat itu.
“Pisau itu beracun.” ucap Tantra Langit yang disambut anggukan kepala oleh adiknya, Tantra Bumi.
“Kita harus berhati-hati, menyerang bersama dan hindari asap tipis yang keluar dari ujung tongkatnya.” perintah Tantra Langit.
Tantra bersaudara kemudian maju menyerang bersamaan. Kali ini serangan pedang mereka sangat indah, tajam dan sangat cepat. Sepertinya ilmu pedang mereka memang diciptakan secara berpasangan. Baru sebentar saja, satu atau dua luka sudah berhasil mereka daratkan ke tubuh lawan.
Pendekar Topeng Putih sedikit menyeringai lalu memperhatikan bahunya yang terluka oleh goresan pedang. “Tidak buruk.. ayo hibur aku lebih jauh.”
**Halo manteman, gimana kabarnya? Semoga selalu baik ya..
Oh iya, author mau ngucapin selamat Hari Raya Idhul Fitri bagi teman-teman yang merayakan.
Monmaap lahir dan batin ya**..
__ADS_1