
Hari ini persiapan Kerajaan Matraman Barat dalam menyambut perang besar hampir dikatakan sempurna. Segala persiapan sudah dilakukan dengan sebaik mungkin. Namun, masih ada beberapa hal yang mengganggu para pejabat kerajaan terutama Gusti Prabu Raja Angga.
Yang pertama, seluruh perguruan aliran putih menyatakan tidak akan terlibat dalam urusan perang politik kerajaan. Perguruan aliran putih hanya akan bertindak apabila ada perguruan aliran hitam yang ikut serta. Terlepas dari itu, perguruan aliran putih hanya akan berjaga-jaga.
Khusus untuk kelompok Jubah Hitam, mereka bukanlah perguruan aliran hitam namun lebih kepada kelompok pendekar bayaran.
Walaupun yang terjadi di rimba persilatan adalah sepak terjang mereka menyerupai kelompok perguruan aliran hitam. Meskipun demikian, perguruan aliran putih masih enggan untuk turun tangan secara langsung.
Yang kedua adalah belum berkumpulnya seluruh senopati kerajaan, sedangkan perang besar tinggal menghitung hari. Adapun ketiga senopati yang belum berkumpul adalah Tantra Langit, Tantra Bumi, dan juga senopati muda, Jaka sang Pendekar Seruling Bambu.
Menurut telik sandi kerajaan, ketiganya hilang tanpa jejak bak ditelan bumi. Tidak ada jejak apapun yang ditinggalkan oleh mereka. Hal ini telah menjadi beban pikiran tersendiri untuk Raja Angga. Tidak biasanya mereka bertindak demikian.
“Ampun Gusti Prabu, jika diizinkan hamba akan menambah jumlah telik sandi agar bisa menemukan jejak para senopati kita.” ucap Senopati Surya Benggala.
“Tidak perlu, Benggala. Aku masih percaya bahwa mereka akan baik-baik saja. Sekarang mari kita fokuskan pikiran kita terhadap perang yang akan segera terjadi.”
“Sendika, Gusti Prabu.”
__ADS_1
“Apakah semua rakyat sudah selesai dievakuasi?” tanya Raja Angga.
“Ampun Gusti Prabu, untuk proses evakuasi tinggal menyisakan satu desa lagi, Gusti. Hamba berani menjamin bahwa proses evakuasi akan selesai hari ini juga.” jawab Senopati Arya Kemuning. Dialah yang bertanggung jawab atas proses evakuasi rakyat sebelum genderang perang dimulai.
“Bagus. Hal apalagi yang akan kalian laporkan?” ucap Raja Angga seraya menatap jajaran senopati kerajaan satu per satu.
“Tidak ada, Gusti. Semua berjalan sesuai rencana.” jawab mereka kompak.
***
Keesokan harinya Mahapatih Kemuning Banyu memimpin langsung pasukan untuk persiapan perang. Mahapatih mulai memeriksa persediaan perlengkapan perang, baik itu baju zirah maupun senjata-senjata yang akan mereka gunakan.
Prajurit Kerajaan Matraman Barat terkenal dengan ahli penggunaan senjata. Para prajurit tidak hanya ahli menggunakan pedang, namun mereka juga dituntut untuk ahli dalam senjata tombak. Hal ini tentu akan menguntungkan mereka dalam pertarungan.
Terkadang ketika dalam sebuah pertarungan, lawan akan mudah menghadapi seorang prajurit yang telah kehilangan senjata utama mereka.
Oleh karenanya, prajurit Kerajaan Matraman Barat dilatih agar ahli dalam penggunaan senjata apapun sehingga tidak bergantung hanya dengan satu senjata.
__ADS_1
“Bagaimana dengan pasukan kita di perbatasan?” tanya Mahapatih Kemuning Banyu kepada senopati yang berada di dekatnya.
“Belum ada tanda-tanda kedatangan musuh, Gusti Patih. Hamba juga sudah menyiapkan sambutan ‘selamat datang’ untuk pasukan lawan. Semua sudah sesuai rencana.”
“Bagus. Ketika hari itu tiba, aku ingin melihat kehancuran Kerajaan Matraman Utara.” ucap Mahapatih seraya merapatkan rahang giginya.
Mahapatih Kemuning Banyu begitu geram menyaksikan Kerajaan Matraman Utara yang setiap hari selalu menindas rakyat. Raja Putra yang memimpin kerajaan itu terlalu berambisi untuk menjadi raja di dataran Matraman. Sehingga mereka menyerang kerajaan-kerajaan kecil agar mau berpihak kepada mereka.
Bahkan Raja Putra tega membumi hanguskan Kerajaan Matraman Timur yang seyogyanya masih merupakan saudara kandung. Kini mereka mengarahkan pasukannya ke Kerajaan Matraman Barat. “Sungguh tamak dan tak bermoral.” geram Mahapatih Kemuning Banyu.
***
Beberapa hari kemudian, di sekitar wilyah perbatasan Kerajaan Matraman Barat terjadi sedikit gempa. Jalanan tiba-tiba bergetar, pohon-pohon juga ikut bergoyang. Rupanya itu bukanlah gempa sungguhan, melainkan sebuah tanda bahwa pasukan besar kian mendekati wilayah perbatasan.
Pasukan besar itu tidak lain dan tidak bukan adalah pasukan Kerajaan Matraman Utara. Jumlah mereka diperkirakan sekitar 50.000 pasukan. Jumlah yang cukup besar bagi sebuah kerajaan pada masa itu.
Pasukan ini terdiri dari pasukan berkuda dan sebagian besar berjalan kaki. Setelah cukup dekat dengan perbatasan, pasukan itu berhenti dan segera mengatur perkemahan. Perkemahan ini memakan lahan yang sangat luas mengingat pasukan mereka berjumlah puluhan ribu.
__ADS_1
Tidak jauh dari perkemahan itu, ada sekelompok orang yang sedang memperhatikan gerak gerik mereka. Dengan satu isyarat, pemimpin kelompok itu memerintahkan salah satu dari mereka untuk meninggalkan lokasi itu.
“Aku akan berlari secepat yang ku bisa.” jawabnya.