Pendekar Seruling Bambu

Pendekar Seruling Bambu
Chapter 45. Di Ujung Kematian


__ADS_3

Setelah mendapat tugas dari Raja Angga, Tantra Langit pergi meninggalkan Kotaraja dan mulai menyusuri setiap wilayah kerajaan demi menemukan seorang pemuda yang bergelar Pendekar Seruling Bambu.


Namun setelah beberapa hari, dirinya belum juga menemukan pemuda yang dicari. Tantra Langit sudah keluar masuk desa di sekitar wilayah kerajaan, tetapi tidak sekalipun dirinya menemukan petunjuk yang berarti.


Hingga suatu ketika, Tantra Langit mendengar suara ribut akibat sebuah pertarungan yang sedang terjadi. Tantra Langit mencoba mendekati lokasi pertarungan itu dengan sangat hati-hati. Berkat ilmu meringankan tubuhnya yang sudah mencapai sempurna, tidak butuh lama bagi Tantra Langit untuk sampai di lokasi pertarungan.


Tantra Langit bisa melihat bahwa ada seorang pemuda berjubah putih kebiruan sedang bertarung dengan seseorang yang menggunakan topeng hijau. Sedangkan di sekelilingnya ada banyak orang yang sedang memperhatikan jalannya pertarungan. Dari beberapa orang itu, Tantra Langit bisa merasakan bahwa ada dua orang yang ilmunya cukup tinggi, sedangkan sisanya merupakan pendekar kelas ahli tahap awal.


Dari pertarungan itu, Tantra Langit bisa menduga bahwa pendekar yang mengenakan topeng hijau akan mengalami kekalahan hanya dalam beberapa jurus ke depan. Dan benar saja, setelah bertarung sebanyak tiga jurus, pemuda berjubah putih kebiruan mampu membuat lawannya tidak berkutik.


Dengan gerakan yang sangat cepat, pemuda itu telah berada di belakang lawannya dan berhasil menusukkan pedangnya ke tubuh bagian belakang lawan hingga menembus dada. Namun ada satu hal yang luput dari pengamatan pemuda itu, walaupun dirinya berhasil melukai lawannya, hal ini harus dibayar mahal sebab lawannya juga diam-diam mengarahkan pedangnya ke belakang hingga tepat menusuk perut pemuda itu.


Pendekar yang mengenakan topeng hijau roboh seketika ke arah depan, sedangkan pemuda berjubah biru jatuh berlutut seraya memegangi perutnya yang terus mengeluarkan darah kemerahan.


***


“Argh.. sial, aku tidak menyadari gerakannya.” gumam Jaka. Dirinya kemudian mengarahkan tenaga dalamnya ke bagian perut yang terluka. Tidak lama pendarahan yang dialaminya seketika berhenti, namun masih menyisakan luka yang cukup dalam.


Jaka memperhatikan lawannya satu per satu, mencari celah untuk melarikan diri. Namun sepertinya itu adalah hal yang mustahil, sebab seluruh lawannya yang tersisa telah menutup jalan untuk dirinya.

__ADS_1


Mahesa yang menyadari niat Jaka untuk melarikan diri, tersenyum senang hingga menampakkan barisan giginya yang putih. Mahesa maju perlahan mendekati Jaka hingga jarak di antara mereka tersisa sejauh tiga tombak.


“Sebelum nyawamu lepas dari badan, aku ingin menanyakan beberapa hal kepada mu.” ucap Mahesa kepada Jaka.


“Apa hubungan mu dengan Resi Danurwinda?” lanjut Mahesa.


Jaka terdiam sejenak, dirinya tidak menyangka bahwa lawan yang sekarang berada di depannya ternyata mengenal gurunya. Jaka mengalami dilema, apakah harus menjawab pertanyaan itu atau diam menutup rapat mulutnya.


“Cuihh.. Persetan dengan segala pertanyaan mu.” jawab Jaka seraya menyeringai, terlihat cairan merah membasahi giginya.


“Aku tau kau pasti mempunyai hubungan yang spesial dengannya. Apakah sekarang tua bangka itu masih hidup?”


“Ahh.. kenapa kau tak menjawab? Jika dilihat dari ekspresi mu, sepertinya dia masih hidup."


“Aku ingin sekali menyaksikan kematiannya..” ucap Mahesa kembali.


Mahesa kemudian menjelaskan bahwa dirinya mempunyai dendam kesumat kepada Resi Danurwinda. Kejadian itu sebenarnya sudah terjadi belasan tahun yang lalu, namun masih membekas di hati Mahesa.


Bagaimana tidak? Saat itu, Mahesa sedang melakukan misi yang sangat penting. Sudah hampir dipastikan bahwa misi itu akan berlangsung lancar, namun kemudian hasilnya menjadi berubah 180 derajat.

__ADS_1


Kegagalan misi itu disebabkan munculnya seorang pendekar yang dikenal sebagai Resi Danurwinda. Kemunculan Resi Danurwinda itu berhasil memukul mundur Mahesa dan pasukannya. Misi yang telah direncanakan dengan matang, hancur berantakan. Dan kegagalannya ini, membuat Mahesa kehilangan jari kelingking tangan kirinya.


“Lihatlah.. Ini adalah hasil perbuatan tua bangka itu.” geram Mahesa seraya menunjukkan jemari tangan kirinya yang sekarang hanya berjumlah empat.


“Hari ini, jikapun aku tidak mampu membunuh tua bangka itu, paling tidak aku bisa membunuh salah satu muridnya.” Mahesa tertawa kegirangan.


Setelah mengucapkan itu, Mahesa menarik pedangnya yang berwarna putih keperakan lalu mengarahkannya ke arah Jaka.


“Tarik pedangmu, aku tau kau masih mampu bertarung satu atau dua jurus. Aku tidak ingin membunuhmu dengan mudah.”


Jaka menarik pedangnya dan menggenggam dengan erat, tenaga dalamnya sudah jauh terkuras, entah dirinya mampu bertahan dalam berapa jurus.


Mahesa menyerang Jaka dengan cepat, pedangnya yang tajam mengarah ke dada lawan. Jaka yang diserang seketika memundurkan tubuhnya, bergerak ke samping seraya menyerang balik.


Dengan cepat denting pedang beradu menggema di lokasi itu. Dari setiap beradunya pedang mereka, menimbulkan efek kejut yang menyebabkan daun-daun kering berterbangan. Jika dilihat dari tenaga dalam, Mahesa lebih unggul dibandingkan lawannya. Beberapa kali Mahesa mampu memaksa Jaka menarik pulang serangannya sebab serangannya sangat mudah dipatahkan.


Pertarungan mereka berlanjut sampai sepuluh jurus, sudah banyak luka-luka yang menghiasi tubuh Jaka. Terlebih lagi luka tusukan pedang di perutnya kembali mengeluarkan darah. Jaka merasa sudah tidak mampu lagi untuk melanjutkan pertarungan, darah sudah membanjiri tubuh dan pandangan matanya sudah mulai gelap.


Di saat yang genting itu, Jaka melihat ada seseorang yang tiba-tiba muncul di hadapannya. Seseorang itu membelakangi Jaka seperti ingin melindungi dirinya. Seseorang itu kemudian meminta Jaka untuk memulihkan tenaga dalamnya dan berusaha lari dari lokasi pertarungan itu.

__ADS_1


“Musuhmu kali ini jauh lebih hebat dari dirimu, pulihkan tenaga dalammu dan pergi. Aku akan menahannya semampu ku..”


__ADS_2