
Tepat tiga hari setelah pertempuran besar usai, keadaan Kotaraja sudah mulai kembali normal. Walaupun masih ada perbaikan di sana sini akibat kerusakan perang.
Pasukan aliansi dari Matraman Selatan pun telah kembali ke wilayahnya. Mereka tidak bisa terlalu lama meninggalkan kerajaan sebab bisa saja sewaktu-waktu kerajaan mereka yang akan diserang musuh.
Raja Angga mengantar kepulangan pasukan aliansi hingga gerbang Kotaraja.
"Terimakasih atas bantuan mu, Sukanda." ucap Raja Angga.
"Sudah seharusnya kita tolong menolong, Raka. Bisa jadi di masa depan, kerajaan ku yang akan membutuhkan pertolongan."
Raja Angga kemudian memberikan pelukan perpisahan kepada Raja Sukanda, "Hati-hati di perjalanan." bisiknya.
Di tempat yang berbeda, Jaka mengumpulkan sisa-sisa prajurit yang masih sanggup untuk bertarung. Tujuannya hanya satu, yaitu menyerang balik Matraman Utara.
Hari itu Jaka berhasil mengumpulkan setidaknya sekitar 500an prajurit, mereka semua berbaris rapi di halaman istana kerajaan. Rata-rata dari mereka berada pada tingkatan pendekar kelas satu serta ada dua puluhan pendekar kelas ahli tahap awal sampai menengah.
“Kami siap menerima perintah, Gusti Senopati.” ucap salah seorang prajurit.
Jaka memejamkan matanya sejenak lalu kembali memandang ratusan prajurit di hadapannya. Jaka memperhatikan satu per satu wajah-wajah prajurit yang berada di barisan paling depan, raut-raut wajah mereka seperti sedang menggambarkan apa yang mereka rasakan.
__ADS_1
Banyak dari prajurit itu yang memang menginginkan perang kembali terjadi sebab rekan-rekan dan keluarganya telah tewas dibunuh oleh prajurit Matraman Utara. Mereka sangat bersemangat untuk kembali ke medan perang demi membalaskan dendam keluarganya.
Namun, ada sebagian prajurit lain yang memasang wajah sendu. Seolah-olah mereka tidak lagi memiliki semangat berperang, mungkin para prajurit itu tidak mau lagi kehilangan rekan-rekan mereka.
Jaka merasa dilema atas apa yang sedang prajurit itu rasakan. Melanjutkan perang atau berhenti sejenak di sini?
“Kalian bebas untuk memutuskan, melanjutkan berperang atau kembali ke tempat masing-masing. Tapi ingatlah, jika kita hanya diam maka pihak kitalah yang akan kembali diserang musuh seperti hari kemarin.”
“Kalaupun nanti kita semua mati, setidaknya kita akan mati dengan terhormat. Kita mati demi memperjuangkan tanah kelahiran! Kita mati memperjuangkan kejayaan! Dan kita mati demi kehidupan orang-orang yang kita sayangi-.”
“Kita tidak bisa membiarkan musuh kembali menyusun kekuatan dan menyengsarakan rakyat. Jika bukan kita maka siapa lagi dan jika bukan sekarang, kapan lagi?” ucap Jaka penuh semangat.
Lalu ratusan prajurit itu dengan kompak mengangkat tangan kanannya ke atas, meneriakkan yel-yel yang membakar semangat.
“Hidup Demi Kejayaan. Hidup Senopati Muda Jaka!”
“Hidup Demi Kejayaan. Hidup Senopati Muda Jaka!”
Jaka tersenyum melihat hasil dari perkataannya, “Aku tidak menyangka akan berhasil seperti ini. Sungguh, ini adalah pertama kalinya aku berpidato.” gumamnya.
__ADS_1
Setelah berkata demikian, Jaka memimpin langsung pasukannya untuk bergerak ke utara. Namun sebelum itu, pasukan itu akan menyisir wilayah Kerajaan Matraman Barat untuk memastikan tidak ada lagi musuh yang tertinggal.
**
Di sisi yang lain, kabar kegagalan atas penyerangan yang dilakukan Matraman Utara telah tersebar luas. Hasil ini telah menimbulkan gejolak lain di tanah Matraman.
Seluruh perguruan aliran putih menyambut gembira atas hasil itu, beberapa dari mereka bahkan mengirimkan utusan untuk membantu Kerajaan Matraman Barat agar bisa segera berbenah.
Sedangkan bagi perguruan alira hitam, mereka tidak menganggapi telalu banyak selain menertawakan kegagalan Matraman Utara.
“Bodoh! Terlalu lemah” ledek mereka.
Selain itu, ada sebagian prajurit Matraman Utara yang berhasil lolos dari perang. Prajurit-prajurit itu menyelinap ke desa-desa terdekat dan menjelma sebagai perampok.
Mereka berdiam diri di dalam hutan, terkadang mereka menjarah pedagang atau penduduk yang sekedar lewat di hutan itu.
Gejolak paling besar justru terjadi di wilayah utara, hampir seluruh kerajaan-kerajaan kecil mengambil sikap untuk melepaskan diri dari Kerajaan Matraman Utara.
Kerajaan-kerajaan kecil itu sudah muak atas kepemimpinan Raja Putra selama ini, sehingga mereka menyambut baik atas hasil perang tersebut.
__ADS_1