Pendekar Seruling Bambu

Pendekar Seruling Bambu
Chapter 28. Rombongan Pedagang


__ADS_3

Pada malam pembantaian itu, Jaka benar-benar terlihat seperti bukan dirinya yang sebenarnya. Sorot matanya berubah seperti haus akan darah. Jaka membunuh sisa-sisa perampok itu seperti sebuah kesenangan, bahkan tidak jarang dirinya tersenyum setiap kali berhasil membunuh lawan-lawannya.


Tanpa Jaka sadari pedang pusaka yang sedang digunakannya sangat menguras tenaga dalam yang dimilikinya. Setiap kali Jaka mengayunkan pedang pusaka itu semakin lama terasa semakin berat. Pada saat setelah Jaka membunuh anggota rampok yang terakhir, dirinya ikut ambruk jatuh ke tanah.


Jaka jatuh terlentang menghadap langit, pandangan matanya mulai terasa berat. Jaka merasakan bahwa seluruh sendi-sendi tubuhnya terasa sakit, bahkan jari-jari tangannya sudah tak mampu lagi digerakkan. Jaka masih menatap langit, dilihatnya bintang-bintang bersinar terang namun semakin lama bintang itu semakin redup hingga suatu ketika semuanya berubah menjadi gelap.


***


Keesokan harinya akan ada rombongan pedagang yang melewati Hutan Godong Surgo, mereka ingin berdagang di wilayah ibukota Kerajaan Matraman Barat. Rombongan pedagang ini berjumlah sepuluh orang lalu ditambah dengan lima orang pengawal, jumlah semuanya adalah lima belas orang. Dua orang dari setiap pedagang masing-masing menaiki satu kereta kuda, sehingga total kereta kuda yang mereka gunakan berjumlah lima buah.


Sedangkan para pengawal masing-masing menunggangi seekor kuda, tiga orang memimpin di depan dan dua lainnya mengiring di belakang kereta. Pimpinan pengawal ini bernama Bagaspati yang merupakan seorang pendekar bayaran. Saat ini kekuatan Bagaspati setara dengan pendekar kelas satu tahap puncak, sedangkan empat orang sisanya berada pada tingkat pendekar kelas satu tahap awal.


Rombongan pedagang ini mulai memasuki Hutan Godong Surgo, perlahan mereka telah sampai ke bagian hutan yang lebih dalam. Tiba-tiba pengawal yang berada di bagian depan mengangkat tangan kanannya memberikan isyarat untuk berhenti. Pengawal itu masih muda, mungkin usianya baru mencapai dua puluhan. Untuk seorang pengawal bayaran wajahnya terlihat cukup rupawan.. Pengawal itu turun dan berjalan menghampiri satu sosok yang tergeletak di pinggir jalan. Tidak butuh waktu lama pengawal itu kembali ke rombongan pedagang.


"Ada apa Bagaspati?" tanya pedagang yang berada di kereta paling depan.


"Di depan ada mayat yang tergeletak, tuan."


"Mayat? Mayat siapa Bagaspati?"

__ADS_1


“Sepertinya mayat seorang perampok, tuan. Lebih baik kita beristirahat sejenak, saya akan memeriksa daerah sekitar ini."


Pedagang itu sebenarnya tidak setuju dan merasa cukup khawatir apabila ada bahaya yang akan datang menghadang. Pedagang itu berniat untuk menghentikan Bagaspati namun pada akhirnya tak sepatah kata pun keluar dari mulutnya.


Bagaspati kemudian meminta keempat rekannya untuk berjaga di sekitar rombongan pedagang, sedangkan Bagaspati sendiri mulai menyusuri setiap jengkal bagian hutan. Pelan tapi pasti Bagaspati mulai menemukan banyak mayat-mayat yang tergeletak. Bagaspati lalu mengamati mayat-mayat itu satu per satu. Dirinya menemukan satu kesamaan pada mayat-mayat mereka.


Bagaspati telah memeriksa beberapa mayat yang telah ditemukannya dan semuanya mati hanya dengan satu serangan. Setiap mayat itu memiliki luka memanjang di tubuhnya yaitu luka tebasan senjata pedang.


"Hm.. Orang yang melakukan pembunuhan ini pasti kemampuannya sangat tinggi." gumam Bagaspati.


Bagaspati melanjutkan pemeriksaannya, kini sudah hampir lima puluhan mayat yang dirinya temukan. Bagaspati kemudian melihat sebuah tembok kayu yang tidak jauh dari tempatnya berdiri, tembok kayu itu sudah rusak di seluruh bagian. Di bagian dalam ada beberapa gubuk yang juga telah porak poranda akibat adanya pertarungan.


Bagaspati berniat mengumpulkan seluruh mayat itu menjadi satu, ditariknya mayat itu satu per satu hingga menjadi gunungan mayat. Setelah dirasa telah selesai mengumpulkan, Bagaspati membakar gunungan mayat itu sekaligus dengan gubuk-gubuknya. Api segera membesar membumbung tinggi, aroma daging terbakar pun mulai menyeruak keluar.


Sejenak Bagaspati merasakan pusing di kepalanya dan isi perutnya rasanya ingin memaksa keluar. Walaupun Bagaspati seorang pendekar namun belum pernah dirinya membunuh sebanyak itu dan kini dengan tangannya sendiri membakar segunung mayat manusia yang entah dibunuh oleh siapa.


Bagaspati pun bergerak menjauh dan berniat untuk kembali ke rombongannya. Tiba-tiba Bagaspati menemukan sesosok tubuh yang berbeda dengan yang lainnya. Sesosok ini mengenakan jubah lengan panjang yang sudah penuh noda darah, tidak dapat diketahui lagi apa warna jubah itu yang sebenarnya. Di sampingnya tergeletak sebuah pedang yang berwarna putih keperakan, pedang itu terlihat menyilaukan ketika cahaya matahari mulai mendekatinya.


Bagaspati kemudian mendekat dan memeriksanya, “Orang ini sepertinya seumuran dengan ku, tidak ada bekas luka di seluruh tubuhnya. Bagaspati lalu memeriksa denyut nadi pemuda tersebut, dirinya masih bisa merasakan denyut nadi walaupun terasa sangat lemah. Bagaspati kemudian membawa pemuda itu kembali ke rombongannya.

__ADS_1


"Tuan, kita harus menolong pemuda ini." ucap Bagaspati ketika telah kembali ke rombongannya.


"Siapa dia? Apa untungnya bagi kita menolongnya?" tanya salah satu pedagang yang paling tua.


"Dia adalah... "


Bagaspati kemudian menceritakan hasil temuannya di bagian hutan yang lebih dalam. Di mulai dari penemuan hampir ratusan mayat dan gubuk-gubuk yang rusak akibat pertarungan. Dan akhirnya Bagaspati menemukan seorang pemuda yang sekarang ada di pundaknya.


Bagaspati menduga bahwa pemuda ini yang telah membunuh dan merusak sarang perampok. Terlepas dari kekejamannya dalam hal membunuh para perampok, Bagaspati mau tidak mau harus tetap mengucapkan terimakasih kepada pemuda tersebut. Sebagai ucapan rasa terimakasihnya Bagaspati ingin menolong pemuda tersebut. Namun Bagaspati tidak bisa memastikan sebab kenapa pemuda ini tidak sadarkan diri.


Meskipun Bagaspati telah menjelaskan secara rinci, pedagang tua itu tetap tidak ingin mengizinkan pemuda misterius itu ikut bersama mereka. Pedagang itu tidak ingin mengambil resiko yang berbahaya. Bisa jadi pemuda itu malah lebih berbahaya dari para perampok. Tiba-tiba ada suara wanita yang menyeletuk dari kereta yang keempat.


"Biarkan dia istirahat di kereta ku paman, biar aku yang menanggung resiko itu."


“Tapi Cah Ayu... "


Ucapan pedagang tua itu berhenti tatkala seorang wanita muda yang cantik jelita memberikan isyarat kepada Bagaspati untuk membaringkan pemuda misterius itu di keretanya. Namun Bagaspati hanya diam tak bergeming dari tempatnya, dirinya terpesona oleh kecantikan wanita muda itu. Bagaspati baru bergerak ketika seorang rekannya menepuk pundaknya.


"Ah maafkan saya Nona.. " dengan segera Bagaspati menuju kereta wanita muda itu.

__ADS_1


__ADS_2