Pendekar Seruling Bambu

Pendekar Seruling Bambu
Chapter 24. Berakhirnya Tiga Setan Gundul


__ADS_3

"Paman, serius lah sedikit!" teriak Jaka.


Ki Rana menjawabnya dengan tersenyum.


Gundul Merah sejenak melirik ke arah Jaka, lalu kembali menatap tajam lawannya. Nafasnya sudah tidak beraturan namun kini lawannya malah belum serius melakukan perlawanan. Gundul Merah menggelengkan kepalanya pelan, mungkin tidak ada kesempatan baginya untuk menang.


Gundul Merah lalu melirik ke arah Gundul Putih dan Gundul Hitam sembari mengedipkan sebelah matanya.


Gundul Hitam yang mengerti maksud dari isyarat temannya segera menepuk bahu Gundul Putih, menyuruhnya untuk membantu.


"Kau bantu dia." ucap Gundul Hitam.


Gundul Putih dengan segera melompat dan berputar di udara sekali dan kini sudah berdiri di samping Gundul Merah.


"Melawan satu kunyuk saja kau butuh bantuan, bagaimana kalau kau mau melawan macan." ucapnya menyindir Gundul Merah.


"Kalau kau sanggup, majulah!" Gundul Merah mendorong Gundul Putih maju ke depan.


Gundul Putih mengumpat dalam hati, "Sialaaaaaann... " lalu mau tidak mau mulai menyerang Ki Rana.


Gundul Putih menggenggam dua buah tongkatnya erat-erat, di ujung tongkat itu ada sebuah pisau kecil yang sangat tajam.


Di ujung pisau itu telah dilapisi racun yang sangat ganas, jangankan tertusuk apabila sedikit saja tergores sudah cukup untuk membunuh pendekar kelas satu dalam hitungan menit.


Ki Rana yang sudah mengetahui bahaya dari tongkat lawannya segera memasang kewaspadaan. Dirinya tidak mau menunggu lama dan segera maju menyerang. Sejauh ini Ki Rana cukup mengandalkan teknik-teknik bertarung dengan tangan kosong.


"Lihat kepala!"


Ki Rana menyerang kepala lawan dengan kepalan tinjunya, lawannya tidak menghindar malah menantang dengan membentangkan tombak pendeknya di atas kepala. Tanpa ampun kepalan tinju dan gagang tombak beradu sehingga menimbulkan efek kejut bagi keduanya.


Ki Rana berputar sekalidi udara lalu mendarat nyaman di tanah, sedangkan Gundul Putih terpundur beberapa langkah.

__ADS_1


Gundul Putih menyadari bahwa tenaga dalam lawan lebih tinggi dari dirinya. Akhirnya dia memutuskan untuk menghindari setiap bentrokan yang mungkin terjadi. Gundul Putih kembali menyerang dengan mengarahkan pisau-pisau yang ada di ujung tombak ke badan lawan.


Ki Rana menghindari serangan-serangan yang mematikan itu hingga berlompatan kesana kemari. Ki Rana sedang mencari celah untuk menyerang balik, sulit baginya melawan musuh yang memiliki gerak tangan yang sangat cepat.


Hingga suatu ketika Ki Rana membiarkan Gundul Putih mengarahkan ujung tombak ke dadanya, ketika jarak ujung tombak dan dirinya hanya sejauh dua jari Ki Rana memapak tangan Gundul Putih dengan tinjunya.


"Krakh.. "


Tanpa ampun tulang tangan Gundul Putih seketika patah. Gundul Putih meraung kesakitan, kini tangan kanannya terkulai lemas tak bisa digerakkan lagi.


"Jahannam! Nyawa mu milikku!" teriak Gundul Putih lalu melompat menyerang dengan sebelah tangan.


Gundul Merah dan Gundul Hitam segera ikut menyerang. Bagi mereka yang ada di golongan hitam, persetan dengan segala jenis aturan. Jika ingin menang mereka harus menyerang Ki Rana secara bersama-sama.


Jaka yang melihat Ki Rana dikeroyok oleh Tiga Setan Gundul segera melompat, dirinya menyongsong ke arah Gundul Merah. Jaka ingin sekali menghajar Setan Gundul yang satu ini.


Gundul Merah yang seketika dihadang pemuda di hadapannya berteriak marah. Dirinya sejenak berhenti kemudian melirik ke arah rekannya yang sedang menyerang Ki Rana bersamaan. Ada sedikit kekhawatiran di hatinya walaupun mereka bertiga menyerang bersamaan tidak ada jaminan bagi mereka untuk memenangkan pertarungan.


"Siapa kau bocah tengik? Aku tidak pernah membunuh seorang pendekar tanpa mengetahui namanya."


"Aku?" Jaka malah balik bertanya seraya mengarahkan jari telunjuk ke badannya sendiri.


"Ya dirimu kunyuk bodoh!" Gundul Merah berteriak kesal.


“Baiklah.. baiklah.. aku akan memperkenalkan diri. Aku adalah malaikat yang bertugas mencabut nyawamu." jawab Jaka lalu tertawa.


"Setan! Ku penggal kepalamu!"


Gundul Merah maju menyerang dengan samberan goloknya, Jaka hanya perlu menggeser sedikit tubuhnya hingga lewatlah sudah serangan itu. Gundul Merah menggeram kesal kemudian kembali menyerang ke arah Jaka.


Kini serangan Gundul Merah sudah tidak beraturan, dirinya menyerang secara asal-asalan. Hari ini bahkan sudah ada dua lawan yang meremehkan kemampuannya dengan cara bertarung dengan tidak serius.

__ADS_1


"Lawan aku dengan serius bocah..."


Jaka kemudian menerima permintaan Gundul Merah dengan menyerangnya dengan jurus kedua dari Teknik Pedang Naga Langit yaitu Naga Mencari Mangsa. Jurus ini Jaka gunakan dengan menggunakan seruling bambunya, tanpa berniat menggunakan pedang pusaka miliknya.


Jurus ini sangat berbahaya dengan sasarannya adalah menyerang bagian-bagian vital lawan. Jaka mula-mula menyerang ke arah dada, baru saja Gundul Merah berniat bergerak menghindar tiba-tiba serangan yang tadi mengarah dada berubah menyerang ke arah kepala. Tanpa ampun kepalanya terkena geprakan seruling bambu milik Jaka.


Gundul Merah mengumpat kesal lalu memegang kepalanya yang terkena sasaran, tidak lama darah membasahi pipinya.


"Ku bunuh kau kunyuk!"


Baru saja Gundul merah ingin maju menyerang, Jaka telah menyerang lebih dulu dengan jurus Naga Membelah Gunung. Kibasan angin yang terbentuk dari seruling bambunya dengan telak mengenai tubuh Gundul Merah. Tanpa ampun tubuh Gundul Merah hampir terbelah dua, lalu roboh tergelatak tak bernyawa.


Jaka pun sampai bergidik melihat hasil serangannya, dirinya tak meyangka akan sehebat ini hasilnya. Kemudian Jaka mengalihkan perhatiannya ke pertarungan Ki Rana melawan Gundul Putih dan Gundul Hitam.


Tampak di depannya kedua Setan Gundul mulai kewalahan menghadapi Ki Rana walaupun Gundul Putih dan Gundul Hitam telah menyerangnya secara bersamaan. Tidak sedikit luka-luka menghiasi tubuh mereka berdua. Yang paling parah tentu saja si Gundul Putih, kini kedua tangannya telah patah. Gundul Putih sesekali membantu menyerang menggunakan kakinya.


Gundul Hitam yang paling tinggi ilmunya dibanding kedua Setan Gundul pun dibuat tak berkutik oleh Ki Rana. Nafasnya kini sudah tidak beraturan, dirinya melompat menjauh untuk menjaga jarak.


Gundul Hitam kemudian mengambil ancang-ancang, kedua kakinya memasang kuda-kuda dan tangannya diletakkan di depan dada. Lalu tiba-tiba tangannya mulai berubah menghitam.


Ki Rana yang menyaksikan perubahan itu segera mengetahui bahwa Gundul Hitam tengah menyiapkan jurus 'Pukulan Setan Gundul Menghujam Bumi'. Jurus ini sangat dahsyat bila digunakan oleh pendekar yang mempunyai tenaga dalam yang cukup banyak seperti Gundul Hitam.


Ki Rana kemudian menyiapkan 'Ajian Brajamusti' andalannya. Tangan Ki Rana seketika diselimuti cahaya yang berkilauan. Tidak menunggu lama Ki Rana segera menyerang ke arah lawan. Gundul Hitam pun telah bersiap dan segera melompat menyambut serangan.


"Duarr.. duarr.. " terdengar dua kali ledakan akibat pertemuan jurus tingkat tinggi itu.


Gundul Hitam telah mengeluarkan seluruh sisa-sisa tenaga dalamnya namun itu semua tidaklah cukup. Setelah dua jurus itu bertemu, Ki Rana kembali menyerang dengan ajian yang sama. Naas, Gundul Hitam tidak sempat menghindar. Gundul Hitam terpental jatuh ke belakang dengan dada ringsek, tubuhnya menggelepar sebentar lalu diam tak bernyawa.


Penduduk yang diam-diam melihat pertarungan mereka pun bergidik tubuhnya, tidak kuat menyaksikan mayat-mayat bergelimpangan mengenaskan.


"Sekarang giliran mu.. eh.. kemana perginya dia?" Jaka celingukan kesana kemari namun tak menemukan siapapun.

__ADS_1


__ADS_2