
"Apa maksudmu berkata seperti itu, hah?" Purwita Sari meninggikan suaranya seraya berkacak pinggang, tidak lupa kedua bola matanya melotot seakan-akan ingin keluar dari tempatnya.
Jaka yang melihat ekspresi Purwita Sari bukannya takut malah lantas tertawa terbahak-bahak, dirinya menganggap tingkah gadis di depannya sungguh lucu menggemaskan.
"Kau sungguh lucu nona.. " ucap Jaka masih dengan tertawa.
"Dasar kau ini.. " Purwita Sari memukul bahu Jaka dengan pelan.
Purwita Sari kemudian menjelaskan bahwa dirinya dan Serikat Pedagang selain melakukan bisnis perdagangan barang, mereka juga pandai dalam mendapatkan informasi apapun. Informasi ini mereka dapatkan dari jaringan-jaringan mereka yang tersebar hampir di seluruh wilayah. Bisa dikatakan bahwa hanya sedikit informasi penting yang bisa lolos dari pengawasan mereka.
Selain itu, posisi Serikat Pedagang di kalangan rimba persilatan berada pada posisi yang netral. Hal ini membuat kelompok mereka diterima di mana saja sehingga mampu berkembang dengan cepat.
Jaka mendengarkan penjelasan Purwita Sari dengan seksama, sesekali Jaka menganggukan kepala sebagai tanda dirinya mengerti. Tidak terasa malam sudah larut, mereka pun berpisah kembali ke kamarnya masing-masing.
***
Keesokan harinya Jaka dan rombongan melanjutkan perjalanan ke Kotaraja, perjalanan ini akan ditempuh selama tujuh hari lamanya. Selama perjalanan sesekali Jaka memainkan seruling bambu miliknya, alunan suara seruling itu mampu menghipnotis siapapun yang mendengar, tak terkecuali burung-burung yang terbang di atas rombongan mereka.
Perjalanan kali ini sangat lancar tanpa halangan apapun sehingga membuat mereka telah tiba di gerbang Kotaraja. Seperti biasa mereka akan diperiksa dan diminta menyerahkan tanda pengenal, setelah selesai barulah mereka diizinkan masuk.
Kali ini Jaka menyaksikan keramaian penduduk yang belum pernah dilihat sebelumnya. Jalanan-jalanan di Kotaraja penuh sesak dengan orang-orang yang lalu lalang serta anak-anak yang bermain riang gembira. Di setiap kiri kanan jalan dipenuhi bangunan-bangunan yang terlihat indah, beberapa orang terlihat sedang menjajakan barang dagangannya.
Di pusat kota berdiri dengan megah istana Kerajaan Matraman Barat, halamannya luas dan banyak prajurit yang berjaga. "Jadi ini yang namanya Kotaraja.. "
Jaka mengamati istana itu sejenak sebelum menoleh karena ada yang menepuk bahunya.
"Kenapa kau berjalan begitu cepat? Untung saja kau tidak diculik." ucap Purwita Sari yang datang dengan nafas memburu.
"Oh.. kau mengagetkan ku saja. Kau pikir siapa yang mau menculik ku? Tidak akan ada untungnya.. "
"Ada.. "
__ADS_1
"Apa? coba kau sebutkan?"
"Kau bisa diculik gadis-gadis untuk dijadikan calon suami." Purwita Sari menjawabnya seraya tertawa. Entah sejak kapan keduanya merasa sangat akrab, terkadang mereka saling ejek lalu tertawa bersama.
"Apa kau ingin memasuki istana sekarang?" tanya Purwita Sari.
"Tidak, aku akan berkeliling sebentar untuk memeriksa keadaan Kotaraja."
"Kalau begitu baiklah, kita berpisah di sini. "Kau bisa mencari ku di penginapan yang paling megah di Kotaraja ini."
Keduanya kemudian berpisah, Jaka melanjutkan berkeliling Kotaraja sedangkan Purwita Sari langsung menuju penginapan.
***
Jaka memperhatikan setiap jengkal Kotaraja dengan teliti, hampir di setiap sudut Kotaraja ada penjagaan dari dua sampai tiga prajurit. Mereka selalu sigap jika ada penduduk yang membutuhkan bantuan atau sekedar melerai penduduk yang berkelahi.
Penjagaan di lingkungan istana lebih ketat lagi, di pintu masuk terlihat lusinan prajurit dengan senjata pedang dan tombak. Rata-rata prajurit ini berada pada tingkat pendekar biasa tahap menengah hingga tahap puncak.
"Aku harus mencobanya, itung-itung menguji kekuatan mereka." gumam Jaka seraya melangkah mendekati pintu masuk istana kerajaan.
"Berhenti!" teriak para penjaga.
"Siapa kau? Dan apa tujuan mu kemari?" salah satu prajurit menanyakan identitas Jaka, namun Jaka yang tidak mempunyai tanda pengenal hanya menjawab siapa dirinya dan tujuannya adalah menemui Yang Mulia Raja Angga.
Seluruh prajurit yang ada di sana tertawa dengan keras, mereka beranggapan bahwa keinginan pemuda itu sangat lucu, mana mungkin seorang raja mau menemui pemuda seperti dirinya. Mereka lalu mengusir Jaka dengan paksa hingga terjadi keributan kecil di pintu masuk istana itu.
"Pergilah anak kecil, atau aku akan menghajar mu!" bentak salah satu prajurit.
"Beginikah cara kalian menyambut seorang tamu?"
"Hah.. Seorang tamu katamu? Yang ada hanya seorang anak kecil.. " lagi-lagi mereka tertawa, terlihat juga seorang prajurit mendorong paksa tubuh Jaka.
__ADS_1
"Aku sungguh ingin bertemu dengan Yang Mulia Raja.. " ucap Jaka lalu menerobos masuk secara paksa.
Tindakannya ini memancing lusinan prajurit menghadangnya, lalu terjadilah pertarungan yang sangat singkat. Hanya dalam beberapa tarikan nafas, selusin prajurit itu jatuh dengan beberapa luka di tubuhnya. Namun seseorang di antara mereka sempat melarikan diri dan Jaka sengaja membiarkannya.
Tidak lama muncul seorang lelaki paruh baya yang memakai pakaian kebesaran kerajaan. Kedatangannya ini diiringi dengan aura membunuh yang langsung mengarah ke Jaka. Usianya mungkin sekitar lima puluhan tahun, wajahnya terlihat sangat bijak dan penuh kewibawaan. Dilihat dari aura yang dipancarkan dari tubuhnya, Jaka mengetahui bahwa kekuatan orang ini setara dengan pendekar sakti.
"Siapa kau anak muda? Kenapa kau melukai prajurit-prajurit kerajaan?"
"Namaku Jaka paman, aku ingin bertemu dengan Yang Mulia Raja dan aku sudah menjelaskan tujuan kedatanganku namun mereka semua malah mengusirku." jawab Jaka dengan sopan.
Melihat pemuda di hadapannya bertutur kata dengan sopan, mau tidak mau lelaki paruh baya itu sedikit menurunkan aura membunuhnya yang sedari tadi mengarah ke Jaka. Jaka yang mengetahui hal itu hanya tersenyum kecil.
"Aku Kemuning Banyu Mahapatih Kerajaan Matraman Barat, kau bisa menyampaikan pesan mu kepada ku."
Jaka yang mengetahui bahwa lelaki paruh baya yang ada di hadapannya adalah Mahapatih Kemuning Banyu, segera berlutut menjatuhkan diri. Selain Yang Mulia Raja, Mahapatih inilah yang harus Jaka temui sesuai dengan pesan gurunya.
"Ah? Maafkan ketidaksopanan ku paman, aku sungguh tidak berniat buruk.. " ucap Jaka masih berlutut memberikan hormat.
Hal ini tentu saja mengagetkan Mahapatih Kemuning Banyu, seingatnya mereka belum pernah bertemu namun pemuda itu sudah memanggilnya dengan sebutan paman.
"Siapa kau sebenarnya? Seingatku kita belum pernah bertemu atau aku yang sudah lupa ingatan?" tanya Mahapatih Kemuning Banyu seraya memukul pelan kepalanya sendiri.
"Namaku Jaka paman, aku murid dari Eyang Resi Danurwinda." jawab Jaka.
"Kau? Kau jangan bercanda?" Mahapatih Kemuning Banyu terkejut bukan main, bahkan saking terkejutnya aura membunuhnya keluar lagi menyasar ke arah Jaka. Resi Danurwinda memang orang yang sangat penting di kerajaan ini namun sudah lama menghilang, kini tiba-tiba di hadapannya muncul seorang pemuda yang mengaku-ngaku sebagai muridnya.
"Aku tidak sedang bercanda paman, mungkin benda ini bisa membuat paman percaya.. "
**
Jan lupa like dan komennya yaa manteman, gratis kok 😃
__ADS_1
Kalo mau vote juga boleh 😄😄😄