Pendekar Seruling Bambu

Pendekar Seruling Bambu
Chapter 11. Turun Gunung


__ADS_3

Jaka mendapat tantangan dari guru Resi Danurwinda untuk melakukan latih tanding yang terakhir. Jaka menerimanya dengan senang hati, hitung-hitung ini sebagai pemanasan sebelum menghadapi musuh yang sebenarnya.


Kemudian Resi Danurwinda dan Jaka mulai melakukan latih tanding, keduanya sama-sama menggunakan pedang kayu. Jurus demi jurus telah dimulai, Resi Danurwinda sengaja menyerang Jaka dengan diiringi nafsu membunuh. Hal ini dilakukan Resi Danurwinda demi melatih kecepatan insting Jaka dalam menghadapi pertarungan.


"Teknik Pedang Naga Langit, Naga Membelah Gunung", terdengar suara Resi Danurwinda dan Jaka saling susul.


" Duaarr.. Duarrr.. " terjadi dua kali ledakan akibat benturan jurus mereka.


Dari pertukaran jurus ini dapat diketahui bahwa tenaga dalam Jaka masih berada di bawah tenaga dalam Resi Danurwinda. Sebagai akibatnya tubuh Jaka terpental sejauh lima tombak ke belakang, sedangkan Resi Danurwinda masih kokoh berdiri di tempatnya.


Lalu keduanya bersiap mengadu jurus kembali, dan setiap terjadi benturan tenaga dalam di antara keduanya selalu saja tercipta ledakan serta Jaka selalu terpental ke belakang.


Resi Danurwinda selalu mengarahkan serangan ke titik vital Jaka, berulang kali pula Jaka dapat menghindarinya. Namun dalam beberapa kesempatan Jaka terlambat menghindar sehingga bagian tubuhnya terkena sasaran serangan.


Jaka tidak tinggal diam, begitu ada celah Jaka segera menyerang balik Resi Danurwinda namun selalu patah di tengah jalan, tidak ada satupun pukulan yang mampu menyentuh tubuh gurunya.


Pertarungan terus dilanjutkan hingga jurus yang terakhir yaitu jurus Murka Naga Langit. Pertukaran jurus ini membuat puncak gunung bergetar serta muncul banyak gemuruh di atas langit.


"Duarr.. Duarr.. Duarr.. " terdengar beberapa kali ledakan sebagai akibat benturan jurus terhebat mereka. Keduanya sama-sama terpental beberapa tombak ke belakang, namun Jaka sedikit mengalami luka dalam. Dengan segera mereka mengakhiri pertarungan.


"Kemajuan mu sangat pesat Jaka, guru hampir kalah dari mu." ucap Resi Danurwinda.


"Terimakasih guru, ini semua berkat latihan yang guru berikan." jawab Jaka.


Setelah latih tanding, mereka berdua berbincang-bincang sembari menyantap daging panggang ayam hutan. Mereka berbincang-bincang hingga malam tiba karena malam ini adalah malam terakhir bagi Jaka bersama gurunya.


Di malam itu, Resi Danurwinda menjelaskan sedikit gambaran tentang rimba persilatan. Secara umum rimba persilatan dibagi menjadi dua kelompok besar yaitu kelompok aliran putih dan aliran hitam.


Kelompok aliran putih adalah sebutan bagi mereka yang senang membantu rakyat, membantu orang-orang yang lemah, dan membasmi kezaliman.

__ADS_1


Sedangkan kelompok aliran hitam adalah sebutan bagi mereka yang suka berbuat keonaran, merampok, dan menindas rakyat.


Selain itu Resi Danurwinda juga menjelaskan bahwa rimba persilatan mengenal beberapa tingkatan pendekar.


Yang pertama adalah pendekar biasa yaitu pendekar yang hanya mempelajari teknik bertarung biasa. Contoh pendekar ini adalah pendekar penjaga kampung/desa dan prajurit kerajaan.


Yang kedua adalah pendekar kelas satu yaitu pendekar yang mempelajari satu teknik bertarung secara khusus, namun tanpa menggunakan tenaga dalam.


Selanjutnya pendekar ahli yaitu pendekar yang sudah menguasai satu teknik bertarung secara khusus serta menguasai sedikit penggunaan tenaga dalam.


Dan yang terakhir adalah pendekar sakti yaitu pendekar yang menguasai beberapa teknik bertarung baik itu bertarung tangan kosong maupun menggunakan senjata. Pendekar ini juga telah memiliki tenaga dalam yang cukup besar serta pendekar ini biasanya memiliki satu buah pusaka sebagai senjata pamungkas.


Dan yang terpenting, setiap tingkatan pendekar itu dibagi lagi menjadi tiga tahapan yaitu tahap awal, tahap menengah, dan tahap puncak.


Menurut Resi Danurwinda masih ada tingkatan pendekar yang lebih tinggi, namun Resi Danurwinda belum mengetahui nama dari tingkatan tersebut.


Sejauh ini Resi Danurwinda telah berada pada tingkatan pendekar sakti tahap puncak, dan Jaka berada pada tingkatan pendekar sakti tahap awal. Yang membedakan keduanya adalah pengalaman dalam bertarung. Pengalaman dalam bertarung sangat menentukan hasil dari pertarungan setiap pendekar.


***


"Kau sangat gagah dan tampan Jaka." puji Resi Danurwinda.


"Ah.. guru bisa saja meledek ku." jawab Jaka setengah tertawa padahal dirinya sangat senang mendapat pujian dari gurunya itu.


"Guru tidak sedang meledek mu Jaka, guru serius." ucap Resi Danurwinda lalu Jaka pun mengiyakan perkataan gurunya itu.


"Jaka, bawalah ini bersama mu." ucap Resi Danurwinda lagi seraya memberikan sekantung uang koin dan benda panjang yang dibungkus kain.


"Benda apa ini guru?" tanya Jaka.

__ADS_1


"Buka lah, kau akan segera tau." jawab Resi Danurwinda. Jaka pun mulai membuka bungkusan itu.


"Ini.. ini pedang sungguhan guru?" tanya Jaka tak percaya. Pedang itu berwarna putih keperakan, panjangnya satu meter lebih sedikit dan agak tipis, serta gagangnya berbentuk kepala naga.


"Iya Jaka, pedang ini merupakan pedang pusaka, namanya Pedang Langit. Hanya pedang ini yang mampu mengeluarkan potensi kehebatan teknik Pedang Naga Langit. Dengan pedang ini kau mampu memanggil bayangan Naga sesuai dengan jurus terakhir yaitu jurus Murka Naga Langit." jawab Resi Danurwinda menjelaskan panjang lebar.


"Tapi guru.. jika pedang ini bersama ku, bagaimana dengan guru?" tanya Jaka lagi.


"Kau tak perlu menghawatirkan guru mu ini, kau pikir di puncak gunung ini guru membutuhkan pedang pusaka untuk apa? Untuk menangkap ayam hutan kesukaan mu?" jawab Resi Danurwinda seraya tertawa.


"Sudah, bawalah pedang ini, hitung saja sebagai hadiah dari ku." paksa Resi Danurwinda. Jaka pun tidak ingin mendebat lagi, segera ia simpan pedang itu di balik jubahnya.


Saat ini Jaka menjadi pendekar yang paling beruntung, bagaimana tidak? jarang sekali ada pendekar yang mempunyai dua buah senjata senjata pusaka seperti dirinya. Selain harganya yang sangat mahal, tentu keberadaannya sangat sedikit di rimba persilatan. Dua buah pusaka yang saat ini Jaka miliki adalah pusaka Seruling Bambu Sakti dan Pedang Langit.


Sebenarnya Jaka merasa berat untuk meninggalkan puncak gunung namun permintaan gurunya untuk memerangi kezaliman berhasil menguatkan hatinya. Jaka pun pamit pergi dan meninggalkan puncak gunung dengan diiringi suara alunan seruling.


***


"Bunuh.. bunuh bagi siapapun yang berani melawan." seru seorang pemimpin perampok yang sedang menunggang kuda. Pemimpin perampok ini bernama Gajah Ireng, perawakannya tinggi besar, wajahnya dipenuhi berewok, serta Gajah Ireng ini memakai pakaian serba hitam.


Gajah Ireng menatap sebuah kampung kecil yang sedang dirampok oleh anak buahnya. Jumlah mereka hanya sepuluh orang namun mampu memporak-porandakan sebuah kampung tanpa kesulitan.


Jika diperhatikan lebih jauh, sepuluh orang ini berada pada tingkat pendekar kelas biasa, sedangkan Gajah Ireng berada pada tingkatan pendekar kelas satu.


Setelah cukup lama para perampok ini berhasil menguras habis harta benda penduduk. Harta benda ini berupa uang koin, perhiasan, dan belasan hewan ternak.


Setelah para perampok ini tidak menemukan lagi barang-barang yang berharga, mereka pun memutuskan untuk pergi meninggalkan kampung itu.


Baru saja mereka hendak pergi, tiba-tiba telinga mereka mendengar alunan suara seruling yang sangat merdu. Suara seruling itu sangat dekat namun mereka tidak berhasil menemukan seseorang yang memainkannya.

__ADS_1


"Hei.. siapa kau yang cukup bodoh berani bermain-main dengan ku?! seru Gajah Ireng.


__ADS_2