Pendekar Seruling Bambu

Pendekar Seruling Bambu
Chapter 37. Misi Penyelamatan II


__ADS_3

"Hei.. siapa di sana?" Jaka segera melompat ke arah larinya bayangan itu.


Jaka menggunakan ilmu meringankan tubuhnya untuk menghadang laju dari bayangan itu namun di tengah jalan Jaka kehilangan jejak. Bayangan hitam itu tiba-tiba menghilang di area hutan menyatu dengan kegelapan malam.


Jaka mencoba mencari ke sana kemari namun tetap tak menemukan jejak apapun. Akhirnya Jaka memutuskan untuk kembali ke puncak Bukit Buah Batu karena menghawatirkan kondisi anak-anak.


Beruntung bagi Jaka bahwa bayangan hitam tadi bukanlah pancingan untuk menjauhkan dirinya dengan anak-anak. Jaka masih mendapati anak-anak itu berdiri lesu memandangi kedatangannya.


Jaka memandangi mereka satu per satu, lalu dirinya menganggukkan kepalanya seperti baru mendapatkan pencerahan.


"Apakah kalian lapar?"


Anak-anak itu saling pandang lalu kompak menganggukkan kepala. Jaka lalu meminta mereka untuk duduk sejenak di bawah pohon sembari Jaka mencari sesuatu yang bisa dijadikan makanan.


Tidak lama Jaka telah kembali dengan membawa beberapa ayam dan kelinci hutan. Jaka bergerak sangat cepat untuk memanggang ayam dan kelinci itu. Sisa-sisa gubuk yang terbakar sudah cukup untuk membuat hewan-hewan itu menjadi matang. Jaka lalu membagikan kepada mereka satu per satu.


Anak-anak itu makan dengan lahap, sesekali mereka memandangi Jaka seperti sedang melihat sosok malaikat. Jaka yang dipandangi anak-anak itu hanya tersenyum, lalu dirinya mempersilahkan mereka untuk menghabiskan makanannya.


Setelah selesai menyantap makanannya, anak-anak itu tidur di bawah pohon. Hangatnya sisa-sisa pembakaran membuat mereka tidur dengan sangat pulas, beberapa dari mereka bahkan tidurnya sampai mendengkur.


***


Pagi hari di puncak Bukit Buah Batu, mentari mulai menampakkan sinarnya. Burung-burung bernyanyi dengan riang menambah riuhnya suasana di puncak bukit itu.


Di atas dahan pohon merbau yang cukup tinggi, Jaka duduk seraya memainkan seruling di bibirnya. Alunan seruling itu begitu merdu, bahkan mampu membuat burung-burung yang sedang bernyanyi menjadi iri.


Alunan seruling yang dimainkan Jaka tidak hanya terdengar di puncak bukit, perlahan alunan seruling itu turun ke kaki bukit bahkan hingga ke desa-desa terdekat. Para petani yang hendak berangkat ke sawah sejenak menghentikan langkahnya demi menikmati alunan seruling itu.


Anak-anak yang sedang tidur perlahan membuka matanya, mereka serempak memandang sosok Jaka yang ada di atas pohon. Jaka yang mengetahui hal itu kemudian menghentikan permainan serulingnya dan melompat turun mendekati mereka.

__ADS_1


"Apakah aku mengganggu tidur kalian?" tanya Jaka.


"Tidak tuan, tidak sama sekali." jawab salah satu dari mereka. "Kami ingin mengucapkan banyak-banyak terimakasih atas pertolongan yang tuan berikan."


"Tidak perlu sungkan, setiap manusia memang diwajibkan untuk saling tolong menolong, iya kan?". Anak itu tersenyum kemudian mengangguk, membenarkan perkataan tuan pendekar yang telah menolongnya.


"Oh iya.. siapa namamu?" tanya Jaka.


"Namaku Sabeni tuan, kalau mereka.. "


Anak yang bernama Sabeni itu kemudian memberi tahu Jaka tentang siapa saja nama anak-anak di sana. Sabeni juga menjelaskan apa saja yang mereka alami selama dikurung di puncak bukit itu.


Sabeni dan beberapa anak lainnya berasal dari desa yang berbeda. Semuanya diculik oleh orang-orang yang menamakan diri mereka sebagai Kelompok Jubah Hitam. Sabeni dan lainnya dikurung di kerangkeng kayu hingga ada kelompok lain yang akan menjemput mereka.


Selama di kurung, anak-anak itu jarang mendapat jatah makan sehingga membuat tubuh mereka menjadi kurus kering. Tidak jarang juga di antara mereka terkena hukuman cambuk akibat mencoba memberontak.


Sabeni beberapa kali terlihat sesenggukan selama bercerita, air matanya pun jatuh membasahi kedua pipinya. Tidak hanya sabeni, anak-anak yang lain juga merasakan hal yang sama.


Ketika matahari mulai naik ke permukaan, Jaka dan anak-anak itu mulai meninggalkan puncak bukit. Mereka perlahan-lahan menuruni puncak bukit yang penuh dengan batuan terjal. Tidak jarang Jaka mengendong mereka apabila ada yang kesulitan dalam melewati jalanan bukit itu.


Tidak terasa hari telah menjelang sore ketika Jaka dan anak-anak tiba di perbatasan Desa Tanjung Melur. Kedatangan mereka ternyata telah disambut oleh beberapa penduduk dan prajurit kerajaan.


Rupanya selepas kepergian Jaka mendaki puncak Bukit Buah Batu, Ki Tama selaku kepala Desa Tanjung Melur melaporkan hal tersebut kepada prajurit yang tengah berpatroli di desanya. Laporan inipun disambut baik oleh prajurit kerajaan itu dan bersedia mendampingi Ki Tama menyusul keesokan harinya.


"Tuan pendekar.. untunglah kalian selamat.. " ucap Ki Tama menyambut kedatangan Jaka dan anak-anak itu. Jaka menganggukkan kepala lalu menyerahkan anak-anak itu kepada kepala desa.


Setelah selesai menjelaskan situasi yang terjadi di puncak Bukit Buah Batu, Jaka meminta izin untuk melanjutkan perjalanan. Tidak lupa Jaka meminta untuk mengembalikan anak-anak itu kembali kepada orang tuanya masing-masing.


"Dan satu lagi Ki, tolong jaga kudaku dengan baik. Aku pasti akan mengambilnya kembali.."

__ADS_1


Ki Tama berniat mencegah kepergian Jaka namun semua itu diurungkannya setelah melihat Jaka sudah tidak ada lagi di tempatnya.


"Sungguh pendekar muda yang baik.." gumam Ki Tama. Lalu dirinya mengajak rombongan kembali menuju desa.


***


Jaka yang telah mengantarkan anak-anak yang diculik sampai ke perbatasan desa, dirinya melanjutkan perjalanannya menuju desa-desa terdekat.


Jaka meyakini bahwa cepat atau lambat Kelompok Jubah Hitam akan kembali bergerak. Oleh karena itu, Jaka berniat mengunjungi desa lainnya demi mencegah peristiwa penculikan itu terjadi kembali.


Jaka terus melangkahkan kakinya menuju arah utara, dirinya berharap segera tiba di desa selanjutnya.


Tidak terasa malam telah tiba, Jaka mempercepat langkahnya ketika samar-samar melihat tiang pembatas desa.


"Akhirnya.. sampai juga.. " gumam Jaka.


Jaka lantas memasuki desa yang kini sudah tampak sepi, beberapa rumah telah menutup pintu dan jendela rumahnya. Yang tersisa hanyalah kelap kelip pelita yang menerangi rumah-rumah penduduk.


Tidak jauh dari Jaka berada, ada dua orang penjaga desa yang sedang melakukan patroli. Penjaga itu kemudian mendekati Jaka.


"Ada yang bisa kami bantu tuan?" tanya penjaga desa itu dengan ramah.


"Ah iya.. aku sedang mencari penginapan tuan. Kebetulan aku baru saja tiba di desa ini.." jawab Jaka.


"Kalau begitu mari saya antar, penginapannya tidak jauh dari sini."


"Apa tidak merepotkan tuan-tuan sekalian?


"Tidak sama sekali, ini sudah menjadi tugas kami. Mari.. "

__ADS_1


Jaka mengikuti kedua penjaga dan kini telah tiba di sebuah penginapan yang cukup besar. Setelah mengucapkan terimakasih kepada penjaga yang telah mengantarnya, Jaka menuju pintu masuk dimana telah ada seseorang yang menunggunya.


"Silahkan tuan.. "


__ADS_2