Pendekar Seruling Bambu

Pendekar Seruling Bambu
Chapter 32. Makan Bersama


__ADS_3

Jaka mengeluarkan sebuah pedang panjang dari balik jubahnya, pedang itu kemudian diserahkan kepada Mahapatih Kemuning Banyu.


Mahapatih Kemuning Banyu menerima pedang itu, dirabanya sarung pedang itu secara perlahan. Terdapat ukiran badan seekor naga menghiasi sisi luar sarung pedang, Mahapatih ini seperti pernah melihat ukiran sarung pedang seperti itu, tapi lupa dimana pikirnya.


Mahapatih Kemuning Banyu kemudian mencoba menarik pedang tersebut, perlahan cahaya menyilaukan keluar dari tempatnya. Pedang itu berwarna putih keperakan, baru sebentar saja Mahapatih Kemuning Banyu sudah bisa menduga bahwa pedang itu adalah pedang pusaka milik seseorang yang dikenalnya.


"Ini? Ini pedang Naga Langit, jadi kau sungguh murid dari Resi Danurwinda?” rasa terkejut dan bahagia terlihat jelas di wajah Mahapatih Kemuning Banyu.


"Benar, paman. Eyang guru berpesan bahwa aku harus pergi ke Kotaraja ini untuk menemui Yang Mulia Raja Angga dan juga Mahapatih Kemuning Banyu."


Mahapatih Kemuning Banyu sangat bergembira atas hal ini, lalu dirinya mengajak Jaka memasuki istana dan memintanya untuk sejenak beristirahat di gedung penerimaan tamu. Mahapatih Kemuning Banyu kemudian menuju lokasi dimana Yang Mulia Raja Angga berada.


Setibanya Mahapatih di kediaman Raja Angga, dirinya menjelaskan semua yang telah terjadi di pintu masuk istana. Raja Angga terkejut bercampur gembira, bahkan sangat bergembira atas kabar ini.


"Apa kau sungguh yakin pedang itu adalah pedang pusaka milik Guru, paman?"

__ADS_1


"Sangat yakin Yang Mulia, paman sudah memeriksa pedang itu dengan mata kepala paman sendiri."


Baiklah paman, aku akan segera menemui adik seperguruan ku itu.


***


Jaka yang tengah beristirahat di sebuah kamar tamu tidak sengaja tertidur dengan sangat pulas. Tubuh Jaka memang sangat kelelahan, jarang sekali dirinya bisa tidur sepulas ini.


Tidak terasa hari sudah menjelang malam, Jaka terbangun karena ada suara seseorang mengetuk pintu kamarnya. Jaka bergegas ke arah pintu dan membukanya, di hadapan Jaka terlihat seorang pelayan yang sudah cukup tua membawa beberapa helai pakaian ganti.


"Permisi Den.. Saya membawakan beberapa helai pakaian ganti. Setelah selesai bersih-bersih, Aden diminta Yang Mulia Raja agar hadir di ruang makan istana untuk ikut makan malam bersama."


Jaka kemudian bergegas mandi untuk membersihkan tubuhnya, dan setelah selesai dirinya segera memilih satu set pakaian yang cocok dengan ukuran tubuhnya. Setelah merasa cukup bersiap-siap, Jaka kemudian menuju ruang makan istana dengan arahan petunjuk dari seorang pelayan.


Setibanya di ruang makan, Jaka melihat ada tiga orang tengah duduk rapi di tepi meja yang penuh dengan aneka makanan. Salah satu dari orang itu, Jaka sudah mengenalnya yaitu Mahapatih Kemuning Banyu, sedangkan kedua orang lainnya Jaka belum pernah melihat mereka sebelumnya. Ketiganya tampaknya antusias dengan kedatangan Jaka.

__ADS_1


Jaka memasuki ruang makan dan segera menghampiri Mahapatih Kemuning Banyu. "Hormat kepada Mahapatih.. " ucap Jaka seraya membungkukkan badannya yang disambut anggukkan kepala oleh Mahapatih.


"Jaka.. beliau ini adalah kakak seperguruan mu, sekaligus raja dari Kerajaan Matraman Barat ini." ucap Mahapatih mengenalkan Jaka dengan Raja Angga.


"Hormat hamba kepada Yang Mulia Raja Angga." ucap Jaka dengan posisi berlutut.


Raja Angga kemudian maju mendekati Jaka dan membantunya berdiri. "Kau sungguh adik seperguruan ku?" tanya Raja Angga.


"Benar Yang Mulia, aku Jaka murid dari guru Resi Danurwinda." ucapnya meyakinkan.


Raja Angga lalu memeluk Jaka dengan sangat erat, seperti tidak ingin melepaskannya. Wajahnya terlihat begitu bahagia sampai-sampai mengeluarkan air mata. Raja Angga kemudian mengajaknya duduk dan memperkenalkan dengan istrinya.


"Jaka, kau saat ini adalah adikku dan kau harus memanggilku dengan sebutan raka. Apa kau mengerti?”


"Aku mengerti Raka."

__ADS_1


"Oh iya.. Ini istriku. Kau boleh memanggilnya dengan sebutan Yunda."


Setelah cukup berkenalan, keempat orang itu kemudian mulai menikmati hidangan yang terlanjur dingin. Meskipun begitu, mereka tetap memakannya dengan lahap.


__ADS_2