Pendekar Seruling Bambu

Pendekar Seruling Bambu
Chapter 2


__ADS_3

Semua orang yang berada di dalam rumah sama terkejutnya atas hancurnya pintu rumah mereka. Tak berselang lama dari balik pintu munculah Supala dan antek-anteknya. Supala memperhatikan keadaan sekitar dengan geram mencari keberadaan Tejo Alam.


"Tejo Alam, dimana kau? Keluar kau bajingan." Teriak Supala.


Tejo Alam dan Seno Alam keluar dari dalam kamar dan melihat Supala dan antek-anteknya sudah berada di dalam rumah mereka.


Supala memperhatikan Tejo Alam dan Seno Alam, lalu perhatiannya terhenti oleh bayi mungil yang kini sudah berada dalam gendongan Seno Alam. Seringai jahat kemudian muncul di wajahnya Supala.


"Oh.. Aku datang tepat waktu rupanya. Aku sungguh beruntung, kali ini aku akan membunuhmu dan juga keturunanmu, Tejo Alam, Ha.. Ha.. Ha.." Ucap Supala yang kemudian dilanjutkan dengan suara tawa Supala dan antek-anteknya.


"Aku akan membalas dendam atas apa yang kau perbuat terhadap mendiang adikku, Sentanu. Aku akan membunuhmu, membunuh si jahannam Sekarsari dan kemudian aku akan membunuh anak kalian berdua." Ucap Supala.


Tejo Alam sudah sangat geram dengan keadaan yang seperti ini. Tejo Alam kemudian berteriak kepada adiknya, Seno Alam.


"Seno.. Bergegaslah pergi selamatkan anakku. Aku akan menahan bajingan-bajingan ini." Ucap Tejo Alam sembari menghunuskan pedang andalannya, lalu maju menyerang ke arah Supala.


Supala juga tidak tinggal diam, dirinya kemudian menarik pedang yang terselip di pinggangnya untuk meladeni serangan dari Tejo Alam.


Seno Alam masih tidak bergeming di tempatnya, dirinya masih ragu atas keputusan yang akan dirinya ambil kemudian. Pergi membawa bayi yang ada di dalam gendongannya atau tetap berada di tempat membantu pertarungan Tejo Alam.


Seno Alam memperhatikan pertarungan Tejo Alam dan Supala, mereka saling jual beli serangan yang mengakibatkan beberapa isi rumah hancur berantakan.


Pertarungan mereka sekilas terlihat seimbang, namun sebenarnya Supala sedang berada di atas angin. Hal ini diakibatkan karena Tejo Alam tidak bisa fokus bertarung, perhatiannya sesekali mengarah ke Seno Alam yang juga tidak bergegas pergi menyelamatkan anaknya.


Seno Alam mengerti bahwa kehadirannya hanya akan menggangu fokus kakaknya dalam bertarung, jika pertarungan ini terus berlanjut maka hanya menunggu waktu saja untuk memastikan kekalahan Tejo Alam.


Seno Alam sudah mengambil keputusan di hatinya. Seno Alam akan memastikan keselamatan bayi yang ada di dalam gendongannya.


"Kakang Tejo, berjanjilah kepadaku bahwa kau akan tetap hidup. Aku akan pergi menyelamatkan anakmu. Berjanjilah.. " Teriak Seno Alam lalu bergegas pergi tanpa menunggu jawaban dari Tejo Alam.

__ADS_1


Tejo Alam mendegar teriakan adiknya, dan melompat mundur mengambil jarak dari Supala.


"Pergilah Seno, selamatkan anakku." Gumamnya.


Supala yang juga mendengar teriakan Seno Alam, mendengus kesal.


"Kalian bertiga, cepat kejar mereka. Pastikan kalian membunuh Seno Alam dan bayinya. Jangan sampai gagal." Perintah Supala kepada bawahannya.


Ketiga bawahannya yang mendapat perintah Supala segera pergi menyusul ke arah perginya Seno Alam.


Tejo Alam hendak menghentikan mereka namun langkahnya dicegah oleh Supala.


"Tejo Alam, hendak pergi kemana kau? Aku lah lawanmu." Ucapnya seraya kembali menyerang.


Tejo Alam mendengus kesal, lalu menyambut serangan dari Supala.


Kali ini, Tejo Alam dapat bertarung dengan serius. Konsentrasinya tidak terbagi seperti sebelumnya. Hal ini terbukti ketika Tejo Alam berhasil mendaratkan serangan tapak ke arah perut Supala.


Tejo Alam dan Supala sebenarnya berada pada tingkatan yang sama dalam hal ilmu kanuragan. Keduanya sama-sama berada pada tahapan Pendekar Ahli. Namun, teknik bertarung dan pengalaman bertarung Tejo Alam lebih unggul dibandingkan dengan Supala.


Dulunya, keluarga Tejo Alam dan keluarga Supala berhubungan baik. Bahkan, Tejo Alam bersahabat karib dengan mendiang adiknya Supala, Sentanu.


Mereka sering berlatih ilmu kanuragan bersama dan beberapa kali melakukan latih tanding.


Namun, hubungan baik itu mulai retak ketika Tejo Alam dan Sentanu menyukai gadis yang sama, yaitu Sekarsari putri kepala desa di desa tempat tinggal mereka.


Sekarsari memang gadis desa yang sedari lama menarik perhatian banyak lelaki di desa. Kulitnya yang seputih susu ditambah dengan raut wajahnya yang bersih, menambah kesan ayu pada sosok Sekarsari.


Begitupula dengan Tejo Alam dan Sentanu, keduanya berniat menjadikan Sekarsari sebagai istri mereka. Mereka berdua pun mulai berlomba-lomba untuk memenangkan hati dari putri kepala desa tersebut.

__ADS_1


Bak gayung bersambut, Sekarsari pun menaruh rasa yang sama kepada Tejo Alam. Selain karena perawakan Tejo Alam yang lebih gagah serta memiliki rupa yang tampan dibandingkan dengan Sentanu, Tejo Alam pun memiliki kepribadian yang lebih baik.


Hal inilah yang membuat Sekarsari yakin untuk memilih Tejo Alam sebagai calon pendamping hidupnya. Sekarsari yakin mereka akan hidup bahagia sampai menua bersama.


Atas keputusan Sekarsari tersebut, membuat Sentanu tidak bisa menerima hal itu begitu saja. Sentanu kemudian mengajak Tejo Alam untuk bertarung, siapa yang keluar sebagai pemenang dialah yang layak menjadi pendamping Sekarsari.


Awalnya Tejo Alam menghiraukan tantangan dari sahabatnya tersebut, namun Tejo Alam selalu saja diganggu dan bahkan difitnah sehingga mulai muncul gosip tidak sedap di kalangan warga desa.


Demi membersihkan nama baiknya, akhirnya Tejo Alam menerima tantangan dari Sentanu. Pertarungan keduanya akan dilaksanakan di pinggir desa.


Dalam hal ilmu kanuragan, Tejo Alam lebih unggul dibandingkan dengan Sentanu. Hal itu sudah terbukti ketika pertarungan mereka baru saja dimulai, Sentanu sudah kewalahan menahan gempuran serangan Tejo Alam.


Beberapa kali Sentanu jatuh bangun, wajah dan tubuhnya sudah penuh dengan luka.


Melihat hal itu, Tejo Alam sudah tidak berniat melanjutkan pertarungan. Meskipun Tejo Alam sangat marah atas tindakan Sentanu dan ingin sekali membunuhnya. Namun hal itu tidak dirinya lakukan mengingat mereka pernah menjadi sahabat karib.


"Sudah cukup Sentanu, akui saja kekalahanmu. Dengan kau menerima kekalahanmu, aku akan melupakan atas apa yang telah kau perbuat terhadapku." Ucap Tejo Alam.


Sentanu tidak menjawab, wajahnya jelas sekali menahan sakit dan rasa malu. Bagaimanapun, Sentanu lah yang memulai pertarungan ini dan pada akhirnya, dirinya yang kalah.


Melihat Sentanu tidak bereaksi apapun, Tejo Alam kemudian berniat pergi dari lokasi pertarungan mereka. Namun, hal tidak terduga terjadi kemudian.


Ketika Tejo Alam sudah membalikkan badan, Sentanu menyerang Tejo Alam dan Tejo Alam telat bereaksi atas serangan tersebut. Alhasil, serangan Sentanu berhasil menusuk punggung Tejo Alam dengan pedangnya.


"Ha.. ha.. ha.. Mati kau Tejo Alam." Ucap Sentanu seraya tertawa bahagia.


Namun, bukan Tejo Alam namanya jika dirinya bisa mati dengan mudah hanya dengan tusukan pedang. Dengan tenaga tersisa, Tejo Alam berbalik menyerang Sentanu.


Meskipun tengah terluka, Tejo Alam masih mampu bertarung dengan ganas. Saat ini, Tejo Alam tidak lagi berniat memberikan kesempatan Sentanu untuk hidup. Hanya ada satu kesimpulan, yakni Sentanu harus mati.

__ADS_1


"Matilah kau Sentanu."


__ADS_2