
Para perampok yang telah menyerang Jaka di tepi Gutan Godong Surgo segera berlari menjauh. Tujuannya saat ini hanyalah satu yaitu markas pimpinan mereka. Markas pimpinan mereka berada di tengah-tengah Hutan Godong Surgo ini. Mereka bergerak sangat cepat khawatir apabila Jaka datang mengejar. Tidak jarang mereka terjatuh akibat tersandung akar-akar pohon. Walaupun di langit rembulan bersinar cerah namun tidak cukup untuk menerangi jalanan yang kecil itu.
Mereka baru memperlambat laju larinya ketika tidak jauh di depannya telah terlihat beberapa bangunan berupa gubuk sederhana. Gubuk-gubuk mereka dikelilingi oleh pagar kayu setinggi satu setengah tombak. Jika dilihat dari luar, tempat ini hanyalah sebuah pagar kayu yang dibuat membentuk sebuah lingkaran. Kemudian di salah satu sisinya terdapat pintu gerbang kecil yang berfungsi untuk keluar masuknya anggota mereka.
Di depan pintu gerbang itu tengah berdiri dua orang lelaki, mereka memegang tombak di masing-masing lengan kanannya. Perawakan mereka tinggi besar dan wajahnya dipenuhi berewok. Mereka berdua yang bertugas menjaga sekaligus berpatroli mengawasi wilayah ini.
Kedua penjaga yang melihat kedatangan temannya segera membuka pintu dan mempersilahkan masuk. Kedua penjaga merasa heran tidak biasanya mereka bersikap buru-buru seperti itu namun mereka enggan untuk menanyakannya lebih jauh. Mungkin ada berita yang harus segera diketahui oleh ketua, pikir mereka. Setelah kelima temannya masuk, penjaga itu kembali menutup pintu dari dalam.
Tanpa sepengetahuan kelima perampok dan kedua penjaga tersebut, ada seseorang yang duduk di atas pohon sedang memperhatikan kediaman mereka. Ya, orang itu adalah Jaka. Jaka berhasil mengikuti perampok itu sampai ke depan pintu markas.
Kini di hadapannya Jaka melihat beberapa gubuk sederhana, jika dihitung mungkin ada belasan jumlahnya. Jaka memperkirakan di setiap gubuk itu setidaknya dihuni sekitar sepuluh orang, artinya jika ada lima belas gubuk berarti penghuni seluruhnya berjumlah seratus lima puluh orang.
Jaka mencoba mengamati lebih dekat dengan melompat ke pohon yang paling dekat dengan gubuk mereka. Lompatan yang dilakukan Jaka sangat halus sekali, suaranya bahkan tidak terdengar oleh siapapun di tempat itu.
Setelah Jaka perhatikan lebih dekat ternyata di antara gubuk kecil ada lagi satu buah gubuk yang cukup besar, kemungkinan gubuk itu mampu menampung sekitar lima puluhan orang. Dari dalam gubuk besar terdengar beberapa gelak tawa dan juga suara lenguhan wanita.
Jaka yang tangannya sudah gatal segera melompat turun, kemudian menyelinap ke arah penjaga. Jaka mengambil batu kerikil kecil lalu melemparkan ke arah penjaga itu, tidak lama kedua penjaga itu roboh dengan leher bolong tertembus batu kerikil.
Sebelum tubuh kedua penjaga itu menyentuh tanah, Jaka telah menangkapnya agar tidak jatuh menimbulkan suara gaduh. Jaka kemudian membawa kedua mayat itu keluar menjauhi markas. Jaka melompat lincah seperti tidak membawa beban sama sekali.
Jaka kemudian kembali lagi ke markas perampok, namun kini dengan penampilan yang berbeda. Jaka terlihat mengenakan pakaian yang sama dengan perampok, penyamarannya ini nyaris sempurna. Jaka lalu bergegas menuju gubuk yang paling besar.
***
Di dalam gubuk besar itu sedang berlangsung pesta yang sangat meriah. Para perampok saling menuangkan arak ke gelas mereka lalu minum bersama. Suara gelak tawa dan tangis menambah meriahnya pesta itu. Di barisan paling depan ada beberapa wanita yang sedang menari tanpa sehelai benang pun di tubuhnya. Tidak jarang ada tangan-tangan nakal yang datang menyentuh.
Namun seketika pesta itu berhenti ketika ada lima orang menyelonong masuk lalu berlutut kepada orang yang duduk di sebuah kursi bundar. Dengan hadirnya mereka membuat alunan musik dan tarian berhenti seketika.
__ADS_1
Orang yang sedang duduk di kursi bundar adalah ketua dari seluruh manusia yang berada di wilayah ini, orang-orang memanggilnya dengan nama Getih Ireng. Getih Ireng menamakan kelompok mereka sebagai penguasa Hutan Godong Surgo. Sedangkan yang baru saja masuk adalah Getih Abang, adik kandung dari Getih Ireng.
Getih Ireng yang merasa pestanya terganggu marah besar, andaikan saja Getih Abang bukanlah adiknya pasti kepalanya sudah berpindah dari tempatnya.
"Ada apa ini Getih Abang, apa kau sadar telah merusak pestaku?" bentak Getih Ireng.
"Maafkan saya kakang, ada yang ingin saya laporkan." Getih Abang menjawab dengan nada bergetar.
"Tidak bisakah kau menunggu esok hari? Jika berita yang kau berikan tidak penting, maka jangan pernah salahkan aku jika nyawamu lepas dari badan!"
"Cepat katakan, berita apa yang kau bawa?"
"Ampun kakang.. Ketika aku dan orang-orang ku sedang berkeliling di hutan ini, kami menemukan seorang pemuda yang mencurigakan. Kami mencoba meringkusnya namun kami dikalahkannya dengan mudah, ilmunya sangat tinggi kakang. Kami khawatir jika tujuan kedatangannya adalah tempat kita ini kakang."
"Kunyuk mana yang berani mengusik wilayah kita Getih Abang?"
"Lantas bagaimana kalian bisa kabur?"
"Kami memohon ampun dan pendekar muda itu melepaskan kami."
"Bodoh!"
"Jika tujuannya adalah wilayah kita tentu dia sengaja melepaskan kalian, agar kalian menjadi pemandu jalan ke sini."
"Cepat kalian periksa seluruh tempat ini!" perintah Getih Ireng.
Semua orang segera bergegas keluar dan mulai memeriksa gubuk-gubuk mereka. Di ruangan itu kini tersisa tiga orang pimpinan perampok, mereka adalah Getih Ireng dan dua orang tangan kanannya yang bernama Gagak Sodra dan Gagak Londo. Selain itu ada juga beberapa gadis dan seseorang yang memakai pakaian perampok, orang itu adalah Jaka.
__ADS_1
"Hei kunyuk.. kenapa kau masih duduk di situ?" tanya Gagak Sodra.
“Ah.. tempat ini sangat menyenangkan ketua. Aku sangat enggan jika disuruh pergi." jawab orang itu malas-malasan.
"Kurang ajar! Beraninya kau menentang perintah ketua?!" bentak Gagak Sodra.
"Tentu saja, dia juga toh bukan ketua ku." jawab Jaka enteng.
"Setan alas! Ku bunuh kau!”
Gagak Sodra melompat ke arah Jaka seraya mengarahkan tinjunya. Jaka menyambut serangan lawan juga dengan tinjunya. Dua tinju saling beradu dan Gagak Sodra terlempar ke belakang.
"Hm.. tenaga dalam mu boleh juga. Aku akan meningkatkan serangan ku."
"Awas kepala!"
Gagak Sodra kembali menyerang dengan ganas, serangan demi serangan mengarah ke tubuh Jaka. Namun hingga belasan jurus belum juga ada yang mengenai sasaran. Gagak Sodra melompat mundur mengambil jarak untuk mengatur nafas.
"Keluarkan senjata mu bocah." ucap Gagak Sodra, dirinya sendiri mengeluarkan pedang perak kesayangannya.
"Baik.. aku akan menggunakan ini." jawab Jaka seraya mengeluarkan seruling bambunya.
"Majulah!"
Kedua orang bergerak bersamaan menyerang lawannya, suara pedang dan seruling saling beradu. Permainan pedang Gagak Sodra sebenarnya cukup baik namun itu semua belum cukup untuk mengalahkan Jaka. Terbukti hanya dalam dua serangan Jaka berhasil mendaratkan serangan ke dada Gagak Sodra. Gagak Sodra pun terpental menabrak dinding gubuk itu hingga jebol.
Gagak Sodra mencoba bangkit seraya memegang dadanya yang sakit. Gagak Sodra memalingkan wajahnya, kini di sekeliling gubuk itu telah ramai di kepung oleh seluruh perampok.
__ADS_1