
Dengan amarah yang sudah mencapai puncak, Tejo Alam menyerang Sentanu dengan brutal. Setiap serangannya berhasil melukai tubuh Sentanu. Darah mengalir dari setiap luka yang terdapat di tubuh Sentanu.
Bukannya Sentanu tanpa perlawanan, namun kondisi Tejo Alam yang sekarang bukan lagi bisa dianggap remeh. Tejo Alam saat ini sudah hampir mengeluarkan kemampuan terbaiknya, tidak ada yang bisa menandingi kekuatannya kecuali pendekar yang berasal dari dunia persilatan.
Sentanu sadar, hanya tinggal menunggu waktu untuk kematiannya.
Sentanu menyunggingkan senyum di wajahnya, seraya berkata, "Cepat bunuh Aku Tejo Alam, akhiri penderitaanku dengan segera." Pinta Sentanu.
Tejo Alam menatap Sentanu dengan perasaan bersalah. Walau bagaimanapun, mereka pernah menjadi sahabat karib. Namun semua itu berubah karena masalah percintaan.
"Mengingat pertemanan kita dahulu, aku akan kabulkan permintaanmu." Jawab Tejo Alam.
Dengan sekali tusukan pedang, Tejo Alam mengakhiri hidup Sentanu tepat di bagian vital tubuhnya.
Mati.
Kematian Sentanu mengakhiri perseteruan dua orang yang pernah menjadi sahabat karib.
Tejo Alam jatuh terduduk, pedangnya terlepas jatuh di samping tubuhnya.
Tejo Alam mengangkat tangannya yang penuh noda darah, dirinya tidak pernah menyangka akan menjadi penyebab dari kematian sahabatnya itu.
Dirinya juga sadar, cepat atau lambat akan ada orang yang akan menagih hutang padanya.
***
Pertarungan Tejo Alam dan Supala masih berlanjut, awalnya mereka bertarung satu lawan satu namun saat ini sudah menjadi satu lawan delapan.
Supala sadar, dirinya tidak akan menang jika bertarung secara adil. Oleh karenanya, Supala memerintahkan yang lain untuk bergabung menyerang Tejo Alam bersama-sama.
Meskipun ilmu kanuragan mereka tidak bisa menandingi Tejo Alam, paling tidak mereka bisa menang dalam hal jumlah.
Hal ini terbukti ketika satu dua serangan berhasil mereka daratkan ke tubuh Tejo Alam. Begitu seterusnya, luka demi luka berhasil bersarang di tubuh Tejo Alam. Begitu juga Tejo Alam, berhasil memberikan luka yang cukup dalam pada lawan-lawannya.
__ADS_1
Tejo Alam bergerak mundur, jatuh ke tanah dengan satu kaki. Pandangannya mulai terasa kabur. Tejo Alam mengatur nafasnya dan mengalirkan tenaga dalam ke arah bagian tubuhnya yang terluka dengan harapan bisa menghentikan pendarahan. Meskipun demikian, darah merah masih saja tetap memaksa keluar.
"Percuma saja, lukaku terlalu banyak dan juga dalam." Gumam Tejo Alam.
Pandangannya kini tertuju ke arah kamar istrinya, Tejo Alam mulai menyesal tidak bisa melindungi istrinya.
"Supala, kau boleh membunuhku demi membalaskan dendam mendiang adikmu. Tapi aku mohon, biarkan istriku hidup. Dia tidak bersalah, tidak seharusnya dirinya ikut menanggung permasalahan kita." Pinta Tejo Alam kepada Supala.
"Puihh... Tidak bersalah katamu? Istrimu juga turut menjadi penyebab kematian adikku. Hari ini, aku akan membunuhnya terlebih dahulu tepat di hadapanmu. Agar kau merasakan bagaimana rasanya kehilangan orang yang sangat kau sayangi."
"Gembul, cepat tarik keluar Sekarsari dari kamarnya." Perintah Supala kepada bawahannya yang berbadan besar.
Gembul mengangguk patuh lalu dengan cepat memasuki kamar Sekarsari.
Sekarsari masih terbaring di tempat tidur dengan mata yang sudah penuh dengan air mata. Sekarsari masih tidak menyangka bahwa bencana akan datang terlalu cepat bagi keluarganya.
Sekarsari baru saja menyelesaikan persalinannya, namun sudah harus berpisah dengan anaknya. Sekarsari bahkan belum bisa memeluk buah hatinya. Sungguh derita yang sangat kejam bagi seorang ibu yang baru saja melahirkan.
"Pergi... Jangan ganggu Sekarsari, kasihani lah dia, dia baru saja melahirkan." Ucap Nyi Irah memohon sambil mengarahkan gagang sapu kepada Si Gembul.
Gembul hanya tertawa melihat tingkah laku Nyi Irah.
"Kau menyuruhku pergi hanya dengan gagang sapu? Hah...?" Ucap Gembul seraya menangkap ujung gagang sapu lalu menendang Nyi Irah hingga terpental menabrak dinding rumah.
Nyi Irah terjatuh berbarengan dengan puing-puing rumah, darah mengalir dari sela-sela bibirnya. Nyi Irah mencoba bangkit namun gagal, tubuhnya yang sudah termakan usia tidak sanggup menahan tendangan dari Si Gembul.
Nyi Irah hanya bisa meratap, "Ja... Jangan tuan, kasihani Sekarsari." Pinta Nyi Irah dengan suara yang parau.
"Diam kau nenek tua, apa kau ingin cepat mati?" Bentak Si Gembul dengan mata yang melotot.
Nyi Irah sudah tidak kuat lagi menahan sakit akibat tendangan Si Gembul, akhirnya dirinya hanya bisa diam tak berdaya.
Si Gembul tidak lagi perduli dengan Nyi Irah, perhatiannya kini tertuju kepada Sekarsari.
__ADS_1
"Ayo bangun, Kakang Supala sudah menunggumu di luar." Ucap Si Gembul.
Sekarsari mencoba untuk bangun namun masih gagal, tubuhnya belum bisa bergerak secara leluasa akibat baru saja selesai melahirkan.
Si Gembul sudah tidak sabar, lalu dirinya menarik paksa tangan Sekarsari hingga tubuhnya terjatuh dari ranjang. Tidak cukup sampai di situ, Si Gembul juga menyeret keluar Sekarsari dan melemparkannya tepat di samping tubuh Tejo Alam.
"Kakang Tejo... " Rintih Sekarsari menangis kesakitan.
"Sekarsari, kau tidak apa-apa? Maafkan aku, aku gagal melindungimu." Ucap Tejo Alam dengan raut wajah sedih.
Jangankan untuk membantu istrinya, berdiri menopang tubuhnya sendiripun Tejo Alam sudah tidak sanggup. Luka yang diberikan Supala dan bawahannya sekarang menjadi tambah terasa sakit baginya.
"Hmph... Apakah kalian sudah siap mengucapkan perpisahan? Kematian kalian akan datang sebentar lagi." Ucap Supala dingin.
Tejo Alam dan Sekarsari saling bergandengan tangan, mereka seakan-akan saling menguatkan. Mereka percaya, meskipun mereka mati hari ini, anak keturunannya akan dapat hidup bahagia bersama Seno Alam.
Supala yang menyaksikan keromantisan mereka berdua di depan pintu kematian, sungguh berdecak kesal. Supala menarik keluar pedang yang telah disarungkan, tanpa aba-aba dirinya lalu menebas leher Tejo Alam yang seketika itu juga merenggut nyawanya.
Sekarsari yang menyaksikan kematian suaminya, langsung ingin berteriak histeris. Namun suaranya hilang sebelum menyelesaikan teriakannya. Sekarsari juga mati dengan luka menganga di lehernya.
Setelah selesai membunuh pasangan suami istri itu, Supala tertawa terbahak-bahak. Namun tidak ada nada kebahagian di balik tawanya, justru yang ada nada kesedihan.
"Sentanu, dendammu telah kubalaskan. Kau bisa tenang di alam baka."
Supala lalu teringat akan tiga orang anggotanya yang sedang mengejar Seno Alam yang membawa lari bayi kecil dalam gendongannya. Dengan satu isyarat, Supala dan bawahannya pergi menuju perginya Seno Alam.
Tidak begitu lama bagi Supala untuk menyusul ketiga orang anak buahnya. Namun, bukannya mendapati kabar baik, justru Supala dan anak buahnya yang tersisa mendapat kejutan tak terduga.
Supala menyaksikan ketiga orang anak buahnya yang mendapat perintah untuk mengejar Seno Alam sudah terbaring tak bernyawa, begitu juga dengan Seno Alam. Keempatnya mati bersamaan.
Namun anehnya, Supala tidak menemukan tanda-tanda keberadaan bayi kecil yang semula berada dalam gendongannya Seno Alam.
"Kemana perginya bayi kecil itu?"
__ADS_1