
Di istana Kerajaan Matraman Utara, terlihat Raja Putra sedang duduk di singgasana kebesarannya. Raja Putra sedang menunggu kedatangan prajurit yang bertugas membawa surat balasan dari Raja Reksa, saudara Raja Putra yang berkuasa di Kerajaan Matraman Timur.
Di hadapan Raja Putra telah berkumpul pula beberapa pejabat kerajaan seperti Penasehat Kerajaan Sengkuni, Maha Patih Argadana, dan beberapa senopati Kerajaan Matraman Utara. Semuanya saling diam menunggu kedatangan surat balasan tersebut.
Setelah prajurit pembawa surat muncul, Raja Putra kemudian mulai membacanya. Perlahan ada rona perubahan pada raut wajah Raja Putra, semakin lama Raja Putra membaca surat tersebut semakin membuat rona wajah Raja Putra merah padam.
"Setan alas.. " teriak Raja Putra. Tangannya meremas surat balasan tersebut itu hingga tak berbentuk.
"Ada apa Yang Mulia?" tanya Penasehat Kerajaan Sengkuni.
"Matraman Timur menolak permintaan kita paman, dan mereka sudah berani menghina kerajaan kita." ucap Raja Putra geram.
"Itu artinya kita harus memberi mereka pelajaran Yang Mulia. Mereka tidak saja menolak permintaan kita dan bahkan..
bahkan mereka telah berani menghina Yang Mulia. Kita harus bertindak dan membuat mereka merasakan akibatnya." jawab Sengkuni menanggapi hasil dari surat balasan tersebut.
"Paman Patih, siapkan pasukan dan jadikan Kerajaan Matraman Timur rata dengan tanah." perintah Raja Putra.
"Sendika Yang Mulia." jawab Maha Patih Argadana kemudian berlalu pergi.
Maha Patih Argadana bersama beberapa senopati dan sepuluh ribu pasukan tempur siap berangkat menuju ke Kerajaan Matraman Timur.
Sepuluh ribu pasukan ini terdiri dari pasukan petarung jarak dekat yang berjumlah lima ribu prajurit, pasukan ini bisa menggunakan senjata berupa pedang dan tombak.
Kemudian pasukan berkuda berjumlah dua ribu prajurit, pasukan ini juga bisa bertarung menggunakan pedang dan tombak. Pasukan berkuda ini bertugas untuk merusak formasi perang lawan dan juga membantu pasukan jarak dekat.
__ADS_1
Selanjutnya ada pasukan pemanah berjumlah seribu prajurit, pasukan ini bertugas untuk memberikan serangan jarak jauh dan menyokong pasukan berkuda maupun pasukan jarak dekat.
Seribu pasukan berikutnya bertugas membawa perlengkapan perang seperti persediaan makanan, obat-obatan, dan berbagai senjata perang.
Dan seribu pasukan yang terakhir bertugas sebagai pasukan khusus. Pasukan ini bertugas mengamati pergerakan musuh dan akan bergerak apabila diperlukan.
Kereta-kereta kuda yang membawa Maha Patih Argadana dan beberapa senopati kerajaan berjalan beriringan. Dan bendera-bendera lambang Kerajaan Matraman Utara terlihat gagah berdiri di antara ribuan prajurit.
Sepuluh ribu pasukan ini membuat jalan-jalan yang mereka lalui seolah bergetar, para penduduk seketika menyingkir menjauh. Sepertinya pemandangan seperti ini akan terus mereka saksikan selama beberapa waktu ke depan.
***
Di waktu yang sama namun berbeda tempat, tepatnya di Kerajaan Matraman Timur sedang berkumpul beberapa orang petinggi di aula kerajaan. Mereka tengah sibuk menyusun strategi guna menghadapi peperangan yang akan segera terjadi.
"Menurut pendapat hamba Yang Mulia, kita harus mengumpulkan seluruh kerajaan kecil yang sekarang bernaung di bawah kerajaan kita. Saat ini kita sangat membutuhkan bala bantuan sebanyak mungkin." Penasehat Kerajaan Kanjeng Lodaya mengutarakan pendapat.
Maha Patih Dirga Suntara mengangguk setuju kemudian menambahkan penjelasan, "Hamba setuju dengan pendapat Kanjeng Lodaya Yang Mulia, hamba juga mendapat laporan dari telik sandi bahwa pasukan Kerajaan Matraman Utara telah bergerak menuju kemari. Pasukan itu diperkirakan berjumlah sepuluh ribu prajurit dan akan mencapai perbatasan dalam waktu sepuluh hari ke depan."
"Setan.. ******** itu benar-benar telah hilang kewarasannya. Dia bahkan tak ragu untuk mengirim tiga perempat dari kekuatan terbaiknya." ucap Raja Reksa.
Raja Reksa menyetujui saran dari penasehat Kanjeng Lodaya dan Maha Patih Dirga Suntara. Raja Reksa bahkan mengutus beberapa senopati untuk terjun langsung menghubungi kerajaan kecil yang menjalin kerjasama dengan mereka.
Setelah Kerajaan Matraman terbagi menjadi empat wilayah mata angin, kerajaan-kerajaan kecil di wilayah ini memilih bergabung dengan Kerajaan Matraman Timur.
Ketiga kerajaan kecil itu adalah Kerajaan Badawa yang dipimpin oleh Raja Indraprasta, Kerajaan Sendang Anom yang dipimpin oleh Raja Bagus Kertarajasa, dan Kerajaan Segoro yang dipimpin oleh Raja Bayu Angin.
__ADS_1
Ketiga kerajaan kecil ini telah bersumpah setia dan akan bergerak ketika Kerajaan Matraman Timur membutuhkan bantuan.
Sebenarnya walaupun seluruh prajurit Kerajaan Matraman Timur ditambah dengan seluruh prajurit dari tiga kerajaan kecil itu, belum cukup untuk menyamai jumlah prajurit dari pasukan lawan. Namun ada satu hal yang menjadi keunggulan pasukan Matraman Timur ini yaitu mereka unggul dalam penguasaan medan pertempuran.
***
Tiga hari berikutnya seluruh pasukan tambahan dari tiga kerajaan kecil telah tiba di halaman utama Kerajaan Matraman Timur. Mereka disambut dengan baik dan diperkenankan untuk beristirahat terlebih dahulu. Sedangkan para pemimpin pasukan langsung menuju istana untuk bertemu Yang Mulia Raja Reksa.
"Salam hormat kami Yang Mulia... " ucap pemimpin pasukan setibanya mereka di istana.
"Bangunlah.. hormat kalian aku terima." jawab Raja Reksa.
Setelah itu para pemimpin pasukan memberikan laporan tentang jumlah prajurit dan kemampuan dari pasukannya.
Secara umum, kemampuan pasukan mereka setara dengan pendekar kelas biasa dan sebagian kecil setara dengan pendekar kelas satu tahap awal sampai menengah. Sedangkan para pemimpin pasukan setara dengan pendekar kelas satu tahap puncak. Setelah selesai memberikan laporan mereka dipersilahkan untuk beristirahat.
Keesokan paginya Maha Patih Dirga Suntara membawa seratus prajurit ke arah perbatasan Matraman Timur dengan Matraman Utara. Kedua kerajaan ini dipisahkan oleh lapangan tandus yang cukup luas. Kedatangan prajurit ini guna membuat persiapan menyambut pasukan lawan dengan berbagai jebakan yang mematikan.
Jebakan ini ada yang berupa lubang yang digali dengan cukup dalam, kemudian di lubang itu dipenuhi oleh duri-duri tajam. Siapapun yang terjerembab masuk ke dalamnya bisa dipastikan akan mati secara mengenaskan. Tidak lupa lubang-lubang itu ditutupi dedaunan dan rumput kering agar bisa mengelabuhi musuh.
Jebakan lainnya berupa batang pohon besar yang digantung dan akan dilepaskan ketika pasukan musuh datang menyerang. Satu serangan dari batang pohon besar ini mampu membunuh belasan prajurit. Jebakan ini berjumlah sekitar puluhan dan ditempatkan di area hutan.
Dan jebakan yang terakhir adalah sebuah jaring perangkap yang cukup besar. Jebakan ini diletakkan di permukaan tanah dan akan ditarik ketika prajurit lawan tepat berada di atasnya. Prajurit lawan yang tertangkap jaring akan disambut oleh hujan panah hingga tewas.
Setelah merasa jebakan yang dipasang cukup banyak, Maha Patih Dirga Suntara kembali ke Kerajaan Matraman Timur. Sedangkan pasukannya tetap berada di perbatasan untuk menunggu kedatangan pasukan bantuan. Kelompok pasukan ini yang nantinya bertugas menghalau pasukan musuh di garis depan.
__ADS_1