
Siang hari di sebuah desa yang bernama Desa Batang Hari terlihat banyak penduduk yang sedang lalu lalang di jalan utama desa. Ada beberapa orang tua yang baru pulang dari sawah ataupun anak-anak kecil yang sekedar berlarian kesana-kemari kemari.
Jaka yang baru saja tiba di Desa Batang Hari segera melangkahkan kaki untuk mencari kedai makan. Perutnya yang sudah meronta meminta jatah membuat Jaka menambah kecepatan langkah kakinya, namun sudah sekian lama belum juga dirinya menemukan kedai makan itu. Hingga suatu ketika ada seorang bocah laki-laki yang berlari menabraknya.
"Uh.. maafkan saya tuan.. saya tidak sengaja.. " ucap anak itu dengan sopan.
Jaka menjawab dengan menganggukan kepala dan bertanya kepada bocah laki-laki itu dimana letak kedai makanan di desa ini.
"Itu tuan.. itu rumah yang sedang ramai pengunjung.. " jawab anak itu seraya menunju ke satu arah.
Jaka lalu menepuk jidatnya berulang kali, bagaimana bisa dirinya tidak melihat kedai makan padahal itu adalah tempat yang paling ramai. Jaka lalu mengucapkan terimakasih kepada sang bocah karena telah membuat dirinya sadar dari kebodohannya.
Jaka lalu masuk ke dalam kedai yang sedang ramai pengunjung itu, kemudian mengambil tempat yang kosong di pojok kedai. Jaka memesan makanan berupa semangkuk nasi dan daging ayam panggang kesukaannya. Tidak menunggu lama setelah pesanannya datang, Jaka pun mulai memakannya. Ketika Jaka tengah asik menikmati makanannya, telinganya yang sangat tajam masih mampu mendengarkan pembicaraan pengunjung yang tidak terlalu jauh dari tempat duduknya.
Samar-samar Jaka mendengar salah satu pengunjung menyebut nama seseorang yang pernah ditemuinya, nama itu adalah pendekar Sang Pencabut Nyawa.
"Jadi benar rupanya pendekar itu sedang ada di desa ini... " gumam Jaka.
__ADS_1
Jaka sejenak menghentikan aktifitas makannya agar telinganya bisa mendengar dengan jelas. Dari pembicaraan pengunjung itu diketahui bahwa pendekar bergelar Sang Pencabut Nyawa sedang berada di desa ini, tujuan kedatangannya belum diketahui secara jelas. Tetapi ada satu hal yang pasti yaitu ketika pendekar bergelar Sang Pencabut Nyawa ini muncul, maka akan ada korban dari golongan hitam yang tewas
"Siapa sebenarnya yang sedang dicari pendekar itu?" Jaka menggumam lagi.
Karena merasa tidak mendapatkan jawaban dari pertanyaannya, Jaka melanjutkan menyantap hidangannya hingga habis. Jaka kemudian memutuskan untuk sementara menginap di desa ini sembari menunggu kedatangan orang yang dicari pendekar Sang Pencabut Nyawa.
***
Malam harinya di Desa Batang Hari rembulan bersinar terang, sepertinya malam ini langit sedang menunjukkan keindahannya tatkala bintang-bintang pun ikut bersinar berkelap kelip. Jaka yang sedang duduk di jendela penginapan menjadi teringat dengan gurunya yang berada di puncak gunung. Padahal dirinya belum lama meninggalkan sang guru namun kini sudah sangat merindukannya.
Irama dari alunan seruling yang dimainkan oleh Jaka menyiratkan sebuah rasa kerinduan yang sangat mendalam kepada seseorang bagi siapa pun yang mendengarnya. Perlahan penduduk yang mendengar irama alunan seruling mulai meneteskan air mata, mereka seketika terbayang dengan orang yang sangat mereka rindukan. Baik orang yang dirindukan itu telah tiada ataupun seseorang yang telah lama sekali mereka tidak pernah berjumpa.
Seketika Desa Batang Hari diliputi oleh rasa kerinduan, air mata Jaka pun sudah tak terbendung. Setelah orangtuanya meninggal, Guru Resi Danurwinda lah yang selama ini menemani dan telah menjadi sosok seorang kakek bagi Jaka. Kini dirinya sangat merindukan sosok gurunya.
Di sebuah penginapan yang berbeda, ada seorang lelaki tua sedang berdiri di depan jendela kamarnya. Lelaki tua ini juga tengah mendengarkan irama alunan seruling yang begitu merdu, dirinya terbayang ketika masih berkumpul bersama keluarganya. Namun kebersamaan itu sirna setelah istri dan anak-anaknya dibunuh oleh kelompok perampok. Sampai saat ini dirinya belum mengetahui siapa kelompok perampok itu. Tak terasa air matanya pun mengalir jatuh membasahi pipi tuanya. Lelaki tua inilah yang sedang dicari Jaka, pendekar yang bergelar Sang Pencabut Nyawa.
"Tunggu dulu.. suara seruling ini.. " seketika pendekar tua itu tersadar dari lamunannya, dirinya segera mengetahui bahwa suara seruling itu bukan berasal dari penginapan yang dirinya tempati saat ini. Alunan suara seruling ini menggunakan pengerahan tenaga dalam, dan siapapun yang memainkannya sudah bisa dipastikan dirinya memiliki tenaga dalam yang sangat tinggi.
__ADS_1
Menurut perkiraannya suara seruling itu berasal dari tempat yang cukup jauh namun terasa sangat dekat, bahkan seperti di samping daun telinga. Pendekar tua itu segera melompat keluar jendela untuk mencari sumber suara seruling itu.
Namun baru saja dirinya mendarat di atap rumah penduduk, alunan suara seruling itu menghilang bagai ditelan bumi. Kembali dirinya memasang pendengarannya yang tajam berharap bisa mendengar suara seruling itu kembali, namun setelah beberapa lama dirinya tetap tidak mendengar tanda-tanda suara seruling. Pendekar tua itu kemudian memutuskan untuk kembali ke penginapan.
Jaka yang sadar telah melakukan kesalahan segera menghentikan permainan serulingnya. Jaka mengetahui bahwa pasti ada banyak pendekar yang akan mencari sumber suara seruling itu, dirinya tidak ingin terlibat keributan yang tidak perlu. Jaka memandangi rembulan sekali lagi sebelum menutup pintu jendela dan melangkah ke pembaringan.
***
Keesokan paginya terjadi keributan di penginapan yang Jaka sewa, beberapa orang penduduk telah sepakat bahwa sumber suara seruling yang terdengar semalam berasal dari penginapan ini. Namun hal ini segera dibantah oleh pemilik penginapan, dirinya berdalih jika mendengar suara alunan seruling itu berasal dari arah yang lain.
Jaka yang menyaksikan kejadian itu bersikap acuh tak acuh. Setelah Jaka selesai membersihkan diri, Jaka bergegas menuju kedai makan yang kemarin. Selain untuk mengisi perutnya yang sudah kosong, Jaka juga perlu mendapat informasi yang terbaru terkait pendekar Sang Pencabut Nyawa.
Jaka mulai memasuki kedai makan itu, namun suasananya tidak seperti yang kemarin. Saat ini banyak sekali terlihat meja-meja yang kosong, mungkin hanya ada dua sampai tiga meja yang terisi. Setelah selesai memesan makanan, Jaka kemudian memilih meja yang berada paling pojok, meja itu letaknya paling jauh dari pintu masuk.
Dari tempat ini Jaka bisa mengamati setiap orang yang akan masuk di kedai makan, mungkin salah satu dari mereka ada yang Jaka kenal.
Beberapa lama setelah Jaka duduk di meja yang dipilih, Jaka menyadari bahwa ada seseorang dari pengunjung kedai itu yang diam-diam telah memperhatikan gerak-geriknya. Jaka mencoba untuk melihat wajah orang itu namun wajahnya selalu tertutup penutup kepala yang terbuat dari anyaman bambu, penduduk desa ini menyebutnya dengan caping bambu.
__ADS_1