
"Bukit Buah Batu? Dimana itu Ki?" tanya Jaka.
"Bukit itu berada di arah timur desa ini. Apakah tuan pendekar berniat ke sana?"
"Iya Ki.. "
Ki Tama menggelengkan kepala pelan lalu kembali menatap Jaka, "Saya sarankan tuan jangan ke sana, itu sangat berbahaya.. "
Ki Tama menyarankan demikian bukanlah tanpa alasan, dirinya dan penduduk desa sudah pernah mencoba mendaki Bukit Buah Batu namun selalu mengalami kegagalan. Belum lagi banyaknya penduduk yang jatuh korban sehingga mereka tidak meneruskan melakukan pencarian itu.
Ki Tama kembali mengingatkan Jaka untuk mengurungkan niatnya, "Tuan pendekar masih sangat muda, sayangilah nyawa yang cuma selembar di badan."
"Terimakasih Ki atas nasehatnya, tetapi aku akan tetap pergi ke sana." ucap Jaka dengan mantap.
Ki Tama menarik nafas dengan berat lalu mengeluarkannya perlahan, "Baiklah jika keputusan tuan sudah bulat, yang tua ini hanya bisa mendoakan keselamatan tuan."
Ki Tama kemudian menyarankan Jaka untuk menitipkan kudanya di rumahnya sebab perjalanan ke Bukit Buah Batu sangat terjal, sulit untuk ditempuh dengan menunggang seekor kuda. Setelah berpamitan kepada Ki Tama, Jaka beranjak pergi menuju arah timur.
***
Jaka bergerak dengan cepat menuju Bukit Buah Batu, sesekali dirinya melompat dari dahan pohon yang satu ke dahan pohon lainnya. Gerakannya begitu cepat seakan hanya terlihat sekelebatan bayangannya saja.
Setelah cukup lama berlari, Jaka telah tiba di kaki Bukit Buah Batu. Jaka memandangi bukit itu seraya mengeleng-gelengkan kepala, sesuai dengan namanya bukit ini penuh dengan batu-batuan yang menghampar sampai ke puncak.
Sejauh mata Jaka memandang, masih banyak pohon-pohon yang tumbuh di bukit ini. Jaka mulai bergerak menuju puncak bukit, tubuhnya bergerak sangat lincah. Sesekali dirinya bersembunyi di balik batu yang cukup besar sembari memeriksa kondisi di sekitarnya. Setelah merasa cukup aman, dirinya kembali melanjutkan perjalanan.
__ADS_1
Tidak terasa mentari telah menyongsong ke ufuk barat, meninggalkan berkas-berkas sinar kemerahan. Saat itu Jaka telah hampir tiba di puncak bukit, namun Jaka menghentikan langkahnya. Dirinya sedang menunggu malam tiba agar lebih mudah melakukan pengintaian.
"Sebentar lagi malam akan datang, lebih baik aku beristirahat sejenak di atas pohon ini." gumam Jaka.
Dari atas pohon itu, Jaka dapat melihat puncak bukit dengan cukup jelas. Samar-samar dirinya melihat bayangan sebuah gubuk yang cukup besar. Di depan gubuk itu ada beberapa obor yang menerangi halaman depan.
Malam semakin larut serta angin yang berhembus cukup kencang membuat tubuh Jaka sedikit merasa kedinginan. Jaka kemudian mengalirkan tenaga dalam ke tubuhnya agar menghilangkan rasa dingin itu.
Cukup lama Jaka berada di atas pohon, namun belum juga ada tanda-tanda yang mencurigakan. Akhirnya Jaka memutuskan untuk menyelinap ke puncak bukit.
Setelah jarak Jaka dengan gubuk hanya tinggal puluhan tombak, mulai terdengar ada suara orang yang mengobrol. Jaka perlahan mendekati gubuk itu dan suara orang-orang yang mengobrol semakin jelas, sesekali diiringi dengan gelak tawa dari mereka.
Di depan pintu gubuk itu ada dua orang yang tengah berjaga, keduanya memakai pakaian berwarna hitam. Perawakan mereka seperti orang-orang yang biasanya namun wajah mereka tertutup penutup kepala.
Jaka melompat ke atas gubuk itu, sempurna sekali gerakannya. Dirinya hinggap di atas gubuk tanpa mengeluarkan suara sedikitpun. Jaka membuka atap gubuk yang terbuat dari anyaman daun ilalang, kini Jaka bisa melihat sepuluh orang yang memakai pakaian yang sama dengan kedua penjaga. Tidak salah lagi, merekalah anggota Kelompok Jubah Hitam.
"Kau harus sabar.. kita ini hanya anak buah yang selalu bergerak ketika mendapat perintah dari pimpinan." jawab orang itu.
"Huh.. apa tugas kita hanya duduk diam menjaga bocah-bocah buduk itu?" ucapnya lagi seraya menoleh ke arah pojok gubuk.
Jaka yang menyaksikan itu ikut menoleh kepojokan. Di pojokan gubuk itu terdapat sebuah kerangkeng kayu yang di dalamnya terdapat belasan anak kecil. Usia anak-anak itu mungkin sekitar delapan sampai sepuluh tahun. Tubuh mereka sangat kurus seperti jarang mendapat makanan, raut wajah ketakutan tergambar jelas di wajah mereka. Di antara belasan anak kecil itu ada yang sedang merintih kesakitan.
Jaka menajamkan penglihatannya, kini Jaka bisa melihat seorang anak yang sedang merintih, tubuhnya penuh dengan luka cambukan. Bukan hanya dia seorang, namun juga di tubuh anak-anak lainnya.
Jaka menggeram marah lalu melompat turun menerobos atap gubuk. Orang-orang yang sedang melihat atap gubuknya jebol tak sanggup menghindar tatkala satu pukulan yang mengarah ke tubuh mereka dengan sangat cepat.
__ADS_1
Satu per satu tubuh mereka menghantam dinding gubuk dan terlempar keluar. Mereka mencoba bangkit dan mencari siapa yang berani menyerang mereka.
"Setan alas! Siapa kau?" teriak salah satu dari mereka seraya mengacungkan sebilah golok ke arah Jaka.
"Akulah sang malaikat maut." jawab Jaka seraya maju menyerang. Jaka tidak ingin banyak basa-basi kepada mereka, semakin cepat dirinya menghabisi mereka maka akan semakin baik.
Orang yang diserang tidak tinggal diam, dirinya berniat menyambut serangan Jaka namun belum sempat dirinya mengayunkan golok, tubuhnya kembali terpental keluar dengan dada ringsek. Orang itu bergerak-gerak sebentar lalu diam untuk selamanya.
Anggota yang lain lalu menyerang bersamaan, termasuk juga dua orang penjaga yang berada di pintu masuk. Jaka dihujani samberan-samberan golok yang sangat cepat, dirinya meliuk-liukan tubuhnya untuk menghindari serangan itu.
Ketika mendapat celah, Jaka menyerang balik dan berhasil melumpuhkan dua sampai tiga orang dalam sekali serang. Hanya dalam beberapa tarikan nafas, orang-orang itu kini telah rubuh tanpa nyawa. Jaka menyisakan satu orang untuk dikorek informasi yang penting.
Namun belum sempat Jaka menanyakan informasi satupun, orang itu seperti menggigit sesuatu dari mulutnya. Tidak lama wajahnya membiru dan orang itu pun mati dengan cepat.
"Racun.. " gumam Jaka. Dirinya tidak menyangka orang ini akan bertindak senekat itu. Memilih mati daripada membocorkan informasi kelompoknya.
Kondisi gubuk yang menjadi medan pertarungan nyaris tak berbentuk, atap dan dinding jebol di sana sini. Untungnya anak-anak yang berada di dalam kerangkeng tidak mendapat luka sebab ketika Jaka bertarung seraya melindungi mereka.
Jaka melepaskan ikatan kerangkeng dan mengeluarkan anak-anak itu. Mereka menatap Jaka dengan tatapan yang penuh arti. Tatapan itu menyiratkan ketakutan dan memohon perlindungan.
"Jangan takut.. kalian sudah bebas sekarang.." ucap Jaka menenangkan.
Anak-anak itu tidak ada yang menjawab, mereka hanya tertunduk layu. Lalu mereka mengikuti langkah Jaka keluar dari gubuk.
Setelah anak-anak berada cukup jauh dari gubuk, Jaka segera membakar gubuk itu. Api yang berwarna merah sejenak menerangi puncak Bukit Buah Batu yang gelap.
__ADS_1
Jaka menoleh ke kanan ketika merasa ada seseorang yang sedang mengawasinya. Di balik sebuah batu yang cukup besar, Jaka samar-samar melihat bayangan manusia.
"Hei.. siapa di sana?"