
Di pinggir sebuah hutan yang cukup lebat, terlihat seorang pemuda berjalan tertatih-tatih memasuki hutan. Di punggungnya terdapat lelaki paruh baya yang sedang dalam keadaan terluka parah. Pemuda itu akhirnya mampu memasuki hutan dengan susah payah dan segera beristirahat di bawah pohon yang cukup besar.
“Argh.. Ma’afkan aku telah menyusahkan mu.” ucap lelaki paruh baya itu, darah merah masih sedikit keluar dari bagian tubuhnya yang terluka.
“Paman jangan banyak bicara dulu. Tunggulah di sini, aku akan mencari obat-obatan di dalam hutan sana.” jawab pemuda itu seraya menunjuk ke dalam hutan.
Setelah berkata demikian, pemuda itu melangkahkan kakinya ke dalam hutan. Mencari tanaman yang bisa dijadikan obat dan sesuatu yang bisa dijadikan makanan.
Lelaki paruh baya memperhatikan punggung pemuda yang telah meninggalkannya, semakin lama punggung pemuda itu menghilang menyisakan titik putih. “Pemuda ini bukan pemuda biasa, pantas saja Yang Mulia Raja Angga memintaku untuk mencarinya.”
“Ini? Apa benar ini seruling pusaka? Tetapi aku tidak merasakan aliran energi seperti yang Jaka katakan.”
Lelaki paruh baya itu terus memutar-mutar seruling bambu itu, sesekali dirinya mencoba memainkan sebuah lagu namun tak kunjung berhasil.
“Apanya yang seruling pusaka, ini hanya seruling bambu biasa, huh..” ucapnya, lalu melemparkan seruling bambu itu ke semak-semak yang berada di dekatnya.
Tidak lama kemudian pemuda yang tadi meninggalkannya telah kembali dengan dua ayam hutan di tangan kirinya, sedangkan tangan kanannya memegang banyak sekali tumbuhan obat. Di pinggangnya juga terikat dua buah bumbung bambu berisi air.
“Paman Tantra Langit, tunggulah sebentar lagi. Aku akan meracik obat untukmu.”
Lelaki paruh baya yang dipanggil dengan nama Tantra Langit menyaksikan pemuda di hadapannya dengan seksama. Sesekali Tantra Langit menarik salah satu sudut bibirnya ke atas.
Tidak lama pemuda telah selesai meracik obat, ada yang sebagai obat oles luka luar dan juga harus ada yang diminum.
__ADS_1
Beberapa kali Tantra Langit meringis kepedihan saat luka nya dioleskan obat. Raut wajahnya persis sekali dengan anak kecil yang terluka, jauh dari wajah dingin yang selama ini telah dirinya tunjukkan.
“Jaka.. Terimakasih atas pertolonganmu.”
“Paman tidak perlu sungkan, sudah menjadi kewajiban kita untuk saling tolong menolong.”
Tantra Langit tersenyum, “Tidak salah Yang Mulia Raja mengangkatmu menjadi adik angkatnya, sifat kalian sungguh mirip sekali.”
“Oh iya.. Bagaimana dengan lukamu?” Tantra Langit teringat dengan luka dalam yang Jaka alami.
“Sudah lebih baik, paman. Ini semua berkat seruling pusaka itu.” jawab Jaka seraya menunjuk ke arah Tantra Langit.
Kedua mata Jaka bergerak ke sana kemari, seperti sedang mencari sesuatu. “Paman, bukankah kau sedang memegang seruling pusaka ku. Mengapa aku tidak melihatnya?”
“Astaga, paman. Bagaimana bisa kau membuang pusaka berharga ini.” ucap Jaka seraya mendekap seruling bambunya dengan sangat erat, lalu kembali duduk di dekat Tantra Langit.
“Aku sunguh tidak percaya jika itu seruling pusaka. Saat aku menyentuhnya, tidak ada aliran energi yang aku rasakan. Selain itu, setiap aku mencoba meniupnya, tidak ada suara apapun yang keluar. Ku pikir itu hanya seruling bambu biasa, jadi aku melemparkannya ke semak-semak.” Tantra Langit menjawab dengan sangat lancar, seperti tidak melakukan kesalahan apapun.
Jaka terheran-heran dengan jawaban Tantra Langit. Hal itu tidak sesuai dengan apa yang dirinya rasakan. "Apakah seruling itu tidak lagi menjadi seruling pusaka?" pikirnya.
Jaka yang penasaran lalu memegang seruling bambunya dengan erat, tidak lama Jaka merasakan ada aliran energi yang mengalir ke tubuhnya. Setelah itu, Jaka mendekatkan seruling bambu itu ke bibirnya. Perlahan tapi pasti, alunan irama merdu menggema di dalam hutan itu.
“Apa paman mendengarnya?” tanya Jaka kepada Tantra Langit seraya menyunggingkan senyum terindahnya.
__ADS_1
Tantra Langit masih terpesona dengan alunan seruling yang Jaka mainkan, sehingga tidak mendengar pertanyaan Jaka dengan baik.
“Paman?” Jaka menggoyangkan tubuh Tantra Langit.
Tantra Langit terkejut, lalu menjawab pertanyaan Jaka dengan tergagap. Tantra Langit kemudian menjelaskan bahwa ada kemungkinan seruling bambu milik Jaka bukanlah seruling biasa.
Seruling ini merupakan pusaka yang memilih tuannya sendiri. Tidak sembarang orang bisa mengguakan seruling pusaka itu kecuali tuannya, termasuk Tantra Langit.
“Kau harus bersyukur, seruling ini memilih dirimu.”
Jaka menjelaskan bahwa dirinya belum bisa memaksimalkan kekuatan seruling pusaka miliknya. Sejauh ini, Jaka baru memanfaatkan kekuatan seruling itu untuk memulihkan tenaga dalamnya yang hilang.
Selain itu, dirinya juga baru memanfaatkan seruling itu untuk menghibur dirinya dan orang-orang sekitar. Untuk kekuatan lainnya, Jaka belum memahaminya dengan baik.
“Apa kau mempunyai petunjuk cara menggunakan seruling itu?” tanya Tantra Langit.
Jaka merogoh saku jubahnya dan mengambil sebuah gulungan kecil lalu memberikannya kepada Tantra Langit.
Tantra Langit memperhatikan gulungan kecil itu, lalu membolak-balikkannya. Tantra Langit bisa melihat tulisan kecil di gulungan itu, namun dirinya masih mencari sesuatu yang lain.
Tantra Langit kemudian mengembalikan gulungan itu kembali kepada Jaka. “Kita tunggu malam tiba, aku akan menunjukkan sesuatu kepada mu.”
‘‘Sesuatu apa paman?” tanya Jaka penasaran.
__ADS_1
“Rahasia.”