Pendekar Seruling Bambu

Pendekar Seruling Bambu
Chapter 64. Kembalinya Tanah Matraman


__ADS_3

Seiring dengan kegagalan penyerangan yang dilakukan oleh Matraman Utara, secara tidak langsung membuat pamor dan pengaruh kerajaan itu pudar dengan sendirinya. Kerajaan-kerajaan kecil mulai berani memisahkan diri dan menghentikan segala kewajiban yang selama ini mereka jalankan.


Terlebih lagi setelah aksi pembalasan yang dilancarkan oleh Matraman Barat berhasil menaklukan sisa-sisa kekuatan dari Matraman Utara. Serangan itu bahkan mampu mendesak pimpinan kerajaan melarikan diri ke persembunyian. Secara perlahan, nama Kerajaan Matraman Utara hilang dari tanah Matraman.


Kemenangan yang diraih oleh Matraman Barat disambut gembira oleh seluruh pihak, termasuk juga dari kalangan rimba persilatan. Pada dasarnya mereka memang menyukai tentang bagaimana Raja Angga memerintah di wilayah mereka.


Mulai hari itu, tanah Matraman kembali bersatu di bawah panji yang sama. Raja Angga menyusun kembali tatanan Kerajaan Matraman agar kembali berjaya. Semua yang berada di wilayah itu harus tunduk pada satu perintah yakni perintah dari Kerajaan Matraman. Tidak ada lagi kerajaan-kerajaan kecil yang muncul, semua kerajaan kecil itu harus berganti statusnya menjadi sebuah kadipaten yang dipimpin oleh seorang adipati.


Begitupun halnya dengan Kerajaan Matraman Selatan, meskipun mereka mendapat hak istimewa sebab telah bersedia mengulurkan bantuan demi mengalahkan Matraman Utara. Raja Sukanda dengan senang hati meleburkan diri kembali di bawah kendali Kerajaan Matraman. Kini, wilayah mereka bernama Kadipaten Kandariyan dan dirinya menjabat sebagai adipati.


 


Untuk melindungi keamanan Kerajaan Matraman serta dalam upaya menghindari serangan balasan di kemudian hari, Raja Angga mengirim utusan kepada perguruan ataupun padepokan aliran putih serta netral yang ada di seluruh wilayah Matraman.


Tujuan dari utusan itu hanya satu yaitu mengajak perguruan ataupun padepokan untuk berkerja sama, saling memberi bantuan apabila salah satu dari mereka ada yang membutuhkan.


 


Laksana gayung bersambut, keinginan Raja Angga pun diamini oleh hampir seluruh perguruan/padepokan yang dituju. Perguruan ataupun padepokan itu tidak menampik bahwa mereka pun membutuhkan bantuan dari pihak kerajaan untuk mengembangkan perguruan/padepokan mereka.


Akhirnya, satu per satu utusan dari masing-masing perguruan/padepokan setuju datang ke istana guna memenuhi

__ADS_1


undangan dari Raja Angga. Mereka semua menyambut baik undangan itu dan tidak sabar, hal apakah kiranya yang akan mereka dapatkan di kemudian hari.


Pagi hari itu, di lingkungan istana penuh dengan prajurit yang tengah berjaga. Rencananya, hari ini adalah hari


dimana Raja Angga akan mengumpulkan seluruh perwakilan perguruan dari kelompok aliran putih dan netral.


 


Perguruan yang pertama kali datang adalah Perguruan Bambu Runcing. Perguruan ini termasuk ke dalam perguruan aliran putih yang baru muncul di rimba persilatan, sehingga mereka masih berupaya mencari relasi seluas-luasnya.


Utusan dari Perguruan Bambu Runcing adalah ketuanya langsung yang bernama Ki Pringawu. Usia Ki Pringawu ini mungkin sekitar 60an tahun dengan perawakannya yang kurus tinggi. Rambutnya yang mulai memutih ditutupi dengan kain yang dibalut di kepalanya. Wajahnya yang tua menampakkan beberapa kerutan serta janggut di bawah dagu yang dibiarkan memanjang.


Sembari menunggu kedatangan utusan yang lain, utusan dari Perguruan Bambu Runcing ini kemudian diarahkan oleh beberapa prajurit untuk menunggu di pendopo istana. Tidak lupa pula prajurit itu menyiapkan beberapa jamuan ringan untuk sekedar mengganjal perut.


 


Ki Birawa yang merupakan ketua dari Perguruan Gagak Hitam juga memutuskan untuk datang langsung ke istana.


 “Wah... wah... wah... Rupanya sudah ada yang datang lebih dulu daripada aku?” ucap Ki Birawa seraya kedua matanya menoleh ke arah Ki Pringawu.


 

__ADS_1


Ki Pringawu bangkit dari duduknya dan mempersilahkan Ki Birawa untuk bergabung, “Akupun belum lama tiba Ki, silahkan duduk...” jawab Ki Pringawu seraya mengembangkan kedua sudut bibirnya.


 


“Hm.. tidak kuduga Raja Angga bahkan mengundang perguruan kecil mu yang baru seumur jagung ini. Apa yang sebenarnya Raja Angga pikirkan?” ucap Ki Birawa lalu tertawa mengejek.


Meskipun ada nada-nada merendahkan yang keluar dari mulut ketua Perguruan Gagak Hitam, Ki Pringawu tidak ingin menanggapi lebih lanjut, dirinya telah cukup mengerti bagaimana sifat dari ketua Perguruan Gagak Hitam itu. Jika perdebatan kecil itu dilanjutkan, tidak mustahil akan menjadi masalah yang besar, begitu pikirnya.


Di rimba persilatan tanah Matraman, nama Perguruan Gagak Hitam cukup terkenal. Terkadang perguruan mereka terlibat dalam pertempuran yang tidak perlu, sekedar ingin mencari perhatian perguruan yang lain. Tidak jarang juga mereka membunuh orang-orang yang dianggap berbeda paham dengan mereka.


 


Ki Pringawu hanya menggelengkan pelan kepalanya ketika teringat betapa kejam para pendekar dari Perguruan Gagak Hitam dalam membunuh lawan-lawannya.


“Bagaimana bisa mereka disebut sebagai kelompok aliran netral?” batinnya.


 


Tidak lama telah muncul satu persatu utusan dari masing-masing perguruan dati tingkat kecil hingga menengah, hingga membuat pendopo istana itu penuh dengan para pendekar. Namun hingga siang hari, belum ada satupun perwakilan dari empat perguruan besar yang muncul.


 

__ADS_1


“Apa yang terjadi? Apakah mereka tidak bersedia mengirimkan satupun utusan?”


__ADS_2