
"Kakang Tejo, berjanjilah kepadaku bahwa kau akan tetap hidup. Aku akan pergi menyelamatkan anakmu. Berjanjilah..." Teriak Seno Alam lalu bergegas pergi tanpa menunggu jawaban dari Tejo Alam.
Seno Alam bergegas pergi yang kemudian diikuti oleh tiga orang anak buah Supala.
Di malam yang diterangi sinar bulan, Seno Alam berlari sekencang yang dia bisa. Dengan ilmu meringankan tubuh yang dikuasainya. Seno Alam cukup yakin mampu menjaga jarak yang cukup jauh dari orang-orang yang mengejarnya.
Seno Alam terus berlari merobos masuk ke dalam hutan yang agak gelap, sinar - sinar bulan sedikit menerangi arah laju larinya.
Yang tidak Seno Alam ketahui adalah bahwa ketiga orang yang mengejarnya juga mengusai ilmu meringankan tubuh yang cukup tinggi, jadi jarak di antara mereka tidak terlalu jauh bahkan semakin lama semakin dekat.
Hingga di suatu tempat yang cukup lapang, ketiga orang tersebut berhasil mengejar Seno Alam.
"Ha.. Ha.. Ha.. Mau pergi kemana kau Seno Alam. Menyerah sajalah, kau tidak akan bisa lari dari kami." Ucap salah seorang yang mengejar Seno Alam.
Seno Alam panik, dirinya tidak menyangka akan terkejar secepat ini. Dirinya mencoba mencari jalan keluar namun nihil, semua peluang baginya untuk melarikan diri telah ditutup oleh ke tiga orang tersebut.
Seno Alam cukup prustasi, dirinya tidak yakin bisa menang melawan ketiga orang yang mampu menandingi kecepatan larinya. Apalagi Seno Alam harus bertarung sambil memastikan bayi yang ada dalam gendongannya agar tidak terkena serangan lawan.
Seno Alam kemudian menatap bayi yang ada dalam gendongannya, jika dirinya tidak bisa menyelamatkan diri maka bayi itu juga akan menjadi korban. Maka, janji yang telah dirinya ucapkan kepada kakak kandungnya tidak bisa dia tepati.
Di tengah pikirannya yang sedang berkecamuk, Seno Alam sedikit terheran terhadap bayi yang digendongnya. Bayi itu tetap tenang dan tidak pernah menangis sejak dilahirkan. Bahkan sesekali tersenyum saat Seno Alam menatapnya.
"Bayi ini... " Raut wajah Seno Alam sedikit mengerenyit ketika menatap bayi tersebut.
Entah mengapa sepertinya Seno Alam mendapatkan keberanian untuk bertarung setelah menatap bayi tersebut.
Seno Alam menarik pedang yang terselip di pinggangnya, kemudian langsung menyerang ke arah lawannya yang memiliki tubuh paling kurus. Menurutnya, lawannya yang ini memiliki pertahanan yang tidak cukup bagus.
Lawan yang tiba-tiba mendapat serangan itu tidak cukup siap, meskipun sempat mencoba menahan serangan Seno Alam dengan pedangnya tetap saja dirinya mendapat luka yang cukup serius di bagian pundaknya.
Lawannya itu mundur beberapa tombak ke belakang, "Sialan..." Pekik orang tersebut sambil menahan sakit akibat luka yang diterimanya.
__ADS_1
Seno Alam kembali menyerang lawannya, dia berniat tidak ingin memberikan kesempatan kepada lawannya untuk mengatur nafas.
Dalam pertukaran serangan yang kedua, Lagi-lagi Seno Alam berhasil mengenai lawannya dengan cukup telak.
Lawannya yang terkena serangan itu kemudian mundur beberapa tombak ke belakang, lalu melihat ke arah rekan-rekannya.
"Kalian kenapa diam saja?" Ucapnya kesal ketika kedua temannya hanya melihat tanpa niat ada yang membantu.
Kedua temannya bukannya tidak ingin membantu, mereka juga tidak menyangka Seno Alam akan menyerang mereka secepat itu.
Meskipun malam itu diterangi sinar bulan, tetap saja sulit melihat serangan lawan di malam hari. Apalagi Seno Alam sedang menggendong seorang bayi.
Ketiganya saling menatap lalu mengangguk bersamaan. Dalam beberapa helaan nafas, ketiganya menyerang Seno Alam bersama-sama.
Mereka tidak lagi ingin memberikan kesempatan Seno Alam untuk menyerang mereka. Walaupun Seno Alam sedang menggendong seorang bayi, mereka tidak ingin mengambil resiko dan ingin menyelesaikan pertarungan secepat yang mereka bisa.
Seno Alam tentu saja kewalahan meladeni serangan dari ketiga orang lawannya tersebut. Baru sampai beberapa jurus, luka sudah mulai menampakan diri di tubuh Seno Alam.
Namun Seno Alam tidak ingin menyerah begitu saja, dengan pedang di tangan Seno Alam kembali meladeni ketiga lawannya sambil memastikan keselamatan bayi yang berada di gendongannya.
Pertarungan mereka jelas sekali tidak berimbang, dalam beberapa jurus ke depan Seno Alam kembali terdesak.
Salah seorang lawan berhasil menendang bagian perut Seno Alam yang membuatnya termundur beberapa langkah ke belakang, sialnya lawan yang lainnya sudah menunggu di belakang untuk memberikan serangan tambahan.
Lawan yang di belakang juga memberikan serangan tendangan ke arah punggung Seno Alam sehingga membuat Seno Alam kembali termental ke arah depan dan jatuh tersungkur.
Naas, bayi yang selama ini berada di dekapan Seno Alam lepas dari dekapannya dan jatuh ke semak-semak.
Seno Alam berniat bangun untuk menyelamatkan bayi tersebut, namun sebelum dirinya bangun sudah ada kaki yang menginjak kepalanya ke tanah.
"Diam... " Bentak orang tersebut yang tidak lain adalah lawannya yang paling kurus, lawan yang pertama kali diserang oleh Seno Alam.
__ADS_1
Seno Alam mencoba bangkit namun tidak berhasil, tenaga yang dimilikinya sudah tidak lagi cukup.
"Kau harus membayar mahal karena sudah berani melukaiku." Ucap lawannya seraya menusukkan ujung pedangnya ke bagian lengan atas Seno Alam.
Seno Alam menjerit kesakitan, jeritannya semakin menjadi-jadi seiring banyaknya luka tusukan yang dia terima. Kedua lengan Seno Alam sudah tidak bisa lagi bergerak akibat luka yang dia terima.
Jika Seno Alam menjerit kesakitan, tidak halnya dengan lawan-lawannya. Mereka bersorak kegirangan melihat Seno Alam yang sudah tidak berdaya.
Tawa mereka baru berhenti ketika salah seorang dari mereka mengangkat tangannya tanda berhenti.
"Saudaraku, sudah cukup bersenang-senangnya. Kita harus bergegas, Kakang Supala pasti sudah menunggu kita." Ucap salah seorang dari mereka mengingatkan.
Mereka semua setuju lalu lawan yang sedari tadi menindas Seno Alam, mengangkat pedangnya seraya berucap, "Aku sebenarnya belum puas bermain denganmu namun aku harus mengakhiri ini dengan segera, sebaiknya kau berterimakasih kepadaku Seno Alam."
Seno Alam bukannya berterimakasih malah meludah ke arah lawannya yang membuat lawannya berang dan seketika memberikan tebasan ke arah leher Seno Alam.
Dengan demikian, suara Seno Alam yang sudah lama merintih kesakitan hilang dengan sekejap.
Seno Alam mati.
Setelah kematian Seno Alam, ketiga lawannya kemudian memeriksa semak-semak sekitar mencari letak jatuhnya bayi yang sedari tadi dilindungi Seno Alam.
"Saudaraku, di sini... " Ucap salah seorang ketika menemukan bayi yang mereka cari.
"Cepat bunuh bayi itu!" Ucap seorang yang lain
"Tunggu dulu, apa kalian tidak merasakan keanehan. Selama kita mengejar Seno Alam sampai sekarang, kita tidak pernah mendengar bayi itu menangis. Bahkan sekarang lihatlah, dia seakan-akan tersenyum kepada kita." Ucap lainnya lagi.
"Sudah sudah, tugas kita adalah membunuh bayi ini. Terlepas bayi itu aneh atau tidak, persetan. Minggir kalian, aku akan membunuhnya." Ucap orang yang pertama kali menemukan bayi tersebut seraya mengangkat pedangnya.
Ketika pedang itu sedetik lagi akan mengenai tubuh sang bayi, tiba-tiba pedang itu terpental dan jatuh tidak jauh dari tubuh sang bayi.
__ADS_1
"Siapa di sana?"