
Akibat serangan mendadak yang dilakukan oleh pasukan kecil yang dipimpin Senopati Bagas Aji, pasukan Kerajaan Matraman Utara kehilangan hampir seribu prajuritnya. Hal ini menjadi pukulan yang sangat keras karena serangan mendadak itu hanya dilakukan oleh empat puluh orang saja.
Keesokan harinya pasukan Kerajaan Matraman Utara tengah bersiap, mereka memajukan waktu penyerangan menjadi lebih awal akibat serangan yang mereka terima. Hari ini, mungkin akan menjadi awal peperangan yang sangat besar.
“Apakah pasukan sudah siap, senopati?” tanya Mahapatih Argadana.
“Seluruh pasukan telah siap, Gusti. Kami menunggu titah dari Gusti Patih.” jawab Senopati Surya Wisesa.
“Baiklah. Berangkatkan pasukan, kau yang memimpin di barisan depan.”
“Sendika, Gusti Patih.”
Pasukan Kerajaan Matraman Utara bergerak beriringan menuju perbatasan, mereka mulai memasuki hutan yang telah menjadi tempat pembantaian bagi hampir seribu rekan-rekannya.
Beberapa prajurit merasa bergidik tubuhnya ketika menyaksikan mayat-mayat bergelimpangan. Banyak dari mayat itu tubuhnya tidak lagi lengkap, ada yang mayatnya tanpa kepala, dan sebagian juga banyak yang kehilangan tangan dan kakinya.
Ada sedikit rasa takut bagi mereka untuk melanjutkan perjalanan, namun menghentikan perjalanan juga bukan merupakan pilihan yang bijak. Mereka bisa saja mati pada saat itu juga. Mungkin melanjutkan perjalanan adalah pilihan yang cukup baik saat ini, setidaknya masih ada harapan untuk hidup, begitulah pikir mereka.
Di hutan itu masih ada banyak jebakan yang terpasang, namun tidak begitu berhasil memakan korban. Beberapa jebakan berhasil ditangani dengan baik oleh pasukan pembuka jalan. Pasukan ini bertugas membuka jalan bagi pasukan besar di belakangnya agar tidak mengalami halangan yang berarti.
Setelah berjalan cukup lama, pasukan Kerajaan Matraman Utara telah tiba di pintu gerbang perbatasan wilayah Kerajaan Matraman Barat. Pintu gerbang itu cukup kokoh jika dilihat dari luar. Pintu gerbang itu diapit oleh tembok yang memanjang sampai jauh, tingginya sekitar tiga meter dari permukaan tanah. Keadaan di sekitar gerbang perbatasan begitu sunyi. Sepi.
“Berhenti!!!”
Senopati Surya Wisesa menurunkan tangan kanannya yang terangkat ke atas, kedua matanya yang tajam memperhatikan keadaan sekitar. Dirinya cukup menaruh curiga dengan kesunyian yang terjadi di sekitarnya, “Akankah ini jebakan yang berikutnya?”
Senopati Surya Wisesa memberikan isyarat kepada pasukan pembuka jalan agar memeriksa keadaan. Hampir lima puluhan orang bergerak ke depan mendekati pintu gerbang itu, sedikit ragu memang namun mereka tidak punya pilihan yang lain.
__ADS_1
Setelah jarak pasukan pembuka jalan hanya sekitar satu tombak dari pintu gerbang, puluhan anak panah dengan cepat menghujani mereka. Pasukan pembuka jalan itu tidak sempat bereaksi dengan baik, akhirnya pasukan itu rubuh dengan beberapa anak panah tertancap di tubuh mereka.
Tidak lama, muncul ratusan prajurit Kerajaan Matraman Barat dari balik tembok itu. Mereka menyunggingkan senyum di wajahnya, berniat sedikit mengejek lawannya.
“Setan!"
“Serang!!!
“Habisi mereka!”
Dengan segera pasukan yang dipimpin Senopati Surya Wisesa maju menyerang. Pasukan yang berada di balik tembok tidak tinggal diam, mereka menyambut serangan itu dengan sangat baik. Akhirnya bentrokan antar kedua pasukan pun pecah.
Suara denting senjata beradu menggema di wilayah perbatasan. Tembok yang semula kokoh kini mulai runtuh di beberapa bagian. Cairan merah mulai membanjiri tanah, membasahi daun-daun kering.
“Tring.. tring.. trang.. trang..”
“Habisi mereka!”
Suara-suara penyemangat dari pemimpin pasukan mengiang di telinga setiap prajurit, setidaknya itu bisa menjadi pelecut semangat meskipun luka-luka mulai menghiasi tubuh mereka. Setidaknya, para prajurit itu mati membawa serta lawannya.
Senopati Surya Wisesa bertarung dengan gagah, permainan pedangnya sungguh ciamik. Dirinya melompat kesana kemari mencari musuh, kini pedangnya yang berwarna putih mulai berubah menjadi merah.
Senopati Surya Wisesa berhasil memasuki area tembok perbatasan, kini dirinya bisa melihat lebih banyak prajurit dari pihak lawan, jumlahnya sekitar puluhan ribu. Namun senopati itu masih tetap tenang sebab jumlah pasukan yang dia bawa melebihi pasukan lawannya.
“Aku pastikan Matraman Barat akan rata dengan tanah.. hahaha...”
“Jangan mimpi terlalu tinggi, wahai Senopati Surya Wisesa.”
__ADS_1
Senopati Surya Wisesa melirik ke arah sumber suara, lalu menarik sudut bibirnya untuk membentuk sebuah senyuman.
“Oh? Senopati Bagas Aji rupanya. Kita bertemu lagi. Aku masih punya urusan dengan mu.”
Senopati Bagas Aji menjawab perkataan lawannya dengan senyuman pula. “Ah.. aku baru ingat. Apakah ini tentang pasukan mu yang kemarin malam?”
“Setan! Serahkan nyawa mu!”
Senopati Surya Wisesa dengan cepat menyerang lawannya, pedangnya yang tajam mulai menari-nari mencari sasaran. Namun kali ini lawannya bukanlah lawan yang mudah untuk dirinya hadapi, kemampuan di antara mereka mungkin setara saat ini.
Senopati Bagas Aji masih melayani lawannya dengan tangan kosong, namun semakin lama serangan pihak lawan semakin ganas. Serangan ini memaksa dirinya untuk menarik pedang dari sarungnya.
“Tring..”
Kedua pedang saling beradu, kedua tangan yang memegang pedang saling menekan satu sama lain. Tidak ada yang bergeser, hal ini menandakan tenaga dalam keduanya hampir berimbang.
Setelah selesai beradu tenaga dalam, keduanya kembali bertarung dalam permainan pedang. Serangan Senopati Surya Wisesa beberapa kali berhasil menyulitkan Senopati Bagas Aji, namun serangan itu tidak sampai melukai lawannya.
“Jaga dengan baik kepala mu.”
Usai berkata demikian, Senopati Surya Wisesa kembali mengeluarkan jurus-jurusnya. Kali ini serangannya selalu mengarah ke kepala lawan, begitu cepat serangan itu hingga sedikit lagi berhasil menyentuh kepala lawannya.
Di saat yang menegangkan itu, Senopati Bagas Aji tersenyum ke arah Surya Wisesa. Senyuman itu penuh makna. “Apa yang sedang dirinya rencanakan?”
“Argh..” pedang Senopati Surya Wisesa berhasil menebas kepala lawannya.
“Kenapa?”
__ADS_1
“Bagaimana bisa?”