Pendekar Seruling Bambu

Pendekar Seruling Bambu
Chapter 5


__ADS_3

Suara pertarungan antara Seno Alam dan tiga orang anak buah Supala menimbulkan suara yang cukup keras hingga terdengar sampai jauh.


Suara pertarungan mereka menarik perhatian seorang lelaki tua yang sedang beristirahat di bawah pohon. Di samping lelaki tua itu terdapat api unggun berukuran kecil yang hampir padam.


Lelaki tua itu sebenarnya sudah tertidur namun pendengarannya yang tajam menangkap suara senjata berdenting terus menerus sehingga lelaki tua itu terbangun dari tidurnya.


"Hmph... Suara pertarungan di tengah malam seperti ini? Siapa mereka?" Gumam lelaki tua itu.


Demi memuaskan rasa penasarannya, lelaki tua itu pergi ke arah sumber suara. Hanya dalam beberapa tarikan nafas lelaki tua itu sudah tiba di lokasi pertarungan.


Setibanya di lokasi pertarungan, dirinya menyaksikan tiga orang dewasa hendak membunuh bayi mungil yang tengah terjerembab di tengah semak-semak.


Tidak jauh dari mereka, tampak seorang laki-laki muda yang tergeletak tak bergerak. Lelaki tua itu menyadari bahwa lelaki muda itu sudah kehilangan nyawanya.


Tanpa pikir panjang, lelaki tua itu merunduk untuk mengambil beberapa kerikil kecil dan salah satunya langsung diarahkan ke salah satu tangan dari tiga orang yang hendak mengayunkan pedang.


Meskipun hanya kerikil kecil, tapi cukup untuk membuat sebuah pedang terlepas dari genggaman tangan yang memegangnya.


"Akh..." Pekik orang yang memegang pedang tersebut. Matanya menoleh kesana kemari mencari orang yang menyerangnya.


"Siapa di sana?"


"Keluarlah!"


Ke tiga orang itu melihat seorang lelaki tua melompat turun dari atas dahan pohon dan mereka terkejut ketika menyadari bahwa dalam sekejap saja lelaki tua itu sekarang telah berada di hadapan mereka.


Lelaki tua itu tidak mengindahkan mereka bertiga, dirinya justru meraih bayi yang tengah terjerembab di semak-semak ke dalam gendongannya.


Lelaki tua itu menaikkan sebelah alisnya ketika hendak menyelamatkan sang bayi. Dirinya terkejut ketika mendapati kenyataan bahwa bayi itu tidak menangis sedikitpun. Justru yang dilihatnya adalah bayi itu tersenyum ke arah dirinya.

__ADS_1


"Bayi ini sungguh di luar kebiasaan, tidak menangis sedikitpun bahkan bayi ini masih bisa tersenyum." Gumam lelaki tua itu.


Lelaki tua itu kemudian menyentuh kening sang bayi dan lagi - lagi lelaki tua itu terkejut bukan main.


"Anak ini memiliki kualitas tulang yang sangat bagus. Aku belum pernah mendengar ada orang yang dilahirkan dengan kualitas tulang setinggi ini. Kelak, jika bayi ini dididik dengan baik maka akan menjadi pendekar yang tak terkalahkan. Jika dia berada di aliran putih, maka dia akan menjadi pendekar yang menegakkan kebenaran. Dan jika berada di aliran hitam, bayi ini akan membawa mala petaka yang tak terhitung jumlahnya." Ucap lelaki tua dalam pikirannya.


"Aku sungguh datang tepat waktu, jika telat sedikit saja maka sungguh sangat disayangkan. Bakat sepertinya sungguh langka dalam ratusan tahun terakhir."


Lelaki tua itu sibuk dengan pikirannya sendiri, lelaki tua itu sungguh tidak menganggap tiga orang di depannya sebagai ancaman.


Tiga orang itu jika sedikit kesal, lelaki tua itu sungguh tidak menggangap mereka ada.


"Si.. Siapa kau orang tua? Serahkan bayi itu pada kami?" Ucap salah satu dari mereka.


Lelaki tua itu memandangi mereka bertiga, lelaki tua itu sadar bahwa ketiganya hanya memiliki kemampuan setingkat pendekar kelas dua. Lelaki tua itu mampu membunuh ketiganya hanya dengan mengibaskan tangannya.


"Jika kalian masih menyayangi nyawa yang ada di badan, maka pergilah! Jangan usik bayi ini." Ucap lelaki tua itu pelan namun sorot matanya memberikan tatapan tajam seakan-akan siap untuk menelan mereka bertiga hidup-hidup.


Bukannya pergi, ketiga orang itu justru mengepung lelaki tua itu seraya mengacungkan senjata - senjata mereka.


Dibandingkan lelaki tua itu, mereka bertiga lebih takut jika tidak bisa menyelesaikan tugas yang diberikan Supala kepada mereka.


Jika mereka gagal, mereka sudah membayangkan siksaan seperti apa yang akan mereka terima. Mereka akan disiksa dengan sangat kejam, mereka bahkan lebih memilih mati daripada menerima siksaan dari Supala.


"Lelaki tua, mohon jangan persulit kami. Kami hanya menjalankan perintah, serahkan bayi itu pada kami!" Pinta salah satu dari mereka dengan nada bicara yang agak gemetar.


"Hmph... Kalian lebih memilih mati rupanya."


Tanpa menunjukkan aba-aba, sisa kerikil yang masih di tangan lelaki tua itu segera melayang menembus kepala mereka bertiga.

__ADS_1


Ketiganya roboh kehilangan nyawa tanpa tau sebab musababnya.


Lelaki tua itu kemudian berjalan ke arah tubuh Seno Alam. Lelaki tua itu berharap mendapatkan sedikit petunjuk tentang bayi yang sekarang berada di gendongannya.


Namun setelah menggeledah pakaian Seno Alam, lelaki tua itu tidak menemukan petunjuk yang berarti.


"Bayi ini... Aku tidak tau dia keturunan siapa. Lelaki ini sepertinya masih terlalu muda untuk menjadi seorang ayah." Gumamnya.


"Aku harus segera mengamankan bayi ini, bisa jadi masih ada orang yang akan mengejar sampai kemari."


Akhirnya, lelaki tua itu memutuskan untuk membawa bayi itu pulang bersamanya kembali ke perguruan.


***


Setelah menyelesaikan pertarungannya dengan Tejo Alam, serta berhasil membalaskan dendam mendiang adiknya, Supala lalu teringat akan tiga orang anggotanya yang sedang mengejar Seno Alam yang membawa lari bayi kecil dalam gendongannya. Dengan satu isyarat, Supala dan bawahannya pergi menuju perginya Seno Alam.


Tidak begitu lama bagi Supala untuk menyusul ketiga orang anak buahnya. Namun, bukannya mendapati kabar baik, justru Supala dan anak buahnya yang tersisa mendapat kejutan tak terduga.


Supala menyaksikan ketiga orang anak buahnya yang mendapat perintah untuk mengejar Seno Alam sudah terbaring tak bernyawa.


Tidak jauh dari mayat mereka bertiga, tergelatak juga mayat Seno Alam. Namun anehnya, Supala tidak menemukan tanda-tanda keberadaan bayi kecil yang semula berada dalam gendongannya Seno Alam.


"Kemana perginya bayi kecil itu?"


Supala kemudian memeriksa tubuh ketiga mayat anak buahnya, Supala mendapati ketiganya mati dengan lubang kecil yang terdapat di kepala mereka.


"Bekas luka ini menandakan mereka tewas dalam satu serangan. Orang yang mampu melakukan hal ini sudah dipastikan kemampuannya merupakan pendekar tingkat tinggi. Siapa pendekar yang tiba-tiba muncul di tengah malam seperti ini?" Gumam Supala.


Supala tidak bisa menemukan jawaban di kepalanya. Desa tempat mereka tinggal sebenarnya lokasinya jauh dari keberadaan perguruan dunia persilatan. Jadi menurutnya, kecil kemungkinan ada campur tangan dari pendekar - pendekar dunia persilatan yang diketahuinya.

__ADS_1


Setelah berpikir cukup keras, Supala tetap tidak bisa menemukan jawabannya.


Supala lalu mengajak sisa-sisa anak buahnya pergi meninggalkan mayat - mayat yang sudah tergeletak tersebut.


__ADS_2