
Dahulu kala, rimba persilatan Nusantara pernah dikejutkan dengan munculnya seorang pendekar yang kekuatan dan kesaktiannya tidak ada satu pun yang mampu mengalahkannya.
Kemunculan pendekar tersebut tidak lama setelah adanya kabar angin yang menyebutkan bahwa Kitab Dewa Naga yang telah hilang selama puluhan atau bahkan ratusan tahun kembali muncul di kalangan rimba persilatan Nusantara.
Kitab Dewa Naga adalah salah satu kitab ilmu bela diri terbaik yang pernah ada. Konon, di seluruh belahan dunia, Kitab Dewa Naga ini termasuk ke dalam Empat Kitab Tanpa Tanding.
Tidak ada yang tau pasti, nama dari ketiga kitab yang tersisa. Namun satu hal yang pasti, siapapun yang mempelajari salah satu dari Empat Kitab Tanpa Tanding tersebut, sudah bisa dipastikan orang tersebut akan menjadi tokoh nomor satu di seluruh rimba persilatan.
Dengan kemunculan Pendekar Tanpa Tanding tersebut, seluruh kalangan rimba persilatan, baik aliran putih, aliran netral, maupun aliran hitam semuanya bertekuk lutut ketika berhadapannya dengannya.
Hal ini berlangsung selama puluhan tahun, tidak ada seorang pun yang berani mencari perkara dengannya. Pendekar Tanpa Tanding tersebut benar-benar menjadi momok bagi kaum rimba persilatan.
Hingga suatu ketika, rimba persilatan kembali digegerkan oleh Pendekar Tanpa Tanding tersebut. Namun kali ini bukan karena sepak terjangnya yang brutal, melainkan tersiar kabar bahwa Pendekar Tanpa Tanding tersebut akan menarik diri dari dunia persilatan Nusantara.
Sebelum undur diri, Pendekar Tanpa Tanding memberikan beberapa informasi yang menggegerkan rimba persilatan.
"Legenda tentang Kitab Dewa Naga benar adanya. Aku adalah contoh yang nyata."
"Barang siapa yang menginginkannya, carilah di suatu tempat yang sunyi."
Begitulah pesan terakhir dari Pendekar Tanpa Tanding tersebut sebelum dirinya benar-benar menghilang dari rimba persilatan.
***
Suatu malam di sebuah rumah yang terletak di pinggiran desa terpencil terdengar suara erangan wanita muda yang sedang menahan sakit. Terdengar juga suara perempuan tua yang sedang menemani wanita tersebut.
"Ayo Nduk tarik nafas, terus hembuskan, dorong. Ayo coba sekali lagi." Ucap perempuan tua itu sembari memperhatikan ruang di antara dua kaki wanita muda tersebut.
Suara perempuan tua tersebut terdengar berulang kali, diselingi rintihan wanita muda yang sedang berusaha melahirkan bayi yang ada di dalam kandungannya.
Sementara itu, di luar kamar tampak seorang laki-laki yang mondar mandir sambil sesekali memperhatikan pintu kamar istrinya.
__ADS_1
Laki-laki itu terus berharap agar istrinya bisa melahirkan bayinya dengan selamat tanpa kurang suatu apapun.
Lelaki itu kemudian mengintip keluar rumah melalui jendela rumahnya, memandang langit malam. Hatinya sedikit tidak tenang mengingat malam itu sedang terjadi gerhana bulan. Ditambah lagi terdengar sayup sayup lolongan sang penguasa malam.
Konon, jika ada wanita muda yang melahirkan bayinya saat terjadinya gerhana bulan, hanya akan terjadi dua kemungkinan.
Kemungkinan pertama, bayi tersebut akan meninggal begitu juga dengan ibunya. Kemungkinan kedua, bayi itu bisa saja lahir dengan selamat namun bayi tersebut diramalkan akan membawa bencana yang besar bagi dunia manusia.
"Kakang Tejo, tenanglah. Aku yakin anakmu akan lahir dengan selamat. Begitu juga dengan istrimu. Semua akan baik-baik saja." Ucap lelaki yang lain yang duduk bersandar di kursi kayu, namanya Seno Alam. Dirinya sungguh bosan melihat tingkah cemas kakak kandungnya tersebut.
"Bagaimana aku tidak cemas. Ba.. Bagaimana jika anakku dan istriku tidak selamat. Kau tidak mengerti perasaanku. Anakku adalah harapanku satu-satunya saat ini." Sanggah lelaki tersebut yang dikenal dengan Tejo Alam.
"Belum lagi aku khawatir, bagaimana jika Supala datang saat ini? Aku sungguh menghawatirkan keselamatan istri dan calon anakku." Ucap Tejo Alam.
Seno Alam sangat mengerti tentang apa yang dikhawatirkan oleh kakak kandungnya. Dirinya pun menghawatirkan hal yang sama. Namun menurutnya, sebesar apapun kekhawatiran yang mereka rasakan sekarang, harus dihadapi dengan kepala dingin.
Saat mereka berdua tengah tenggelam dalam perasaannya masing-masing, terdengar suara bayi dari dalam kamar istrinya Tejo Alam. Bukan suara bayi menangis, tapi suara bayi yang sedang tertawa kecil.
Tejo Alam menghampiri istrinya yang masih terbaring lemas. Mengecup keningnya seraya mengucapkan banyak terimakasih. Lalu bergegas menghampiri perempuan tua itu, Nyi Irah namanya. Perempuan tua yang berprofesi sebagai dukun bayi.
"Nyi Irah, bagaimana keadaan anakku?" Tanya Tejo Alam. Raut wajahnya mencerminkan kekhawatiran.
"Sehat Den, gagah. Kelaminnya juga laki-laki Den, ganteng." Ucap perempuan tua itu tersenyum seraya menyerahkan bayi kecil itu ke ayah kandungnya.
"Selain ganteng, bayi ini juga tampak luar biasa. Saat lahir tidak menangis. Semoga menjadi anak yang baik kedepannya." Lanjut perempuan tua itu.
Tampak sekali raut kebahagian menyelimuti pasangan suami istri tersebut.
Namun, raut kebahagiaan itu tidak berlangsung lama. Di luar rumah mereka, terdengar suara orang berteriak memanggil nama Tejo Alam.
"Tejo Alam, keluar kau, bajingan. Kau harus membayar atas kematian adikku." Teriak seseorang dari luar rumah.
__ADS_1
Tejo Alam dan Seno Alam saling bertatapan muka. Apa yang mereka takutkan sungguh menjadi kenyataan.
Supala benar-benar datang malam ini. Terlebih lagi dia tidak datang sendirian, hampir ada sepuluh orang yang datang selain dirinya.
Tejo Alam dilema, baru saja keluarga mereka merasakan kebahagiaan, namun harus segera menghadapi bencana di depan mata mereka.
Istri Tejo Alam langsung histeris, dirinya memohon kepada suaminya untuk menyelamatkan bayinya terlebih dahulu.
Tejo Alam menatap adiknya dengan tatapan memohon.
"Seno, aku akan menahan Supala dan pasukannya. Ku harap, kau bersedia menyelamatkan anak kami. Bawa anakku pergi bersamamu melalui pintu belakang." Ucap Tejo Alam.
"Kakang, aku tidak mungkin meninggalkan mu seorang diri melawan Supala dan antek-anteknya. Bagaimana dengan ini, kita berdua akan menahan mereka, sementara istri dan bayimu akan pergi bersama Nyi Irah." Jawab Seno Alam memberikan saran.
"Aku belum bisa bebas bergerak Seno, aku tidak yakin bisa berjalan jauh."
"Sebaiknya kau dan Nyi Irah saja yang pergi, tolong selamatkan anak kami. Aku mohon." Ucap istri Tejo Alam.
"Seno, aku mohon. Hanya kau satu-satunya harapan kami. Tolong bantu rawat anakku." Tejo Alam kembali memohon.
Seno Alam merasa dilema di dalam hatinya. Satu sisi, dia tidak mungkin meninggalkan Tejo Alam seorang diri menghadapi Supala dan antek-anteknya. Seno Alam tahu betul betapa tingginya ilmu kanuragan Supala.
Jika Tejo Alam berhadapan satu lawan satu dengan Supala, Seno Alam tidak akan begitu khawatir. Dirinya yakin, kakaknya akan keluar sebagai pemenang meskipun harus melalui pertarungan yang sengit.
Namun saat ini, Supala tidak datang seorang diri. Jadi sangat kecil kemungkinan kakaknya akan menjadi pemenang.
Jika Seno Alam tetap bersikeras untuk tinggal, ada kemungkinan mereka bisa bertahan. Namun kemungkinan terburuknya adalah mereka akan kalah dan keluarga mereka akan musnah selamanya.
Saat Seno Alam masih bimbang dengan keputusan apa yang akan dirinya ambil, pintu rumah tiba-tiba ditendang dari luar dan hancur berkeping-keping.
"Dhuaaaar.. "
__ADS_1