
Setelah menempuh perjalanan selama tiga hari lamanya, Jaka dan rombongan pedagang telah sampai di perbatasan Kerajaan Matraman Barat. Tidak seberapa jauh di depan mereka terdapat gerbang atau pintu masuk menuju Desa Tanjung Lemur yang dijaga oleh beberapa prajurit kerajaan. Setiap penduduk atau siapapun yang akan masuk dan keluar dari Desa Tanjung Lemur diharuskan melapor kepada petugas tersebut.
Tampak di hadapan mereka jalanan sangat sepi, hal ini akibat dari ketegangan yang sedang terjadi antara Kerajaan Matraman Barat dan Matraman Utara. Penjagaan di perbatasan ini lebih diperketat sejak adanya berita kemenangan perang yang diraih oleh pasukan Kerajaan Matraman Utara terhadap Matraman Timur.
"Jaka, sebentar lagi kita akan tiba di perbatasan. Apa kau punya sebuah benda yang bisa digunakan sebagai tanda pengenal?" tanya Purwita Sari.
"Aku.. aku tidak punya Nona."
"Kalau begitu nanti kau harus mengaku sebagai anggota dari Serikat Pedagang, sisanya biar aku yang urus."
"Baiklah, aku ikut saja."
Jaka sebenarnya mempunyai benda yang bisa digunakan sebagai tanda pengenal, siapapun prajurit Kerajaan Matraman Barat yang melihat benda itu sudah pasti mengenalnya. Namun Jaka belum ingin menunjukkan benda itu saat ini, kecuali Yang Mulia Raja Angga sendiri yang memintanya. Tiba-tiba keduanya dikejutkan dengan adanya suara teriakan.
"Berhenti!" teriakan suara prajurit menghentikan laju dari rombongan pedagang.
Dengan segera rombongan pedagang itu menghentikan laju kereta kuda mereka. Para prajurit meminta agar seluruh rombongan turun dari kereta dan sebagian prajurit memeriksa barang bawaan mereka.
"Siapa yang memimpin rombongan ini?" tanya salah seorang prajurit kerajaan.
"Aku yang memimpin.. " Purwita Sari menjawab sembari melangkah maju ke hadapan prajurit itu.
Sejenak prajurit itu diam membisu, kini di hadapannya telah berdiri sesosok wanita yang sangat cantik. Tubuhnya yang cukup tinggi, kulitnya putih bersih, dan rambutnya yang hitam memanjang sampai ke punggung. Kecantikan wanita ini lebih sempurna dengan wajahnya yang dihias dengan hidung mancung, lesung pipi di kanan dan kirinya serta dagu yang menjuntai bagai lebah menggantung. Siapapun yang memandangnya tentu akan terpesona.
"Tuan.. " Panggil Purwita Sari.
Suara Purwita Sari yang memanggilnya seketika membuat prajurit itu tersadar. Prajurit itu lalu meminta tanda pengenal dari seluruh rombongan mereka.
Purwita Sari kemudian menjelaskan bahwa dirinya adalah salah satu pimpinan dari Serikat Pedagang, dan rombongan di belakangnya adalah para anggotanya yang berjumlah sepuluh orang. Rombongan ini juga dikawal oleh lima orang prajurit bayaran yang bertugas menjaga mereka selama perjalanan.
__ADS_1
โMaaf Nona.. tanda pengenal yang kau berikan hanya sepuluh buah, sedangkan kau dan anggotamu berjumlah sebelas orang. Bagaimana kau menjelaskan hal ini?" tanya prajurit itu.
"Ah.. itu, dalam perjalanan aku merekrut satu angota baru jadi aku belum bisa membuat tanda pengenal untuknya." jawab Purwita Sari mencoba menjelaskan dengan senyum terkembang di bibirnya.
"Aku bisa menjamin bahwa dia adalah orang baik, dia bukanlah orang-orang dari Kerajaan Matraman Utara. Kalian bisa menahan tanda pengenalku sebagai jaminan untuknya."
ucap Purwita Sari setelah melihat raut keraguan di wajah prajurit itu.
Prajurit itu masih ragu dan tidak berani mengambil keputusan. Prajurit itu kemudian meminta izin untuk bertemu dengan seseorang yang bertanggungjawab di perbatasan ini.
Orang yang dimaksud adalah Senopati Karang Suta, senopati ini sudah beberapa bulan terakhir ditugaskan menjaga wilayah perbatasan kerajaan. Setelah mendengar laporan dari bawahannya, Senopati Karang Suta lalu menghampiri Purwita Sari dan rombongan.
Saat pertama kali Senopati Karang Suta melihat wajah Purwita Sari, dirinya juga sempat terpesona selama beberapa detik namun berhasil menguasai diri dengan cepat. Senopati ini sempat berbincang dengan Purwita Sari mengenai keikutsertaan Jaka ke wilayah Kerajaan Matraman Barat.
Setelah mendapat jaminan dari Purwita Sari yang seorang pimpinan dari Serikat Pedagang, akhirnya Senopati Karang Suta mengizinkan Jaka untuk masuk ke wilayah kerajaan. Sedangkan untuk para pengawal bayaran tidak diizinkan masuk, Purwita Sari menerimanya dan segera menyelesaikan urusan yang terjadi di antara mereka. Setelah itu Purwita Sari dan rombongan melanjutkan perjalanan ke Desa Tanjung Lemur.
Desa Tanjung Lemur adalah salah satu desa yang letaknya dekat dengan perbatasan Kerajaan Matraman Barat. Dahulu desa ini sangat ramai dikunjungi para pedagang dan pendekar yang menginap ataupun sekedar datang untuk mengisi perut.
Keadaan desa ini berubah seratus delapan puluh derajat semenjak seringnya terjadi keributan di wilayah perbatasan. Intrik-intrik kecil mewarnai perselisihan antara dua kerajaan. Hal ini secara tidak langsung merubah keadaan desa yang semula ramai menjadi sunyi sepi.
Setelah cukup lama menyusuri desa, Purwita Sari menemukan penginapan yang masih buka melayani pengunjung.
"Jaka.. sebentar lagi hari akan gelap, ada baiknya kita menginap di desa ini."
Purwita Sari berbasa basi mengajak Jaka menginap, padahal dirinya sendiri sudah tidak sabar ingin merasakan kasur yang empuk dan ingin segera membersihkan diri setelah berhari-hari tidur di hutan terbuka. Bagaimana pun Purwita Sari adalah seorang gadis muda yang sangat memperhatikan penampilan tubuhnya.
"Baiklah.. aku juga ingin membersihkan tubuhku." ucap Jaka cengengesan seperti sedang menyindir orang yang berada di hadapannya.
Raut pemilik penginapan itu sangat senang menyambut kedatangan rombongan mereka. Entah sudah berapa lama penginapan itu tidak kedatangan tamu.
__ADS_1
"Silahkan Den.. Silahkan Nona.. "
Mereka kemudian memesan beberapa kamar dan segera menuju kamarnya masing-masing. Sedangkan kereta kuda mereka dibawa ke halaman belakang penginapan oleh petugas penginapan lainnya.
Malam harinya setelah makan malam, Jaka beranjak keluar penginapan untuk sekedar melihat-lihat.
Hari ini adalah hari pertama Jaka menginjakkan kaki di wilayah Kerajaan Matraman Barat. Setidaknya ini akan menjadi langkah awal bagi Jaka untuk memenuhi permintaan gurunya.
"Guru, doakan muridmu semoga berhasil.. " gumam Jaka.
"Jaka, kau bicara apa?" tanya Purwita Sari yang samar-samar mendengar suara Jaka berbicara.
Jaka seketika terkejut melihat kedatangan Purwita Sari yang tiba-tiba, "Ah.. tidak, aku hanya merasa desa ini sangat sepi sekali.." jawabnya.
"Kau benar Jaka, dulu desa ini sangat ramai namun belakangan ini beberapa penduduk dipindahkan ke desa sebelah dan sebagian yang lain tetap ingin tinggal di desa ini. Contohnya ya pemilik penginapan ini. "
"Apakah karena letak desa ini yang dekat dengan wilayah perbatasan?" tanya Jaka.
"Lagi-lagi perkiraanmu benar, Jaka. Pihak Kerajaan Matraman Barat tidak ingin penduduk di desa ini menjadi korban apabila sewaktu-waktu musuh datang menyerang. Selain itu, ada beberapa kasus lain yang saling berkaitan. Salah satunya adalah banyak anak laki-laki yang menghilang, ada kabar bahwa mereka telah diculik oleh Kelompok Jubah Hitam.
โDiculik? Untuk apa mereka melakukan itu?"
"Aku belum tau secara pasti kebenarannya, namun kabar itu menyebutkan bahwa mereka melakukan itu semua atas permintaan Kerajaan Matraman Utara."
"Kau.. bagaimana kau bisa tau sebanyak ini? Jangan-jangan kau.. "
**
Jangan lupa like dan komen nya ya, ketik "lanjut" pun author udah seneng lohh ๐๐๐
__ADS_1